R. A KARTINI "DRAMA MUSIKAL" - XI MERDEKA 3 2025
FULL TRANSCRIPT
21 April 1879
lahir seorang anak perempuan dari
pasangan Raden Mas Adipati Arosingrat
dan Mas Ajengrah.
Anak tersebut diberi nama Raden Ajeng
Kartini.
Semasa remaja, Kartini merupakan anak
yang menginginkan kebebasan
menentang adat yang berlaku pada saat
itu untuk mewujudkan kesetaraan hak
antara pria dan wanita.
Jadi, ini adalah huruf A. Ayo dibaca A.
A.
Selanjutnya ini B.
Nih, sedang apa kau di sini? Aku sedang
mengajar, Kang Mas.
Untuk apa kau mengajar? Tugas wanita
harus menikah dan juga mengurus rumah.
Betul,
biarkan saja para wanita ini mengurus
tugas mereka di rumah.
Apa salah jika wanita melakukan hal yang
kita inginkan? Wanita juga manusia.
Sudahlah, Kartini. Kau tak perlu
mengajari mereka. Ayo, sekarang tukang
Mas balik kepingitanmu.
Jangan.
Namun meski semangatnya begitu tinggi,
Kartini harus melawan berbagai tekanan.
Tidak hanya dari masyarakat,
tetapi juga dari orang terdekat.
Nih, keluar, cepat keluar.
Ada apa, Bu?
Nih, sudah saatnya kamu harus dipingit.
Ibu tidak mau melihat kamu terus
mengajar dan belajar. persiapkan dirimu
hingga calon suamimu menjemputmu.
Mengap, apa salah jika seorang wanita
belajar? Apa salah jika wanita memiliki
kedudukan yang sama dengan pria?
Cukup. Tradisi tetaplah tradisi dan kamu
tidak boleh melanggar tradisi ini.
Saya
akan tetap berpendapat seperti ini, Bu.
Terserah kamu saja. Hingga tiba saatnya,
siap atau tidak siap, kamu harus
melakukan pingitan ini.
Meskipun tantangannya begitu besar,
namun semangat Kartini untuk menggapai
cita-cita tak pernah padamu.
Dalam perbincangannya dengan Romo dan
Kartono, Kartini memohon izin
melanjutkan pendidikan ke Belanda,
sebuah langkah besar dalam
perjuangannya.
Permisi, Romo. Saya ingin meminta izin
untuk melanjutkan sekolah di Belanda.
Apakah diperbolehkan,
Rinil? Apakah kamu sangat menginginkan
sekolah di Belanda?
Benar, Romo. Trinil sangat ingin sekolah
di Belanda dan ingin menggapai cita-cita
Romo.
Baiklah, Romo mengizinkanmu.
[Musik]
Apakah kamu sudah memirikannya dengan
baik?
Sudah, Kang Mas.
Maaf tuan, saya kurang setuju dengan
pendapat dijengkartini tentang sekolah
ke Belanda.
Kenapa?
Jika Ibu mendengar beliau akan marah
Tuan, terserah adik saya saja bagaimana
nantinya.
Namun impian tersebut harus terhimpit
oleh tradisi dan harapan keluarga.
Ibu tiri memaksanya menikah membuat
Kartini harus memilih antara cita-cita
atau patuh pada adat.
Kamu harus bersyukur nih karena ada
orang yang mau melamarmu. Apa yang harus
disyukuri, Bu? Dari seorang laki-laki
yang sudah memiliki tiga istri. Sudah
bagus bupati yang melamarmu, bukan
petani.
Saya akan tetap menunggu proposal dari
Belanda.
Proposalmu belum tentu disetujui.
Mungkin bisa saja ditolak. Lamaranmu
harus dijawab dalam waktu 3 hari.
Saya tidak mau membuat Romo kecewa.
Mohon maaf, Bung.
Mohon maaf, Ibu. Izinkan saya berbicara
kepada adik saya. Kamu bisa meminta
tolong kepada Romo untuk membatalkan
proposal itu.
Saya tidak mau, Kang Mas.
Sekarang semuanya sudah jelas. Kamu
hanya memikirkan dirimu sendiri. Egois
kamu, Kartini.
Saya tidak mau, Bu.
Maafkan, Kang Masni.
Di tengah semua kebingungan dan
pertentangan itu, ada sosok ibu yang
tetap mendukung Kartini.
percakapannya dengan
menyadari betapa pentingnya pendidikan
dan
[Musik]
panggil aku ibu kita tidak sedang diend
[Musik]
ada yang ingin ibu tanyakan ilmu apa
yang sudah kamu pelajari dari aksara
Belanda
kebebasan, Bu.
Lalu apa yang tidak ada dalam aksara
Belanda?
Tidak tahu.
Kesetiaan manusia ketika dipangku
hatinya tentram karena keseimbangannya
terjaga. Sepintar-pintarnya orang
Belanda untuk menguasai dunia, mereka
tidak akan mengenal kesetiaan.
Selama ini ibu menerima dipisahkan oleh
tembok kehidupan
dengan anak-anak yang lahir dari rahim
ibu nih.
Harapan ibu anak-anak bisa sekolah
dan derajatnya lebih tinggi dari ibu.
