RAHASIA Orang Sukses Lepas dari RANTAI KEMISKINAN untuk Selamanya
FULL TRANSCRIPT
Lu pernah mikir enggak seberapa besar
sih peluang orang kaya lu pada keluar
dari zona kemiskinan? Apakah 100%, 50%
atau bahkan 0% alias sama sekali enggak
mungkin keluar dari zona kemiskinan?
Faktanya, Guys, kesempatan untuk keluar
dari kemiskinan itu sangat besar sekali.
Tapi ini hanya untuk orang-orang yang
siap mengubah pola pikirnya, Guys. Nah,
di video ini gua mau bagiin nih lima
cara ya. Lima mindset yang bikin orang
jadi kaya raya, yang bikin mereka bisa
naik kelas, yang bikin lu bisa keluar
dari zona kemiskinan. Sementara yang
lain tetap jalan di tempat. Yang
pertama, orang kaya itu punya mindset
sebagai pemilik, bukan korban. Nah, ini
konsep yang sangat penting dan mindset
yang sangat penting yang lu harus tahu
dan internalisasi di dalam diri lu.
Jadi, di buku Acer ya, The Secrets of
Millionaire Mind itu dia bilang gini,
orang kelas menengah bawah itu biasanya
punya pikir, "Oh, ini udah nasib, ini
udah takdir, ini memang salahnya orang
tua gue, ini salahnya pemerintah,
pokoknya udah semuanya karena hidup itu
kejadian ke dia bahwa ya hidup memang
begini adanya dan gua harus jalani hidup
ini apa adanya." Mindsetnya itu mindset
kayak korban, Guys. Jadi memang
model-model viktim lah. Tetapi kalau
orang kaya ya punya pola pikir rich
mindset, rich people, mereka believe
kalau eh hidup ini terjadi karena
pilihan gua, karena keputusan gua. Kalau
gua mau kaya, gua lakukan ini. Kalau gua
mau miskin, gua hindari ini. Jadi mereka
mengambil keputusan secara sadar bahwa
hidup mereka yang ciptakan, hidup mereka
yang usahakan. Mereka bekerja keras,
mereka berpikir keras, mereka berusaha
dengan segala daya upaya. Kenapa? Karena
mereka percaya nasib mereka ada di
tangan mereka. Nah, ini beda dengan
orang miskin. Makanya orang miskin tuh
suka banget nyalahin ya ini salah
pemerintah. Hidup ini enggak adil. Gaji
segini mah enggak cukup. Ekonomi lagi
susah. Ini gara-gara dolar nih. Ini
gara-gara inilah itulah gitu. Jadi
mereka semua nyalahin aja karena mereka
mentalnya viktim, korban. Tetapi kalau
orang kaya itu mikir sebaliknya. Oh ini
lagi perang tarif nih. Oh ini lagi
perang Donald Trump nih. Oh ini lagi
perang dunia 3 nih. Mereka pikir apa? Oh
gua harus cari cara nih. Ada potensi apa
nih? Ada cuan di mana nih? ada
opportunity di mana nih? Itu mindset
orang kaya. Mereka bukan korban. No.
Mereka pelaku. Mereka pejuang. Mereka
cari cara supaya bisa jalan. Tapi kalau
mental victim gua udah pernah ketemu,
Guys. Terus Tor ini teman gua ini gua
sedih banget. Orang ini selalu pikir
cari cara kenapa dia itu harus gagal.
Ah, enggak bisa, Ben. Kalau ini begini
nanti gua begini. Enggak bisa, Ben,
nanti rugi. Enggak bisa, Ben, nanti
gagal. Nanti kalau enggak berhasil, apa
yang terjadi dengan karir gua? Udah yang
dia pikirkan kegagalan semua dalam
hidupnya. Hari ini enggak jadi apa-apa.
Orang itu sedih lulusan Universitas Uni
Indonesia tapi tolol. Padahal coba dia
punya pikir, "Hei, mindset gua harusnya
gimana caranya biar ini bekerja? Gimana
caranya biar project ini berhasil?
Gimana caranya biar ini jalan sukses
besar?" Kan begitu dong. Tapi pola
pikirnya langsung kalau gagal gimana?
Kalau ada meteor gimana? Enggak sekalian
lu pikir kalau besok kiamat gimana, kan
gitu kan. Tolol namanya. Jadi kalau lu
berpikir lu mau jadi orang kaya, lu
harus punya mindset yang sama, pola
pikir yang sama. Bahwa perubahan hidup
itu tidak menunggu situasinya berubah.
Lu mau rubah nasib lu, wah enggak.
Tunggu deh ganti presiden. Waduh, sampai
kapan lu mau jadi kaya? Enggak bisa,
Guys. Aduh, nanti deh tunggu musim
hujan. Lu memang mau nanam cabe apa
gimana ya? Tapi lu harus punya pikir
bahwa hidup ini terus berjalan, waktu
ini terus berjalan. Kalau lu mau rubah
nasib lu, kalau lu mau rubah hidup lu,
lu enggak bisa nunggu situasi ini
berubah. Tapi lu sendiri yang harus
berubah. Kalau lu mau hidup lu berubah,
lu harus rubah hidup lu dulu. Bukan
nunggu-nunggu situasi yang lebih baik,
bukan nunggu-nunggu orang lain yang
lebih baik, bukan nunggu-nunggu orang
lain memperlakukan lu lebih baik,
enggak. Itu namanya wishful thinking. Lu
ngarep, aliran ngarep, itu bukan
investor, Bro. Kalau investor, ya lu
pasti selalu lihat potensi, opportunity,
gimana caranya lu bisa mendapatkan cuan
dari segala situasi. Jadi, di sini lu
harus punya prinsip lu itu bukan korban
ya. Gua kan cuma lulusan SMP, ya. Gua
kan enggak sempat kuliah. Iya, orang tua
gua kan miskin. Iya, orang tua gua kan
bukan pejabat. Iya, partai pilihan gua
kan kalah. Eh, bego. Enggak. Itu enggak
ada hubungannya. Hidup lu ada di tangan
lu. Lu upayakan supaya bisa jalan,
supaya bisa berhasil. Perjuangkan
hidupmu. Kenapa? Karena kalau lu pengin
jadi orang kaya, berarti lu harus punya
mindset dulu sebagai orang kaya. Dan lu
harus yakin bahwa lu bukan korban. Lu
adalah pemilik atas hidup lu. Nah,
Teman-teman, kita ada sistem poin di
sini supaya lu bisa lihat lu udah berapa
poin sih dalam hidup lu nanti di akhir
video ini. Makanya lu jangan skip. Nah,
kalau lu merasa lu udah punya risk
mindset di sini, lu adalah pelaku. Lu
bukan korban. Lu adalah orang yang
menciptakan hidup. Lu orang yang
bekerja. Lu orang yang melakukan daya
upaya supaya merubah nasib lu. Kalau lu
merasa lu sudah lakukan itu, catat ambil
kertas penak lu udah dapat 20 poin. Tapi
kalau lu masih merasa lu adalah korban,
lu punya mentalitas viktim, ini salah
orang tua gua, ini salah nasib gua, ini
salah keluarga gua miskin, ini salah
pemerintah, ini salah kenapa 03 kalah,
ini salah kenapa 02 menang, ah lu masih
bego akui itu. Tulis nilai lu nol.
