Mentoring PUNDI - Kelas 09 [Kamis, 05 Februari 2026]. Mentor: Isva Theresia Adelina
FULL TRANSCRIPT
Halo
Bagaimana sekarang? Sudah terlihat
Bapak, Ibu?
Sudah.
Sudah.
Sudah, Bu.
Oke, ya.
Ee jadi perkenalkan Bapak Ibu ee malam
hari ini ee akan dibersamai oleh saya.
Perkenalkan nama saya adalah Isfa
Teresia Adelina. Ya, Bapak Ibu boleh
kalau mudahnya sih biasa di sekolah saya
dipanggilnya Tere karena nama depannya
agak susah ya karena pakai V. Saya
adalah guru SD. Saya mengajar ee untuk
tahun ini. Kebetulan dapatnya di kelas
2. Saya lahir di Medan. Saya aslinya
orang Batak. Lahir di Medan tanggal 23
Oktober 89.
Kemudian saya adalah lulusan dari
Universitas Pelita Harapan. Saya S1 dari
sana PGSD. Dan saat ini saya mengajar di
ee Kota Tangerang yaitu di SDN Karawaci
Baru 1. Kemudian ee ada beberapa ee
kesibukan yang saya coba ikuti ya di
tengah-tengah waktu yang saya pikir saya
memiliki waktu nih untuk coba ikut
belajar. Saya kebetulan bergabung
kemarin di guru penggerak angkatan 11.
Kemudian di tahun 2023 saya juga ikut
menjadi Warda Inspiring Teacher. Dan
yang terbaru saya ikut membersamai LPTK
UPH. Kebetulan membuka prodi baru yaitu
PPG. Saya bergabung menjadi guru pamong
di sana ee dari tahun lalu pada saat
Guter dan nanti mulai berjalan di
Februari ini bersama dengan mahasiswa ee
calon guru. Seperti itu perkenalan dari
saya. Nah, apakah ada Bapak Ibu di sini
yang bersama-sama dengan saya? Mungkin
kita berada di tempat yang sama dari
Kota Tangerang. Apakah ada
Bapak Ibu yang dari Kota Tangerang
mungkin boleh kasih
TR
ada ya boleh kasih ini kali ya ee
reaction yang dari kota Tangerang
ada berapa orang nih? Boleh komen-komen
juga boleh. Oh iya.
Oke.
Kemudian ee
apakah ada yang tetanggaan dengan Kota
Tangerang? Mungkin yang dekat dari
Jakarta.
Oh, mungkin lebih jauh lagi kali ya.
Baik, kita lanjutkan slide-nya.
Nah, di minggu pertama ini ya ee materi
kita kok berat banget ya judulnya
kayaknya orientasi dan identitas guru
pundi identity before innovation. Apa
yang mau kita ketahui tentang ini gitu.
Nah, supaya enggak terlalu pusing Bapak
Ibu, kita mau lihat sebentar video
perkenalan tentang pundi dulu ya supaya
kita enggak penasaran sebenarnya di
pundi ini apa sih isinya gitu. Si pundi
ini apa? gitu ya Bapak Ibu ya. Sebentar
saya stop dulu.
Okay.
Bapak dan Ibu.
Halo Bapak dan Ibu guru hebat dari
seluruh Indonesia. Saya Yosua dan senang
sekali bisa menyambut Anda. Anda di
titik awal perubahan besar bagi
pendidikan kita. Mungkin Bapak dan Ibu
bertanya apa itu pundi di Nusantara?
Pendidikan unggul digital Nusantara
lahir dari sebuah keyakinan sederhana
namun mendalam. bahwa kualitas
pendidikan di Indonesia sangat
bergantung pada kualitas setiap guru
yang berdiri di garda terdepan di dalam
setiap ruang kelas. Undi adalah
ekosistem yang kami bangun untuk
melahirkan guru-guru unggul, pendidik
yang memiliki pola pikir
transformasional,
berdaya, dan tentunya melek teknologi.
Karena kami percaya hanya guru unggul
yang mampu menyiapkan murid menjadi
generasi emas yang berkarakter dan
berdaya saing glokal, berstandar global.
Namun tetap memegang teguh kearifan
lokal. Visi kami sangat jelas.
pemberdayaan guru dan transformasi pola
pikir lebih
macet Bu
tidak
Video tidak jalan, Bu.
Sumbernya terlempar Bu sepertinya
jaringan mungkin ya.
Iya, narsum-nya terlempar kayaknya.
Yang jadi host Bu Eka Rahmayantina
yang jadi host sekarang Bu
Bu Eka.
Kawan saya nih Bu Eka. Haloi apa?
Apa?
Ibu host.
Hah?
Pian jadi host tuh. Eh,
kenapa
narasumbernya terlempar
lah? Terus piye?
Enggak apa-apa. Tunggu aja, tunggu aja,
tunggu aja. Nanti datang juga.
Kenapa diriku jadi host?
Otomatis kan?
Oh. Oh, karena karena tadi masuknya
lebih dulu gitu.
H maybe. Enggak tahu juga kan begitu
host asli keluar teralihkan ya.
Oh.
Sudah masuk lagi belum ibunya nih?
Belum. Belum ada. Belum ada sih.
Tak apa, tak apa. Kita ngopi dulu deh.
Presensi katanya di classroom ya, Bu ya?
Kalau enggak salah sih, coba sambil cek
classroom nih.
Hmm. Belum ada
Bapak Ibu maaf ya, itu tadi saya
terlempar keluar.
karena sinyal. Mohon maaf.
Oke, saya akan ulangi itu ya, Bapak, Ibu
ya ee untuk menampilkan videonya tadi.
Mohon maaf.
Eh, sepertinya host-nya perlu diganti.
Bu Eka bisa dikasih ke Bu ISPA mungkin
ya.
Iya, iya. Bentar, bentar ya.
Makasih ya, Ibu ya.
Oke, sudah ya, Bu? Belum.
Ee
salah itu, Pak Abu. Abu
salah, Uy.
Oh, salah toh.
Enggak apa-apa.
Iya, entar entar entar.
Mana? Walau
sudah tulisannya itu loh, Bu. I S ya.
Oh, Pak Abu berarti yang mindahin ya.
Oh, iya iya benar.
Pak Abu tolong saya, Pak.
Oke,
baik. Terima kasih, Pak Abu.
Oke, saya kembali lagi ya, Bapak Ibu ya.
Terima kasih sekali masih bersabar. Ini
memang kalau kita sudah berteman sama
teknologi begini ya, suka ada hal yang
di luar kendali. Oke, kita putar sekali
lagi ya Bapak Ibu. Selamat datang untuk
Bapak Ibu yang baru bergabung. Saya
putar kembali ya.
Halo Bapak dan Ibu guru hebat dari
seluruh penjuru Indonesia. Saya Yosua
dan senang sekali bisa menyambut Anda di
titik awal perubahan besar bagi
pendidikan kita. Mungkin Bapak dan Ibu
bertanya Ya.
Suaranya enggak kedengaran ya, Bu? Di
sini atau di tempat lain, Bu? Aris
kedengaran enggak suaranya?
Enggak kedengaran juga sama
suaranya Ibu Isa kayaknya dimut.
Ee suara videonya tidak terdengar.
Iya, enggak kedengaran, Ibu. Oh, oke.
Coba kalau sekarang
sangat jelas pemberdayaan guru
bisaasi.
Sudah kedengaran?
Iya, sudah kedengaran, Ibu.
Oh, iya sudah.
Halo, Bapak dan Ibu guru hebat dari
seluruh hukum Indonesia. Saya Yosua dan
senang sekali bisa menyambut Anda di
titik awal perubahan besar bagi
pendidikan kita. Mungkin Bapak dan Ibu
bertanya, apa itu pundi di Nusantara?
Pendidikan unggul Digital Nusantara
lahir dari sebuah keyakinan sederhana
namun mendalam bahwa kualitas pendidikan
di Indonesia sangat bergantung pada
kualitas setiap guru yang berdiri di
garda terdepan di dalam setiap ruang
kelas. Pundi adalah ekosistem yang kami
bangun untuk melahirkan guru-guru
unggul, pendidik yang memiliki pola
pikir transformasional,
berdaya, dan tentunya melek teknologi.
Karena kami percaya hanya guru unggul
yang mampu menyiapkan murid menjadi
generasi emas yang berkarakter dan
berdaya saing glokal, berstandar global,
namun tetap memegang teguh kearifan
lokal. Visi kami sangat jelas.
Pemberdayaan guru dan transformasi pola
pikir lebih mewujudkan generasi emas
Indonesia 2045.
Untuk mencapainya, kami memiliki misi
besar untuk melatih 1000 guru setiap
tahunnya agar memiliki pola pikir yang
adaptif dan menjadi pembelajar sepanjang
hayat. Kami bergerak melalui
pengembangan kompetensi yang holistis,
transformasi pedagogi abad ke-21 hingga
membentuk digital leaders yang menjadi
agen perubahan di sekolahnya
masing-masing. Tujuan akhirnya kami
ingin melihat ada 70 praktik
pembelajaran inovatif yang lahir dari
tangan Bapak dan Ibu sekalian sebagai
apa? Sebagai model inspirasi bagi
komunitas pendidikan di seluruh
Indonesia.
Halo Bapak dan Ibu guru. Untuk mencapai
visi besar yang baru saja dipaparkan
tadi, perjalanan kita di pundi
pendidikan unggul digital nusantara ini
akan dipandu oleh tiga nilai utama yang
berasar dari makna terdalam pendidikan.
Pertama, edukere memimpin mereka untuk
keluar. diund
tugas guru adalah menuntun potensi luar
biasa yang sudah dipercayakan oleh sang
pencipta di dalam diri setiap murid
sehingga potensi tersebut dapat
terpancar keluar dan terus berkembang.
Kedua, edukare menuntun mereka dengan
penuh perhatian dalam pemeliharaan.
Nilai ini mengingatkan kita bahwa
pendidikan adalah relasi dengan tindakan
penuh welas asing dan kepedulian. Guru
harus merawat pertumbuhan murid dengan
hati. Ketiga, edukatif melatih dan
memperlengkapi mereka. Guru tidak hanya
memberi informasi, tapi harus membekali
murid dengan pemahaman yang mendalam,
kompetensi yang signifikan, serta
keterampilan yang relevan agar para
murid dapat bertumbuh kembang, menjadi
pribadi dewasa yang turut berkontribusi
nyata dan berdampak bagi lingkungan di
sekitar mereka. sebagai warga Kingko
berstandar global dengan kearifan lokal.
Transformasi ini harus diawali dari
perubahan mindset, pola pikir kita
sendiri. Dari sekedar pengajar menjadi
pembelajar seumur hidup dari pribadi
yang bekerja sendiri dan terisolasi
menjadi bagian dari komunitas yang
saling memberdayakan.
Yuk, kita sambut bonus demografi 2030
dan generasi emas 2045 dengan kesiapan.
Kami sangat bangga Bapak dan Ibu
bersedia turut terlibat dalam gerakan.
Dari seluruh penjuru Nusantara, selamat
bergabung di pundi Nusantara. Mari kita
mulai transformasi besar ini dengan
sebuah langkah kecil menuju 100 tahun
Indonesia merdeka.
Baik
ya, sedikit ee itu dia perkenalan
singkat ya dari pundi. Apa itu pundi?
Oke. Nah, sebelum ee lebih jauh kita
masuk ke dalam kegiatan kita malam hari
ini, Bapak Ibu, seperti biasa kalau kita
di kelas pasti sebelum kita memulai ya
pembelajaran di kelas tahun ajaran baru
biasanya kita ee ada apa ya?
Ada
berdoa, Bu.
Oke, berdoa dulu. Betul ya. Sebelum kita
memulai lebih jauh, saya minta kesediaan
dari Bapak Ibu sekalian memimpin agama
menurut ee agama dan kepercayaan. Yang
memimpin saja enggak apa-apa. Jadi nanti
bergantian ya. Boleh adik, Bapak atau
Ibu yang bersedia memimpin kegiatan
malam hari ini dalam doa.
Nah, ini dia belum ada. Oke. Baik.
Karena belum ada, saya awali ee
pertemuan ini dengan saya memimpin doa
terlebih dahulu ya. Berhubung saya
beragama Kristen, jadi saya akan
memimpin secara Kristen. Bapak, Ibu yang
beragama lain silakan mengikuti dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing
ya. Mari kita bersatu di dalam doa. Bapa
di dalam surga, kami mengucap syukur
Tuhan untuk kesehatan, kekuatan, dan
kesempatan yang Tuhan berikan pada kami
sehingga malam hari ini kami boleh
memulai pertemuan pertama kami dalam
program Pundi Nusantara. Tuhan, kiranya
Engkau yang memimpin kegiatan kami pada
malam hari ini dari awal pertengahan
hingga akhir. Biarlah Bapak setiap kami
yang terlibat dalam kegiatan di
pertemuan ini boleh membawa satu insight
baru sehingga di pertemuan kedua,
ketiga, bahkan sampai di pertemuan ke-12
nanti kami tetap memiliki semangat yang
sama. Terima kasih Tuhan. Di dalam
nama-Mu kami telah berdoa dan mengucap
syukur. Amin.
Baik, kita lanjutkan ya Bapak Ibu. Nah,
setelah berdoa biasanya kita ngapain ya,
Bapak, Ibu ya? Kalau di kelas ya
ada yang kesepakatan-kesepakatan, Kak.
Iya, betul. Kesepakatan dulu sebelum
kita perkenalan ya. Oke, kita
ada beberapa kesepakatan kelas di sini
ya yang sudah kita susun bersama dengan
tim pundi. Saya mau membagikan ke Bapak
Ibu sekalian.
sudah terlihat ya. Ini dia
ada beberapa hal yang pertama yaitu
mengenai ketepatan waktu. Terima kasih
untuk Bapak Ibu yang sudah memulai
sebelum saya menyampaikan ee komitmen
ini yaitu untuk hadir setidaknya 5 menit
sebelum ee sesi dimulai. Kemudian yang
kedua meminimalisir gangguan. Jadi kalau
memang ee kita menghindari obrolan
virtual pribadi antara peserta jika
tidak ee ada hubungannya dengan topik
yang dibahas ataupun dengan tugas gitu.
