SG KU-4078 : Nadia Habibie
FULL TRANSCRIPT
Kami mohon perhatian hadirin. Acara
studium generale akan segera dimulai.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, salam
sejahtera bagi kita semua. Pada hari
ini, Rabu, 4 Maret 2026, kita akan
mengikuti Studium Generale bersama Ibu
Nadya Habibi, M.Si. Executive Board
Habibi Center dengan topik kebutuhan
Talenta Muda di Sektor Teknologi.
Acara hari ini akan diawali dengan
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia
Raya. Hadirin dimohon berdiri.
Indonesia
tanah airku,
tanah tumpah darahku.
Di sanalah
aku berdiri
jadi penduk.
Indonesia
kebangsaanku,
bangsa dan tanah airku.
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku,
bangsaku, rakyatku semuanya.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
untuk Indonesia
Raya.
Indonesia Raya merdeka merdeka tanahku
negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka merdeka hiduplah
Indonesia Raya
Indonesia Raya merdeka merdeka tanahku
negeriku yang kucinta Cinta
Indonesia Raya. Merdeka, merdeka.
Hiduplah
Indonesia
Raya.
Hadirin disilakan duduk kembali.
Hadirin yang kami hormati, selanjutnya
kita akan mengikuti penyampaian sambutan
dari Wakil Rektor Bidang Komunikasi
Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi
ITB yang sekaligus akan membuka acara
pada hari ini. Kami silakan dengan
hormat Dr. Arikri Kusmara.
Bismillahirrahmanirrahim.
Ee selamat pagi untuk kita semua. Semoga
para mahasiswa yang saya lihat hampir
90% ini hadir ya ee semangat terus ee di
bulan suci Ramadan ini. Dan saya ingin
menyapa juga ee mahasiswa yang ada di
kampus Jatinangor dan kampus Cirebon ya.
Semoga juga ee jaringan dan juga ee
rekan-rekan di sana semua bisa ee
mengamati dengan seksama di kelas
masing-masing.
Baik, yang saya hormati
Ibu atau mungkin lebih akrab ya, Mbak
Nadya Habibi,
eksekutif board dari The Habibi Center.
Terima kasih sebuah kehormatan bagi
Institut Teknologi Bandung ya karena
keluarga besar
almarhum
mantan Wapres kita
yang kita banggakan Bapak Habibi adalah
beserta keluarganya tentunya ya. ini
sering bolak-balik ke ITB ya, menjadi ee
semacam
mitra terdekat kalau tidak disebut
saudara ya sampai hari ini terus
berkontribusi kepada ITB. Terima kasih
Mbak Nadya bersama the Habibi Centernya,
para pimpinan ITB ee Bapak Direktur
Kemahasiswaan dan Ibu Direktur Humas.
Terima kasih sudah hadir para dosen
pengampu juga, Mas Yorga selaku
moderator, terima kasih ya, serta
mahasiswa di manapun ee kita menyimak
acara ini ya. Jadi, salam sejahtera
untuk kita semua. Hadirin sekalian,
adik-adik mahasiswa yang saya banggakan.
Ee alhamdulillah kita kembali berkumpul
setiap hari Rabu di acara Studium
General ini. Jadi tema yang sudah
diusulkan atas koordinasi tim kami
dengan
Mbak Nadya dari The Habibi Center adalah
kebutuhan talenta muda di sektor
teknologi.
Sebagai informasi umum saja mungkin Bu
Nadya bahwa sudah sangat jelas ya
mahasiswa yang mengikuti acara ini atau
mahasiswa yang masuk ITB itu semuanya
adalah talenta-talenta unggul yang sudah
melalui seleksi-seleksi ya dan mayoritas
adalah nilai-nilai tertinggi
se-Indonesia yang masuk ke Institut
Teknologi Bandung. Jadi topik ini tentu
saja sangat strategis di tengah isu masa
depan Indonesia yang sedang
mempersiapkan bertransformasi
di dalam ekonomi digital. Kemudian
teknologi yang kemudian banyak sekali
mengubah berbagai sisi kehidupan kita
yang juga akan menjadi penggerak
pertumbuhan ekonomi. Jadi saya kira
kehadiran Mbak Nadya ini juga bersama
The Habibi Center akan memiliki makna
yang penting buat kita semua. Karena
juga yang tidak kalah penting untuk
adik-adik mahasiswa bahwa kita harus
juga menjadi listener ya. Biasanya di
ITW tuh banyaknya yang paling didengar
orang lain. Tapi jangan lupa kita juga
harus menjadi pendengar ya. Nah, jadi
dengan siapapun khususnya dengan
tokoh-tokoh nasional dengan
sumber-sumber yang memang akan menjadi
inspirasi buat kita agar seluruh
mahasiswa dan kita semua dan juga
Institut Teknologi Bandung selalu
terbuka atas berbagai masukan.
Jadi kita semua mengetahui bahwa The
Habibi Center ini dibentuk atas
inspirasi, karya, dan dedikasi besar
dari Prof. Dr. Ir. BJ Habibi, Tokoh
Bangsa, alumni Teknik Mesin ITB tahun
1954
yang memberikan Fondasi Besar Teknologi
dan Kedaulatan Teknologi Nasional. Mbak
Nadia dan adik-adik sekalian, Pak Rektor
sampai menemukan satu rumus ya, loop
pertumbuhan bangsa dengan teknologi itu
kurang lebih antara 15 sampai 20 tahun
ya. Dan itu beliau juga pelajari dari
langkah-langkahnya
almarhum Profesor Habibi ya. Jadi kalau
kita lihat pidato-pidato Pak Rektor
tentang kedaulatan teknologi di
Indonesia, salah satunya refering pada
projek besar Pak Habibi. Sayang sekali
saat itu ada krisis ekonomi ya. Kita
very close gitu ya untuk kemandirian
bangsa. Tapi pada saat tahun-tahun
terakhir ketika seluruh infrastruktur
teknologi itu sudah dikembangkan,
geopolitik tahun 90-an itu berubah
dan
projek besar loop terakhir itu tidak
bisa dilanjutkan karena ada intervensi
negara lain yang kemudian membuat kita
harus berjalan lagi dari nol manadia dan
dari sekian tahun kita kemudian berusaha
bangun lagi. lagi ya untuk menguatkan
teknologi ee kedaulatan teknologi kita.
Baik, adik-adik mahasiswa. Jadi isu
talenta muda di sektor teknologi ini
bukan saja wacana, kita perlu membangun
ekosistem yang mendorong riset
berdampak.
Jadi ITB sedang sekuat tenaga menyiapkan
talenta muda kita membuat trajektori
industri dan hilirisasi teknologi.
Mudah-mudahan ini dengan kepemimpinan
bangsa sekarang bisa bersinergi dan saya
harap masukan-masukan dari Habibi Center
khususnya Mbak Nadya ini kita dapat
mendapatkan pemahaman yang lebih
mendalam mengenai bagaimana teknologi
berperan dan seluruh talenta kita juga
berperan untuk pertumbuhan ekonomi yang
lebih kuat dan juga melibatkan berbagai
pihak secara inklusif. Jadi kepada Mbak
Nadya dan Habibi Center saya mengucapkan
terima kasih atas kesediaannya pagi ini
jauh-jauh dari Jakarta ya. Selamat
mengikuti Studio Jenderal ini. Semoga
diskusi hari ini membuka perspektif baru
untuk kita semua dan menumbuhkan
semangat kontribusi Institut Teknologi
Bandung untuk Indonesia. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Dengan ini
acara kami buka. Makasih.
Hadirin yang kami hormati, kita akan
memasuki acara utama pada hari ini yaitu
Studium Generale yang akan dipandu oleh
moderator yaitu Bapak Muhammad Yorga
Permana, ST, MSI, PhD. Beliau adalah
dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB
dan saat ini mengemban amanah sebagai
Kasubdit Pengembangan Prestasi Mahasiswa
ITB. Kepada Bapak Muhammad Yorga
Permauna, PhD kami. Silakan.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Selamat pagi, Mas, Mbak
semua calon pemimpin bangsa, mahasiswa
ITB yang mengambil kuliah studium
jenderal baik itu di Ganesa, di
Jatinangor, maupun di Cirebon. Selamat
pagi Pak Rikrik, Mbak Nadia, Bu Lala,
Pak Insano, dan Bapak Ibu semua. Eh,
hari ini sebagaimana Pak Rik sampaikan,
kita kehadiran tamu yang sangat istimewa
begitu ya. Refleksi sedikit tadi yang
seperti Pak Rik sampaikan 72 tahun lalu
1954
Prof. Habibi itu mungkin duduk seperti
Mas, Mbah semua di ITB begitu ya.
Sayangnya atau syukurnya beliau 6 bulan
ada di sini sebelum melanjutkan
pendidikannya ke AKEN dan mempelajari ee
teknik penerbangan di sana begitu. Tapi
tetap saja kalau di ITB itu walaupun 6
bulan tetap disebut alumni ITB begitu
ya. Eh, hari ini setelah 72 tahun kita
kehadiran sosok yang
menjadi penerus begitu kali ya, Mbak ee
Mbak Nadya Habibi adalah cucu dari Pak
Habibi yang punya visi dan semangat yang
sama. Mungkin Mas, Mbak di tahun 98
2000-an belum pada lahir begitu ya.
Waktu itu kita berada di era kebanggaan
ketika N250 diterbangkan gitu ya. itu
menjadi ciri bahwa Indonesia ini akan
masuk ke ee ke negara industri begitu.