Kalau udah tulis itu, kita masuk ke yang
kedua, Guys. Orang kaya itu fokus ke
peluang, bukan kendala. Jadi, dia fokus
di opportunity, bukan di masalah.
Maksudnya begini, kadang-kadang lu
ketemu situasi yang mengatakan bahwa eh
lu enggak bisa nih lewat jalan ini. Eh,
lu enggak bisa jadi direktur di usia
muda. Eh, lu enggak bisa jadi pengusaha
sukses. Orang umur lu masih di bawah 30
tahun. Eh, lu enggak bisa jadi investor
saham soalnya gaji lu kan masih UMR.
Aduh, bukan begitu pola pikirnya. Kalau
orang kaya, rich mindset itu dia harus
punya pola pikir, peluang, opportunity.
Lu gak bisa bilang, "I cannot afford it.
Gua gak bisa. Gua gak mampu beli itu.
Gua gak bisa ke posisi itu. Gua tidak
paham ilmu itu." No, lu harus berpikir
not about you cannot afford it. Tapi lu
harus punya pola pikir how can you
afford it. Maksudnya gini, ada orang
bilang, "Pak Beni, saya enggak bisa jadi
investor. Orang gaji saya cuma Rp3 juta.
Kalau saya beli saham itu, nanti gaji
saya jadi berkurang setengahnya. Kalau
saya beli saham itu karena harganya
mahal. Kalau beli satu lot aja kan 100
lembar. Kalau harganya Rp30.000 berarti
gua harus siapin Rp3 juta. Jadi saya
enggak mau jadi investor. Padahal SAMnya
bagus, padahal perusahaannya bagus, tapi
lu kehilangan opportunity. Itu harusnya
kan lu punya pola pikir, eh harusnya
gimana caranya ya gua bisa investasi di
situ? Harusnya gimana ya caranya gua
bisa ikut peluang bisnis ini? Atau
gimana ya caranya supaya gua bisa dapat
beasiswa di sana atau bisa dapat S2 di
sini. Harusnya berpikir gimana caranya
bisa itu jadi kenyataan. Jadi kalau
orang yang punya mindset gimana caranya
lu bisa dapat peluang itu? Karena
peluang mungkin enggak datang dua kali,
tiga kali dalam hidup lu, lu akan
lakukan segala cara. Misalkan, "Oke
kalau gitu gua berhemat. Oke, gua
tadinya makan tiga kali sehari. Gua
sekarang makan dua kali sehari karena
gua sekarang mau investasi di saham itu
atau gua sekarang mau menabung buat S2
gua. Kalau gua udah bisa S2 gaji gua
bisa naik atau ini saatnya gua buka
bengkel sendiri? Karena gua udah lihat
ini ada perumahan baru ramei penduduknya
tapi tidak ada bengkel di sana. Tapi gua
enggak punya modal. Oke, gua fight.
Gimana caranya gua bisa dapat modal?
bisa nabung sendiri atau cara apapun itu
yang lu perlu lakukan supaya lu bisa
wujudkan mimpimu. Karena kalau mindset
miskin, ah ya sudah ini susah. Ah, ya
sudah pasti gagal. Tapi mindset kayak
ada jalan enggak ya? Gimana ya biar bisa
bekerja ini? Gimana ya biar gua tetap
bisa jalan di sini? Jadi ketika orang
lain pada ketakutan, khawatir, panik,
rich people, mindsetnya langsung ada
celahnya enggak? Makanya ya orang-orang
ini ya jago buat melihat masalah menjadi
opportunity. opportunity kemudian
menjadi duit. Artinya masalah orang lain
jadi duit buat dia. So, ini hal yang
sebetulnya paling mudah ya buat
orang-orang yang memang punya mindset
pejuang, fighter, cari opportunity,
fight terus ya. Contoh paling gampang
lah gua lihat gua bahkan tahulah gua
punya teman ya di saat orang lain lagi
ngetren nih PHK di mana-mana. Pabrik
banyak yang bangkrut. Eh teman gua ada
satu tambah kaya raya di daerah Karawang
karena dia dapat peluang bisnis dari
situ. Kenapa? Karena begitu banyak orang
PHK di mana-mana apa yang dia lakukan?
Dia buka jasa. Jasa bikin CV. Lu
bayangin jasa bikin CV sesimpel itu aja
enggak pakai ribet. Satu CV dia bikin,
dia ngecas Rp150.000. Ini follower kita
di sekolah Sambenix. Dia ngecas
Rp150.000, Guys. Lu bayangin Rp150.000
buat satu CV per bulan di Karawang itu
ada puluhan ribu orang kena PHK, kena
pecat lah. Dia dapat 1000 orang aja, dia
dapat Rp150 juta, Guys, per bulan. Jadi
pas gua ngelihat, "Iya, Pak Ben, thank
you ya buat ilmunya ya. Sekarang saya
mulai bisa investasi saham di
mana-mana." Emang berapa penghasilan lu?
Ya, lumayanlah berkat Pak Ben gua dapat
ide baru buat bisnis. Dia resign dari
pabriknya. Dia kerja di pabrik Yamaha.
Dia resign bikin usaha buat perbaikin CV
orang yang kena PHK. Tadinya gaji dia
cuman 5 juta sekian lah per bulan.
Sekarang dia bisa dapat ratusan juta per
bulan dari peluang usaha upgrade CV.
Gila, sesimpel itu loh. Tapi itulah
mindset orang kaya lihat opportunity.
Orang lain lihatnya masalah, stres,
panik, khawatir enggak. Dia dapat
opportunity. Anyway, ini bukti bahwa ya
kalau poor people dia cuman bisa
desperate, sedih, khawatir, kecewa,
menyalah-nyalahin orang lain,
menyalah-nyalahi dunia. Ya, syukurlah.
Tapi kalau lu mau jadi orang kaya harus
punya pola pikir how can you afford it,
gimana caranya bisa jalan? Gimana
caranya gua bisa beli itu? Gimana
caranya gua bisa invest di situ, gimana
caranya gua bisa nambah pabrik lagi,
gimana caranya usaha keluarga ini bisa
bertumbuh, bukan tambah nyungsep ketika
masuk ke generasi gua. Kan itu yang lu
harusnya pikir. Jangan lihat masalah
masalah masalah problem problem. Wah,
kalau lu punya teman yang kayak gitu
segera jauhin, Guys. Toxic gitu. Gua
udah lihat orang-orang kayak begitu
enggak berhasil, enggak jadi apa-apa
dalam hidupnya. Lu harus berani delete.