Kemudian yang ketiga adalah partisipasi.
Nah, sebagian besar sesi ini datang dari
partisipasi aktif ee para peserta. Jadi
bukan satu arah dari saya gitu karena
saya pun belajar juga dari Bapak Ibu ya.
Jadi harus dua arah nih kita nih
masing-masing dari Anda membawa
pengalaman berharga ke dalam kegiatan
kelas kita sehingga keberhasilan dari
kelas kita ini, kegiatan kita ini
bergantung dari dua arah antara Bapak
Ibu dengan saya, Bapak Ibu sesama
peserta juga. Kemudian kita juga penting
sekali untuk menghormati orang lain ya.
Mari kita menghormati satu sama lain
diri kita sendiri, mentor juga dengan
mematikan mikrofon pada saat ada peserta
lain ataupun mentor yang berbicara gitu.
Kemudian setuju untuk tidak setuju bahwa
selama program ini berlangsung, setiap
peserta itu ee didorong untuk merasa
bebas menyampaikan pendapat tanpa rasa
kekhawatiran untuk dihakimi. Karena
setiap orang layak merasakan suasana
belajar dan berbagi ya tanpa ada merasa
aduh kok saya kayaknya kurang pintar ya
dibanding sama peserta lain. Nah, itu
enggak boleh ya. Kemudian Bapak Ibu juga
diperkenankan untuk mengajukan
pertanyaan. Semua pertanyaan adalah
penting. Tidak ada pertanyaan yang tidak
penting. Sehingga jika Bapak, Ibu
memiliki pertanyaan ya silakan bertanya
baik secara pribadi pada saat istirahat
ataupun mungkin kalau memang merasa oh
di depan umum kurang nyaman enggak
apa-apa ya nanti boleh cari waktu
pribadi. Silakan boleh nanti ee
menghubungi saya. Nah, kemudian jalur
komunikasi kita ya bisa dengan melalui
ee Google Classroom dan juga WA grup
kelas. Nah, bila ditemukan ada
pelanggaran yang berulang dan disengaja,
maka mentor kelas dapat memberikan ajuan
komplain kepada pihak panitia pundi dan
akan ditindaklanjuti segera. Oke.
Kemudian ee ada juga ee diperbolehkan
bertanya di grup WhatsApp dan
menghubungi akun apabila pertanyaan
bersifat keperluan pribadi.
Nah, ini yang paling penting Bapak Ibu
jangan sampai lupa mungkin terlalu asyik
nanti di dalam kelas kita ada namanya
formulir presensi. Formulir ini diakses
melalui Google Classroom masing-masing
dan ee nanti itu diberikan waktu sekitar
paling lama setelah sesi kita 15 menit
setelah sesi paling lama.
ee
batas akhir untuk mengisi presensi.
Nanti saya akan membagikannya. Nanti
mohon bantu diingatkan kepada saya di
pukul 20.30 saya akan mulai membagikan
presensinya ya.
Kemudian ketentuan untuk mendapatkan
sertifikat akhir nanti yaitu menunjukkan
komitmen usaha terbaik belajar bersama
selama program ini berlangsung. Kemudian
kelengkapan dari setiap assesmentnya dan
ini di-highlight Bapak Ibu wajib hadir
dan mengisi presensi. tepat waktu setiap
minggunya yang berjumlah sebanyak 12
sesi. Apabila panitia maupun mentor
menemukan perbedaan antara hasil
presensi dengan kehadiran di live Zoom
meeting, maka berhak untuk melakukan
penyelidikan. Tapi saya rasa sih Bapak
Ibu sudah cukup dewasa ya, jadi enggak
mungkin berbohong untuk hal ini.
Ini dia. Kemudian ketentuan untuk
pemilihan nanti kan jadi dari kita ada
1.000 nanti akan diperkecil menjadi 70.
tadi di video juga ada disampaikan ya.
Nah, bagaimana ketentuannya? Nah, itu
akan menentukannya berdasarkan kriteria
yang pertama pemenuhan poin-poin
komitmen, kemudian kelengkapan kehadiran
tugas maupun materi, kemudian
rekomendasi kinerja dan pertumbuhan dari
para mentor kelas.
Baik, itu saja yang bisa saya bagikan.
Selanjutnya kita akan beralih kepada
ini dia materi kita hari ini ya.
Bentar.
Oke.
Ini dia yang menjadi judul daripada
pertemuan pertama kita Identity Before
Innovation.
Nah, tadi saya sudah perkenalan di awal,
sekarang saya mau berkenalan dulu dengan
Bapak Ibu sekalian. Tapi berhubung kita
jumlahnya ada banyak 2.800 orang di
dalam kelas kita malam hari ini ya. Jadi
mungkin bisa perwakilan saya minta
mungkin ada tiga orang boleh ya nanti
kalau masih ada waktu kita boleh lanjut.
tiga orang. Bapak, Ibu yang bersedia
untuk ee berkenalan boleh menyampaikan
juga namanya, asalnya, mengajar ee di
jenjang apa, kemudian tahu pundi dari
mana sih dan apa harapannya ketika ee
memilih, oh saya mau ikut pundi nih.
Harapannya apa sih nanti ketika
pertemuan ke-12 gitu ya? Saya mau dengar
ada tiga orang pertama dulu deh. Adakah
Bapak Ibu yang mau berbagi?
nama asalnya mengajar di mana, kemudian
tahu pundi dari mana dan apa harapannya
ketika mengikuti ee memilih untuk
mengikuti kegiatan pundi.
Oke, silakan Pak Abu ya raise hand.
Silakan Pak boleh
trial.
Trial.
Eh, suaranya enggak kedengaran, Bapak.
Trial.
Apa di saya aja? Bapak, Ibu yang lain
apakah bisa mendengar?
Cek cek cek.
Ah, iya. Sudah. Oke, Pak. Sip. Lanjut,
Pak.
Maaf. Terima kasih atas kesempatannya,
Bu. Ee bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Ee
perkenalkan nama saya Abu Dzar
Alghifari. Saya mengajar di Tangerang
sama dengan Bu Isfa. Kalau saya
kebetulan memajar
sebagai guru agama.
Untuk mengenal pundi sendiri sebenarnya
saya dulu pernah ikut pundi yang
500 guru ya yang 2021
tentang PBL atau project based learning
waktu itu. Dan akhirnya sekarang dapat
info lagi tentang yang pundi yang
sekarang dan saya tertarik untuk ikut
lagi gitu.
Kemudian harapan
untuk 12 sesi ke depan sebenarnya saya
enggak tahu
ee apa ya,
enggak tahu beririsan dengan
kurikulumnya atau enggak gitu. Cuman
saya itu sebenarnya sekarang sedang
mengalami kesulitan karena di tahun ini
ini adalah tahun pertama saya ngajar di
kelas rendah gitu di kelas 1, 2, 3. Dan
itu luar biasa menangtang bagi saya
karena ketika kemarin di kelas 34 saya
relatif bisalah mungkin dalam dalam 2
tahun 3 tahun sudah mulai kepegang gitu
gimana cara anak ee agar mereka tenang
dan seterusnya.
Kemudian di kelas 1 2 itu luar biasa
menangtang. Jadi saya sih sederhana aja
12 pertemuan ke depan saya sih berharap
bisa dapat sesuatu yang bisa saya
ee apakah akan beririsan dengan
kurikulumnya atau enggak. Tapi itu sih
yang saya sedang hadapi hari ini. Terima
kasih atas kesempatannya Bu Isfa.
Oke, terima kasih, Pak. Boleh kita kasih
tepukan dulu ya buat Pak Abu via virtual
Bapak Ibu boleh.
Oke. Oke. Sekarang saya minta kepada Ibu
ya, Ibu Yugi. Ibu Yugi boleh, Ibu
silakan.
Baik, terima kasih sebelumnya.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Perkenalkan nama saya Yugi Widya Stuti
Yusuf. Eh, asal dari Kota Bogor. Saat
ini saya mengajar di Sekolah Dasar Islam
Terpadu Alia. Saat ini saya memegang
kelas 6. ee mengetahui pundi ee saya
dari Instagram
ee kebetulan emang saya suka cari-cari
juga ada pelatihan apa yang gratis ya
gitu seperti itu. Dan kebetulan ee saya
juga dapat informasinya itu dari teman
yang ikut WIT eh Wardah Inspiring
Teacher. Kebetulan saya kemarin ikutan
ya. Alhamdulillah nih ada infonya dari
teman itu. Terus ee pas e lihat pundi
pendidikan unggul digital, saya
tertariknya dengan digitalnya itu gitu.
Eh mudah-mudahan nih saya bisa lolos
gitu terus ya banyak menambah ilmu
khususnya tentang digital itu sendiri.
Ee yang saya rasakan beberapa hal untuk
ee tentang AI ya gitu coding dan lain
sebagainya ya. HKA ya kemarin sempat
tahu eh barangkali ada ya keterkaitannya
gitu ya. Ee meskipun mungkin harapannya
sih seperti itu kalaupun misalnya. Jadi
insyaallah sih mudah-mudahan saya bisa
menerapkannya di kegiatan pembelajaran
seperti itu. Itu mungkin Bu dari saya.
Terima kasih.
Terima kasih Bu. Keren banget ya. Jadi
tidak berhenti belajar ya Bu. Pokoknya
di mana ada pelatihan ikut man
keren. Tepuk tangan dong buat Bu. Oke.
Kepada Bapak Arvi boleh, Pak. Silakan
Pak.
Tadi Pak Arvi sudah angkat tangan duluan
ya. Nanti setelah itu ee boleh satu
orang lagi deh ya. Silakan Pak.
Halo. Asalamualaikum.
Waalaikumsalam Pak. Silakan, Pak Arvi.
Ee perkenalkan nama saya Arvi Suhanda,
saya dari Kabupaten Deli Serdang,
Sumatera Utara.
Kebetulan saya mengajar di tingkat
Madrasah Aliah.
Nah, nama madrasahnya Mas Insan Kesuma
Madani. Ee harapan saya mengetahui pundi
sebelumnya sama seperti Bu Yugi tadi.
Saya tahu dari Instagram dan kebetulan
ee tahun sebelumnya saya pernah ikut
Warda Inspiring Teacher juga. Jadi saya
mendapatkan informasi pundi memang dari
beberapa teman yang mengikuti Warda
Inspiring Teacher juga. Jadi ee ketika
saya melihat tentang pundi ini
sepertinya saya tertarik gitu karena kan
dari namanya pundi Nusantara pendidikan
unggul digital gitu kan Bu. Jadi
yang saya harapkan sama seperti Ibu Yugi
tadi memang ketika saya mengikuti ya
saya dapat ilmu baru apalagi saya memang
suka bersosial media kan Bu. Jadi
sebagai guru kita juga kan memang harus
mengikuti trennya zaman sekarang yaitu
ya sosial media kan. Kemudian ya
harapannya dari mengikuti pundi ini ya
saya mendapatkan wawasan baru, ilmu baru
yang nantinya akan bisa diterapkan di
kelas saya nanti dan bisa juga berbagi
dengan teman-teman sejawat di madrasah
tempat saya mengajar. Mungkin itu saja
dari saya Bu. Sekian. Terima kasih.
Terima kasih, Pak.
Salam hormat. Saya juga dari Medan
aslinya ya, Pak ya. Semoga ada
kesempatan bisa ketemu langsung ya, Pak.
Baik.
Oke. Ee wah ini excited sekali. Boleh
deh tiga orang yang sudah angkat tangan
ya. Setelah itu kita nanti lanjut. Boleh
kita ee pertama ke Ibu tadi mana ya? Ada
tiga. Ah ya. Ke Bu Windi, kemudian ke Bu
Harya Ningsih, lalu terakhir Ibu Fatma
Dewi. Untuk Bapak Ibu yang lain nanti
kita boleh lanjut kalau misalnya ada
masih waktu kita nanti lanjut ya
berkenalan lagi. Oke silakan Ibu Dewi
boleh.
Eh, Bu Windi atau Bu Windi. Oh, sori.
Oke, silakan Bu Windi. Maaf.
Selamat malam semuanya. Malam.
Nama saya Windi. Saya asalnya dari
Manado, cuma sekarang saya mengajar di
ee Jakarta.
ee tahu pundi itu di Instagram ya banyak
sebenarnya enggak beda-beda jauh sih
dari Instagram ee cari-cari
pelatihan-pelatihan buat ee
menambah informasi, menambah ee hal-hal
yang bisa saya pelajari untuk diajarkan
ke anak-anak. Apalagi sekarang saya
ngajarnya di TK. Terus alasannya ya
supaya bagaimana nanti mengajarnya
enggak boring. Apalagi tadi ada
prereading itu ya mengingatkan lagi
gimana guru tuh ee enggak enggak
bolehlah kita cuma stop di situ, stuck
di situ. Kita enggak enggak tahu apa
perkembangan. Akhirnya ujung-ujungnya
kita juga yang enggak disukain sama
anak-anak di situ sih. Jadi motivasi
awalnya ya untuk belajar terus. Terima
kasih.
Keren. Terima kasih Bu Windy ya. Betul.
Tidak berhenti belajar kalau enggak
nanti kita jadi membosankan. Oke, itu
quot hari ini nih. Oke, silakan
selanjutnya boleh Ibu Haryati Ningsih.
Silakan Ibu.
Oke, terima kasih banyak atas waktu yang
diberikan. Ee sebelumnya izin saya untuk
memperkenalkan diri. Saya Haryati
Ningsih dari ee SMP Negeri 2 Banjar
eh merupakan kota kecil Ibu Kota Banjar
itu dekat Pangandaran dan masuk ke dalam
wilayah Provinsi Jawa Barat. Saya ee
mengetahui pundi ini kalau teman-teman
mungkin kebanyakan dari Instagram ya.