Dan sayangnya sebagaimana Pak Rikrik
sampaikan ada krisis ekonomi dan hari
ini kita masih mengenal istilah
deindustrialisasi begitu ya. Jadi hari
ini ee rasanya beban masa depan
Indonesia 2045 kembali kepada anak-anak
ITB gitu. bagaimana membalik
deindustrialisasi ini untuk ke depannya
seetarnya industri-industri strategis
apa yang perlu menjadi perhatian dan
setelah adik-adik lulus nanti oke saya
mau melanjutkan karir saya melanjutkan
studi saya untuk bidang atau sektor ini
dan selama 1 jam setengah ke depan kita
akan banyak berbicara mengenai masa
depan Indonesia industri strategis kita,
termasuk konsekuensinya kepada kebutuhan
talenta muda seperti apa untuk mengisi
pos-pos industri strategi ke depan.
yaitu teman-teman semua. Saya akan
sedikit memperkenalkan eh tamu kita pada
hari ini. Mbak Nadya Habibi merupakan
Andogota Executive Board The Habibi
Center, sebuah lembaga pemikir
independen yang didirikan oleh Presiden
BJ Habibi untuk mempromosikan
nilai-nilai demokrasi, tata kelola
pemerintahan yang baik, dan pembangunan
yang inklusif di Indonesia. Dalam peran
ini, ia turut berkontribusi dalam
mendorong berbagai inisiatif terkait
sustainability dan masa depan
pembangunan Indonesia.
Mbak Nadya juga menjabat sebagai
executive board Wisma Habibi Ainun.
Sebuah kediaman bersejarah yang
melestarikan dan mempromosikan warisan
Presiden Ketiga Republik Indonesia BJ
Habibi dan Ibu Negara Ainun Habibi.
Rumah ini merepresentasikan nilai cinta,
intelektualitas, dan budaya serta
menjadi ruang yang menginspirasi dialog
publik keterlibatan budaya dan
pembelajaran lintas generasi.
Sebelumnya Mbak Nadia bekerja di
Kementerian Koordinator Bidang
Kemaritiman dan Investasi di mana ia
terlibat dalam berbagai inisiatif
sustainability termasuk upaya
memperkenalkan insentif kendaraan
listrik untuk mendorong adopsi kendaraan
listrik di Indonesia. Ia juga turut
membantu menyelenggarakan Indonesia
Sustainability Forum yang mempertemukan
para pemimpin global seperti President
World Bank dan Managing Director IMF.
Sebelum berkimprah di sektor publik,
Nadya menjabat sebagai Chief of Staff to
the CEO des Sendit, salah satu
perusahaan financial technology
terkemuka di Asia Tenggara. Dan
sebelumnya Mbak Nadya meraih gelar
sarjana dari University of Chicago, one
of the best economic school in the world
dan gelar master di bidang finance dari
Imperial College Business School, United
Kingdom. Tanpa panjang lebar, mari kita
sambut dengan meriah. Beri tepuk tangan
sebesar-besarnya untuk Mbak Nadya
Habibi.
The floor is yours, Mbak.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Yang saya hormati Bapak Wakil Rektor
Bidang Komunikasi Kealumnian, Kemitraan
dan Administrasi, Pak Rikrik Kusmara dan
para pimpinan dan dosen pengampu ITB.
Dan juga tentunya good morning atau
selamat pagi ke teman-teman ITB atau
mungkin kalau E yang masih ada di sini
akan disebut cucu intelektual. Cucu
intelektualnya Eyang Habibi itulah
istilahnya beliau untuk ee pemuda-pemudi
Indonesia. Saya merasa sangat terhormat
bisa di sini. Ee semoga juga Eyang
bangga dengan saya yang berada di sini.
Em hari ini sebetulnya sangat saya
sangat excited karena saya eh ingin
bercerita mengenai sangat penting
urgencinya ya sebetulnya untuk talenta
muda masuk ke dunia teknologi. Tapi
tentunya saya juga enggak harus panjang
lebar ya menceritakan mengenai ini
karena teman-teman udah pasti masuk ke
dunia teknologi. That's why you're in
ITB gitu. Eh apa namanya? ini adalah
sekolah untuk mempersiapkan teman-teman
untuk masuk ke dunia teknologi. Mungkin
saya akan mulai dengan satu statement.
Next.
Every technological revolution
redistributes power. Pertanyaannya
adalah are we shaping technology or are
we being shaped by it? Apa nih
maksudnya?
Setiap revolusi teknologi selalu
mendistribusikan kembali kekuasaan.
Pertanyaannya adalah apakah kita yang
membentuk teknologi itu atau justru kita
yang dibentuk olehnya?
There is a lot of power in technology.
Kalau kita pelajari sejarah, peradaban
yang berpengaruh adalah peradaban yang
memiliki teknologi terdepan pada
masanya. Misalnya Mesir Kuno
dengan membangun kekuatan melalui
teknologi irigasi dan rekayasa bangunan
dan bisa menghasilkan peradaban besar di
sungai Nil
atau kekaisaran Otoman mengubah
keseimbang kekuasaan melalui teknologi
artileri dan meriam besar yang bahkan
memungkinkan mereka menaklukkan
Konstintanopel pada tahun 1453
Dan di era modern, Amerika Serikat
membentuk tatanan global melalui
teknologi penerbangan komputer, dan
internet yang kini menjadi fondasi
ekonomi digital dunia. Jadi kalau hari
ini kita ngomong mengenai AI,
semiconductor, dan komputasi canggih.
Dan ini semua dipegang oleh Amerika
Serikat, Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan
dan mereka memiliki pengaruh besar
karena kita jadinya tergantung sama
mereka.
Nah, jadi pertanyaannya bukan apakah
kita akan menggunakan teknologi, tetapi
apakah kita turut menciptakannya
dan membentuknya?
Karena di setiap era mereka yang
membangun teknologi seringki menentukan
arah peradaban.
Next.
Mungkin ini ya yang dimaksud sama Eyang
atau yang ingin dibangun oleh Eyang.
Eyang ee BJH. Ketika beliau masih muda,
beliau memiliki mimpi untuk membangun
pesawat.
Kenapa?
Karena beliau sebetulnya adalah anak
daerah dari Gorontalo dan beliau ingin
bisa lebih cepat ke kota-kota lain
seperti ke Makassar.
Beliau melihat bahwa transportasi ini
bisa menjadi penghubung yang lebih baik
untuk Indonesia yang sebetulnya adalah
negeri kepulauan terbesar di Indonesia.
And I think that dream grew. It was much
bigger than that.
Terinspirasi sebetulnya dari pidatonya
Presiden Soekarno mengenai
industriindustriindustri
strategis.
Beliau semakin yakin bahwa membangun
industri pesawat bersama
industri-industri lainnya dapat merubah
konstelasi Indonesia di panggung global.
Membangun pesawat
tidak strategis because it's glamorous.
bukan karena glamornya
membangun pesawat strategis karena skill
ee tersebut membutuhkan keahlian dalam
material science, aerodynamics,
control system, precision manufacturing,
and supply chain. Jadi industri tersebut
dapat mendorong capability building di
ekosistemnya. Nah, itu kata kuncinya
capability building. Beliau percaya
bahwa teknologi ini dapat membawa
Indonesia untuk menjadi negara maju
dalam waktu yang paling cepat untuk
Indonesia bisa menjadi peradaban yang
terdepan, peradaban yang lebih
bermartabat.
Karena membangun industri ini
membutuhkan technological depth. Dan
technological depth inilah yang bisa
dipahami oleh teman-teman ITB. The
engineers, the nation builders.
Next. Oh, ya. Ini Eyang membangun
industri pesawat di IPTN atau sekarang
dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia
yang ada di Bandung.
Next.
Nah,
di tahun 1990
industri strategis merupakan
industri-industri tersebut. Jadi ada
pesawat, perkapalan, telekomunikasi,
kereta api dan seterusnya. Banyaknya di
heavy manufacturing. Karena pada waktu
itu inilah sektor-sektor yang bisa
menentukan kedaulatan.
Kedaulatan artinya untuk negara bisa
lebih mandiri dan lebih aman.
Indonesia dapat mencapai kemakmuran
dengan meningkatkan industri ke
sektor-sektor
yang berteknologi tinggi dan melalui
transformasi tersebut menjadi bangsa
atau peradaban yang lebih bermartabat.
Bagaimana? Hightech industry drives high
productivity.
High productivity drives high wages atau
upah. and high wages
give deep dignity. Jadi hari ini saya
mau bertanya, what are the strategic
industries in 2026?
Next.
Nah, mungkin kita cerita latar belakang
ya sedikit dan ini juga yang disampaikan
tadi oleh Mas Yogi bahwa memang sekarang
kita mengalami yang disebut
deindustrialization. Apa itu? Jadi di
tahun 1990 sebetulnya hampir sekitar 30%
berkontribusi ee manufaktur gitu ya,
berkontribusi ke PDB eh PDB em from
actually making things gitu. Namun di
tahun 9899 mungkin teman-teman belum
lahir ya di tahun '9899
Krismon terjadi. Jadi maka itu kita
melihat sedikit penurunan gitu di
sekitar tahun 2000-an terus naik lagi.
Kenapa bisa naik lagi? Karena sebetulnya
biaya tenaga kerja itu turun, maka itu
sebetulnya lowtech industries
berkembang. Jadi lowtech adalah seperti
kayak tekstil, eh otomotif gitu ya,
basic manufacturing. Nah, setelah itu
turun, turun, dan menurun. Kenapa?