Nah, itulah saran ketiga. Tapi sebelum
lu ke sana, tulis lagi di buku kertas
lu. Kalau lu sudah punya mindset, cari
peluang, bukan kendala, tambahkan lagi
poin 20 di rapot kamu. Kalau belum punya
mindset seperti itu, lu harus tulis nol
supaya lu tahu ya, lu harus kenal diri
lu. Gua ini masuk kategori yang mana ya?
Gua orang yang mengenal diri gua kah?
Gua orang yang bisa lihat opportunity
kah? Apakah gua berbakat menjadi orang
kaya atau tidak, lu harus berani
melakukan self assessment, menilai diri
sendiri. Banyak orang yang gak sadar
diri di Indonesia ini. Akibatnya ya dia
enggak kenal dirinya sendiri. Jadi
potensinya hilang terbuang sia-sia. So,
tulis di situ nilai kamu berapa. Dan
kita sekarang masuk ke step yang ketiga.
Apa tadi? Keluar dari zona nyaman. Ini
ditulis sama David Schwartz, The Magic
of Thinking Big. Lihat di bukunya dia
bilang apa? Sukses itu doesn't demand
super intelligence. Lu kalau mau
berhasil, lu enggak butuh otak yang
super pintar, super intelek kayak gua,
Benix, IQ-nya hampir 200. Enggak, enggak
penting itu. Kalau lu mau sukses, lebih
penting apa? Courage. So, success
doesn't demand super intelligent. It
demands courage. Dia butuh keberanian.
Keberanian lu buat apa? Good news, guys.
Gala dinner Benix Investor Group akan
diselenggarakan di akhir bulan Agustus
ini. Kamu harus buruan daftar karena di
sini bakal ada pembicara yang luar biasa
terkenal, mantan menteri, investor hebat
juga karena dia sudah berhasil membawa
perusahaannya punya Omzet ratusan
triliun setiap tahunnya. Kita juga akan
ketemu nih sama direktur emiten-emiten
ternama memberikan kita cuan
multibagger, Guys. Dan ngobrol sama
direksi-direksi top dari perusahaan Tbk
yang ada di Indonesia. Yuk, tunggu
apaagi? Segera daftar sekarang juga dan
kamu bisa dapetin 17% diskon ya, khusus
buat 17 orang pertama. So, segera
hubungi nomor yang ada di bawah ini.
Sampai ketemu ya di Gala Dinar Benix
bersama bintang tamu Spektakuler. Jangan
lupa daftaran dirimu sekarang juga.
Keberanian lu buat apa? Keberanian buat
keluar dari zona nyaman. Karena banyak
orang miskin, orang gagal itu karena dia
takut. Dia enggak berani ambil resiko.
Dia takut gagal, dia takut malu banyak.
Sementara orang kaya itu tahu zona
nyaman itu musuh dari pertumbuhan. Itu
enggak pernah dan jangan pernah bawa
diri lu ke zona nyaman. Ya, contohnya
gua, gua enggak pernah terlena. Oh,
ketika guaaji gua Rp0 juta, oke, itulah
hidup gua. Enggak, gua enggak pernah
berada di zona nyaman. Gua tidak pernah
takut buat resign kapanp gua tidak
pernah takut. Dan ketika gua resign apa
yang terjadi? Oh, ternyata gaji gua naik
jadi R juta. Terus gua berada di zona
nyaman gitu. Enggak, gua upgrade lagi
ilmu gua naik lagi jadi R00 juta. Terus
gua apa yang gua lakukan satu zona
nyaman? Enggak, gua resign juga gua mau
gaji gua R500 juta. Kan gitu. Lu selalu
punya mindset keluar dari zona nyaman.
Kenapa? Karena begitu lu merasa nyaman,
dunia itu langsung berlomba-lomba
mengalahkan lu. Contoh paling gampang lu
kalau berhenti belajar, ya kalau di
dunia gua, gua kan investor ya. Begitu
gua stop berhenti belajar, apa yang
terjadi? Yang lain langsung ke catch up
karena keluar ilmu baru. Zaman dulu
enggak ada soal AI. Even Waren Buffet
aja ketakutan buat investasi di Apple
karena dia gak ngerti bisnis Apple.
Sampai kemudian datang orang baru
memperkenalkan bagus investasi di Apple.
Dia gak paham teknologi. Dia takut.
Padahal hari ini kalau lihat ya
keuntungan terbesar Warren Buffet
ternyata dari saham Apple itu bayangkan
kalau dia enggak berani ambil keputusan
itu selama bertahun-tahun dia anti
investasi di teknologi. Padahal dia
sahabat baiknya Bill Gates, pemiliknya
Microsoft. Tapi akhirnya Warren Buffet
ya berani mengakui kesalahannya. Gua
selama ini terlalu bermain di zona
nyaman. Zonanya apa? retail, dia
investasi di perusahaan permen, dia
investasi di perusahaan asuransi, dia
investasi di perusahaan energi. Pokoknya
bisnisnya bisnis gampang lah, enggak
ribet. Tapi kalau lu investasi di
perusahaan teknologi memang ribet karena
mereka bisa punya pair multiplayer bisa
sampai 10, 20, 100 bahkan. Tapi kalau
kita ngobrol di dunia usaha juga banyak
ya orang yang enggak berani buat maju.
Ada gua lihat pengusaha usahanya gitu
gitu gitu gitu enggak berani ngutang ke
bank. Takut, "Pak, nanti gimana kalau
enggak bisa bayar bunga." Tapi kalau lu
enggak bisa bayar bunga, lu enggak bisa
buka cabang, lu enggak bisa ekspansi. Ya
udahlah, Pak. Enggak apa-apa. Biar
bisnis gua gini-gini aja, gini-gini aja.
Makanya gua senang banget ketika gua
dengar jarum akuisisi GM. Karena Bakmi
GM itu udah generasi ketiga lebih.
Bahkan ahli warusnya puluhan orang,
tetapi bisnisnya gitu-gitu doang. Lu
enggak pernah hari ini ya, lu tahu BMI
GM itu rasanya enak banget, tapi lu
pergi ke Bandung enggak ada. Lu pergi ke
Surabaya enggak ada bakm GM. Lu pergi ke
Medan enggak ada bakm GM. Kok konyol
banget? Sementara McD bisa buka cabang
di mana-mana. Kenapa mereka takut buka
cabang di mana-mana? Bakmi Aloy, bakmi
karet tuh enak tuh Bakmi Aloy tuh di
Lampung ada di Villa Citra itu enak
banget punya nyali. Gua kaget kemarin
tuh gua pergi ke Semarang ada Bakmi
Aloy. Gila ini bakmy nih dari Lampung
ada, Jakarta ada, Palembang ada sampai
Semarang juga ada. Nyalinya lebih tinggi
dibanding Bakmi GM. Padahal Bang GM
rasanya enak banget, tapi enggak ada
nyali. Tapi ya sudahlah akhirnya
diakuisisi dengan perusahaan lebih besar
gua rasa bahkan bisa lebih untung lagi
nih perusahaan. Lu bisa bayangkan ya
kalau seandainya jarum itu terlena
berada di zona nyaman, colollaps gua
yakin. Kenapa ya? Lu lihat perokok di
Indonesia tambah banyak apa tambah
jumlahnya sedikit? Tambah sedikit jumlah
perokok di Indonesia. Kalau jarum
terlena nyungsep dia hari ini kayak
Sampurna. Tapi kan dia pintar, dia
diversifikasi, dia keluar dari zona
nyaman. Memang kakek leluhur gua udah
buyut-buyut anak beranak. Bisanya bisnis
rokok, tapi gua mau diversifikasi. Masuk
mereka ke perbankan punya bank BCA.