Kalau saya dari grup eh IGI Dairi Ibu.
Kebetulan saya juga termasuk ke dalam
pengurus IGI gitu. Ikatan Guru
Indonesia.
Kemudian ee saya sangat tertarik ee
begitu melihat
informasi dari kegiatan pundi Nusantara
ini karena salah satunya ee
tentunya akan mempelajari tentang
literasi ya Bu ya. Kemudian yang kedua
ee tentang ee digital juga
mungkin ee harapannya nanti ee ke
depannya mudah-mudahan dipelajari juga
terkait dengan ee aplikasi pembelajaran
yang bisa diterapkan di kelas gitu.
Ee saya di sini berharap juga ee yang
pertama tentu menambah jejaring
sehingga kita nanti bisa sharing tentang
pembelajaran di kelas itu seperti apa
yang ee terbaik gitu. Kemudian saya juga
berharap untuk setiap sesinya dapat
insight baru. Ibu ini baru sesi pertama
sudah sangat menarik tentang
pembelajaran sepanjang hayat.
Mudah-mudahan nanti juga bisa membuat
praktik baik kemudian kita imbaskan juga
ke rekan-rekan yang lain.
Dan mungkin itu saja Ibu yang bisa saya
sampaikan. Terima kasih banyak.
Terima kasih, Ibu. Pembelajaran
sepanjang hayat. Betul. Baik.
Satu orang lagi tadi. Oh, udah ya. Udah.
Terakhir ada satu lagi tadi ya. Ibu
siapa
tadi? Oh, iya. Ibu Fatma Dewi. Oke,
silakan Ibu
kami ucapkan pada Bapak selaku moderator
hari ini. Izin saya memperkenalkan diri
Bapak Ibu. Nama saya Fatma Dewi. Saya
berasal dari SMA Negeri 10 Mandau,
Provinsi Riau. Karena dari tadi nih
kayaknya ee daerah sana saya ke barat
ya, Bu. Ee saya dari Sumatera terutama
di Provinsi Riau, salah satu Provinsi
Riau. Kemudian jika ditanya dari mana
saya tahu sumber informasi ini kebetulan
dari teman kemudian diajak untuk melihat
Instagram dan kami dari sekolah ada tiga
orang yang juga ikut program pundi ini.
Jadi kami bareng-bareng untuk ikut tahun
ini. Oke. Kenapa kami tertarik? Karena
kami memang punya tim basic tim
Ibu Bapak Ibu semua. Jadi memang fokus
kami itu makanya saya bilang saya
tertarik dengan program ini karena
detailnya tetap. Kemudian dari digital
ini kan kami harus ikut membuat sebuah
inovasi baik itu nanti praktik baik yang
Bapak Ibu lakukan maupun yang kami
lakukan di dalam proses pembelajaran.
Saya tertarik juga ikut ini karena di
sini ajang kumpulnya itu lintas
Nusantara. Ee ini yang paling positif
saya ingin tangkap itu adalah kita bisa
sharing itu se-Indonesia gitu. Jadi
kalau kita punya masalah satu lokal,
kita bisa sharing dalam forum ini.
Itulah salah satu tertarik kenapa saya
ikut program pundi ini. Mungkin itu saja
dari Bu dari saya. Terima kasih saya
ucapkan.
Wah, keren sekali. Semangat ya, Bu
Fatma. Ada tiga orang ya. Wih, mantap.
Keren, Ibu. Baik, terima kasih buat
Bapak Ibu semuanya. Saya ee terharu
sekali mendengarkan semangat Bapak Ibu,
alasan dari Bapak Ibu ya. Ee saya juga
punya harapan. Bapak, Ibu punya harapan.
Saya juga punya. Saya bagikan. Harapan
saya adalah di kelas saya itu ada 42
seharusnya, tapi ini yang masuk 29.
Mungkin ada kendala atau bagaimana ya.
Tapi harapan saya adalah 42
ee guru-guru yang ada di dalam kelas
saya bisa masuk ke dalam 70 peserta
untuk di
selanjutnya. Yeay.
Ya,
itu harapan saya. Jadi kita harus
sama-sama semangat nih nih kalau guru
kelas 2 mah kuduk begini nih. Harus
semangat terus.
Oke, saya lanjutkan slide kita. Bapak,
Ibu, kita banyak sharing ya, Bapak Ibu.
Hari ini kita akan banyak sekali
sharing. Jadi, Bapak Ibu ee biar kita
enggak ngantuk karena saya juga banyak
dapat insight baru nih. Tadi sudah ya
video narasinya. Nah, ini dia
eh big picture eh visi besar daripada
Pudi Nusantara ini apa sih sebenarnya
gitu. Nah, di sini transformasi guru
sebagai subjek bukan objek. Maksudnya
ini apa gitu. Ada enggak kira-kira Bapak
Ibu yang mau kasih pendapat apa ya dan
output-nya adalah pendidik yang
memerdekakan dan memanusiakan.
Kira-kira apa ya yang ada dalam pikiran
Bapak Ibu?
output-nya pendidik yang memerdekakan
dan memanusiakan. Kita kan sudah merdeka
ya, Indonesia sudah merdeka sudah
puluhan tahun. Kenapa masih disebutkan
untuk output-nya pendidik yang
memerdekakan dan memanusiakan?
Ada satu orang Bapak Ibu yang mau
sharing
kira-kira? Oke, silakan Pak Abu.
yang terlintas di benak saya ini ada
keterkaitan gitu antara visi dengan
output-nya.
Iya.
Ee sebenarnya yang biasanya saya
dapatkan kan biasanya murid yang menjadi
subjek pembelajaran
kayak di Paulo Freer kan Paulo Freer
bilang selama ini murid murid menjadi
objek pendidikan harus jadi subjek. Nah,
ini jarang transformasi guru menjadi
subjek. Padahal selama ini jadi subjek.
Maka
kalau misalkan selama ini guru adalah
objek pendidik pendidikan, berarti kita
adalah sesuatu yang pasif. Karena apa?
Oh, berarti mungkin kita terjebak dengan
aturan-aturan, dengan belenggu-belenggu
yang dibuat oleh kurikulum misalkan
sehingga kita enggak enggak punya
kemerdekaan untuk berinovasi
ee menciptakan kreativitas yang bisa
kita lakukan di dalam kelas gitu. Jadi
sebenarnya kita subjek tapi tanpa sadar
kita jadi objek. Nah, pundi ini ingin
mentransformasi kita menjadi subjek
kembali. Ibaratnya yang saya yang saya
terlintas begitu. Maka ada keterkaitan
dengan output-nya gitu. Kita sebelum
kita
ee bisa memerdekakan murid ya, kita juga
harus merdeka dulu gitu. Merdeka dari
objektifikasi gitu. Mungkin dari
kurikulum, mungkin dari aturan. kita
jadi harus kreatif, kita harus ee bisa
ya gitulah. Itu sih yang terlintas di
benang saya, Bu. Terima kasih. Keren.
Makasih, Pak ya. Terima kasih, Pak Bu.
Ee saya hanya menambahkan sedikit kalau
kayak gini mah udah bisa tahu semua nih
kayaknya sampai sesi 12 ya. Jadi ee
sedikit saya tambahkan Bapak Ibu mungkin
sering ya kalau kayak saya di sekolah
negeri sering tuh guru diposisikan
sebagai objek pelatihan. Benar ya? Jadi
kalau ada satu yang sudah bisa, nah itu
itu aja tuh terus orangnya tuh ya yang
dikirim ada pelatihan ini dapat seminggu
lagi pelatihan ini. Itu itu lagi. Nah
sering seperti itu sehingga apa? Kita
tuh menjadi objek pelatihan. Disuruh
ikut pelatihan Kanva, disuruh ikut
pelatihan ee yang terbaru PM, disuruh
ikut pelatihan coding ya KKA. Tapi bukan
dari diri sendiri sebenarnya, bukan
karena kesadaran diri kita untuk
memilih. Bukan karena kita yang oke saya
punya willing nih, mau mau mau ikut nih.
Nah, kalau Bapak Ibu tadi kan beda ya,
memang mau ikut pundi dari kesadaran
diri sendiri bukan karena ada paksaan
gitu ya. Nah, itu yang yang kita mau
rubah gitu. Jadi melalui pundi ini
harapan kita adalah bahwa para pendidik
ini memang merdeka untuk dirinya
sendiri. Saya sadar saya memilih untuk
mengambil keputusan ini karena apa?
Kalau kita ini selaras sebenarnya dengan
pemikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu
bahwa beliau mengatakan pendidik itu
harusnya mendidik dirinya sendiri
terlebih dahulu ya sebelum dia mengajar
kepada anak-anak gitu. Bagaimana mungkin
bisa memberikan masukan kepada
anak-anak, mendidik kalau kitanya
sendiri enggak update. Kayak gitu ya.
Sama kayak komputer deh. Pasti enggak
mungkin Pentium 1 bisa kompatibel lagi
untuk program-program zaman sekarang.
Enggak usah jauh-jauh HP di tangan kita.
TikTok misalnya TikTok itu kan CapCut
itu kan makan memorinya besar. HP yang
keluaran tahun zaman saya sekolah dulu
pasti enggak akan mungkin kompatibel
lagi untuk HP ee untuk program-program
zaman sekarang. Nah, apalagi kita ilmu
pendidikan itu kan terus berbulir maju
ya. Sehingga apa dibutuhkan adalah
kesadaran dari diri kita sendiri untuk
memilih merdeka gitu bukan lagi kita
yang sebagai objeknya.
Oke, selanjutnya. ya. Nah, ini adalah
alur pundi, Bapak, Ibu. Jadi, P-nya itu
adalah purposeful learning. Kemudian
U-nya ada understanding context, N-nya
itu ada new insight, D-nya demonstrated
practice, dan yang I-nya itu adalah
impactful action. Apalagi ini, Bu? Gitu
ya. Kita akan lihat satu-satu ya. Mulai
dari yang purpose full learning yaitu
apa? Belajar itu ada adalah karena apa?
Ada tujuannya. Jadi, bukan ikut-ikutan.
Oh, lagi trennya nih guru-guru bikin
konten ya diposting di TikTok
sampai-sampai karena ikut ikutan yang
penting saya banyak follower tapi saya
enggak punya konten nih. Ya udahlah
nari-nari aja sama anak-anak. Oke. Nah,
itu kan apakah benar nih tujuannya apa
karena cuman ikut-ikutan. Ya, itu dia.
Ada tiga pertanyaan ya. Saya minta tiga
orang juga satu orang jawab satu ya,
Bapak Ibu ya. Ada yang bersedia enggak?
Pertama, mengapa sih guru itu perlu
menjadi pembelajar sepanjang hayat? Yang
kedua, apa bedanya mengajar dengan terus
belajar? Dan ketiga, nilai apa yang akan
saya pegang?
Ya, jadi ada tiga. Saya minta tiga orang
dari Bapak Ibu mungkin yang boleh
sharing. Yang tadi belum sempat kenalan
biar sekalian kenalan. Sebutin nama sama
asalnya, mengajar di mana sekalian
boleh.
Kalau memang ee masih malu-malu enggak
apa-apa. Yang tadi sudah perkenalan juga
boleh.
Apakah ada?
Oke, Ibu ya, Ibu Liliana. Oke, silakan
Ibu.
Iya. Ee terima kasih. Izin, suara saya
kedengaran?
Kedengaran, Ibu.
Oh, iya.
Ya. Eh, terima kasih Ibu Tere. Saya izin
memperkenalkan diri dulu. Ee nama saya
Liliana Tanggu, saat ini mengajarnya di
SMA Negeri 3 Kabupaten Biaknumfor di
saya di Papua.
Oh,
iya. Saya ngajar Heeh. saya ngajar
ekonomi.
Ee untuk pundi sendiri saya tahunya dari
ini ee
Pak Tresna ya, Mas Tresna kebetulan
beliau adalah
ee sama-sama
Google Champion juga. Jadi dia coba dia
memberikan informasi kemudian saya coba
ee ikut kegiatannya karena terus terang
pundi juga saya baru dengar gitu. Iya.
harapannya ya tentu saya mendapat banyak
insight baru ya selama ee 12 sesi ee
pertemuan ke depan
ya. Untuk ee pertanyaan pertama mengapa
guru perlu menjadi pembelajar sepanjang
hayat ini? Saya izin ee menjawab ee
sepanjang pengetahuan saya sebagai guru
ya.
Eh,
kalau saya melihat khususnya ya di
daerah tempat saya ngajar ini di daerah
Papua
seorang guru itu memiliki banyak
tantangan gitu khususnya di di sini di
Papua dengan berbagai karakter
murid-murid saya ee juga kemampuan
serta latar belakang. Nah, ini membawa
tantangan buat saya sebagai guru
sehingga saya tidak bisa berhenti untuk
ee belajar. Karena saya yakin bahwa
belajar itu bukan hanya ee saya membaca
buku atau saya ikut pelatihan,
tetapi saya juga belajar di sini
bagaimana mengenal anak murid saya gitu.
Bagaimana saya bisa memfasilitasi
mereka. bagaimana saya bisa membawa
perubahan yang lebih baik buat mereka.
Nah, ini saya melihat bahwa sebagai guru
saya tadi ya saya hubungkan ke
pertanyaan pertama ee sebelumnya guru
sebagai subjek. Saya ingin bahwa
ee
di sisa kehidupan saya sebagai guru,
saya ingin membawa apa ya perubahan
walaupun perubahan itu kecil.
Nah, bagaimana saya bisa membawa
perubahan? Tentu saya tidak bisa
mengandalkan ilmu yang saya dapat hanya
ketika saya di bangku kuliah.