[Musik]
Seiring waktu, Kartini mengajukan syarat
pernikahan.
Ia ingin pendidikan perempuan dan
martabat ibunya dihargai.
Namun, tidak semua bisa menerima langkah
beraninya.
Bagaimana? Apa kamu siap menyandang
gelar Raden Ayu?
Saya siap untuk menerima pinangan dari
Kanjeng Adipati Dioyo Adiningrat dari
Rembang. Tapi saya ingin meminta syarat.
Apalagi nih?
Sudah sebutkan saja apa syaratnya.
Pertama, saya tidak mau membasuh kakinya
dan tidak mau dibebani oleh berbagai
perintah sopan santun yang sangat rumit.
Serta saya mau diperlakukan seperti
orang biasa saja.
Yang terakhir.
Cukup nih. Kamu hanya memikirkan dirimu.
Ibu tidak akan membiarkan syaratmu
terpenuhi.
Kartini benar. Suami saya menikah lagi,
Bu. Lastri mengerti. Suami Lastri lebih
mencintai istri mudanya yang lebih
pintar dan terpelajar. Lastri tidak
kuat, Bu.
Kartini benar ni lanjutkan. Mbak Yumu
ini mendukungmu.
Yang terakhir saya mengharuskan calon
suami saya untuk membantu mendirikan
sekolah untuk perempuan dan orang
miskin.
Saya juga ingin Yung tidak tinggal di
rumah belakang, tapi di rumah depan.
Serta saya ingin semua putri-putri Romo
memanggil Yung Sirah dengan sebutan Mas
Ajeng bukan Yu lagi.
Cepat dulu syaratmu lalu kirim ke Bupati
Rembang.
Mohon maaf Romo. Izinkan saya menulis
surat ini. Saya anak yang paling tua.
Sudah jadi bukti saya sebagai kakak
untuk melindungi adik-adiknya.
Dan saya akan membantu untuk
mengantarkan surat itu langsung ke
Bupati Rembang, Romo. Baiklah. Apa
benar diajeng yang menulis syarat
pernikahan itu?
Benar, Kang Mas. Apabila Kang Mas
keberatan dengan syarat ini, saya mohon
supaya Kang Mas tidak memperpanjang
masalah ini dengan menjadi permusuhan
antar keluarga.
Mohon maaf, Romo, saya gelir dengan
kekhawatiran di Ajeng Kartini. Tapi ini
wajar karena di Ajeng belum mengenal
siapa saya. Justru kedatangan saya ke
sini untuk meluruskan hal penting yang
tidak bisa dijelaskan dengan surat. Saya
sangat ingin anak-anak diasuh oleh ibu
yang berhati kuat dan pintar seperti di
Ajeng Kartini.
Aku akan ikut mengawal cita-citamu.
Bagaimana di Ajeng?
Pada hari pernikahan mereka, Kartini
tidak hanya melangkah sebagai seorang
istri, tapi sebagai simbol perubahan.
Dengan keyakinan yang teguh, ia berjanji
untuk terus memperjuangkan hak-hak
perempuan.
[Musik]
Perjalanan panjang ini baru saja
dimulai.
Saya izin pamit, Ibu. Nih, mau jadi
Raden Ayu.
Iya, Nak. Jaga dirimu baik-baik, ya.
Ingat pesan-pesan yang Ibu sampaikan.
Setelah pernikahan dilaksanakan,
Kartini dan Raden Ageng Joyo Diningrat
pergi ke sekolah melihat para
murid-murid yang sedang belajar. di
sekolah yang sudah Kartini impikan.
Terima kasih suamiku telah memenuhi
persyaratan yang aku wajibkan sebelum
menikah.
Sama-sama, Dek Kartini.
[Musik]
It's a beautiful night. We're looking
for something dumb to do.
Hey baby,
I think I want to marry you.
Is it the look in your eyes or is it
this dancing juice?
Who cares baby? I think I want to marry
you.
Well, I know this little chap on the
full art. We can go home.
No one will know.
Oh, come on
girl.
Who cares if a trash? Got a pocket full
of cash we can blow
shots patrol
and it's longer.
Don't say no
no no no. Just say yeah yeah. And we'll
go go go go. If you're ready like I'm
ready cuz it's a beautiful night. We're
looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I want to marry you.
Is it the look in your eyes or is it
this dancing juice?
Who cares, baby? I think I w to marry
you.
[Tepuk tangan]
Well, I know this little chap on the
full of art. We can go on.
No one will know.
[Musik]
Oh, come on
girl.
Who cares if we trash got a pocket full
of cash? We can blow
shots patro
UNLOCK MORE
Sign up free to access premium features
INTERACTIVE VIEWER
Watch the video with synced subtitles, adjustable overlay, and full playback control.
AI SUMMARY
Get an instant AI-generated summary of the video content, key points, and takeaways.
TRANSLATE
Translate the transcript to 100+ languages with one click. Download in any format.
MIND MAP
Visualize the transcript as an interactive mind map. Understand structure at a glance.
CHAT WITH TRANSCRIPT
Ask questions about the video content. Get answers powered by AI directly from the transcript.
GET MORE FROM YOUR TRANSCRIPTS
Sign up for free and unlock interactive viewer, AI summaries, translations, mind maps, and more. No credit card required.