Karena kita ee mengalami komoditi boom
dengan batu bara, kelapa sawit, dan
nikel. kita ekspor bahan mentah ke luar
negeri dan tentu bahan mentah ini
memiliki nilai yang jauh lebih rendah di
ee daripada finish goods gitu ya. Em
kalau misalnya kita ekspor finish goods
misalnya kalau kita ekspor ee biji kopi
dibanding sama kopi mesin gitu. Mana
yang lebih mahal tentunya kopi mesin
gitu ya. Nah, itu juga sama contohnya
misalnya dengan biji nikel dibanding
dengan baterai sel. Tentunya kalau
misalnya kita ekspor atau jual ke luar
negeri, baterai seluh lebih tinggi
nilainya dibanding sama biji nikel. Jadi
inilah yang terjadi. Kita lebih terlalu
banyak sebetulnya menjual bahan-bahan
mentah dan tren ini lanjut sampai hari
ini. Maka itu kita melihat bahwa kita
sekarang ada di angka 19%.
19% eh dari manufaktur yang
berkontribusi ke PDB which is very low
turun gitu ya 11% dalam waktu 30 tahun
atau 3 dekade.
Tentu kalau kita lihat dari PDB negara
kita masih bertumbuh setiap tahun tapi
itu pertumbuhannya berasal dari
commoditi, konsumsi dan juga service
atau jasa. Enggak ada yang salah
sebetulnya dengan ini. Tapi kalau kita
tidak invest dalam production base kita,
kita akan menghadapi beberapa risiko.
Next. Jadi, if we don't strengthen our
production base, pertama produktivitas
akan slow down dan maka itu upah pun
akan slow down. Lalu kita juga akan
berisiko masuk ke middle income trap.
Artinya negara ini tidak akan mandiri,
akan selalu seperti ini dan kita tidak
bisa mengalami
apa ya kehidupan yang lebih layak, yang
lebih yang lebih nyaman. Dan yang
ketiga, kita akan terlalu bergantungan
dengan negeri lain karena kita
membutuhkan teknologi lain. Jadi,
teknologi itu bisa tentunya menjadi
senjata ya sebetulnya in the good way or
in a bad way gitu ya. And that's why
kita harus invest di teknologi.
Dan tentunya kalau ini tiga terjadi, apa
yang what happens? Our brightest minds,
insinyurinsinyur kita yang paling pintar
akan kerja di luar negeri karena e apa
yang akan dialami adalah brain drain. Di
sini mereka tidak mendapat lapangan
kerja yang mereka inginkan dan mereka ke
luar negeri karena negara-negara lain
yang bisa menawarkan ee peluang-peluang
itu dan kita kehilangan talenta.
Nah, tapi tentunya ini tidak tentang
kembali ke masa lalu ya, Teman-teman.
It's about asking bagaimana cara kami
meningkatkan sistem produksi kita untuk
masa depan karena kita membutuhkan a
structural reform. Next.
Nah, ini adalah tiga industri yang
mungkin akan menjadi sangat relevan
untuk cucu intelektual atau teman-teman
ITB. ada green industry atau industri
hijau. Adapun digital dan intelligent
infrastructure. Dan yang terakhir adalah
water atau air dan pangan. Jadi sistem
air dan pangan. Dan saya mungkin akan
lebih banyak diskusi di ee pilar
pertamanya yaitu industri hijau sesuai
dengan ee eksperti saya.
Lanjut Green Industries. Oke, mungkin
kita mulai dengan satu pendekatan yang
sedikit menarik. Saya ambil contoh dari
buku saya. Next. Nah, saya sebetulnya
dengan teman-teman saya dari The Habib
Center telah membuat satu buku namanya
Climate Action 101 eh dan itu nanti akan
tersedia juga di website tapi nanti ada
QR code-nya juga. Dan di buku ini kita
sebetulnya memperkenalkan tiga tokoh.
Satu adalah Nabil, Susi, dan Lili. Kalau
kita combine tiga-tiganya jadi
sustainability, Susina Lili gitu.
Nah, ini kenapa kita menggunakan tiga
tokoh ini? Karena kita juga ingin
menunjukkan the complexity of
sustainability in Indonesia. Kalau
Nabil, he is an average guy that you
usually see in Jakarta biasanya
menggunakan mobil yang masih pakai
bensin, masih suka pakai AC secara boros
gitu ya. Dia tuh sebenarnya udah paham
mengenai krisis iklim, tapi dia enggak
terlalu peduli karena dia merasa ya will
I make a difference gitu ya. Dan banyak
orang kayak Nabil di sini mungkin ada
yang bisa relate enggak akan judge sih
saya.
Lalu ada Susi. Nah, kalau di buku kalau
enggak salah kita bilang Susi eh sekolah
di ITB ya, kuliah di ITB. Susi adalah
social justice warrior.
Susi. Oh, oke. Sekarang teman-teman
sudah mulai melag ya. Social Justice
Warrior. Pokoknya dia memilih hidup yang
enggak senyaman. Jadi pakai tumblr ke
mana-mana, pakai motor listrik atau
jalan ke mana-mana demi menyelamatkan
bumi. Nah, Sushi itu tahu sebetulnya
kalau dia pun sebetulnya not gonna make
that big of a difference. Tapi every
small step counts. Nah, enggak banyak
nih Susi di sini atau mungkin ada
teman-teman di sini yang relate sama
Susi.
Yang terakhir adalah si Lili. Siapa ini
Lily? Lily adalah guru dari Ternate. Dia
paham sekali mengenai sustainability dan
dia sebetulnya ingin mendorong
komunitasnya di eh Ternate untuk tidak
ketinggalan ekonomi, tapi juga tidak
ketinggalan dengan sustainability.
Kebetulan komunitasnya memang secara
default udah sustainable. Bukan karena
mereka sadar untuk memilih pilihan
hijau, tapi karena mereka enggak punya
pilihan lain. Jadi kalau mereka ke pasar
enggak pakai motor, mereka jalan because
they have no means to, gitu ya kan.
Orgak pakai AC because they have no
means to. Jadi memang di Indonesia juga
ada teman-teman yang sustainable, tapi
sustainable karena enggak ada pilihan
dan sayangnya mereka jadi sedikit
tertinggal di apa namanya masa
modernitas kita. So, let's reflect on
these three characters. Sustainability
is a very complex issue di Indonesia
apalagi karena banyak sekali ketimpangan
eh social economic background ya di
sini. Next. Nah, ini adalah satu
matriks, Teman-teman.
Jadi ada xa axis sama y axis ya.
Xis-nya di sini kalau paling kanan
adalah modern life, kiri simple life.
Jadi kalau kita lihat misalnya Lili itu
simpel ya, simpel karena lebih banyak
jalan mungkin enggak menggunakan AC dan
ee alhasil ya Lily jadinya enggak
menyebabkan terlalu banyak polusi atau
carbon emissions.
Sebaliknya, Sushi atau Nabil karena
mereka juga eh ingin eh mendapat
kenyamanan dari eh modern life, jadinya
mau enggak mau mereka harus menghasilkan
lebih banyak carbon emissions. Dan
itulah sebetulnya menjadi dilema untuk
Indonesia. Kita mau berkembang, tetapi
kalau kita berkembang artinya kita harus
mengeluarkan lebih banyak emisi dong. Ya
kan? By the way, Teman-teman di sini ada
yang udah ada yang belum paham emisi
kah?
emisi adalah eh intinya greenhouse gas
ya atau gas rumah kaca yang kita bisa
keluarkan dari aktivitas ekonomi kita
sehari-hari. Bahkan sekarang hari ini,
hari ini pun gitu ya di ee gedung ini
kita mengeluarkan emisi karena kita
menggunakan listrik dan bauran listrik
kita gitu ya belum begitu hijau. Jadi 24
jam kita sebetulnya mengeluarkan emisi
kalau kita memang bisa menikmati
kehidupan yang lebih modern. Nah, jadi
teman-teman sekalian yang kita pengin
tuh adalah di kuadran 4. Bagaimana kita
bisa mendorong Susi ke kuadran 4 e ke
kuadran sisi kanan tapi enggak ke Nabil,
maunya ke bawah gitu. Karena kalau ke ke
Nabil ya berarti kita akan lebih emisif
dong, Teman-teman ya. Dan itu sebetulnya
yang menjadi ee kesulitan sebetulnya di
Indonesia gitu. Karena memang belum
banyak ee apa namanya?
contoh ekonomi yang bisa eh breaking
this chain. Because if you want to
create economy, biasanya kita mendorong
industri. Industri biasanya menggunakan
fossil fuel. Fossil fuel biasanya
mengeluarkan emisi. That's the chain.
Nah, the key is in green industry.
Bagaimana kita bisa memutuskan
ee rantai itu.
Oke, next.
Jadi ini sih yang tadi saya sampaikan,
Indonesia's prosperity
will not be determined by how much we
take from nature but by how we utilize
it through efficiency and innovation.
Apa yang aku maksud dengan ini? Selama
ini kita kalau mau berpenghasilan harus
selalu ngambil dari sumber daya alam dan
enggak ada konsekuensi kadang-kadang
gitu.
Karena kita ngambil dari sumber daya
alam, jadinya ada cost. Dan who bears
that cost? Of course, the world, this
world that we live in. But it's also the
most vulnerable, masyarakat yang paling
rentan dan biasanya paling marginal yang
kena gitu. Dan maka itu kita juga harus
lihat efisiensi dan inovasi mana yang
bisa kita pakai agar kita bisa memutus
siklus ini.