Sepanjang saya menjadi guru, saya
melihat ada banyak tantangan, ada banyak
hambatan, dan ini menjadi bahan
pembelajaran buat saya pribadi.
Itulah sebabnya ee tantangan-tantangan
ini apalagi yang namanya tantangan
teknologi ya, perkembangan teknologi itu
membawa banyak sekali tantangan buat
saya sehingga saya ee saya
ee berkomitmen bahwa saya tidak bisa
berhenti untuk ee belajar. saya harus
belajar. Ee karena itu saya mengikuti
banyak-banyak ee pelatihan. Contohnya di
pundi ini saya makanya saya berharap
bahwa setelah kegiatan ini selesai ee
saya mendapat
insight baru buat apa ya buat saya
bagikan ke rekan-rekan saya, buat
anak-anak murid saya. Mungkin dari saya
itu, Mbak Ti. Terima kasih.
Terima kasih, Ibu. Keren jawabannya ya.
jauh-jauh nih belajar ternyata kita tapi
bisa didekatkan ya Bu secara virtual.
Baik, terima kasih Bu Ibu. Silakan ee
Bapak Ibu untuk yang pertanyaan kedua
ada yang mau menjawab
tadi? Pertanyaan kita yang kedua, apa
bedanya mengajar dan terus belajar?
Nah, ini nih.
Apakah ada
belajar dan terus
belajar? Mengajar dan terus belajar.
Saya coba, Ibu.
Boleh. Silakan, Ibu. Terima kasih. Oke.
Ee kalau menurut saya mengajar itu
mungkin lebih kepada memberi gitu ya, di
mana guru itu membagikan pengetahuan,
kemudian keterampilan,
nilai, maupun pengalaman kepada murid.
Sedangkan kalau untuk ee terus belajar
itu berarti menjadi gitu. Jadi ee guru
itu membuka dirinya untuk berubah,
bertumbuh, maupun memperbaiki diri
dengan melakukan refleksi ee secara
terus-menerus atau secara berkala.
Mungkin itu, Ibu.
Oke. Baik, Ibu. Terima kasih. Oke, satu
pertanyaan lagi yang terakhir. Lalu,
nilai apa yang ingin saya pegang sebagai
guru? Adakah Bapak, Ibu yang mau
menyampaikan
di pertanyaan yang terakhir? apa yang
ingin saya pegang sebagai guru?
Oke, silakan Bu Windi.
Baik, Bu. Mungkin ee nilai yang akan
saya pegang dan saya pegang sekarang
adalah yang pertama ee kebenaran atau
iman yang saya percayai ee keahlian dan
karakter. Dari situ ee mungkin dasar
awal jadi motivasi untuk jalan sebagai
guru. Terima kasih.
Baik, terima kasih Bapak Ibu. Oke. Oh,
ada Bu Dewi. Silakan Ibu Dewi.
Bu Dewi mau menambahkan
saya ya, Bu
ya. Silakan. Boleh, Ibu.
I
izin menambahkan sekadar sharing ya, Bu.
Iya, enggak apa-apa, Ibu. Silakan.
Ee ee saya mencoba menjawab pertanyaan
kiga tadi ya, Bu. Sedikit tambahan aja.
Ee sampai saat ini kalau kita mengajar
yang saya masih pegang itu adalah mencob
untuk sebisa mungkin itu berpihak pada
murid. Karena yang saya penuhi kelas itu
adalah murid saya, murid saya. apapun
itu mencoba untuk berpihak. Itu aja
mungkin tambahan dari saya.
Terima kasih Bu Dewi. Satu lagi boleh ya
Bu Yuli. Silakan Ibu Yuli.
Ee selamat malam semuanya. Perkenalkan
nama saya Yuliana. Saya dari Sekolah
Kalam Kudus Green Garden. Em harapan
saya ikut pundi adalah em mengupgrade
diri dengan sharing bersama teman-teman
semua juga bisa berbagi praktik baik ee
dengan teman-teman semuanya. Untuk
seminar saya jarang ikut seminar kecuali
di sekolah. Jadi ini mungkin se em dari
sekian lama inilah yang saya ikuti
infonya. saya dapat dari sekolah juga.
Begitu kira-kira. Em buat saya nilai
yang saya pegang adalah em murid itu
harus selalu merasa dikasihi
dan diperhatikan dan ee selalu ingatkan
mereka bahwa mereka bisa dan selalu
ingatkan mereka bahwa mereka emm
selalu bisa em belajar dari kesalahan.
Karena anak-anak itu kalau sudah salah
pasti sudah enggak mau belajar lagi,
merasa enggak bisa. Jadi, kita selalu
harus bisa em memotivasi dan
menginspirasi
em anak-anak didik kita. Itu saja dari
saya.
Baik, terima kasih Bu Yuli
untuk apa yang disampaikan ya. Merasa
dikasihi ini sangat penting sekali ya.
Oke, saya lanjutkan boleh ya Bapak Ibu
ya. Kalau saya secara pribadi ya
menyampai ee dari ketiga hal ini saya
ingat ada kemarin pernah ikut pelatihan
ee menemukan satu yang baru istilah PPT
ya, pola pikir tetap dan pola pikir
bertumbuh. Mungkin ada Bapak Ibu kalau
yang ikut PM atau mungkin coding
diperkenalkan dengan istilah ini ya,
pola pikir bertumbuh dan pola pikir
tetap. Nah, ada satu quotes yang menarik
dari Bapak Mendikdas Desmen kita. Beliau
mengatakan kalau orang berpikir dengan
growth mindset ya, dengan pola pikir
bertumbuh, maka dia yakin masalah yang
hanya sedikit itu jalan keluarnya
banyak. Tuh, artinya kalau masalahnya
sedikit jalan keluarnya banyak berarti
masalah yang besar itu jalan keluarnya
lebih banyak lagi gitu ya. Karena itu
jangan menyerah, jangan putus asa,
yakinlah ada jalan keluarnya. Ini
berkaitan jadinya dengan pertanyaan yang
pertama. Kenapa sih kita perlu belajar
sepanjang hayat? Karena kalau kita
enggak belajar, sudah pasti pola pikir
kita itu tidak akan mengalami
pertumbuhan. Berkait jadi diteruskan
lagi dengan pertanyaan kedua. Karena
apa? Mengajar itu kita hanya
menyampaikan apa yang kita sudah tahu.
Artinya apa? Kalau di gelas udah kita
cuman airnya itu aja kita udah tutup.
Akhirnya apa? Mau diganti air yang baru
enggak bisa. Lama-lama kan airnya itu
juga kalau enggak diminum ada batas
masak kaduarsanya juga ya. Nah, ilmu itu
juga saya pikir seperti itu. Akan ada
batas di mana ternyata ilmu kita itu
kalau kayak sekarang nih kayak saya
secara pribadi sekarang sudah rajin
mulai ngedit video anak-anak di kelas.
Saya belajar dari siapa? Dari belajar
dari anak saya yang umur 6 tahun.
Saya bilang gini, dia selalu nunjukin
video dia, "Mami, aku record. Mami, aku
record." Terus saya bilang, "Itu kamu
edit pakai apa? Kok bisa? Kamu tadi ada
di e ruang tamu, terus kamu pindah ke
kamar." Saya bilang gitu kan. Eh, itu
it's easy, kata dia, "Itu gampang, Mami,
kamu tinggal pause, kata dia. Terus kamu
pindah ke kamar," katanya. Jadi itu
enggak perlu diedit pakai program. Aku
enggak ngerti program kata dia. Oh, iya
ya. Nah, tadinya saya tuh suka ngerekam
anak-anak di kelas, tapi saya mau
mengalami kesulitan. Uh, malas banget
ngeditnya. Kenapa? Karena saya record
itu sepanjang kegiatan saya record,
akhirnya waktu mau dipotong videonya
kan, jadi saya harus aduh itu tadi di
menit ke berapa ya gitu capek. Nah,
ternyata saya belajar dari anak saya
umur 6 tahun. Oh iya ya sudah satu anak
paus pindah anak yang lain paus pindah
lagi paus ya semudah itu ternyata gitu.
Jadi nah itu kan saya belajar dari anak
saya. Kalau saya tadi pakai pola pikir
yang tetap enggak mau bertumbuh, sudah
pasti saya enggak akan mau terima tuh.
Dan saya enggak enggak enggak peduli tuh
dia mau ngapa ya ya ya update video ya
udahlah gitu ya. Ternyata ilmu itu kita
bisa dapat dari mana aja. Nah itu dia
berkaitan dengan terus terus belajar.
Artinya apa? Itu adalah sebuah proses.
Jadi kita tidak berbicara lagi tentang
output tapi berbicara tentang proses.
Mencari tahu apa yang kita belum pahami.
Nah di situ dia sehingga apa? bukan
hanya tentang ilmu, tapi juga tentang
anak murid. Tahun lalu saya mengajar
kelas 2, tahun ini saya mengajar kelas
2. Tapi semua materi alat peraga dan
juga LKPD yang saya pakai di semester
lalu eh di tahun lalu itu enggak bisa
kepakai ya di anak yang sekarang. Karena
anak saya yang dulu itu itu lebih suka
pembelajaran itu yang ee berupa
ini video ee video audio visualnya
banyak anak-anak di kelas saya. Tapi
anak yang sekarang ini itu banyaknya
anak-anak yang cara belajarnya itu
mayoritas itu kinestetik. Jadi saya
harus membuat alat ee apa namanya ee
aktivitasnya itu yang menggunting,
menempel, bikin bukunya harus yang
berupa flipbook begitu. Padahal
sama-sama jenjang kelas 2, masih
sama-sama materinya, tapi ternyata agak
sulit untuk saya pakai yang tahun lalu
dipakai di anak yang sekarang. Kayak
gitu. Jadi seandainya kita tidak punya
semangat untuk terus belajar, sudah
pasti akhirnya apa? Kita ngerasa
pekerjaan ini menjadi sebuah beban dan
kita melihat anak-anak juga jadinya apa?
Aduh, ketemuin anak ini lagi, ketemu
anak ini lagi. Udah mah dikasih tahu
susah, terlambat, enggak ngerti-ngerti,
nyusahin di kelas. Padahal mungkin
sebenarnya bukan anaknya yang salah,
tapi kitanya yang tidak mau memahami
anak itu kebutuhannya apa, anak ini
belajarnya kayak gimana, seperti itu.
Ya, itu mungkin dari saya. Kita lanjut
dan slide-nya
ya.
Oke,
selanjutnya adalah
kita mau melihat ee baik ini tadi sudah
disampaikan bahwa tujuan sesi kita ini
adalah untuk memahami arah pundi ini
adalah ee berupa transformasi versus
pelatihan teknis. Kemudian kita juga
akan belajar untuk memetakan identitas
belajar diri sendiri dan merumuskan
fokus pertumbuhan kita selama 12 minggu
ke depan.
Oke, ini dia. Kita masuk ke yang
berikut. Tadi P ya, sekarang kita masuk
ke yang U di understanding context.
Artinya apa? Ini kita mau lihat kata
kun. Nah, kalau lihat ini nih
apa yang ada dalam pikiran Bapak Ibu
ketika melihat ini?
Boleh dua orang yang sharing.
Oke, silakan. Ee
dari SDK Jogja. Eh, sori.
Bukan, Kak. Bukan, Bu. Itu SDK,
Pak. Pak Widiatmoko. Oke, silakan Pak.
Nggih. Selamat malam, Bapak Ibu.
Selamat malam, Pak.
Sebelumnya perkenalkan saya Pak Widyat
Moko Antonius
dari Surabaya. Kalau tadi Bapak Ibu dari
barat, saya dari timur ini untuk tahu
dar pundi ini saya jadi bingung karena
banyak grup yang saya ikuti jadinya
kemungkinan dari WA grup yang saya tahu.
Kemudian
sebelum lanjut ini saya karena Bapak Ibu
ini kan guru ya. Nah, saya ini maaf
kepala sekolah. Apakah diperkenankan
nantinya untuk kalau tugas-tugas ini
bagaimana untuk kelanjutannya nanti itu
loh, Kak. Kalau kalau kepala sekolah kan
kita memberi
istilahnya tugasnya sudah beda kalau
apalagi kepala sekolah yang sekarang ini
kan tidak boleh mengajar gitu.
Begitu dulu Bu Dere. Terima kasih
banyak.
Terima kasih, Pak. Berarti Bapak
perannya berbeda ya. Kalau kita tadi
sharing tentang kelas, kalau Bapak akan
sharingnya tentang bagaimana manajerial
ya, Pak ya, menghadapi guru-guru.
Tapi enggak masalah, Pak. Jadi dengan
kepala sekolah yang memiliki pola pikir
yang bertumbuh, mau terus belajar
berarti bisa memotivasi guru-gurunya.
Jangan mau kalah sama kepala sekolahnya,
Pak.
Gitu ya. Ada satu orang lagi yang mau?
Oke, silakan Ibu Ibu Lili. Boleh nanti
satu lagi Ibu Ari ya
bayangannya dengan melihat gambar yang
tadi itu.
Iya.
Ee izin kalau saya melihat nih yang ada
di slide ini.
Ee ini sepertinya memang apa ya seperti
beban ya beban buat ee Bapak Bapak Ibu
guru zaman sekarang ini belum ngajarnya,
belum tantangan dari orang tua. Kemudian
administrasi ini yang paling saya lihat
tulisannya yang paling besar nih. ini
kalau saya melihat ini sebagai ee
tantangan botere bahwa ee seorang guru
ternyata bukan hanya sekedar ee tugasnya
ngajar, tetapi ada tantangan yang lebih
besar yang ada di luar gitu. Jadi yang
tantangannya apa ya yang ini yang ada
tampil di layar ini. Demikian Bu Tera
Kasih.
Terima kasih Bu. Satu lagi tadi Ibu
Bu Ari ya.