Masuk mereka pergi ke bisnis e-commerce
online ada Bli-bli. Masuk mereka ke
bisnis media, punya narasi. Masuk dia ke
bisnismi, beli bakmi GM. Menarik, Guys.
Lu bayangin mereka aja yang udah kaya
raya duitnya ratusan bahkan ribuan
triliun enggak ada tuh berada di zona
nyaman. Selalu punya nyali untuk mencoba
hal yang baru, opportunity baru.
Bayangkan kalau mereka masih bertahan
dengan bisnis rokoknya. Hari ini apa
yang terjadi? Colaps. Kalau
anak-anaknya, cucunya terlalu enak,
terlalu nyaman, dapat duit triliunan
dari jualan rokok. Eh, begitu generasi
keempat bingung planga-plongo. Eh, kok
cukai naik 100%? Kok ada rokok ilegal?
Kok ada rokok tanpa asap? Kok ada rokok
dalam bentuk cairan? Apa ya ini ya?
Bingung collapse. Jadi buat teman-teman
yang mau keluar dari zona kemiskinan, lu
harus punya mindset, berani belajar hal
baru. Buat teman-teman yang belum tahu,
ya. Gua ini basicnya sarjana hukum loh.
Tapi lu tahu gua sebagai ahli ekonomi,
ahli investasi. Kalau buat teman lama
gua, mereka tahunya gua programmer
karena gua bisa program. Gua dulu kuliah
jurusan artificial intelligence. Gua
bisa coding dalam bahasa HTML, Java,
C++. Tapi gua gak takut. Gua pindah dari
programmer ke sarjana hukum. Dari
sarjana hukum ke dunia investment dan
ekonomi. Gua enggak takut. Kenapa?
Kenapa harus takut? Karena kalau lu aja
enggak berani berubah, maka lu jangan
berharap hidup lu bakalan berubah juga.
Karena selalu itu mulainya dari lu
sendiri. So, mulai belajar beranilah.
Lakukan hal baru, pelajari hal baru,
kerjaan baru, bahkan bernyali buat mulai
dari nol. Kalau teman-teman dekat gua
pasti sudah tahu gua berulang kali mulai
dari nol. Tapi ya itulah itulah hidup
perjalanannya seperti itu. Gua pun
melihat ada begitu banyak juga ya
orang-orang yang sukses ya. Ya karena
dia ditempa jatuh bangun, jatuh bangun,
jatuh bangun. Tapi lu lihatnya ketika
udah enaknya doang. Tapi lu enggak lihat
prosesnya ketika dia dikejar-kejar dop
collektor. Ketika dia stres banget
bisnisnya mau collapse hutang ke bank
segala macam dia mau. Lu enggak pernah
tahu cerita itu. Dia tapi yang lu lihat
hari ini dia sukses berhasil kaya raya.
Hmm. Tapi dia bisa ke situ karena dia
melewati begitu banyak marabahaya,
jurang-jurang yang demikian terjal
sehingga dia bisa sampai ke titiknya
hari ini. Nah, jadi buat teman-teman
sebelum kita move ke yang keempat,
tolong tulis di sini el termasuk yang
mana? Lu orang yang menikmati kenyamanan
hidup lu atau lu orang yang berani
keluar dari zona nyaman? Kalau lu orang
yang berani keluar dari zona nyaman dan
lu sudah buktikan itu, tambahkan lagi 20
poin. Berarti ya sampai titik ini lu
udah 60 poin. By the way ya, berani
keluar dari zona nyaman bukan cuma soal
resign atau belajar hal baru. Tadi gua
udah bilang. Termasuk lu juga berani
mengambil keputusan dalam hidup lu untuk
mengatakan tidak terhadap hal-hal yang
nyaman. Contoh apa? Dapat undangan kawin
dari saudaranya di Singapura. Datang
enggak berani bilang enggak. Undangan
ponakannya, sunatan, tetangganya ulang
tahun semua dia iayain. Iayain. Dia
enggak berani bilang enggak. Dia takut
bilang enggak. Dia iyain semua karena
orangnya enggak enakan. Padahal Warren
Buffet udah berani bilang bahwa kalau lu
mau jadi kaya raya, lu harus berani
bilang tidak. Termasuk kepada circle lu
yang toxic. Eh, lu audit lagi diri lu
sendiri sebelum lu audit laporan
keuangan perusahaan orang lain. Coba lu
audit diri lu sendiri, keluarga lu
sendiri, ccle lu sendiri. Ada enggak
orang-orang yang toxic? Ngutang
dikit-dikit, ngutang sama lu,
dikit-dikit, ngutang sama lu,
dikit-dikit, ngibul sama lu, bohong,
manipulatif sama lu. Hati-hati. Ingat
ya, kalau lu mau maju, lu harus berani
katakan tidak, terutama kepada ccle
toxic itu. Jadi, punya nyali apa? Satu
contoh, keluar dari zona nyaman, lu
berani delcon, delet kontak. Mantan lu
yang toksik, teman-teman lu yang rese,
yang enggak ada kasih value, kalau
ketemu cuman ngajak mabuk. Hai hai,
enggak ada value-nya buat lu. Buang
semua, delete kontaknya. Berani enggak
lu? Lakukan itu. Kenapa? Karena lu gak
bisa bergerak. maju. Kalau kawanan lu,
pek lu, orang-orang sekeliling lu itu
berusaha untuk membawa lu ke level
mereka. Dan mungkin juga level mereka
dibawah lu dari pola pikir, dari mulai
mindset, psikologis, daya fighting, daya
juang. Jangan sampai lu justru yang
ditarik ke mereka karena lu kan pengen
upgrade nih, lu pengen naik kelas nih.
So, lu harus berani deh lihat kontak.
Lakukan itu. Ada orang bangga banget di
suatu event marketing ya, ayo siapa yang
kontaknya lebih banyak dari gua? Gua
kasih hadiah. Akhirnya ada saya punya
7.000 R nomor kontak. Saya punya 12.000
nomor kontak. Saya punya 15.000 nomor
kontak. Hmm. Bolehlah kalau lu cuma
sales lah. Tapi kalau lu seorang CEO,
pengusaha, lu mau sukses, lu harus
berani delete kontak. Buang yang enggak
penting-gak penting itu buang. Gua tiap
hari itu undangan meeting ada lebih dari
30 kali orang ngajak gua meeting inilah,
meeting itulah. Mayoritas gua bilang
enggak, enggak, enggak, enggak, enggak.