Begitu, Teman-teman. Maka itu, green
industry itu sangat penting dan aku
sangat excited bisa ngobrol dengan
nation builders di sini karena I think
this is the right spot where we can find
the brightest minds to crack the hardest
problems. Ya,
next.
Jadi untuk kita bisa mencari new green
industri sebetulnya sih eh karena saya
juga background-nya pernah di startup
ya, ada yang kita sebut namanya product
market fit
dan what we need is a lot of product
market fit. Apa itu product market fit?
Kita membangun satu produk yang diterima
oleh pasar.
Tapi produknya kali ini adalah hijau dan
pasarnya pun ingin menyerap produk
hijau.
Nah, kenapa kali ini sampai sekarang
belum banyak produk hijau? Karena
kebiasa biasanya produk hijau itu lebih
mahal dibanding produk biasa.
E beberapa tahun yang lalu atau electric
vehicles, mobil, motor, listrik mahal.
Tapi apa yang dilakukan oleh pemerintah?
Pemerintah
membuat beberapa insentif agar bisa
menurunkan harganya. Dan ketika harganya
diturunkan ini bisa di-enjoy, dinikmati
oleh teman-teman. Maka itu kita juga
melihat jauh lebih banyak EV sekarang di
pasar karena demand-nya dari pasarnya
makin naik. Nah, we need more of those.
Tapi having more of those itu tidak
gampang karena kita butuh semuanya untuk
bisa berkolaborasi.
Kita butuh dari pemerintah tentunya,
dari akademisi,
dari teman-teman yang muda gitu ya.
Pokoknya dari siapapun lah kita harus
berkolaborasi.
Next.
Nah, ini mungkin sedikit snapshot ya
teman-teman. Sektor-sektor mana sih yang
menghasilkan paling banyak emisi?
Secara sejarah paling besar memang ada
di volu atau alam. Apa yang dimaksud
dengan ini?
Karena kita sudah menebang banyak sekali
pohon dan ketika kita menebang pohon,
keluarlah si emisi yang tadinya terserap
dari pohon-pohonnya.
Itu ada di 34%. Lumayan tinggi ya. Lalu
ee adapun industri, jadi kalau kita
lihat pabrik-pabrik teman-teman tentunya
keluarlah si emisi atau polusi. Dan
memang industri ini karena kita juga
ingin menjadi negara yang lebih maju
akan lebih naik emisinya. Itu biasanya
memang kayak begitu apa namanya trennya.
Tapi semoga jika industri ini naik
emisinya yang lain rendah ee lebih
rendah sehingga kalau net-net jadi lebih
rendah.
Lalu tentunya dilanjut dengan ketenaga
listrikan karena sekarang bauran listrik
kita kebanyakan dihasilkan oleh batuara.
Lanjut dengan makanan, pangan,
agriculture, transportasi, waste, dan
building.
Nah, kita juga, saya sih sebetulnya
ingin menunjukkan ini karena I wan to
show you that there are a lot of
opportunities sebetulnya di setiap
sektor ini. Tapi tentunya walaupun
banyak sektor apa eh peluang di setiap
sektor, kita juga harus ini ya apa
namanya? Realistis mana sih yang paling
low hanging fruit. yang mungkin saya
bisa berkontribusi atau teman-teman
langsung bisa berkontribusi sekarang.
Nah, next.
Kita tentunya harus lihat dari di mana
sih Indonesia paling unggul.
Indonesia itu paling unggul di menurut
saya sih di tiga hal ya. Yang pertama
adalah nikel karena memang reserves kita
paling besar di dunia. Lalu juga
renewable energy karena potensi kita
luar biasa. Jadi nomor satu dan nomor
dua itu berkaitan sekali sama SDA atau
sumber daya alam kita. Ee dan yang
ketiga sebetulnya adalah pasar kita.
Pasar kita telah menerima baik e
menerima EV baik sekali EV mobil ya. Eh
jadi dalam waktu sangat cepat dalam 1
tahun gitu eh EV car sales atau
penjualan EV eh car itu naik jadi 12%
sebetulnya dan itu dahsyat sekali. ee
penjualan
keempat paling besar tahun lalu kalau
enggak salah BYD deh Toyota terus siapa
siapa baru yang nomor empat BYD. Jadi
dahsyat sekali sebetulnya mereka itu
bertumbuh dengan sangat besar. Very
exciting. Saya juga sudah pernah ke
headquarters di BYD di Shenson. Luar
biasa sebetulnya di situ paling lebih
banyak ee perempuan ya yang menjadi
talentanya mereka dibanding laki-laki.
Jadi itu sangat menarik juga. Nah, balik
lagi ke apa namanya slide ini. Jadi, di
sisi kiri kita melihat bahwa memang SDA
kita itu sangat menarik untuk bisa ee
apa namanya? mendalami industri ini dan
juga pasar kita. Tapi SDA dan market
kita sendiri itu tidak cukup.
Kita butuh juga SDM, sumber daya manusia
yang bisa mengelola ini semua. Maka itu
kita lihat di sisi kanan kita
membutuhkan battery engineers, power
electronic experts, grid optimization
specialist, energy storage designers,
dan juga carbon accounting system.
Jujur, the list goes on gitu ya. Dan
bahkan untuk teman-teman yang enggak
stem, mungkin di sini kebanyakan stem
ya, banyak juga sebetulnya
peluang-peluang yang bisa masuk eh ke
industri hijau yang not stem related.
Jadi kalau teman-teman nanti lihat buku
aku ee bukuku tuh sebetulnya didesain
oleh beberapa anak-anak ee ITBFSRD
sebetulnya gitu ya. Jadi mereka tuh
keren banget bisa juga eh apa namanya?
Understand the concepts and make it more
eh understandable sebetulnya untuk para
Jenzi. Jenzy itu penting banget untuk
bisa di di apa namanya? to to teach them
green industry karena this is really the
industry of your future gitu and you
will be most impacted by climate change.
So we need it. Next.
Oh ya ini dia bukunya
sedikit self promotion mohon maaf.
Jadi bukunya sudah ada di Gram Media.
Alhamdulillah sudah naik cekak yang
kedua. Tapi ee ada juga free apa
namanya? Free addition-nya e-book-nya di
eh website The Habibi Center. Jadi
teman-teman juga bisa check it out.
Kalau enggak salah edisi yang ada di The
Habibi Center itu berbahasa Inggris.
Oke,
sip. Mungkin juga teman-teman juga bisa
cek siapa nih teman-teman ITBF FSRD yang
aku libatin. Ada kok di sana
foto-fotonya.
Oke, next.
Nah, ini pilar yang kedua. Pilar yang
kedua mungkin aku enggak akan bahas
sedalam yang tadi karena memang ee belum
eksertis aku, tapi juga menjadi sangat
menarik untuk teman-teman explore yaitu
digital and intelligent infrastructure.
Jadi, Indonesia itu sebetulnya secara
digital eh digital ekonomi memang sangat
bertumbuh di sini, tapi memang semuanya
lebih berkaitan dengan konsumsi kita.
Jadi kalau kita lihat, our biggest
digital companies are all consumption
related. Either their marketplace
seperti Tokopedia, Shopee gitu ya.
Walaupun Shopee bukan di Indonesia sih
atau eh marketplace juga yang
mencocokkan antara para ojek gitu ya dan
juga eh konsumen seperti Grab, Gojek
gitu. Tapi memang di sini enggak banyak
yang masuk ke infrastruktur.
Dan kenapa infrastruktur itu sangat
penting atau kadang-kadang orang juga
bilang ini adalah deep tech because this
is something that you can jual to other
eh countries gitu ya. Ini secara nilai
tambahnya lebih besar lagi. Kita tidak
hanya ngomongin mengenai market, kita
ngomongin juga mengenai value at gitu.
Next.
Jadi sebetulnya peluangnya banyak di eh
ini di deeptech atau yang kita sebut
bagaimana kita juga bisa mengengineer
the backbone backbone of digital supaya
kita tidak hanya menjadi user tapi kita
juga menjadi creator di sini enggak tahu
ya kalau teman-teman bisa baca bisa baca
enggak teman-teman sulit ya oke aku
bacain ya satu persatu eh satu energy
efficient data center ini menarik sekali
jadi data center yang green ini menjadi
irisan antara digital infrastructure dan
tadi ya kita sebut green eh industry
yang menurut aku sebetulnya takut jatuh
yang menurut aku sebetulnya bisa menjadi
keunggulan Indonesia karena Indonesia
banyak lahannya dan Indonesia pun banyak
SDA-nya, renewable energy potential-nya.
Adapun age computing
atau industrial automation ya, eh AI
deployment.
Nah, banyak sebetulnya peluang gitu ya
untuk masuk ke deeptech untuk kita bisa
merancang infrastrukturnya. Tapi kita
pun juga harus realistis mana sih yang
bisa impactful banget untuk Indonesia
berdasarkan
keunggulan-keunggulan kita. Karena
memang enggak semuanya gitu ya, kita
bisa menang. AI misalnya menurut aku
mungkin udah lumayan ketinggalan kita
kalau dibanding sama negara-negara yang
lain. US sama China, they spent like
billions, trillions already gitu. Should
we?
Probably not gitu ya kan. That's why
mungkin kita harus melihat juga di
negara mana sih menjadi keunggulan kita.