Baik, terima kasih Ibu Tere dan Bapak
Ibu semuanya. Perkenalkan nama saya Aris
Tanika. Saya dari SMK Negeri 2 Kuala
Kapuas, Kalimantan Tengah. Selamat kenal
semuanya. Mengikuti pundi karena dicolek
oleh rekan saya yang ada dalam ruangan
ini, Ibu Eka.
Kebetulan juga melihat dari Instagram
juga kami berdua pasangan yang suka
berpetualang, Bu. Jadi memang kami suka
belajar, suka mencari-cari
ee kira-kira pelatihan apa yang bisa
kami ikuti sehingga bisa meningkatkan
kompetensi kami, menambah juga
pengalaman gitu ya. Dan akhirnya ada di
sini bersama dengan Bapak Ibu semua.
Boleh sedikit bercanda ya supaya enggak
tegang. Kalau melihat gambar yang ada di
sini, pikiran saya tuh pertama kali
tergelitik dalam artian saya ingat
memok,
di Instagram dan lain-lain gitu ya
tentang guru jadi avatar,
guru harus bisa ini, harus bisa itu gitu
kan ya. Dengan beban mengajar yang
tinggi, kemudian administrasi, kurikulum
berubah, tuntutan teknologi dan
lain-lain sebagainya gitu. Tapi di satu
sisi saya juga cukup setuju dengan yang
Ibu Liliana katakan bahwa ini merupakan
tantangan untuk kita semua gitu. Kalau
jadi guru di era sekarang ya mau tidak
mau tantangan-tantangan ini harus kita
hadapi. Nggih. Demikian terima kasih.
Baik. Terima kasih Ibu. Betul ya. Ini
juga saya juga melihat ini jadi sebuah
hal yang sangat mengerikan kalau kita
mengingat yang namanya beban
administrasi. Betul sekali ya. Belum
lagi yang kita hadapin murid baru duduk
mau bikin RPP ngebayangin anak murid
tiba-tiba Bu gitu. Bu apalagi kalau saya
di kelas 2 baru mau duduk nih sudah
selesai. Bu apakah bukain? Oke, baru
duduk, Bu. Bukain botol aku. Oke, baru
duduk, Bu, kunciran rambut aku, Bu, tali
sepatu aku. Ada aja gitu, ya. Jadi
kayaknya kadang-kadang kalau kalau saya
datang gitu ya, tidak melihat anak-anak
ini sebagai
Tuhan titipkan ke saya, rasanya kayak,
"Abuh, kenapa sih saya itu kok tiap hari
ada aja, tiap hari ada aja yang
sepatulah yang Bu Guru jadi tukang kunci
rambut lah. Belum lagi nanti sling
celananya yang rusaklah, kudu dijahit
dulu kalau enggak celananya melorot gitu
ya." Ada aja gitu dramanya setiap hari.
Tapi itu tadi balik lagi ternyata waktu
saya menjalankan itu melihat mereka
sebagai anak-anak saya yang Tuhan
titipkan untuk saya ajar di kelas pada
saat mereka datang, "Bu, celana aku gitu
ya. Dan anak-anak kelas lain datang juga
ke saya gitu." Artinya apa? Saya merasa
bahwa ee akhirnya bukan cuman murid saya
sendiri yang bisa melihat. ada sedikit
mungkin ya yang berbeda dari apa yang
saya lakukan selama di sekolah dengan
apa yang ee dia lihat mungkin dari
gurunya sehingga membuat anak-anak itu
merasa nyaman ke saya. Jadi nanti dari
kelas 6 juga tiba-tiba datang, "Bu, tadi
si A ngomong jorok ke ini." Ya udah kamu
kasih tahu ke guru kelas kamu. Udah tapi
tadi katanya udahlah berisik berisik
kamu gitu. Datang-datang terus ke sini.
Ada ada kalimat yang seperti itu yang
disampaikan gitu. Dan itu kan jadi
sesuatu yang menyedihkan sebenarnya ya
ketika ee melihat anak ini mungkin
mereka datang ke sekolah pun sudah punya
problemnya sendiri gitu. Jadi dia datang
ke sekolah dengan mencari perhatian dari
kita walaupun dengan berbagai macam cara
dan drama yang dia lakukan. Percayalah
kalau saya merasa kalau daripada enggak
ada anak yang datang ke saya, artinya
saya enggak ada di hatinya mereka gitu
ya. Selama mereka mau datang ke saya
menceritakan segala keluh kesahnya,
event itu untuk membuka bungkus
beng-beng yang dia enggak bisa gitu ya,
saya merasa saya ada di hatinya mereka
kayak gitu. Nah, terus gimana dengan
rekan-rekan di tempat kerja? Apalagi
dramanya ada juga gitu ya. Kadang kita
ikut pelatihan ini ada aja sih kayaknya
ee kalau saya enggak ikut pelatihan ya
kamu juga jangan ikut gitu. Kalau saya
enggak bisa melag teknologi ya kamu juga
jangan ikut. Ada masih yang berprinsip
seperti itu gitu. Bukannya oh kalau kamu
bisa berarti saya juga bisa. Enggak.
Yang ada malah kalau saya enggak bisa
berarti kamu juga jangan bisa. Kayak
gitu kan. Ada juga yang kayak begitu.
Kemudian apalagi? Belum lagi tuntutan
dari kurikulum tiba-tiba udah ada
coding, tiba-tiba ada PM apaagi ini gitu
ya. Tiba-tiba TV panel datang gitu ya
Bapak Ibu ya. Yang satu belum selesai
dipelajari sudah datang lagi laptopnya.
sudah datang lagi dalam perjalanan
pengiriman kedua. Itu kan juga jadi jadi
sesuatu yang bikin kita pusing kayak
gitu. Tapi kembali lagi Bapak Ibu yang
kita perlu ingat bahwa tadi itu kita tuh
jangan mengingat diri kita itu sebagai
sebuah objek gitu tapi kita melakukan
segala sesuatu itu kita punya tujuan
sebenarnya apa sih tujuan saya? Kalau
kita hanya berpikir tujuannya hanya uang
pasti kita capek ngerjainnya ya. Tapi
balik lagi tadi kepada nilai-nilai yang
kita pegang. Kita pegang nilai-nilai
kita itu apa sih tujuan kita untuk
melakukan segala sesuatunya itu apa?
Kayak gitu ya. Saya harap sih Bapak Ibu
di sini ayo makin semangat ya kita ya
apapun kendalanya. Karena kayak saya di
sekolah ada aja sih yang kayak begitu.
Aduh neng kalau Ibu mah enggak bisa yang
model-model kayak gitu nyatat aja di
papan atau neng juga jangan terlalu
banyak lah yang kayak gitu nyatat aja.
Nah kita diajak untuk mundur. Ada yang
kayak gitu juga. Tapi patah semangat
enggak? Enggak. Justru saya ajakin
ibunya. Ya udah ayo Bu, ayo saya printin
biar Ibu nanti bisa juga kayak kayak
saya nih di kelas kayak gitu.
Oke, kita masuk selanjutnya. Lantas
bagaimana nih budaya
mengajar tuntas versus dengan belajar
reflektif? Nah, seringkiali memang kita
itu sibuk untuk menyelesaikan materi
sampai lupa bertanya apakah saya sendiri
itu sedang bertumbuh. Tadi ada ibu yang
sharing, saya itu enggak pernah ikut ee
seminar selain ada yang di sekolah gitu
ya. Ini baru pertama kali. Nah,
pertanyaan kuncinya bagian mana dari
praktik mengajar saya? Ternyata yang
saya rasa itu mandek sampai saya itu, oh
iya, setelah saya pikir-pikir ternyata
saya itu mengalami
ee sesuatu yang mandek. Kok enggak
bertumbuh nih saya ternyata setelah saya
tadi dengar teman-teman saya ngobrol,
ada enggak? yang Bapak Ibu mau share
satu orang aja ada enggak yang merasa
ternyata oh kayaknya saya madek ternyata
ini ada enggak yang mau berbagi kita
bukan untuk menghakimi ya Bapak Ibu ya
lebih kepada saling sharing. Ada enggak
satu orang yang mau berbagi mungkin?
Silakan Pak Abu.
Iya Bu yang seperti tadi saya ee
utarakan di awal ya, Bu.
Iya. Jadi
ketika saya kan jadi
ee saya pertama ngajar kelas 3 kelas 4.
Kemudian saya kebetulan selalu diskusi
sama seorang rekan saya waktu itu
akhirnya tercetus, oke kita sekarang
belajar dulu bagaimana caranya membuat
anak belajar secara tertib dulu walaupun
dalam prosesnya ada reward punishment
dan seterusnya. Nah, kemudian.
Nah, di sini reward punishment tuh kayak
enggak enggak apa ya enggak enggak
berefek gitu. Anak tuh mau di ya mungkin
dipelototin sekali dia takut tapi
kemudian tetap lari-larian, tetap
bercanda, tetap ngobrol gitu. Dan
sejujurnya itulah yang yang ee beberapa
bulan ke belakang itu kayak saya merasa
stuck gitu, Bu. merasa mandek. Ini saya
juga kalau terus dialasi
saya misalkan punishment di eskalasi itu
juga saya takut apa ya merusak mental
anak juga apalagi ini mengingat kelas 1
du
ee tapi juga kalau enggak anak enggak
tertib
itulah yang kayak
gitu
dua
secara psik psikologis ter memang
meskipun bedanya tahun 2 tahun antara
kelas 1 2 dengan 34 itu ternyata jauh
beda
sih merasakan teragasi itu
saya
baik terima kasih Pak untuk yang
dibagikan ya jadi memang saya ee saya
juga tidak membantah ya Bapak Ibu ya
memang kita tuh sibuk. Betul. Betul.
Sibuk banget gitu ya. Ee ini sudah
dimulai kalau saya merasa ee pada saat
pandemi itu itu ee mungkin agak lebih
santai merasanya ya karena banyaknya kan
kelasnya itu secara virtual dan kalau di
negeri itu enggak selalu tatap muka gitu
ya. Kasih tugas. Tiba-tiba ketika masuk
setelah pandemi. Nah, itu agak kaget
tuh. Anak-anak juga mulai ngajak mereka
lagi untuk belajar aktif itu tuh agak
lama gitu. Kemudian ee ditambah kemarin
ee di masa kepemimpinan menteri yang
lama itu kan kita banyak sekali
berhubungan dengan aplikasi. Dikit-dikit
ada aplikasi aplikasi aplikasi gitu ya.
Banyak sekali program untuk
pelatihan-pelatihan. Kemudian tambah
sekarang lagi kurikulum yang baru.
Memang tidak bisa saya bantah itu memang
real terjadi. Kita tuh sibuk dan pasti
capek secara manusiawi kita capek. Nah,
ketika kita merasa capek itu di situlah
refleksi itu tadi dibutuhkan gitu ya.
Kenapa? kita melihat oh sebenarnya di
kelas saya itu apa ya yang terjadi kok
kayaknya capek banget ya apa yang
membuat kok kayaknya tadi kalau Pak
bilang gimana ya ini cara menertibkan
muridnya tapi ini sesuatu yang baik ya
Pak dengan Bapak menyadari artinya ada
suatu keresahan gimana caranya ya dulu
saya ngajarnya kelas 3 4 sekarang kelas
1 2 gitu manajemen kelasnya berarti
harus kayak gimana gaya bahasanya udah
pasti berbeda berbicara dengan anak
kelas 2 kayak saya tuh 3 tahun lalu
ngajar kelas 6 tiba-tiba langsung pindah
ke kelas du itu tuh sudah beda cara
bahasanya, cara memperlakukan mereka,
bagaimana bentuk tugas-tugasnya juga itu
kan jadi sesuatu yang berbeda gitu. Nah,
ketika kita belajar berefleksi ya
kadang-kadang kalau saya tuh mau tidur
kok hari ini kayaknya capek banget ya.
Kenapa ya murid saya kok si ini biasanya
enggak heboh banget kayak ini kok ini
hari ini si A heboh banget di kelas
kayak makan gula kebanyakan gitu ya
disuruh ini bergerak terus capek banget
ngelihatnya gitu.
Akhirnya ketika kita menyadari
merefleksikan,
oh ternyata saya menemukan ada kesalahan
pada diri saya. Jadi enggak semata-mata
karena anaknya susah diatur, tapi
mungkin ada kesalahan dari diri saya,
gitu. Nah, ketika kita menemukan apa
yang kurang, kita cari tahu nih cara
mengatasi kesalahan ini dari mana? Oh,
saya lihat nih ada guru yang berhasil
nih. Saya tuh ee melihat jadi di kelas
saya kelas 2 itu memanggil guru agama.
nya itu adalah ayah. Guru itu lebih muda
3 tahun dari saya. Tapi mereka akrab
banget sama gurunya. Selalu manggil guru
agama itu ayah ayah gitu. Kalau enggak
datang guru agamanya ya ayah enggak ada
gitu. Terus saya ngintip ini kenapa ya
anak-anak ini kok bisa sedekat itu
manggil dia ayah gitu ya. Pas saya lihat
di kelas jadi anak-anak tuh dikasih
tugas banyak nulis ee kemarin mewarnai
kaligrafi disuruh nulis tulisan Arab kan
itu susah ya Pak ya. Itu anak-anak itu
enggak pernah ngeluh gitu. saya ngasih
catatan lima nomor aja kok mereka Bu
berapa nomor sudah langsung nanya kayak
begitu ternyata saya lihat pendekatan
gurunya itu ke anak-anak itu ee membuat
mereka itu kayak ee pada saat makan gitu
kan ditanya di rumah ngapain aja ayahnya
gimana mamahnya gimana katanya kamu
punya adik dan si guru itu mengingat
mengingat ee keluarga anak-anak yang dia
tanya jadi enggak cuma nanya asal tanya
gitu jadi anak-anak itu merasa memang
guru ini datang memperhatikan dia. Nah,
itu saya belajar. Jadi, saya juga
belajar juga melakukan hal itu ke
anak-anak saya dan memang mereka jadi
lebih banyak curhat gitu ke saya, "Bu,
tadi aku kayak gini, Bu. Kemarin aku
gini." Nah, jadi anak itu sudah mulai
berani untuk bercerita ee hal-hal yang
membuat dia sedih di rumah. Kayak gitu
sih, Pak. Mungkin Pak, Bu juga bisa
mulai saya pikir ya saya pikir belajar
dari guru agama saya itu juga gitu
ee masuk ke dunianya mereka gitu. masuk
ee lebih dalam ke dunia pribadinya
mereka sehingga mungkin lebih terbuka.