Enggak penting. Jadi lu harus berani
bilang enggak. Ya terserah dia mau
bilang apa. Benny, kok lu enggak bisa
datang ke acara ulang tahun ponakan gua?
Urusan lu. Lu mau marah? urusan lu. Gua
ada hal yang lebih penting gua harus
lakukan. Kenapa? Karena lu hidup harus
ada prioritas. Lu harus berani keluar
dari zona nyaman. Termasuk ketika lu
tidak nyaman. Ketika saudara lu, teman
baik lu meminta hal-hal yang sebetulnya
enggak ada nilai tambahnya bagi lu. Lu
harus berani katakan tidak. Beranilah
keluar dari zona nyaman. Yang nah yang
keempat tadi udah tiga ya. Kalau lu 20
berarti udah 60 poin lu. Tapi lu harus
jujur ya sama diri lu. Yang keempat ini
penting guys. Orang kaya itu punya
mindset jangka panjang bukan instan.
Makanya gua berulang kali bilang gini,
kalau lu cocok jadi investor itu
sebenarnya paling gampang. Gua suka
ngajar ya. Gua ngajar tuh udah sampai ke
pedalaman Kalimantan, Guys. Jadi enggak
usah kuliahin gua soal ini. Gua udah
lihat real case-nya seperti apa. Gua
udah sampai masuk ke Sulawesi, ke
Sumatera. Gua bisa bilang dengan jujur,
jauh lebih gampang ya ngajarin petani
loh buat jadi seorang investor handal
dibandingkan orang ibu kota profesional,
lawyer, accountant, ahli pajak segala
macam. Enggak susah. Mereka jauh lebih
gampang ngajarin petani karena mereka
udah punya mindset jangka panjang. Ho.
Kalau gua nanam semangka hari ini, gua
panennya 4 bulan lagi. Oh, kalau gua
nanam pohon sawit hari ini, gua panennya
5 tahun lagi. Mereka sudah tahu. Jadi
mereka tidak gampang dikibuli oleh ya
investasi-investasi palsu, investasi
bodong menggaransi cuan 10% sehari, 50%
sebulan. Hal-hal yang enggak realistis.
Karena realitanya lu nanam pohon durian
hari ini, enggak bisa lu makan buahnya
besok. Enggak bisa. Kalau bisa lu itu
penipuan. Kalau ada yang jual benih,
"Bro, bro, beli nih biji terbaik nih.
Ini adalah benih pisang terbaik. Lu
tanam hari ini, besok lu bisa dapat
buah." Itu udah jelas penipu, Guys.
Hati-hati. Makanya, nah orang kaya
enggak gampang ditipu-tipu dengan
hal-hal aneh begitu. Dia udah tahu
ketika dia investasikan waktunya,
duitnya, energinya, termasuk pengusaha
juga. Ini buat sesuatu yang baik dalam
jangka panjang. Makanya penting yang
namanya integritas. Kenapa? Selalu
berpikir jangka panjangnya seperti apa?
Jangka panjangnya seperti apa? Bukan
soal besok gua mau makan apa. Itu
mentalitas orang miskin. Eh, gua nyolong
aja dulu. Itu mentalitas orang miskin.
Mereka punya nyali dipakai buat hal yang
sia-sia. Contoh nyali maling besi,
mencuri. Mereka cuma pikir besok makan
apa, hari ini makan apa. Udah sampai
situ doang level pemikirannya. Miskin
terus. Besok pikir lagi, besok pikirnya
itu lagi. Mereka enggak pikir jangka
panjang. Eh, mendingan gua kursus
menjahit ya? He, mendingan gua kursus
bahasa Inggris ya. Heh, gua bisa belajar
nyetir ya. Gua bisa jadi sopir truk ya?
Eh, gua bisa jadi sopir tambang ya.
Mereka enggak berpikir jangka panjang.
Nanti udah jadi sopir tambang, upgrade
lagi. Ini gua kasih contoh real case.
Gua punya teman baik kemarin baru
ngajakin proposal bisnis, cuan
bareng-bareng gua. Investasi bareng yuk.
Teman gua ini mantan buru pabrik motor
Jepang yang ada di Karawang. Ketika
zaman dulu dia kuliah, dia harus
bolak-balik karena dia dapat shift
malam. Kadang-kadang shift malam itu
masuknya jam 09.00 malam sampai jam 5.00
pagi. Lu bayangin siangnya kuliah bareng
gua. Malamnya langsung lagi naik motor
pergi ke Karawang. Dari Depok ke
Karawang ya, dari UI ke Karawang. Lu
bayangin setiap hari dia lakukan itu,
Sabtu, Minggu juga kerja. Kenapa? Biar
dapat lemburan. Hei, gila ini lulusan
STM. STM mesin kerja di pabrik Jepang,
motor di Karawang, tapi punya nyali,
punya harapan baik, berpikir jangka
panjang. Gua tidak mau seumur hidup jadi
buru. Terus gua tanya sama dia, "Ngapain
lu kuliah di UI? Buat apa lu ambil
kuliah hukum bareng gua?" Lu kan udah
enak, gua aja pengangguran namanya. Gua
mahasiswa ya. Lu kan udah punya gaji.
Gaji lu berapa, Bro? Ya, gua sekarang
levelnya udah senior lah. Kalau senior
gaji gua waktu itu UMR sekitar Rp3 juta
ya. Jadi waktu itu gaji gua udah
Rp4.500. Jadi ya lumayanlah udah bisa
nyicil buat bayar uang kuliah. Terus gua
tanya lagi, ngapain lu masih lanjut
kuliah? Gaji lu udah di atas UMR, Bro.
Jawabannya gini, "Ben, ya gue jadi STM,
gua enggak mau dong kerja teknik
ngegerinda, gerinda, gerinda tiap hari
berapapun gaji gua." Tetap akan lebih
bagus kalau gua punya keahlian. Dan gua
yakin kalau gua kuliah di sini, gua
punya title sarjana hukum, gua bisa
dapat lebih banyak dari sini. Jadi
enggak apa-apa gua menderita selama 5
tahun kuliah di UI. Selama 5 tahun gua
akan kerja 20 jam sehari. Lu bayangin
dia kerja di Karawang, kuliah di Depok,
rumah di Bogor. Lu bisa bayangin
perjuangan dia selama 5 tahun? Hari ini
jadi apa dia? Perjuangan buruh pabrik
ini yang kalau lu kuliah, waduh lu
tahulah bakaian buru itu oli minyak di
mana-mana lah. Pakai long trouser gitu,
Long John. Ya, lu bisa langsung lihat
gila ini orang. Buat apa sih ada orang
bengkel di sini? Mungkin orang berpikir
seperti itu, tapi gua melihat ini orang
fighter pasti jadi orang. Nah, hari ini
apa yang terjadi sama dia? Ya, dia jadi
salah satu lawyer bonafit yang gua
enggak mau sebutin namanya karena gua
promosiin gratis. Jadi, tapi gua mau
bilang ya dia mendapat berkali-kali
lipat dibandingkan penghasilannya yang
dulu yang cuman R jutaan itu ya. Hari
ini gajinya hampir 3 digit. Jadi
growing, dia punya grow mindset. Gua
berpikir untuk jangka panjang bukan buat
hari ini. Kalau dia mau buat hari ini
zaman dulu itu dia udah happy gajinya di
atas UMR. Banyak orang-orang di Karawang
gaji di atas UMR langsung beli Ninja,
beli motor baru, beli istri baru dan
lain sebagainya. Yang dia lakukan
enggak. Dia investasi untuk masa
depannya. Nah, dia berani lakukan itu.