Oke, next.
Nah, ini yang terakhir pilar ketiga yang
sebetulnya saya juga ingin studi lebih
dalam lagi, pelajari lebih dalam lagi.
Water and food systems mungkin menjadi
lumayan mengejutkan untuk teman-teman
sekalian karena ini lumayan basic ya.
Tetapi kadang-kadang kita jadi lupa sama
hal-hal yang basic dan apalagi di iklim
yang penuh dengan ketidakpastian
sekarang apalagi apa yang terjadi this
weekend gitu. We really need to be sure
about our food and water.
Swasembada pangan dan swasembada air.
Dan semua
eh problem-problem ini adalah
problem-problem engineering sebetulnya
teman-teman sekalian gitu. kita pertama
the basics of pangan dan water mungkin
next sor
banyak problem tentunya di sisi kiri
kalau kita lihat kita menggunakan
teknologi yang ee sudah tidak layak lagi
atau sudah tidak sesuai dengan zamannya
gitu ya sehingga yield atau production
of pangan
jadi rendah dan maka itu kita jadi harus
impor
banyak. Lalu ingat lagi ya teman-teman,
kita adalah negara kedaulatan. Eh
kedaulatan kepulauan.
Artinya apa? Artinya distribusi akan
sulit sekali. Kadang lebih banyak air
misalnya di Kalimantan, di Sumatera,
tapi malah kebutuhannya lebih banyak di
Jawa. Jadi artinya distribusi itu harus
ngalir dari ee pulau lain ke pulau Jawa
dan sebaliknya.
Dan eh menariknya juga manajemen air
kita itu sebenarnya terdesentralisasi.
Bagus tapi juga enggak bagus. Kenapa?
Kalau kita ingin menetapkan satu standar
jadinya sulit banget gitu, tidak scale
dengan baik. Jadi di sini banyak sekali
sebetulnya opportunity to unlock and ini
memang menjadi prioritas karena tanpa
air, tanpa pangan atau tanpa air pun
kita tidak bisa hidup lagi. So this is
really priority number one. Jadi ya
seperti yang aku sampaikan tadi eh it's
all engineering problems gitu. What we
need is smart monitoring systems,
intelligent water management, efficient
storage and distribution, dan juga
climate and system modeling.
Next.
Nah, ini mungkin saya rangkum lagi
sebelum saya tutup. Jadi, semangatnya
Eyang itu masih ada sebetulnya. Mungkin
bentuknya aja yang sedikit berbeda ya.
Eyang itu banyaknya di heavy high tech
manufacturing gitu. Mungkin karena dunia
sudah berbeda itu masih kita lanjutkan
tapi dilengkapi dengan yang lain-lain.
Green industries, digital intelligence,
system resilience. sistem res menarik
karena ternyata kita harus kembali lagi
ke basics untuk bisa eh memastikan bahwa
kita aman apalagi di tengah
ketidakpastian ini. Jadi these are the
four things that you can look into to
think about your career ya and how you
can contribute to the country because
again engineers are nation builders.
Lanjut.
Nah, ini ingin menunjukkan aja bahwa di
Indonesia kita ada 64 juta eh talenta
muda,
tapi you guys are top 1% top five top 1%
gitu ya kan. Why you gitu ya?
Kenapa kalian yang mungkin apa eh yang
perlu masuk ke industri-industri ini?
Because work is not just about getting
money in my opinion. Of course it is.
But after you reach a certain point and
especially when you look at Indonesia
you want to give back
because Indonesia has the potential and
especially in this room we have a lot of
potential.
We don't want that potential to come to
waste
and if we don't want that to come to
waste we want to invest in this country
in one way or another. Gitu.
And there are many ways that we can look
into that. Mungkin nanti kita ngobrol
lebih dalam lagi di Q&A kita. Jadi aku
akan sangat excited untuk mendapat
pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman
dan aku pun sebetulnya ingin mendengar.
I wan to be a listener juga gitu ya ke
teman-teman. How do you feel about the
future? How do you feel about future
jobs? especially being the brightest and
the strongest in the country right now.
Let's talk about that. Ya, next.
Nah, ini mungkin aku ingin akhiri dengan
satu statement lagi. Nations that build
complex foundational technologies of the
future shape the future. Jadi, ini
sebetulnya yang diinginkan oleh Eyang
Habibi. Eyang Habibi sebetulnya ingin
mendepankan Indonesia di panggung
global.
agar kita bisa meraih kedaulatan, tapi
we can also be a dignified nation and a
dignified civilization.
Dan saya rasa bisa kita realisasikan
juga bersama. Terima kasih.
Makasih banyak Manadia. A very inspiring
eh talk gitu ya. Eh, dan kayaknya beban
moralnya lebih tinggi deh gitu ya.
Berapa kali Mbak Nadia cerita tentang
engineers as a nation builders dan
rasanya ya tadi it's not only about how
we work in the future but also how we
give impact to the society of course
gitu ya. Eh, sebelum saya floor ke
teman-teman, kita masih punya banyak
waktu silakan the brightest mind
disiapkan pertanyaannya. Saya ingin
bertanya satu pertanyaan aja, Mbak,
mengenai eh reflecting back kalau Mbak
Nadia kembali 10 tahun lalu baru lulus
S1 gitu ya. Eh, jalan mana yang perlu
kita pilih gitu. Berbicara dengan
teman-teman ini kan banyak di tengah
ketidakpastian hari ini banyak anxiety
gitu ya, uncertainty word ini saya harus
ngapain sih gitu. Tentu pats-nya banyak
gitu. Ada yang mau professional career
first, ada yang mau langsung start
entrepreneur, lanjutin family bisnis,
S2 ke luar negeri,
pulang atau enggak. So, what path do you
suggest for yourself 10 years ago or for
them gitu? for myself ya. By the way 10
tahun yang lalu aku jauh lebih santai
daripada sekarang sih. Jadi mungkin gak
10 tahun Nadya 10 years ago will not
relate to Nadia now. Tapi kalau eh apa
namanya? Eh, the Nad now can reflect
back and change 10 years ago dan ingin
membuat suatu legacy ya. Eh, saya
mungkin akan menjadi memilih satu
keahlian
dan mencari di mana saya bisa lebih
mendalami eksperti itu di manapun itu
gitu. Karena
ya menurut aku memang we need more
expertise and I think kita bisa
menyumbang lebih banyak ide tapi juga
eksekusi. Jadi ide dan eksekusi itu
dua-duanya sama penting ke Indonesia
gitu ya dengan keahlian kita.
Kasih tepuk tangan untuk jawaban Mbak
Nedia.
Iya. usia 20 sampai 30 tahun rasanya
waktu yang tepat untuk m-deeper
expertise kita begitu ya dan di mana
kita bisa mengisi ruang kosong
mungkin kalau aku boleh tambah expertise
itu sebetulnya eh atau where you want to
focus itu enggak gampang ya karena kan
aku kalau sama Eyang itu agak sedikit
berbeda. Jadi Eyang itu kalau when he
was born he already knew he wanted to
make airplanes gitu ya kan aku enggak
bisa relate gitu. Jadi, waktu aku lahir
mungkin karena udah beda ya eranya atau
masanya, kebanyakan pilihan jadinya agak
bingung gitu mau mau mau fokusnya sama
mana. Tapi enggak apa-apa juga sih. Dan
eh aku rasa we need to take our time
karena it takes more than just being
logical ya menurut aku untuk memilih
satu bidang. You have to be passionate
about it gitu. Kenapa? Kalau enggak
passionate, not gonna put more hours dan
kalian juga enggak akan berkorban gitu
ya untuk bidang ini. Dan memang butuh
banyak pengorbanan untuk menjadi ahli
gitu ya dalam satu bidang. Emm begitu
sih kurang lebih
karena pasti ada suffering yang harus
dilalui ya Mb ya.
Pasti pasti
enggak mungkin indah semua. Oke kita
masuk ke saya pertanyaan tiga orang dulu
perempuan nomor satu ya baru kita ke
laki-laki. Oke siapa yang mau bertanya?
Ayo, ayo. The brightest mind, nation
builder, engineers,
scientist.
Kita kalau enggak dosen-dosennya dulu
yang nanya loh. Enggak ada yang mau
nanya nih. Enggak ada. Satu
perempuan satu dua parikrik satu. Oke,
boleh ke mik dulu parik ketiga ya.
Mbaknya dulu baru masnya baru pariklik.
Silakan
kenalan dulu ya. Oke, terima kasih
banyak atas kesempatannya, Pak. Bu,
perkenalkan saya Amalia Putri dengan NIM
13522042
dari Teknik Informatika ITB tahun 2022.
Dipanggilnya siapa, Mbak?
Amel aja.
Amel
ya. Ee, jadi saya izin bertanya tentang
emisi.
Tadi kita tahu bahwa kelistrikan itu
menghasilkan emisi sebanyak 70% dan
transportasi sebanyak 9%.
Kita tahu ada bahan bakar fosil,
listrik, dan juga yang baru itu ada
hidrogen.
Hidrogen kita tahu menghasilkan emisi
sebanyak 0%.
Kenapa kita tidak dari awal menggunakan
bahan bakar inhidrogen yang memiliki 0%
emisi misalnya di Jerman dibandingkan
dengan listrik dan bahan bahan bakar
fosil. Apa yang membatasi kita? Dan itu
aja pertanyaan saya. Terima kasih.