Jadi gitu kita datang tuh anaknya
langsung tenang malah dicariin gitu sih,
Pak.
Oke, saya saya lanjut ya.
Kemudian saya lanjut di sini. Nah, apa
new insight-nya? Tadi udah P U sekarang
kita N.
New insight-nya adalah guru yang
berhenti belajar pelan-pelan berhenti
memanusiakan murid-muridnya. guru
sebagai penyampai pengetahuan versus
guru sebagai pembelajar sejati. Tadi
kita sudah bahas ya di slide yang
sebelumnya itu bahwa memang ketika kita
berhenti untuk belajar sudah pasti
berhenti upgrade dan berhenti
memanusiakan murid-muridnya. Nah, ini
ada satu kata baru nih. Berhenti
memanusiakan murid-muridnya. Maksudnya
apa ya? Ada yang mau kasih masukan
enggak, Bapak, Ibu?
Emang murid kita bukan manusia gitu ya?
Kadang-kadang istilah-istilah kayak gini
nih butuh. Oke, silakan Bu Yugi
coba ya, Bu.
Iya, silakan.
Ee pelan-pelan berhenti memanusiakan
murid-muridnya. Artinya mungkin begini
ya. Ee jadi kita datang ke sekolah jadi
kayak udah rutinitas aja itu sebagai
rutinitas aja gitu ngajar aja enggak ada
ruhnya gitu. Jadi ya lama-lama anak-anak
tuh ya jadi seperti objek kita ya, objek
penderita.
Jadi kita mengajar ya ee perkesannya ya
udah ini ee sebagai menggugurkan
kewajiban aja gitu. Karena emang beda
feel-nya gitu ketika kita menyukai
sesuatu ee ketika misalnya kita mau
ketemu anak-anak tuh udah ih nanti
ketemu anak nih kita mau seru-seruan
begini begini begini gitu seperti itu.
Kalau misalnya memang ee sudah ada niat
dan tujuan kita ya untuk selain mengajar
itu apa gitu kan. Kalau mungkin ee kita
sebagai guru tidak hanya mengajar, tidak
hanya mengajar mungkin ya paling penting
itu yang mendidik gitu seperti itu
mungkin dan ya merasa enjoy aja kalau
sama anak-anak gitu mungkin kalau
menurut saya ya.
Makasih ya Bu. Terima kasih.
Terima kasih.
Betul. Oke, saya setuju nih sama Ibu.
Oke, kita coba lihat tanggapan dari Pak
Arvi. Gimana, Pak?
Iya. Nanti presensinya akan saya
bagikan. Terima kasih, Bu, sudah
mengingatkan.
Oh, iya, enggak apa-apa, Bu Eka. Silakan
kalau mau ada yang mau menyampaikan
pendapatnya lewat chat juga boleh ya.
Ada tambahan dari Pak Arvi?
Jadi,
e
Oh, iya, silakan, Pak.
Ee kalau menurut saya ketika guru sudah
berhenti belajar atau tidak mau belajar
kembali, berarti
guru itu tugasnya dia hanya ingin
mengajar ya seperti rutinitasnya
mengajar pulang. Mengajar pulang tanpa
ingin mendengarkan apa yang murid-murid
kita mau gitu.
Jadi sebenarnya
kita sebagai guru juga tidak boleh
berhenti belajar seperti yang pertanyaan
sebelumnya. Karena kita tuh bukan hanya
bukan hanya kita yang memberi ee bukan
hanya kita yang mengajar, tapi kita juga
sebenarnya belajar dari murid-murid itu
gitu. Jadi ketika kita berhenti belajar
kita tidak mau tahu apa yang murid mau.
Itu itu saja sih dari saya, Bu. Terima
kasih.
Makasih, Pak. Ini saya jadi ingat ee
tadi kata Bapak kan kita belajar dari
murid saya jadinya karena tadi saya baru
dapat nih dari anak-anak. Dia bilang
gini, "Bu, Bu, ayo kita main
tebak-tebakan. Apa, Kak? ikan apa yang
bodoh?" Katanya gitu. Ikan apa? Ya
enggak ada. L ikan mau bikin pintar kata
saya gitu kan. Ada ikan kembung katanya.
Loh, kenapa kok ikan kembung? Lah, iya
bukan dia udah kembung masa dia tetap
berenang di dalam air katanya. Buat saya
kan itu lucu ya. Akhirnya pas saya lagi
ngoreksi LKS mereka, saya ketawa. Nah,
saya pikir itu ilmu baru. Nah, saya
praktikin pas lagi tadi kumpul di kantor
pada serius-serius kan soalnya mau
nyiapin UH1. Terus saya bilang, "Bu, Bu,
ikan apa yang bodoh gitu ya." Enggak
datang-datang aneh-aneh aja. Ini ada loh
Bu, kalau sama senior saya suka panggil
emak gitu. Ada mak ikan kembung. Kenapa?
Katanya ya dia udah bodohlah. Udah tahu
kembung masakmasuk di dalam air ketawa
gitu. Nah, akhirnya saya pikir saya
datang ke kantor tuh membawa sukacita
yang saya pelajari dari anak-anak gitu
ya. Jadi, apa aja bisa kita pelajari
dari anak-anak itu even itu mungkin
lelucon gitu yang buat kita apaan sih
ini? Eh, ternyata lucu juga gitu ya.
Oke, saya lanjut ya. Terima kasih ya
Bapak Ibu untuk tanggapannya. Ee saya
bagikan ini sebentar ya berarti saya
stop share sebentar. Saya bagikan
linknya dulu ya. Takut Bapak Ibu ada
yang terlewat sebentar. Link absensi
presensinya ini.
Oke, nanti ada dua. Nanti ada survei
juga ya Bapak Ibu ya. Ini presensinya
dulu saya bagikan di kolom chat
bentar.
Oke, ini yang presensinya.
Eh, lalu nanti Bapak Ibu ada satu survei
yang Bapak Ibu perlu isi.
Harusnya tadi ini kita di awal, tapi
saya terlalu seru ya.
N yang kedua ini nanti aja enggak
apa-apa. Jadi yang pertama dulu aja
nanti masih bisa dibuka sampai 15 menit
setelah ee materi kita selesai
disampaikan.
Oke, saya sudah di sudah di kolom chat
ya.
Oke, saya lanjutkan kembali sedikit lagi
nih slide kita sudah mau berakhir.
Oke, ini dia
sudah kelihatan ya, Bapak, Ibu ya.
Oke,
ini dia
ada 4 C ya, Bapak, Ibu. Di sini yang
kita yang diperkenalkan. Yang pertama
adalah karakter, calling, competence,
dan compassion. Kita singkat menjadi
cham.
C yang pertama yaitu adalah fondasi
moral dan integritas. Kemudian ada
calling. Ternyata mengajar itu bukan
cuman sebagai itu adalah bukan cuman
sebagai profesi, tapi sebuah panggilan.
Ketika kita merasa itu hanya sebuah
profesi, sudah pasti kita hanya akan
berperan sebagai pengajar aja tadi ya,
yang cuman ee datang menyampaikan
pengetahuan yang sudah kita punya. Bukan
kritik ya, Bapak, Ibu. Ini sebenarnya
untuk mengajak kita untuk naik level ya.
Kenapa? Dengan cara apa? Competence.
Terus mengasa keterampilan kita.
Kemudian apa? Yang terakhir adalah
compassion, belas asih terhadap murid.
Jadi tidak menutup diri bahwa kita itu
bisa mendapatkan ilmu dari mana saja.
Ya, kenapa kayak saya bilang tadi,
kenapa saya belajar mengedit videonya
baru sekarang? Sebelum-sebelumnya saya
ngajar itu di kelas 6, anak-anak itu
jago banget ngedit video. Jadi saya
tinggal bilang, "Kak, kita hari ini mau
aktivitas ini. Ee nanti Bu Guru minta
tolong ya dieditin videonya." Oke, Bu.
Jadi, dia akan standby HP-nya mereka.
Saya tripot selalu ada di kelas. dia
akan tahu kapan dipause, kapan mau dia
ee dimulai lagi record-nya. Kemudian
dengan sangat mudah, Bu, sudah jadi
videonya. Nah, saya terlain akhirnya
saya pikir, "Ya udahlah gampanglah ada
anak kelas 6 ini, gitu ya untuk ngedit
video." Ketika terjun di kelas 2, orang
tuanya ada yang tanya, "Bu, anak-anak
ada video enggak ya belajar di kelas?
Kayak apa? Bu, ada enggak ya
foto-fotonya?" Nah, situ saya waduh mau
enggak mau saya harus belajar nih cara
ngedit videonya karena saya orang yang
paling susah sekali untuk belajar ngedit
video itu menurut saya sulit gitu tapi
mau enggak mau akhirnya saya belajar dan
pertama kali cara mudah itu saya temukan
dari ya itu tadi anak saya yang umur 6
tahun saya bilang. Nah, di sini saya mau
mengajak Bapak Ibu semua
supaya kita belajar untuk terus ya
belajar untuk terus menjadi seorang
pembelajar. Jadi jangan patah semangat
di di sesi pertama ini. Yuk kita bakar
lagi api. Semangat kita ini tujuannya
kita mau jadi apa sih sebenarnya? Apakah
cuman sekedar menuntaskan tanggung jawab
kita aja sebagai seorang guru datang ke
kelas menuntaskan, oh ya harus ngajar
materinya ini, ini, ini, terus pulang
tuh. Atau ada tujuan yang lain yang
sebenarnya mau kita capai gu ya.
Sini dia
guru pundi inquiry bukan metode mengajar
tapi bagaimana cara hidup seorang guru.
Nah, guru pundi ya Bapak Ibu guru pundi
itu akan menjadi
seorang pembelajar sepanjang hayat
lifelong learner. Jadi tidak berhenti,
cuman puas dengan apa yang sudah
dimiliki sekarang. Tapi yuk terus lagi
asah kemampuannya.
Nah, ini dia. Saya mau ajak Bapak Ibu
untuk melakukan survei ya. Bagaimana
Bapak Ibu
nanti di screenshot ya Bapak Ibu ya, di
screenshot disimpan karena nanti ada
poinnya berapa. Nah, ini Bapak Ibu bisa
lihat enggak? Oke, mungkin yang punya HP
boleh Bapak Ibu di ee apa namanya?
barcode-nya dicek
untuk kita mau melakukan self mapping
nih diri kita itu kayak apa sih
sebenarnya gitu.
Apa perlu saya kirimkan linknya
Bapak Ibu?
Boleh.
Sudah bisa, Bu Tere? Bisa kok.
Oke, coba saya
sudah bisa Bu.
Bisa ya? Sebentar sebagi. Nah, ini dia
sini ada.
Oke, saya copy.
Saya copy sebentar saya kirim.
Entar saya kirim di chat ya Bapak Ibu.
Bentar.
Bapak Ibu bisa lihat dari sini ini.
Oke.
Coba up. Sudah bisa belum, Bapak Ibu?
Coba saya lihat ya. Pas
sudah Bu.
Roda refleksi pundi betul.
Oh, ini dia. Tadi salah ya ngopinya ya.
Nih nih Bapak Ibu.
Nah, ini dia roda refleksi pundi ya.
Nah, buat yang enggak bisa, Bapak, Ibu.
Nah, ini bisa dibuka dari chat saya.
Nanti direenshot hasilnya ya, Bapak,
Ibu. Kita mau lihat seperti apa. Enggak
usah ditampilin. Enggak apa-apa.
Saya kasih waktu ee mungkin bisa berapa
menit ya? 10 menit cukup kali ya.
Ibu Ispa izin bertanya, Bu.
Silakan, Ibu.
Ini kan ada tiga link ya.
Yang paling terakhir, Bu. Yang
yang paling terakhir dulu. Oke.
Iya. Kalau yang di atasnya itu yang
absensi
nanti ya, Bu.
Presensi. Iya. Oke,
survein-nya yang paling terakhir.
Oke. Yeah.
Apakah sudah ada yang selesai? Bapak,
Ibu yang sudah selesai mungkin bisa
kasih
ee reaksi ya,
kasih jempolnya kalau emang sudah
selesai. Saya mau lihat. Oke, Bu Yuli
sudah.
Oke, Bu Ari. Oh, udah pada selesai ya.
Oke,
Bu Irsanti ya.
1 menit lagi ya berarti ya Bapak Ibu ya.
Boleh ya.
Bu Rizki eee jika sudah apakah
tampilannya memang putih semua? Ada
skornya, Bu.
Coba Bapak Ibu yang lain. Apakah ada
yang sama mengalami seperti Bu Rizki?
Nah, iya benar. Waktu saya nyoba juga
ada skornya dia
mungkin jaringan masalah internet kali
jaringan. Iya.
Iya. Tuh.
Baik. Saya ee
lanjutkan ya, Bapak, Ibu ya. Ee buat
yang masih mengerjakan enggak apa-apa
kita lanjut aja. Saya ulang sedikit lagi
ya sambil menunggu. Jadi tadi kalau yang
si 4C kita jangan sampai lupa. Ini
adalah suatu hal yang sangat penting.
Ketika Bapak Ibu nanti berakhir
di pundi. Kita mengingat bahwa ada empat
change tadi yang menjadi identitas guru
pundi. Ada karakter, calling,
competence, dan compassion.