Ketika dia lulus, apa yang dia lakukan?
Dia resign. Lu bayangin dia resign, dia
sudah naik pangkat bahkan sampai
supervisor gajinya di atas R juta. Tapi
dia resign, dia berani ambil keputusan
itu karena dia mau merubah nasibnya. Dia
mau merubah nasib keluarganya. Dia harus
menghidupi orang tuanya nanti ketika
sudah pensiun. Dia punya pola pikir
jangka panjang. Dan ini yang membedakan
orang miskin sama orang kaya. Orang
miskin itu carinya kepuasan. Bagaimana
membuat dirinya happy, ganti handphone
baru. Kalau perlu pakai pinjol, ganti
handphone baru. Karena mereka pengin
cepat dipuaskan hasratnya itu. Mereka
enggak punya nyali, enggak punya
keberanian, enggak punya mindset buat
menabung, buat berpikir jangka panjang,
buat kuliahin anaknya di tempat yang
lebih bagus dari dia, supaya anaknya
punya kehidupan yang lebih baik dari
dia. Tidak ada itu. Ujung-ujungnya apa?
Orang-orang kayak begini kena investasi
bodong, kena judul, kena pinjol karena
hobinya memuaskan diri sendiri demi
gol-gol jangka pendek. Enggak penting.
Enggak penting lu punya handphone baru.
Enggak penting. Enggak ada gunanya. Ya
mungkin kecuali kalau lu konten kreator
kali. Tapi selain itu enggak penting.
Handphone harga R2 juta dengan handphone
sama R juta sama-sama bisa WhatsApp,
Bro. Udahlah. Yang paling lu pakai apa
sih? Paling WhatsApp, email, Instagram,
semua pun bisa. Buka Instagram YouTube
di handphone R juta. Ngapain lu pilih
handphone harga R juta? kan gitu ya.
Cuma buat gaya biar dibilang orang
keren. Buat apa? Hidup dari kacamata
orang lain. Nah, ini yang membedakan
dengan orang kaya. Orang kaya itu sabar
dia bangun asetnya. Dia investasi jangka
panjang. Investasi apa? Kalau teman kita
tadi investasi leher ke atas, investasi
keilmuan, sarjana, atau tempat lain. Ada
investasi dalam bentuk tanah, investasi
dalam bentuk kebun, investasi dalam
bentuk deposito atau dalam bentuk saham.
Dan mereka sabar bertahan. hidupnya
biasa aja, sederhana. Karena mereka udah
tahu yang penting itu bukan menang hari
ini, Bro. Yang penting itu menang 30
tahun lagi. Itu makanya banyak orang
bilang, "Eh, yang penting dapat rezeki
besar. Hari ini salah, lebih baik dapat
rezeki panjang." Jadi, orang kaya itu
memang benar mentalitasnya bahwa
kekayaan itu dibangun, Guys. Bukan
diburu-buru. Kalau diburu-buru,
ujung-ujungnya lu jadi marketing
afiliator krypto, bangsat lu. Bodong aja
semua dijualin. Bego jadya. Jangan
begitu. Belajar lu bisa menunda
kepuasan. Belajar lu bisa menunda
kenikmatan lu sekarang. Karena yang
penting apa? Lu dapat kebebasan lu. Lu
dapat financial freedom lu nanti depan.
Lu harus lakukan itu. Nah, kalau buat
teman-teman gimana yang di sini? Lu udah
melihat diri lu orang yang berani enggak
sih buat mengambil keputusan bertahan?
Tidak sedikit-dikit gratifikasi diri
sendiri, memuaskan diri sendiri, hasrat
diri sendiri, tidak berpikir instan,
tapi punya pola pikir jangka panjang.
Oh, nanti anak gua seperti apa? Oh, gua
harus menabung hari ini karena gua mau
anak gua sekolah di sini. Oh, gua mau
investasi gua seperti ini. Oh, gua nanti
mau bawa orang tua gua haji 20 tahun
lagi. Oh, gua nanti mau kasih rumah yang
lebih baik buat mertua gua nanti. Lu
tipe yang mana, Guys? Atau lu orang yang
hidup hari ini? Ya, buat hari ini. Gua
masih lihat banyak orang yang seperti
itu. Lu masuk kategori yang mana? Kalau
lu sudahudah masuk ke tipe orang yang
mampu berpikir panjang dan menunda
kesenangan jangka pendek, ambil pena
kamu, tulis lagi kamu dapat ekstra 20
poin. Tapi kalau belum, tulis nol.
Belajar mengenali diri sendiri. Lu masuk
yang mana, lu harus jujur. Bahkan hari
ini ya, gua suka ketemu direktur ya yang
gajinya juga udah lumayan ya, gajinya
sekitar Rp jutaan ya. Itu masih banyak
loh yang hidupnya dari pinjol. Sedih
kalau lu lihat itu sedih banget yang
masih ngutang ke mana-mana sedih. Aduh,
gua gak bisa sebut namanya karena
perusahaannya Tbk. Tapi itu fakta yang
gua temui begitu tragis dia gak bisa
mengontrol hasrat di dalam dirinya.
Sehingga hari ini orangnya sekarat ya,
lagi di rumah sakit di Singapura tapi
hutangnya banyak banget. Cucilan rumah
belum habis, cicilan mobil belum
selesai, anaknya masih ada yang mau
kuliah. Ngeri, Guys. Padahal ya gajinya
Rp50 juta sama tunjangan mungkin dapat
Rp10 juta sebulan. Tapi itu tidak cukup,
Guys. Karena gaya hidupnya enggak masuk
akal dan itu realita. Nah, yang kelima.
Yang kelima ini prinsip dari Warren
Buffet bahwa apa? The best investment is
in yourself. Karena the more you learn,
the more you earn. Jadi maksudnya apa?