Terima kasih, Mbak Amel. Wow, ini
pertanyaan langsung ya nembak ke eh
pertanyaan yang teknis gitu mengenai
hidrogen. Saya tuh sebetulnya mendukung
kedua teknologi gitu ya. Tapi kalau kita
lihat di pasar sebetulnya yang ee sudah
diterima oleh lebih banyak konsumen
adalah C EV dan jawabannya kenapa?
Sangat eh simpel sih karena harganya
lebih murah. Kalau hidrogen itu masih
mahal, belum achieve apa scalability-nya
belum secepat EV. Sehingga memang untuk
membeli satu mobil hidrogen tuh jauh
lebih mahal daripada mobil EV gitu ya
kan. Jadi makanya tadi saya sebut ee apa
namanya frase produk market fit gitu ya.
Produknya ada misalnya hidrogen tapi
marketnya itu salah satu komponennya
adalah harga gitu ya kan. Jadi harga itu
penting juga agar bisa lebih gampang
diserap oleh pasar. Nah, itu sih
sebetulnya problemnya kalau misalnya nih
hidrogen ee ketemu satu cara untuk itu
menjadi lebih scalable sehingga lebih ee
apa harganya lebih murah itu mungkin
bisa diterima dengan market. Tapi kita
tidak bisa mendikte market ya sebetulnya
itu memang memiliki mekanisme sendiri
yang harus kita percayakan.
Iya. Baik, terima kasih banyak Bu Nadya
atas jawabannya.
Yang kedua,
baik, selamat pagi sebelumnya. Terima
kasih atas kesempatannya Mbak Nadya
untuk pertanyaannya. Ee perkenalkan nama
saya Anas dari Teknik Elektro. Ee yang
Habibi ini sangat menginspirasi saya.
Saya juga sekolah di SMA yang dibangun
oleh beliau di Gorontalo.
Pertanyaan saya mungkin sedikit politis.
Pertanyaan saya mungkin sedikit politis.
Ee agak di luar dari presentasi Mbak
Nadya. Namun saya sangat tertarik dengan
gerakan yang dilakukan oleh The Habibi
Center.
Tentu dengan SBM yang baik, namun tidak
ada penyerapan di dalam industri di
nasional seperti yang sudah dibilang
akan terjadiin.
Saya ingin tahu seperti apa gerakan dari
HB Center terkait hasil diskusi
intelektualitas yang dibuat atau
dilaksanakan kepada pemilik kekuasaan
tertinggi di negara ini yaitu negara
atau pemerintah untuk mendorong supaya
dibangunnya industri untuk memodernisasi
Indonesia, memajukan Indonesia ini
berhasil dan sesuai dengan PET yang
benar. seperti itu.
Ini mungkin masalah yang mirip dihadapi
dengan yang Habibi di masa lalu ketika
mengembangkan industri penerbangan yang
birokrasinya sangat memusingkan menurut
saya. Mungkin cukup sekian terima kasih.
Terima kasih banyak Mas Anas. Wow di
sini memang pertanyaan yang langsung to
the point banget ya. Ya, I appreciate
it. Em, kalau aku boleh rangkum berarti
bagaimana eh THC melakukan lebih banyak
stakeholder management ya agar bisa
memastikan eh arah kita di arah yang
benar dan tepat. Begitu ya. Em itu
memang yang dilakukan oleh The Habib
Center. Jadi, The Habibi Center adalah
satu think tank sebetulnya yang
memperjuangkan demokrasi. Demokrasi itu
sangat luas. Ee intinya sih kita memang
ingin memastikan bahwa orang-orang
mendapat haknya ya kan. hak asasi
manusia dan salah satu hak itu juga hak
ekonomi yang kita sebut di sini kan hak
ekonomi. Kita melakukan banyak
stakeholders tentunya eh stakeholder man
managementen dengan banyak KL. Saya
termasuk Bapak saya termasuk dan juga
pimpinan-pimpinan kita. Tapi tentunya
The Habib Center tidak bisa bergerak
sendiri. Eh dan maka itu dan I agree
with you. I think we can do a better job
gitu ya untuk bisa merangkul lebih
banyak CO bahkan juga pemuda-pemudi
Indonesia gitu ya. agar kita juga bisa
menyuarakan konsern kita gitu ya. I'm
happy that you said this. Why? Because
you care, that means gitu. Dan memang
kita butuh apa ya menggunakan sebetulnya
channel kita mungkin mengumpulkan
eh suara-suara termasuk suara-suara from
the bright and the the brightest and the
smartest here in the room. Maka itu
nanti di akhir sesinya aku juga ingin
minta waktu ya untuk aku tanya-tanya ke
teman-teman gitu. How do you feel about
Indonesia and future job prospects gitu
ya kan supaya itu juga bisa menjadi
peluang untuk aku suarakan itu ke
stakeholders.
Kurang lebih begitu ya Mas Anas. Terima
kasih sebelumnya. Oh ya satu lagi
mengenai birokrasi yang membingungkan.
Yes, itu memang betul sekali sangat
membingungkan dan maka itu aku juga
merasa sangat bersyukur ya Eyang itu
bisa berada di tempat lebih tepatnya
menjadi presiden di waktu yang tepat. E
karena pada waktu itu
it was a very difficult time ya Krismon
tentunya krisis krisis politik dan
lain-lain. Dan ternyata
yang memimpin negara ini adalah Eyang
saya yang sebetulnya beda sekali secara
DNA dibanding sama politisi-politisi
yang lain. Karena secara DNA beliau
adalah teknokrat, beliau adalah pure
engineer, dan beliau menggunakan e
engineering methods untuk bisa mengatasi
masalah-masalah
termasuk masalah-masalah politik gitu.
Emm dan ini mungkin it's God's blessing
ya. Kenapa? Karena he has been in
government for 20 years sebelumnya.
Beliau menjabat sebagai Menrist atau
Menteri Riset Teknologi sekarang sudah
enggak ada lagi jabatannya selama 20
tahun. Dan apa yang beliau lakukan di
dalam 2 20 tahun itu beliau juga
mempelajari sistemnya. Sistem birokrasi
yang memang kalau boleh jujur lumayan
menjelimet gitu ya kan. I think
he was able to change more than 200
regulations and undang-undang dalam
waktu cuman 17 bulan.
because he had that knowledge gitu ya
kan. Tapi memang birokrasi sekarang juga
sudah berubah dibanding sama era
sebelumnya. Jadi eh now we have to
combine forces gitu ya, THC, CSOCO yang
lain, bahkan juga teman-teman dan juga
akademisi yang lain untuk bisa bagaimana
kita bisa menavigasi a very difficult
political andratic
time sekarang.
Makasih, Pak Nadia. Pak Rikrik,
perkenalkan saya Rikrik dari FSRD.
Bangga tadi disebut FSRD-nya ya. Ee
sebagai mantan dekan jadi senang disebut
FSRD berkontribusi ya. Nah, ee yang
pertama ini tadi saya foto terus lapor
ke rektor. Ternyata pada saat yang sama,
pada menit yang sama Pak Ilham Habibi
sedang eh ngasih keynote speech di World
Engineering Day 2026 ya bersama Pak
Rektor ITB. Wah, betul-betul satu
satu yang tak terduga ya. Kemudian yang
kedua yang saya ingin tanyakan adalah ee
adakah program-program dari Habibi
Center untuk kemudian ee mendekatkan ya
dengan best talent di ITB baik dengan
mahasiswa maupun dengan fresh graduate
gitu. Karena mungkin ini salah satu yang
bisa menolong hope ITB ketika
lulusan-lulusan ini kemudian tidak
secara cepat berhadapan dengan lapangan
kerja yang dekat dengan bidang ilmunya
ya. Nah, kemudian yang kedua terakhir
ini ITB sedang mendorong
mentalitas multidisipliner ya untuk para
mahasiswanya. Karena sesuatu yang ee
dikerjakan sendiri itu sudah bukan
zamannya sekarang ya. Nah, kita ingin
meminta pengalaman Mbak Nadia terkait
dengan bagaimana ee bekerja
multidisiplin ini ee untuk bisa
didengarkan pengalamannya oleh para
mahasiswa. Mungkin gitu. Makasih.
Wow, dapat pertanyaan dari Bapak Wakil
Rektor SUA. Sebuah kehormatan ya. Terima
kasih banyak Bapak ee pertanyaannya
sangat bagus. Ee kalau saya boleh
rangkum berarti ini ee program apa yang
bisa dilakukan dengan THC atau The Habib
Center dan ITB untuk bisa lebih banyak
matching ya antara skill-skill
teman-teman pemuda-pemudi Indonesia
dengan industri. Kurang lebih begitu ya
supaya eh kita bisa menurunkan mismatch
karena banyak sekali mismatch dan
takutnya mismatch itu bisa menghasilkan
yang aku sempat sebut brain drain gitu
ya kan. menarik sekali itu suatu program
yang sebetulnya belum kita laksanakan
tapi tentunya kita sangat terbuka untuk
melakukan itu dan saya rasa mungkin kita
juga perlu mengundang ee pihak-pihak
luar negeri ya saya rasa untuk itu ee
kebetulan
ee jaringan keluarga saya masih lumayan
kuat juga ya di luar negeri karena Bapak
saya lahir dan besar di Jerman selama
3032 tahun. He is more German than
Indonesian. Sebetulnya kalau mimpi
berbahasa Jerman, Teman-teman, gitu ya.
Dan kalau ngomong bahasa Indonesia
KBBI bangetlah gitu ya. Jadi ya
maksudnya ini banget apa namanya formal
banget gitu karena that's how he learn
Indonesian. Eh, dan tentunya saya juga
punya jaringan di Amerika dan lain-lain.