Kenapa? Karena ketika kita menjalankan
sebuah teknologi tanpa identitas, tanpa
cham ya, tanpa CN4 ini, itu hanya akan
mempercepat kekosongan. Jadi kita enggak
tahu tujuannya kita tuh sebenarnya mau
ngapain. Oke, pokoknya ikutin aja kayak
tadi yang saya bilang di awal ya. Oh,
mau ikut-ikutan ngelihat orang kok
follower TikTok-nya banyak, tapi dia
memang punya konten. Banyak yang
dibagiin. Karena saya enggak punya
konten, yang penting saya mau follower
banyak, ya udah segala macam cara
jadinya dilakukan. Yang penting konten
ee ee apa namanya? Followernya bisa
naik. Nah, kayak gitu ya. Melag
teknologi enggak melag tapi tidak ada
makna yang berarti dari apa yang
dilakukan. gitu. Jadi perlu kita ingat
karena kita perlu bikin yel-yel nih
kayaknya jago deh nih ibu-ibu atau
bapak-bapak mungkin bisa. Jadi kalau
saya bilang identitas guru pundi berarti
4C
ya. Identitas guru pundi 4C tuh. Jangan
sampai lupa. Entar ditanyain loh sama
saya loh. Bu apa Bu kemarin Bu yang
pertama Bu gitu Pak yang kedua apa Pak
gitu ya.
Jadi sama-sama yuk coba Bapak Ibu enggak
apa-apalah dibuka ee mikrofonnya kita
semua yuk sama-sama yuk. Jadi nanti di
sela-sela ya biar enggak ngantuk ya.
Kita sampai sesi 12 harus ikut loh ini
diingat-ingat lohnya ter.
Jadi kalau setiap saya bilang identitas
guru pundi Bapak Ibu langsung 4C
ya. Oke.
Nah dedeknya enggak apa-apa diajakin
juga enggak apa-apa, Pak.
Mohon maaf, Ibu. Makanya ini dimatikan
karena ada bayi di sebelah. Keren loh
mamanya malam malam masih belajar. Yuk,
identitas guru pundi apa?
C
karakter
apa tuh? Yang pertama karaktering
kompeten
compassion.
Kalau ada yang bisa bikin gerakannya
minggu depan dipraktikin enggak apa-apa.
misalnya, oh karakter gini aja, Bu, kita
biar gampang ingat calling kayak gini
aja. N boleh
ibu dari SMP, dari SMK, yang dari
madrasah bikin kita praktekin minggu
depan ya pokoknya identitas guru pundi
4C.
Oke,
kita lanjut ya sedikit lagi Bapak, Ibu.
Nah, ini dia.
Saya mau ngajak Bapak Ibu untuk enggak
enggak perlu kertas ditulis ya. Siapa
saya sebagai guru? Ada pertanyaan yang
perlu dijawab. Minimal pilih dua. Kenapa
saya perlu terus belajar? Tadi Bapak Ibu
sudah banyak sharing. Jadi sebenarnya
hanya tinggal dituangkan saja. Kemudian
yang kedua, kenapa saya merasa perlu
saya untuk terus belajar? Dan yang
ketiga, nilai apa yang tidak boleh
hilang dari saya selama program pundi
ini. Nah, barusan kita sudah bikin tuh
yel-yelnya tadi ya.
Jadi pilih ada dua nanti enggak apa-apa
Bapak Ibu enggak mau dikerjakan pada
saat ini juga nanti saya ee sudah
buatkan ruang untuk Bapak Ibu
mengirimkannya
itu bisa saya tunggu kan kita ketemu
lagi nanti tanggal 12 ya berarti ee
paling akhir nanti di tanggal 11 jam
2359
karena ketika masuk tanggal 12 berarti
tepat di pukul 1200 malam ee udah enggak
bisa submit lagi. kayak gitu. Jadi nanti
aja enggak usah stres sekarang. Apa yang
Bapak Ibu tadi sudah sampaikan tinggal
diketik aja ya supaya nanti buat
refleksi juga buat saya. Oh ya di sesi
pertama tadi apa sih yang menjadi
kerinduan Bapak Ibu? Kan tadi ada
beberapa yang sudah menyampaikan harapan
gitu ya.
Atau Bapak Ibu kalau nanti kita memang
masih ada waktu Bu saya ngerjainnya
sekarang aja silakan enggak apa-apa.
Oke
kita masuk. Yang I berarti yang terakhir
ya udah mau berakhir loh Bapak Ibu. I
yaitu adalah impactful action.
Nah, apa itu? Ini dia tadi kita sudah
cerita di awal
ekspektasi Bapak Ibu apa, harapannya
apa, keresahannya apa. Sehingga kita
punya sebuah tugas buat Bapak Ibu
merenung ya. Kita hari ini banyak
berefleksi untuk membuat komitmen
pertumbuhan diri Bapak Ibu. ee selama
mengikuti ini adalah sebuah program dari
pundi ya, mengikuti komitmennya selama
mengikuti program pundi. Nah, dalam 12
minggu ke depan saya itu berkomitmen
untuk bertumbuh dalam hal apa dan hal ee
alasannya apa? Kalau mungkin tadi ada
yang oh saya mau bertumbuh dalam
manajemen kelas. Kenapa? Karena saya
sekarang mengajar kelas kecil dan saya
mengalami kesulitan. Bagaimana caranya
membuat anak-anak ini bisa ee dengan
mudah menenangkan dirinya gitu.
Kemudian mungkin ada juga yang oh ee
saya merasa perlu bertumbuh dalam apa
dalam bidang teknologi. Kenapa? Karena
saya itu menjadi salah satu duta
teknologi di area saya misalnya gitu ya.
Nah, ini Bapak Ibu silakan tuliskan
ketentuannya apa. Ini ada yaitu
dituliskan dalam satu lembar A4 nanti
dikumpulkan. Saya sudah buatkan rumahnya
dan ada rubriknya Bapak Ibu. Kita bahas
sedikit rubriknya ya.
Oke, kita bahas sedikit rubriknya
supaya Bapak Ibu tidak mengalami
kesulitan.
Sebentar
ada rubriknya. Tidak sulit Bapak Ibu
rubriknya itu.
Sebentar ada di sini
rubrik.
Oke, ini dia rubriknya Bapak Ibu. Nanti
tampilannya seperti ini
ya. Ada nama Bapak Ibu asal sekolahnya,
kemudian mengajar apa?
Ini dia kriterianya yang pertama
kelengkapan format bernilai empat ketika
Bapak Ibu berhasil merumuskan 1 sampai 2
fokus
dengan komponen waktu, fokus, dan
alasannya secara lengkap.
Kemudian ada keterukuran.
Fokusnya berupa perilaku konkret yang
dapat diukur atau terlihat nyata
perubahannya.
Kemudian yang ketiga, realistis dan
kontekstual. Fokus sangat mungkin
dicapai dengan optimasi sumber daya yang
tersedia. Jadi jangan juga misalnya nih
ee kayak saya pernah ikut kemarin Bimtek
yang waktu IFP mau dibagikan itu saya
ikut bimteknya di kementerian. Kemudian
dapat ee teman pesertanya itu dari
daerah yang memang di sana itu kalau
sudah jam 11.00 siang biasanya sudah
mulai hujan dan itu sedikit ee biasanya
hujannya itu disertai angin kencang.
Jadi agak kayak badai dan listrik sudah
pasti padam. Nah, jadi enggak realistis
kalau misalnya dia ingin membuat ee apa
namanya? Perubahannya itu dalam bidang
teknologi yang signifikan seperti dia
memandangnya ke daerah-daerah yang
memiliki jaringan listrik dan internet
yang sangat kuat. Nah, kayak gitu tuh
jangan sampai begitu. Jadi mengoptim apa
yang sumber daya apa yang tersedia di
sekitar Bapak Ibu kalau boleh mah memang
kekayaan yang menjadi kekayaan
sekolahnya. Nah, itu yang dimaksimalkan.
Lagu kemudian adalah logika alasannya
yang kuat menjelaskan hubungan langsung
antara pertumbuhan diri dengan manfaat
nyatanya bagi siswa.
Itu saja Bapak Ibu ada empat kriterianya
nanti bisa dilihat. Oh, saya enggak mau
nilainya empat lah, mau yang tiga aja.
It's ok. Enggak apa-apa ya. Yang penting
Bapak Ibu di sini kita mau sama-sama
belajar bagaimana merefleksikan diri dan
memilik me menuliskan supaya enggak lupa
apa yang menjadi
nih komitmennya untuk bisa terus fokus
belajar terukur dan berdampak bagi
muridnya nanti kan enggak mungkin kan.
Kenapa mau ikut program pundi? Ya
iseng-iseng aja lah Bu saya. Soalnya
biar bisa update status kan enggak
mungkin kayak gitu ya Bapak Ibu ya.
meluangkan waktu 12 minggu tiap malam
kita nanti belajar.
Oke, itu. Nah, ini rubriknya nanti sudah
ada juga saya masukkan ke dalam Google
Classroom kita ya, Bapak Ibu ya. Jadi
akan dengan mudah untuk Bapak Ibu bisa
melihatnya.
Oke, saya kembali lagi kepada slide
kita.
ya yang tadi ya Bapak Ibu ya. Jangan
lupa kertasnya di dalam ukuran A4 tidak
perlu diprint dan discan ya tinggal
diketik dan di-save DFS.
Ini satu quing
untuk di akhir ee program kita ini.
Program ini tidak kita mulai dengan
teknologi, tetapi dengan kejujuran guru
terhadap dirinya sendiri, gitu. Jadi
tadi refleksi kita ee mungkin banyak
yang masih malu-malu untuk menyampaikan.
Enggak apa-apa Bapak, Ibu silakan
menuangkannya di dalam kertas. Tenang
saja tidak akan saya tampilkan di
mana-mana.
Cukup rahasia antara Bapak, Ibu, saya
dengan Tuhan aja yang tahu gitu ya.
Bukan untuk mempermalukan. Bapak, Ibu
perlu perlu untuk mengingat ini refleksi
kita. Kalaupun di situ banyak
kekurangan, bukan untuk mempermalukan
kita sebenarnya, tapi justru untuk
membawa kita naik ke level yang baru
dengan kita memiliki kesadaran untuk mau
ikut saja ke program ini sekalipun
sebenarnya apa ya diajak teman. Tapi kan
dengan ada niatan diajak teman aja itu
sudah luar biasa ya sebenarnya. Berarti
sudah tergelitik, sudah mengalami
keresahan. Karena kalau kayak saya ini
di sekolah kadang-kadang guru-guru yang
masih muda, ayo yuk kita ikut pelatihan
ini bilangnya apa?
Oke, Teteh. Kita doakan kamu. Kalau kamu
berhasil nanti bagi-bagi ke kita
duitnya. N suka kayak gitu. Oke, kita
dukung kamu dalam doa. Kamu aja yang
belajar bawa nama baik sekolah. Nah,
kayak gitu.
Semoga kita jangan jadi guru yang kayak
gitu ya, Bapak, Ibu ya.
Ya, jadi ee tidak dimulai dengan
teknologi tetapi dimulai dengan
kejujuran terhadap diri sendiri.
Terima kasih Bapak Ibu sudah berakhir
slide-nya. Artinya sudah selesai kita
hari ini malam ini.
Nah, sampai di sini adakah Bapak Ibu
yang Iya, betul. Ee nanti PPT-nya akan
saya bagikan, saya akan kirimkan dalam
bentuk PDF ya, Bapak, Ibu ya.
Oke,
senang sekali saya hari ini. Apalagi
Bapak Ibu yang paling jauh berarti tadi
Bu Lili ya dari Papua.
Ada yang dari Kalimantan, ada yang dari
Bogor, Jakarta. Tadi dari ada yang dari
saya catat dari Riau ya, ada yang dari
Banjar gitu. Ada rekamannya Ibu? Ada,
ada, Ibu. Ini dicord juga nanti
rekamannya mungkin kalau mau dilihat
nanti saya tanya ke tim ya Bu ya. Kalau
rekamannya ini apakah bisa dibagikan
juga atau hanya materinya saja? Kayak
gitu sih. Adakah Bapak Ibu yang mungkin
ingin menyampaikan sesuatu dari awal
tadi sampai sudah selesai di thank you?
Ada yang ingin berbagi mungkin.
Bu, saya ngantuk banget Bu. Ibu
ngebosenin banget nih. Kita pusing gitu
ya. Enggak apa-apa juga kalau mau
dibagikan.
Boleh dua orang. Satu atau dua orang
boleh
atau mungkin ada Bu kayaknya udah saya
sesi satu aja, Bu. Udah 11 sesi
berikutnya. Enggak usahlah, Bu. Saya ini
sudah menyerah gitu. Enggak apa-apa
juga.
Ada yang mau
enggak apa-apa enggak kelihatan wajahnya
Bapak Ibu.
Ee izin saya Ibu sedikit menyampaikan.
Silakan. Silakan Bu. ini kalau boleh
jujur Ibu ee kita kan nanti akan
mengikuti kegiatan ini selama 12 sesi
kedepan ya Bu. Ini baru sesi pertama
saja materinya sudah sangat luar biasa.
Banyak sekali Bu
dan semuanya ee daging semua ini, Bu.
Terima kasih banyak untuk sesi hari ini
dan dari sesi yang pertama ini saya ee
mulai belajar untuk ee menyampaikan
pendapat gitu. Karena sebenarnya saya
paling sulit gitu kalau diminta untuk
menyampaikan pendapat. J dari sesi ini
saya ee harus belajar ee untuk sesi
berikutnya untuk mulai menyampaikan
pendapat ya, Bu.
Keren. Tepuk tangan dong buat Ibu. Saya
maulah nih pakai reaction lah juga
ya. Terima kasih banyak Ibu.
Terima kasih, Ibu. Semangat terus
belajarnya. Ada lagi
dari? Saya mau dengar dari Bu Irsanti.
Boleh enggak, Bu? Aku lihat Ibu aja dari
tadi loh, tapi belum dengar suaranya.