Lu kalau investasi emas bisa dicuri
orang, oke. Lu investasi mobil bisa
berkarat, bisa rusak, bisa tabrakan,
bisa dimaling orang juga. Lu investasi
tanah bisa longsor, bisa keluar
sertifikat palsu. Namanya negara
Kazakhstan, Bro. Tapi ada satu investasi
yang enggak bisa dicuri sama siapapun,
yaitu apa? Investasi kepada diri
sendiri. Jadi kalau orang miskin itu
biasanya harus lu push buat belajar,
harus push buat sekolah, bahkan dia
enggak mau upgrade nilai dirinya
sendiri. Stay aja di situ. Jadi lu kalau
ketemu orang umurnya hari ini 40 tahun
tapi knowledge-nya enggak ada bedanya
dengan ketika lu ketemu dia pas SMA
dulu, dia enggak naik level. Dunia
sekarang udah bergerak cepat, tapi dia
jalan di tempat. Kenapa? Karena dia
tidak mau investasi ke dirinya sendiri.
Nah, orang kaya itu tahu bahwa the best
investment is in yourself. Artinya apa?
Investasilah ke dirimu sendiri.
investasi layar ke atas. Kalau lu enggak
ngerti, lu pengin bisnis sesuatu,
belajar cari mentor, bayar, ikut kursus,
ikut sekolah lagi. So what? Lu harus
lakukan itu karena even selevel Warren
Buffet aja sampai ikut kursus ke DLK
negeri. Jadi dia lakukan itu padahal dia
udah dari S1 dari universitas paling
bagus di dunia. S2 dia juga tapi dia
enggak puas diri karena dia tahu aset
dia yang paling berharga ya dirinya
sendiri. Jadi sebelum dia pakai duitnya
buat investasi di hal-hal yang lain, lu
investasilah buat diri lu sendiri.
Investasi apa, Pak? Contohnya lu kursus
bikin kue, bikin roti, investasi kursus
petiseri, investasi kursus ngelas,
ngebengkel, benerin baterai,
ujung-ujungnya lu bisa buka pabrik mobil
listrik. Who knows, lu enggak ada yang
tahu. Tapi itulah perjalanan kehidupan.
At the end of the day nih, titik-titik
ini akan sekaling bertautan dan akan
membantu lu. Hari ini lu mungkin merasa
enggak penting kursus bahasa Inggris.
Eh, tunggu dulu. Itu sangat penting.
Hari ini lu merasa bahasa Indonesia aja
cukup atau bahasa Inggris aja cukup. Eh,
salah. Hari ini lu harus bisa bahasa
Inggris sama bahasa Mandarin. Realita
dunia, Amerika Serikat collapse, China
naik. Lu harus upgrade. Karena kalau
skill lu naik, pasti income lu juga
naik. Ya, contohnya gua ya. Dulu gua
mulai waktu di BINUS gua tuh ya
artificial intelligence. Gua software
engineer, kita belajar coding. Bahasa
gua bahasa mesin, ribet setengah mati,
bahasa assembly. Susah, Guys. Dari situ
gua pindah. Gua berani ambil keputusan.
Pindah gua ambil hukum. Kebetulan
didaftarin sama kakak gua di UE lulus
belajar hal baru. Tapi di situ juga gua
enggak puas diri hukum ini dari sudut
pandang sosial seperti apa. Gua
bergabung ke LSM, Guys. Gua ikut Komnas
Anak waktu itu dibawa Kaseto Sekjennya
Aris Merdeka si Rait. Ya, gua ikut
mereka gajinya gratis. Yang penting gua
dapat ilmu dulu. Tapi gua menganggap itu
investasi. Gua dapat koneksi banyak di
situ. Dari situ gua masuk ke LBH
Jakarta. Ini undernya Adnan Buyung
Nasution. Dapat ilmu baru. Iya. Duit
dibayar kagak bro. Miskin semua di situ.
Tapi lu dapat koneksi. Ingat, yang lu
cari bukan duit, tapi lu investasi ke
dalam diri lu. Lu dapat kenalan baru, lu
dapat pengetahuan baru, lu dapat network
baru. Dan itu semua berfungsi buat lu.
Mungkin enggak pada saat itu, tapi dalam
perjalanan karir lu ya itu akan terjadi
seperti itu. Karena gua enggak akan
dibayar mahal kalau skill gua cuman
sarjana hukum. Dan gua yakin akhirnya
gua belajar. Gua belajar akuntansi, gua
belajar soal investasi, gua belajar soal
pajak. Mau enggak mau, suka enggak suka.
Karena apa? Ya, kita harus investasi ke
diri kita sendiri. Makanya sekarang
orang kalau pakai gua, hire gua jadi
konsultan. Mereka harus bayar ratusan
juta per jam. Iya. Kenapa? Karena mereka
bisa dapat hasil review yang holistik.
Hm. Dari orang yang sudah punya
pengalaman berkarir di perusahaan
software terbesar di Indonesia, Gojek
saat itu punya pengalaman di Astra,
punya pengalaman di Oyo, punya
pengalaman di Tensen, di MNC, itu yang
dibeli sama orang. Dan lu harus punya
keberanian buat investasi di dalam diri
lu sendiri. Jadi, bahkan ketika waktu
itu gaji gua pun enggak cukup buat
kursus, gua upayakan gua bisa dapat
kursus bahasa Inggris. Gua ikut apa?
Toast master. Karena harganya murah,
tapi jaringannya banyak. Gua enggak
perlu keluar biaya duit mahal-mahal.
Waktu itu gua belum ada duit, gua ikutin
itu. Teman-teman bisa lakukan itu
enggak? Bisa. Jadi, ada begitu banyak
jalan menuju Roma buat Teman-teman yang
mau investasi ke dalam dirinya sendiri.
Sampai kemudian ya gua merasa udah cukup
gua gantian, gue yang ngajar. Dan sampai
sekarang pun gua masih kebiasa ngajar.
Tadinya gua biasa ngajar di kolong
jembatan ke anak-anak yang enggak punya
duit ya buat ikut sekolah SD, SMP.
Sekarang gua ngajar ke kampus-kampus
karena menurut gua ini udah urgen nih
buat kita bawa generasi Genzi kita buat
naik level lah pola pikirnya supaya bisa
menang nih lawan negara asing. Karena
globalisasi sudah semakin dekat. Kalau
enggak makin banyak nih negara kita
habis buat belanja barang impor. Habis
rupiahnya digadaikan buat beli dolar.
So, buat teman-teman ya, gua aja berani
investasi ke diri gua sendiri untuk
mempelajari hal-hal yang mungkin menurut
lu gak make sense. Tapi kalau di sini
ada orang ITB pasti tahu. Dulu gua tuh
pernah sampai kursus ke ITB belajar
bikin stemsel gimana caranya membuat
kultur jaringan untuk tanaman jamur. Eh,
siapa yang sangka 20 tahun kemudian gua
buka kebun di Palangkaraya. Kita punya
kebun pisang terbesar di Kalimantan
Tengah. Hmm, siapa yang sangka? Gua juga
enggak nyangka, tapi waktu itu gua mau
belajar aja. Gua yakin segala sesuatu
itu ada gunanya. Ya, mungkin enggak
sekarang tapi nanti. Kursus gua yang
paling aneh ya, investasi layar ke atas.