Jadi, that's something that we can
discuss ya, Bapak Wakil Rektor. Dan I'm
very happy kalau kita bisa fasilitasi
karena emm kalau kita lihat juga di
negara-negara lain yang berkembang tapi
memang mungkin dibanding sama Indonesia
lebih maju misalnya kayak India gitu ya
atau Cina atau Tiongkok misalnya,
mereka mulai dengan talenta-talenta
mereka sih gitu ya. Dan kalau boleh
jujur memang diaspora mereka itu sangat
kuat. dan sangat terkoneksi dengan ee
luar dunia luar negeri bahkan dalam
negeri dan mereka maintain sebetulnya
komunitas diaspora mereka dengan baik
gitu ya sehingga bisa berkontribusi
balik ke negaranya gitu. Jadi itu
mungkin sesuatu yang kita bisa explore
juga. Terima kasih banyak. Ada yang
tertarikah untuk masuk ke program
seperti itu
dari teman-teman mungkin. If you wan to
raise your hand up no.
Malu-malu. Sebelum Mbak Nadia bertanya
ke teman-teman, ada satu pertanyaan lagi
di YouTube.
Oke,
kita akan perlihatkan ya. Kita saya baca
ya. Dari Naomi Azahran kelas 5 STI stay.
Eh, apa pendapat Mbak tentang ilmuwan
atau engineer yang terpaksa meninggalkan
negara yang mereka cintai karena negara
tersebut lebih memprioritaskan bantuan
sosial jangka pendek seperti pangan
gratis? No komen.
Dibandingkan investasi pada riset dan
teknologi, apakah menurut Anda mereka
salah karena pergi atau justru ini
adalah keputusan rasional demi
mengembangkan potensi mereka? Jika Anda
hidup di negara seperti itu sebagai
engineer yang merasa tidak didukung oleh
sistem, apa yang bisa menjadi
justifikasi untuk tetap tinggal dan
berkarya di dalam negeri? Pertanyaan
yang sulit dan kontroversial sebetulnya,
tapi rasanya menarik untuk kita
diskusikan dalam forum
forum akademik yang
Let me Breathe ya sebentar. And think
menarik ya. Dan tadi kita bicara brain
drain, kita bicara diaspora, kita bicara
eh kalau kita mau bikin pabrik EV tentu
kita enggak bisa hanya mengandalkan
lulusan ITB. We need PhD to Stanford,
more PhD to Oxford, more PhD to Imperial
College London, to Singhua University,
but then what's next? Gitu. Terlalu
frustasi enggak pulang gimana gitu. So,
what do you think, B?
Ya, coba ya, coba. Aku pikir jelas-jelas
dulu ya. Tapi yang dilakukan oleh Eyang
ini patokannya aku menggunakan Eyang.
Eyang was a mechanical engineer eh sorry
aeronautical engineer. Pada waktu beliau
studi eh di ITB pun mechanical ya bukan
aeronautical karena belum ada ya waktu
itu.
Iya basicnya mechanical tapi belum ada
yang spesifik. Dan maka itu beliau ke
luar negeri. Beliau ke luar negeri
karena he wanted to be the best at what
he does. full stop best gitu ya kan.
Kenapa? Karena beliau merasa beliau bisa
berkontribusi his best kalau beliau
menjadi ahli dalam bidangnya gitu. Jadi
kalau aku menggunakan filosofi itu ya
memang sebetulnya you go to a place
where you can be the best version of
yourself gitu.
Nah, masalah kembali atau enggak itu
menjadi keputusan kalian masing-masing
untuk Eyang. Iya. Kenapa? Karena memang
negaranya memanggil dan dari beliau ee
dari dulu beliau itu selalu dididik
untuk ya menjadi orang yang bisa
bermanfaat bagi negara dan bangsanya.
Tapi untuk menjadi bermanfaat bagi
negara dan bangsanya itu tentunya banyak
sekali caranya dan salah satu caranya
adalah seperti Eyang Habibi untuk
kembali. Ada juga Prof. Bagus Mulyadi,
ada yang pernah dengar kan? He didn't
come back.
But he is very influential.
I don't know anyone doing something like
he's doing. Intinya sih, he uses
academia untuk diplomasi.
Dia menggunakan networknya atau
jaringannya di luar negeri, di UK dan
lebih tepatnya di University of
Nottingham untuk bisa eh invest di
Indonesia dengan research-nya, dengan
dananya dan lain-lainnya. Dan itu juga
menarik sekali. Saya rasa wajar juga
gitu ya. I don't think contribution
depends on where you are but it depends
on the impact tangible impact gitu. Jadi
memang there are many ways to contribute
gak cuman satu cara. And in my opinion I
think you need to go where you will be
best at.
Kasih tepuk tangan dong buat jawaban.
Merinding saya. Tapi silakan siapkan
aplikasi ke MIT, Singhua, Stanford, or
wherever you want to go to be the best
at, gitu ya. Dan hutang budi teman-teman
sebetulnya bukan buat pemerintah tapi
sebenarnya buat Indonesia gitu ya. Oke,
sekarang mungkin Mbak Nadia mau bertanya
Mbak apa yang ingin Mbak Nadia tanyakan
kepada teman-teman tiga orang ya. Kita
minta tiga orang menjawab.
Oke, sebetulnya saya juga saya ingin
tanya sih how do you feel about the job
market sekarang, gitu ya. Emm karena
ya seperti yang disampaikan oleh Bapak
Wakil Rektor, mungkin kemungkinan besar
ada mismatch gitu ya. How do you feel
about it dan bagaimana teman-teman
sebenarnya bisa mengatasi kemungkinan
mismatch itu? Mungkin saya mulai dari
situ ya.
Oke, tiga orang.
How do you fail gitu ya job market
sekarang dan bagaimana teman-teman
merasa akan mengatasinya? S du
satu lagi perempuan. Belah sana belum
mbak-mbaknya? Ayo ayo yo.
Ada.
How do you feel about job market in the
next one year, two years after you
graduated maybe. Oke, disiapkan
pertanyaan Mbak-mbak. Silakan Masnya
dulu.
Baik, terima kasih atas kesempatannya.
Perkenalkan nama saya Muhammad Rafiat
Darajat, bisa dipanggil Raffi.
Saya dari Teknik Elektro 2022. Ee jadi
menurut saya dalam dua atau 3 tahun
setelah saya lulus menurut saya tidak
akan ada perubahan drastis. Karena
menurut saya kebutuhan industri sekarang
adalah mengerti apa yang sedang
dikerjakan oleh akademisi. Begitu.
Contoh tadi e Mbak Nadia e membawakan
tentang
water and food management system.
Begitu. Jadi kalau dari kami, saya dari
teknik elektro itu untuk monitoring
pertanian itu suatu yang sangat simpel
gitu. Jadi anak tingkat satu tingkat du
itu sudah bisa dengan mudah membuat
suatu alat dan siap untuk dipakai gitu.
Tinggal taruh di tanah terus petani bisa
langsung e monitoring. Jadi simpel
memang. Cuman masalahnya adalah kenapa
kita yang sudah bisa tapi
ee industri tuh belum tahu kalau kita
tuh bisa gitu loh. Kayak contoh
teman-teman saya itu dari Teknik Tenaga
Listrik mereka itu sering sekali ee
punya apa ya ee tugas akhir tentang
elektronika daya yang tadi di bagian
green industry dan juga teman-teman saya
juga ada yang di bater engineer ee
tertarik di bagian baterai begitu. Cuman
ya saya rasa tidak ada tempat untuk kami
karena industri tidak tahu apa
sebenarnya sedang kita kerjakan gitu.
Kayak ee nyatanya seperti ini. Ketika
kita melambat pekerjaan salah satu yang
dilihat itu adalah IPK atau enggak
jurusan. Sekedar itu aja. Tapi tugas
akhir itu enggak pernah dilihat gitu.
Jadi seolah-olah inovasi yang kita
kerjakan di sini tuh tidak diperhatikan
gitu. Begitu sih dari saya. Terima
kasih. Jadi menurut saya 2 sampai 3
tahun terakhir belum ada perubahan dan
saya rasa ya kalau untuk survive mungkin
ada di startup atau ke luar negeri
begitu Bu. Terima kasih.
Ke luar negeri.
Saya suka dengan kepercayaan dirinya Mas
Raffi. Terima kasih Mas Raffi. Satu lagi
boleh mungkin kita dengarkan dulu ya.
Silakan Mas sebelahnya. Ini udah
bisik-bisikan sama Mas Rafi kaynya.
Ayo mbak-mbaknya siap-siap ya. Habis ini
kita tanya satu orang lagi. Silakan,
Mas. Oke. Oke.
Terima kasih atas kesempatan yang telah
diberikan pada hari ini. E perkenalkan
nama saya Fitraka Ario Sutansyah dengan
NIM 132272.
Saya dari Teknik Elektro juga.
Eh, pendapat saya tentang eh job market
yang ada sekarang menurut saya cukup
menantang.
Soalnya ee bisa dilihat dari
perkembangan teknologi yang sekarang ini
makin lama makin cepat. Jadi, selain
kita harus ee menguasai
ilmu kuliah yang akan menjadi fondasi
kita di dunia kerja nanti, nah kita juga
harus ee belajar dari berbagai macam
dari berbagai macam sumber lain seperti
proyekan, seperti lomba atau kita juga
belajar dari YouTube secara autodidak.