Boleh, Ibu. Aduh, maaf
kondisi saya sebenarnya lagi kurang
sehat hari ini. Jadi, Iya. Iya.
Tadi ah udah diam aja deh sambil
dengerin gitu.
Enggak apa-apa, Ibu. Dapat apa, Bu, hari
ini kira-kira, Bu? Memang sama ya, Bu
seperti Bu ee Hariati tadi ee memang ee
ee kalau melihat judulnya kan ee
pendidikan unggul digital ya. Saya pikir
dari awal kita sudah mau diarahkan untuk
ee belajar digital gitu, tapi ternyata
kita diajak untuk merefleksi dulu gitu.
Dan tadi ee ketika mengisi roda refleksi
memang ee betul sih gitu hasilnya ee ada
terdapat ketidakseimbangan antara apa
yang sudah saya lakukan dengan ee bagian
refleksi yang ee maksudnya aksi saya di
ee dalam kegiatan mengajar dengan
refleksi saya itu memang ee ada
ketidakteimbangan. memang saya mengakui
saya e jarang melakukan refleksi gitu
dan itu ee apa ya jadi satu ee
pembelajaran buat saya jadi satu
pengingat mungkin ya Bu ya ee bahwa ya
memang sebagai guru kita harus terus ee
berefleksi supaya kita bisa terus
belajar terus ee bertumbuh jangan jangan
hanya ee maju tapi juga harus jangan
hanya berani maju tapi juga harus berani
melihat ke belakang gitu apa yang sudah
kita lakukan, apa yang ee sudah baik apa
yang belum baik gitu. Jadi mungkin itu
sih ee yang saya dapatkan dari ee
pertemuan kita malam ini. Insyaallah
mudah-mudahan 12 sesi ke depan bisa kita
laksanakan dengan lancar, dengan sehat
gitu. Itu saja barangkali Ibu. Terima
kasih.
Makasih, Bu Santi. Lagi enggak enak
badan aja semangat banget. Keren. Terima
kasih ya, Bu ya. Jadi memang betul
berefleksi jangan pernah berhenti
belajar. Nih saya sharing sedikit. Tadi
saya baru Zoom meeting jadi nanti
tanggal 18 ee tapi diundur jadi tanggal
25 karena kan kita ada libur puasa ya
awal puasa itu sekolah saya kan akan
kedatangan mahasiswa PPL yang ee calon
guru ya PPG. Kemudian saya ee mikir saya
kan akan membagi ya kepada mahasiswa
ini. Jangan sampai sesat nih
anak-anaknya gitu ya.
Mahasiswa-mahasiswa ini nih akan menjadi
penerusnya nanti kalau saya sudah
pensiun kan ini masih menjadi guru gitu
ya. Saya minta teman saya masuk ke kelas
tolong dong observasi saya gitu. Jadwal
supervisi kepala sekolah soalnya masih
lama. tolong masuk ke kelas saya lihatin
saya kurangnya apa, terus anak-anak
saya, saya harusnya apa. Kadang-kadang
kan kalau kita ketemu terus juga sama
anak-anak ee kita merasa oh ini anak
udah tenang kok sama saya gitu ya.
Padahal mungkin tenangnya itu bisa jadi
karena takutkah mungkin sama saya atau
mungkin lebih memilih ya sudahlah
daripada guru ini cerewet gitu udah saya
diam aja gitu ya. Eh saya saya e jadi
mungkin Bapak Ibu juga enggak apa-apa
kita tanya dari teman kita yang mungkin
ngerasa akrab. Jadi jangan juga nanya
harus guru senior yang harus menjatuhkan
ya enggak juga. Jadi manggil santai aja
10 menit ajaalah masuk bentar aja kan
kamu sudah selesai ngajar lihatin aku
kurangnya di mana kayak gitu. Dan waktu
dia kasih tahu kan ada kurang ini, ada
kurang ini. Ada kadang-kadang rasa kayak
emang iya enggak lah kayaknya enggak ah
gua mah enggak kayak gitu enggak ah
perasaan gitu ya Bu ya. Ada rasa kayak
gitu. Tapi itu kan penilaian orang yang
tahu kita itu kan sebenarnya enggak
enggak semendiri kita juga gitu ya.
Berefleksi untuk kita. Betul. Tapi
enggak apa-apa juga kalau kita misalnya
tanya dari orang supaya kita tahu, oh
menurut orang saya kayak begini.
Ternyata artinya pendapat orang dengan
hasil perenungan saya, kita dapat
sesuatu yang baru, oh ya sudah saya cari
kekurangan saya. Saya cari tahu
bagaimana cara memperbaikinya. Kayak
gitu sih. Mungkin Bapak Ibu juga boleh
sama-sama. Jadi enggak usah malu-malu
karena di sekolah saya itu kita yang
agak senior itu delan. kita gurunya itu
ada 42 ya sama penjaga semua kita ada
50. Jadi yang muda di bawah saya itu
masih banyak banget gitu ya. Saya
panggil mereka gitu enggak apa-apa. Jadi
memang penilaian dari yang muda
sekalipun yang enggak boleh berkecil
hati kalau memang dia merasa itu
kekurangan kita, it's oke. Itu sih kalau
dari saya ada lagi mungkin yang mau
berbagi?
Kita masih punya sekitar 4 menit lagi.
Oh ya, dari hasil roda refleksinya tadi
Bapak Ibu bagaimana skornya?
Ada yang balance kah tadi? Parvi
langsung senyum. Gimana Pak?
Ee berdasarkan roda apa tadi kan, Bu? ee
punya saya itu 7,1 cuman ya di bagian
refleksi sih balik lagi seperti yang
tadi ee di bagian refleksi mungkin
terkadang lupa untuk merefleksi diri
sendiri gitu Bu. Jadi di bagian refleksi
tinggak balance gitu paling rendah
daripada yang lainnya gitu. Itu sih dari
tempat saya Bu.
Keren. Bapak berani mengakuinya di depan
kita. Berarti untuk ke depannya sih
semoga Oh, ini sudah berefleksi, Pak.
Oh, saya berefleksi. Kalau saya ternyata
jarang berefleksi gitu ya. Berarti untuk
ke depannya nanti enggak apa-apa, Pak.
Pelan-pelan. Tadi koknya di kelas
kayaknya si ini banget ya rusuh banget
gitu ngegangguin temannya mulu. Kok ini
tadi tiba-tiba pas berdoa merengut ya
anaknya kenapa ya gitu. Jadi bisa mulai
lebih aware lagi. Semangat. Keren, Pak.
Tadi ini saya lihat Bu Eka katanya
dapatnya 9,9.
Wow.
Bu Eka sharing atuh, Bu. Enggak usah
tampak wajahnya. Enggak apa-apa, Bu. Bu
Eka mau sharing enggak?
Bu Eka Meidayanti ya.
Oh, enggak bisa suaranya. Ya udah,
enggak apa-apa. 8,2. Wih, keren nih,
Pak. Bapak Kepala Sekolah. Ayo tuh pakai
sharing.
Sharingnya apa, Kak? Ini saya juga
bingung ini tadi. Karena
8,2.
Gimana, Pak Perasaannya, Pak?
Ee perasaan untuk hari ini
apa ya? Ya, sangat sangat bagus sih. Ada
saling keterbukaan.
Mohon maaf suaranya agak kecil ya.
Oh, suaranya kecil ya, Bu?
Heeh.
Nah, ini sudah lumayan nih, Pak. Ya, ini
saya mendekat dengan laptop ini. Iya.
Baik, untuk refleksinya kegiatan hari
ini
ee suasananya sangat menarik. Kemudian
banyak apa ya? banyak pengetahuan yang
ya seperti refresh karena
di
apa di
pengalaman mengajar saya dulu itu
jarang sekali menggunakan ini
menggunakan teknologi. Kalau sekarang
ini tadi kan banyak ee apa kayak
tugas-tugas juga menggunakan
ini laptop dan HP ya. Jadi untuk
kegiatan hari ini mm sangat bagus gitu
Bu. Terima kasih Bu Tere.
Baik, makasih Pak. Nanti berarti untuk
sesi-sesi berikutnya boleh nih kita
menanyakan dari sudut pandang kepala
sekolah ya. Bagaimana menghadapi
guru-guru yang seperti kita ini yang
suka jarang berefleksi karena sekarang
kepala sekolahnya dituntut untuk
berefleksi nih Pak ya. Jadi nanti kita
mau tanya dari sudut pandang Bapak
sebenarnya melihat guru-guru ini seperti
apa sih gitu ya. Kalau kita kan
memandangnya ke murid nih gitu. Jadi
kalau Bapak melihat kita gimana supaya
kan Pak kita juga tahu nih oh sebenarnya
mungkin dalam pikiran kepala sekolah
dalam hatinya kepala sekolah ini loh
ternyata ada ekspektasi yang mungkin
tidak tersampaikan ke kita gitu ya.
Nanti boleh ya, Pak ya. Untuk sesi-sesi
ke depannya kita masih ada 11 sesi. Kita
mau dengar nanti dari Pak Widi.
I siap Bu.
Kemudian saya mau dengar kalau Bu Retno
boleh enggak, Bu? Satu lagi dari Bu
Retno terakhir.
Ibu maaf suaranya belum kedengaran.
Belum kedengaran, Ibu.
Sudah terdengar belum?
Nah, ini sudah, Bu. Ini dengar, Bu.
Sudah terdengar? Sudah, Bu. Sudah.
Sudah, Ibu. Dengan jelas
sudah terdengar, Ibu.
Sudah, Ibu. Jelas sekali kedengaran.
Alhamdulillah. Ya.
Ee, perkenalkan saya Rugianti dari SMA
Negeri 2 S3. ee senang bergabung dengan
pundi ini. Saya ee melihat dari
Instagram agak
agak tertarik juga ini pundi itu apa
karena baru pertama kali ee
pundi pendidikan unggul digital gitu. ee
ada ketertarikannya karena di sini saya
melihat ada pembelajaran ee desain ng
desain ada nanti ada
empati kemudian define kemudian
menentukan idea dari pembelajarannya
bagaimana kemudian menentukan tetap
prototype ee kemudian ee di hari ini
saya juga mendapatkan ilmu
bagaimana guru itu bisa
ee bisa terus belajar
untuk lebih menambah kompetensinya. Jadi
pola bertumbuh itu memang penting bukan
saja untuk guru, tetapi bisa untuk
siswa. dengan siswa kita harus memang
harus
ee diberi wawasan
selalu untuk gelomanset begitu. Nah, ini
tadi ee sangat bagus inspirasinya dari
Mbak Ismawa ini. Kemudian ee
ini juga saya ee mendengar dari Bapak
Ibu guru semua juga ee menarik juga.
Jadi saya bisa belajar dari ee
pengalaman Bapak Ibu semua begitu.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih Ibu Retno.
Berarti sharing dari Ibu sekaligus
menutup ya perjumpaan kita malam hari
ini. Saya ucapkan terima kasih yang
sangat luar biasa buat Bapak Ibu semua.
Kita beri tepuk tangan dulu dong ya buat
Bapak Ibu semua yang dari awal sampai
akhir. Keren. Kita ketemu lagi minggu
depan ya Bapak Ibu. Semoga tidak
jemu-jemu. Semoga semua dalam keadaan
sehat. Doa saya ya. Nanti saya minta
perwakilan satu orang untuk menutup
dalam doa kemudian kita ee foto dulu ya
Bapak Ibu ya. Tadi kan membuka dalam doa
kemudian kita tutup dalam doa. Ada yang
mau memimpin kita dalam doa yang
bersedia?
Lintas agama enggak masalah. Yang mana
aja
ada yang mau?
Parvi boleh, Pak.
Silakan, Pak.
Sepertinya Pak Abu
kebetulan kan Pak Abu guru agama.
Ya udah, gambreng
sit dulu.
Iya. Sudah boleh, Bu.
Oke, silakan Pak.
Izin.
Izin mungkin dengan doa
Islam ya. Bismillahirrahmanirrahim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Subhanakallahumma
wabihamdika ashadu alla ilahailla anta
astagfiruka.
Terima kasih.
Baik, terima kasih Pak Bu. Kita stop
share. Kita mau foto ya, Bapak Ibu ya.
Untuk yang bisa membuka kameranya boleh
silakan membuka kameranya.
Kita mau pakai gaya apa ini? Gaya
identitas guru pundi aja boleh? Biar
kita enggak lupa di pertemuan pertama.
Berarti 4C gini ya.
Nah, dua-dua enggak tuh jarinya
tangannya tuh. Nah, repot enggak tuh
dibikin sama saya?
Enggak apa-apa ya dikerjain kapan lagi
coba. Eh, entar saya screenshot.
Siap. Saya empatnya aja. Eh, mana nih
empatnya? Oh, gini. Saya C-nya aja deh.
Oke, siap. 1 2 3.
Bentar saya simpan dulu.
Dek, sebentar ya. Enggak apa-apa kita
sampai 5.000 foto boleh.
Oke, sekali lagi. Nah, sekarang gayanya
mau bebas, mau 4C lagi apa mau bebas?
Bebas aja ya. Oke, bebas. Oke, silakan
kita mulai. 1 2 3.
Oke,
baiklah. sudah selesai
ya. Terima kasih Bapak Ibu. Selamat
beristirahat.
UNLOCK MORE
Sign up free to access premium features
INTERACTIVE VIEWER
Watch the video with synced subtitles, adjustable overlay, and full playback control.
AI SUMMARY
Get an instant AI-generated summary of the video content, key points, and takeaways.
TRANSLATE
Translate the transcript to 100+ languages with one click. Download in any format.
MIND MAP
Visualize the transcript as an interactive mind map. Understand structure at a glance.
CHAT WITH TRANSCRIPT
Ask questions about the video content. Get answers powered by AI directly from the transcript.
GET MORE FROM YOUR TRANSCRIPTS
Sign up for free and unlock interactive viewer, AI summaries, translations, mind maps, and more. No credit card required.