Kalau kursus animasi itu udah standar
lah. Kursus bahasa Mandarin gua juga
udah pernah, itu juga standar lah.
Kursus yang aneh-aneh. Gua pernah
belajar kursus gimana caranya merubah
minyak jelantah jadi solar. Menurut lu
aneh ya, tapi gua ikutin itu. Gimana
kursus merubah minyak goreng bekas makan
jadi sabun shampo produk yang
berbasiskan palm oil. Jadi itu dari
sekian banyak hal yang gua pernah ikutin
ya itulah salah satu contohnya yang
menurut lu mungkin aneh-aneh ya. Tapi
kalau yang standar-standar kursus
matematika gua udah pernah, kursus
kalkulus gua udah pernah, programming ya
apalagi animasi pun gua bisa. Jadi
itulah yang kita lakukan untuk investasi
ke diri sendiri. Termasuk sekarang
misalkan gua pengin banget nih ngerti
bisnis nikel. Gua sampai kursus gimana
caranya rare earth itu bisa diolah.
Gimana caranya nikel, baxed, cobalt itu
bisa menjadi produk sampingan dari
penggalian nikel. Ternyata ven-nya
beribu-ribu dolar jauh lebih mahal
dibandingkan lu investasi batu bara.
Harganya enggak nyampai 100$00. Tapi
begitu lu ngelihat, wah rare earth
ternyata seksi, Guys. Makanya lu buruan
daftar ya sekolah S Benix yang terbaru.
Karena di season 8 kita akan belajar
tentang investasi rare Earth. Nah, ini
khusus buat pemula saham. Jadi, buat
teman-teman yang masih bingung gimana
cara baca laporan keuangan, gimana cara
mengkoneksikan neraca laba rugi,
keputusan investasi, bisnis rare Earth
yang bakal booming sebentar lagi.
Makanya sampai Donald Trump
ngemis-ngemis minta rare Earth dari
Indonesia. Tunggu apaagi, Guys? Yuk,
segera ikutan di sekolah Sambenix season
8. Kita akan membahas khusus pemula di
dunia saham gimana cara jadi investor
yang hebat khususnya di sektor rare
earth. So, gimana guys? Kita udah mau
sampai akhir dari video ini bahwa
penting banget lu punya lima mindset
jadi orang kaya. Nah, skor kamu gimana
sekarang? Coba angkat kertas kalian.
Tadi kan total ada lima rasi.
Masing-masing nilainya 20 poin. Karena
kalau nilai kamu ya di atas 60, maka
kemungkinan kamu buat keluar dari zona
miskin itu sudah cukup besar. Jadi yang
lebih penting lagi, seberapa persen
kemungkinan lu bisa berubah dari miskin
menjadi kaya? Ternyata persentasenya
tergantung seberapa pengin kamu berubah.
Karena keputusan ada di tanganmu.
Sekarang lu bisa jalani hidup ini
seperti apa adanya yang udah-udah
seperti biasa. Atau lu bisa mulai ubah
pola pikir lu mulai detik ini, detik lu
lihat video ini, eh gua mau berubah, gua
enggak mau gitu-gitu aja. Karena
ketahuilah, Guys, apa yang terjadi di
dalam hidupmu hari ini, apapun itu,
siapa yang jadi pasanganmu, apa
kuliahmu, seberapa besar gajimu,
seberapa besar circle kamu, itu adalah
hasil dari keputusan kamu, bukan dari
keputusan orang lain. Jadi, apa yang
kamu lakukan, apa yang kamu pikirkan,
itulah yang akan kamu lakukan dan
terjadi di dalam hidup kamu. Jadi, what
you don't change is what you have. Apa
yang elah di masa lalu lu, itulah yang
terjadi di dalam diri lu hari ini. Jadi,
lu jangan komplain ke mana-mana. Ini
salah pemerintah, ini salah Prabowo, ini
salah 03 enggak menang, ini salah Donald
Trump. No, lihat dulu ke diri lu
sendiri. Because what you don't change,
artinya lu sudah memilih apa yang kamu
tidak rubah dari hidupmu. Berarti kamu
sudah pilih secara sadar. Gua terima
fakta itu terjadi di dalam hidup gua.
Itu adalah keputusan gua. So, lu harus
hati-hati because what happen in your
life is actually because of your
decision. It keputusan kamu yang terjadi
dalam hidupmu. So, guys, yuk segera
komen di bawah ini dari lima mindset
yang ada di sini yang udah gua terangin
sama kalian, mana sih yang lu sudah
terapkan di dalam hidup lu? Dan ada
enggak sih contoh konkrit dari lima
mindset ini yang lu lihat dari
sekelilingmu, temanmu, saudaramu,
keluargamu yang memiliki lima mindset
ini dan ternyata mereka berhasil merubah
kehidupan mereka. Sharing juga dong di
sini biar dilihat sama teman-teman lain
bahwa iya betul orang bisa berubah dari
zero no one nobody into somebody into
someone. Tolong dong sharing juga
pengalaman cerita kalian di sini. Dan
buat teman-teman ya kalau lu ngerasa
video ini memberikan lu value, yuk
segera share video ini ke teman-teman
kalian yang lain yang membutuhkan
insight ini juga. Karena apa? Karena
Indonesia butuh lebih banyak lagi orang
yang mau fight, orang yang mau berubah,
mau kasih yang terbaik dalam hidupnya.
punya patien, punya obsession untuk
berubah, ya setidaknya dirinya jadi
lebih baik lagi. Karena kalau diri lu
secara individual jadi lebih baik lagi,
percayalah keluarga lu, family lu, ccle
lu akan menjadi lebih baik lagi. Dan
kalau makin banyak ya keluarga-keluarga,
family-fily yang berhasil naik kelas
negara juga akan jadi lebih baik lagi,
akan tambah positif karena makin banyak
sel-sel kecilnya dalam bentuk individu
dan keluarga itu yang berhasil berubah
menjadi positif. Oke, guys. Semoga video
ini bermanfaat. Ditunggu komentar
kalian. Yuk, segera subscribe channel
Benix. Salam sehat, salam cuan. Bye bye.
[Musik]
UNLOCK MORE
Sign up free to access premium features
INTERACTIVE VIEWER
Watch the video with synced subtitles, adjustable overlay, and full playback control.
AI SUMMARY
Get an instant AI-generated summary of the video content, key points, and takeaways.
TRANSLATE
Translate the transcript to 100+ languages with one click. Download in any format.
MIND MAP
Visualize the transcript as an interactive mind map. Understand structure at a glance.
CHAT WITH TRANSCRIPT
Ask questions about the video content. Get answers powered by AI directly from the transcript.
GET MORE FROM YOUR TRANSCRIPTS
Sign up for free and unlock interactive viewer, AI summaries, translations, mind maps, and more. No credit card required.