Soalnya eh kalau kita enggak kecap sama
itu semua, eh kita bakal ketinggalan
cukup jauh
gitu menurut saya.
Mas siapa dipanggilnya?
Fitraka.
Mas Fitraka. Oke. Kayaknya kalau
malam-malam sambil begadang Mas Fitraka,
Mas Raffi itu debatnya seru gitu ya.
Betul sekali.
Oke, satu lagi mungkin Mbaknya ada yang
mau cerita sharing silakan.
Ada mic atau ke depan aja boleh?
Baik, terima kasih buat kesempatannya.
Sebelumnya kenalkan saya Liana dari
Teknik Biomedis stay ITB. Untuk ee di
masalah lapangan pekerjaan jujur karena
saya latar belakangnya itu adalah
medical biomedical engineering yang mana
enggak jauh beda sebenarnya sama
teman-teman teknik elektro cuman lebih
ke arah medikalnya. Saya melihat di
Indonesia saat ini belum banyak lapangan
pekerjaannya. Kenapa? Karena yang
pertama di Indonesia sendiri belum
banyak adanya teknologi kesehatan yang
benar-benar dibuild dari awal di
Indonesia. Saat ini yang saya ketahui
untuk medical devices itu banyakan
import dari negara-negara lain dan belum
ada yang dikembangkan di Indonesia. Jadi
memang saat ini ee untuk
lapangan pekerjaan itu terbatas pada apa
ya distribusi alat, penjualan alat dari
dari luar negeri atau justru banyak dari
kakak tingkat di jurusan saya tuh yang
justru berbalik arah gitu. yang tadinya
belajar tentang instrumentasi biomedical
device itu malah justru ke arah data
engineer karena memang kami jujur kurang
melihat adanya perkembangan atau harapan
gitu di jurusan ini terutama di medical
device itu sendiri karena memang sejauh
ini belum ada banyak perkembangan untuk
ee industri medis di Indonesia. Itu saja
dari saya. Terima kasih
Mbak Lian.
Iya
Mbak Lian. Betul,
Mas. Boleh kasih tepuk tangan buat Mbak
Liana.
Satu orang lagi perempuan. Jadi tadi eh
Mbak Nadya cerita di BYD itu mostly
woman in engineers gitu ya, woman in
STEM. Di ITB itu tahun lalu saya cek
statistik barusan S1 itu perempuannya
43%, Mbak. S3 perempuannya 51%.
Jadi sudah banyak nih mbak-mbak
eh woman in STET, in science in
engineers. Ada lagi satu orang lagi
mungkin.
Selain stay, stay lagi nanti
perempuannya dulu ada yang mau?
Oke, silakan.
Satu orang lagi ya.
Oke, selamat pagi Mbak Nadia. So, my
name is Tania. I'm from managemen ITB.
maybe eh untuk ngomongin tentang job
market gitu ya, dari apa yang saya lihat
dari teman-teman ataupun dari seniors
yang ada di ITB itu banyak yang eh
pivoting gitu. Awalnya mereka dari
engineerings tapi tiba-tiba masuk ke
corporate like finance or human resource
something like that gitu. Jadi yang aku
lihat di sini itu adalah untuk
penyerapan industrinya sendiri itu masih
sangat ee apa ya rendah gitu. mungkin
lebih ke untuk entry level-nya itu
dibutuhkan seseorang yang benar-benar
punya ee technological
ilmu atau knowledge yang benar-benar
tinggi gitu atau beneran yang dia punya
achievement yang tinggi gitu untuk bisa
masuk ke industri eh teknologi gitu.
Jadi makanya banyak dari mereka itu
pivoting ke arah yang yang mungkin bukan
e bagian eksertis-nya lagi gitu masuk ke
dunia job market yang lebih kecorporate
dan eh untuk anak manajemen jadinya kita
lebih compete lagi gitu dengan anak
engineering ini gitu. itu Kak. Terima
kasih.
Terima kasih banyak. Eh, so maybe you
could.
Terima kasih, terima kasih banyak,
Teman-teman, sudah sharing sama aku.
Jadi, kalau aku boleh rangkum karena
sebetulnya aku pun enggak punya
jawabannya ya, cuman aku mau tanya aja
gitu ya kan. Em ya katanya kebanyakan
memang lumayan worried ya atau anxious
dengan job marketnya karena memang ada
mismatch itu. Dan aku jadi penasaran
gitu kalau teman-teman sudah sadar
dengan mismatch itu kenapa teman-teman
masih masuk ke bidang ini gitu ya.
Apakah memang itu dari passion atau apa
yang tadi disebut sama sori tadi dengan
siapa? Eh bukan Liana yang setelah Liana
SBM yang Mbak SBM
siapa t Mbak
ITB? Sori tadi enggak nangkap namanya
siapa. Tapi anyway em apakah pengin ada
jurusan engineering karena kelihatannya
lebih kompeten gitu ya di CV itu mungkin
menjadi juga masukan yang sangat
menarik. Mungkin nanti kalau kapan-kapan
kita ee bisa duduk bareng ya, Pak. Eh
kita bisa mengadakan program gitu ya
untuk bisa memahami what are the needs
of the young talent and bagaimana kita
juga bisa menyalurkan mereka ke
tempat-tempat yang tepat sebetulnya sih
begitu. baik di sini atau bahkan di luar
sebetulnya.
Emm kalau dari saya ee sekali lagi saya
berterima kasih ke Pak Wakil Rektor, ke
para pemimpin ITB dan juga dosen
pengampu dan ke teman-teman semua sudah
ee menyisihkan waktu ya pagi ini untuk
aku gitu. Em, I feel very honored dan
semoga juga Eyang di atas melihat kita
semua bahwa kita sedang melakukan
diskusi yang sangat menarik dan mungkin
sangat relevan untuk beliau juga kalau
beliau masih ada di sini.
I hope this is not the last dan semoga
kita bisa melanjutkan diskusinya di
waktu eh yang lain. Terima kasih banyak
and see you next time
Mbak Nad Habibi. Terima kasih banyak.
Eh, I'm very sure that Eyang Habibi
bangga gitu ya dengan teman-teman dan
tentu saya dengan Mbak Nadya Habibi yang
hari ini hadir di ITB memprovokasi
adik-adiknya para engineers dan nation
builders ini untuk melanjutkan
mimpi-mimpi dari Pak Prof. PJ Habibi.
Mari kita berikan doa alfatihah untuk
beliau agar beliau bisa menjadi ee tamar
jariahnya bisa sampai untuk kebaikan
kepada beliau di akhirat. Alfatihah
ya. Selesai. Terima kasih banyak. Sekali
lagi beri tepuk tangan yang meriah untuk
Mbak Nadia Habibi, Executive Board of
the Habibi Center. Saya kembalikan
kepada moderator. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Kepada Ibu Ned Habibi kami mohon untuk
tetap di tempat. Selanjutnya kami
mengundang Wakil Rektor Bidang
Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan
Administrasi ITB untuk memberikan piagam
penghargaan kepada Ibu Nadya Habibi.
Kepada Dr. Arik Rikusmara kami silakan.
Baik, saya izin untuk pandu. Silakan
untuk diangkat piagamnya menghadap ke
kamera. 1 2 tiga
Baik, selanjutnya disilakan untuk
menempati posisi di depan panggung untuk
berfoto bersama dengan mahasiswa. Untuk
rekan-rekan mahasiswa disilakan untuk
berdiri dan merapat ke bagian tengah.
Sekali lagi untuk rekan-rekan mahasiswa
disilakan untuk berdiri dan merapat ke
bagian tengah agar seluruh peserta dapat
terlihat lebih jelas.
Baik, untuk teman-teman disilakan untuk
berdiri
boleh untuk merapat ke bagian tengah.
Oke, untuk rekan-rekan mahasiswa
disilakan untuk berdiri merapat ke
bagian tengah dan boleh mengisi bagian
yang kosong.
Oke. Baik, sudah siap. Mohon untuk
melihat ke kamera.
3 2 1.
Sekali lagi dengan formasi tangan ITB.
3 2 1.
Baik, terima kasih hadirin. Dengan
demikian, studium generalnya pada hari
ini telah selesai.
Kepada seluruh mahasiswa kami silakan
untuk mengisi presensi dengan memindai
qrter pada layar.
Baik, kami informasikan juga bahwa saat
ini sedang diselenggarakan acara
collaboration Gost to Campus oleh ITB
Karir Center di Aula Timur ITB.
Collaboration Gost Kampus berkolaborasi
dengan Indosat untuk membangun karir di
industri digital. Kami silakan kepada
para peserta Studium Generale untuk
menghadiri acara ini di aula timur.
Terima kasih atas perhatian hadirin pada
acara hari ini. Selamat siang.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Yeah.
UNLOCK MORE
Sign up free to access premium features
INTERACTIVE VIEWER
Watch the video with synced subtitles, adjustable overlay, and full playback control.
AI SUMMARY
Get an instant AI-generated summary of the video content, key points, and takeaways.
TRANSLATE
Translate the transcript to 100+ languages with one click. Download in any format.
MIND MAP
Visualize the transcript as an interactive mind map. Understand structure at a glance.
CHAT WITH TRANSCRIPT
Ask questions about the video content. Get answers powered by AI directly from the transcript.
GET MORE FROM YOUR TRANSCRIPTS
Sign up for free and unlock interactive viewer, AI summaries, translations, mind maps, and more. No credit card required.