Mereka yang Berkepentingan di balik Dapur MBG
FULL TRANSCRIPT
kasus siswa keracunan menu program makan
gratis
per Oktober 2025 sudah ada lebih dari
11.000 anak di Indonesia yang mengalami
keracunan dari program makan bergizi
gratis. Padahal program MBG seharusnya
dibuat agar anak-anak tidak kelaparan
dan mendapatkan gizi yang cukup. Tapi
angka keracunan justru malah semakin
terus naik dan itu menunjukkan satu hal
penting. Ada kegagalan sistemik dalam
tata kelola MBG seperti sistemnya tidak
siap, pengawasannya lemah, dan
pelaksananya banyak yang tidak kompeten.
Lebih kacaunya lagi, anggaran untuk MBG
justru malah ditambah. Di tahun 2025
saja anggarannya sudah sangat besar,
yaitu berjumlah R1 triliun yang berasal
dari APBN. Dan tahun depan di 2026 dana
tersebut justru ditingkatkan sampai lima
kali lipat menjadi 335 triliun. Di balik
carut marutnya MBG ini, kalian penasaran
enggak sih siapa orang-orang yang
sebenarnya berada di balik dapur MBG dan
kenapa bisa program sebesar ini tetap
dijalankan walau tanpa kesiapan yang
matang?
Dengan berbagai masalah dan juga
carut-marut dari pelaksanaan program MBG
ini, maka kami melakukan penelusuran
lebih lanjut untuk menemukan adanya
indikasi praktik patronase dan juga
konflik kepentingan yang diduga kuat
hinggap di dalam yayasan yang menjadi
penyedia. dari MBG ini kami mengumpulkan
daftar sebanyak 220 yayasan yang berasal
dari laman Badan Gizi Nasional dan juga
dikumpulkan dari pemberitaan media yang
kemudian 220 yayasan tersebut dicari
aktenya di portal milik ee Dirjen
Administrasi Hukum Umum milik
Kementerian Hukum Republik Indonesia
hingga datanya mengerucut menjadi 102
yayasan yang datanya dapat diakses dan
kemudian diolah lebih lanjut Secara
sampel data tersebut sudah mewakili
keseluruhan provinsi yang ada di
Indonesia yaitu berjumlah 38 provinsi.
Dan dalam temuan ini afiliasi yang
dimaksudkan adalah keterubungan dari
individu-individu di dalam yayasan yang
namanya tercatat pada akta yayasan yang
kemudian memiliki keterhubungan dengan
individu lain maupun institusi lainnya.
Sebelumnya juga sudah ditemukan hasil
investigasi dari Tempo yang mengungkap
bahwa setidaknya ada tujuh yayasan
penyedia SPPG atau pelaksana mitra MBG
yang dikelola langsung oleh Prabowo dan
juga lingkaran terdekatnya. Hasil
penelusuran kami menunjukkan adanya
temuan pada sejumlah kategori ini. Di
antaranya 28 yayasan terafiliasi dengan
partai politik. Kemudian 18 yayasan
terafiliasi pebisnis dan swasta. 12
yayasan terafiliasi dengan birokrasi
pemerintahan, 9 yayasan terafiliasi
dengan kelompok relawan dan atau ormas
pendukung kampanye Pilpres 2024. Tujuh
yayasan terafiliasi CCEL dan orang dekat
pejabat. Enam yayasan terafiliasi
militer. Empat empat yayasan terafiliasi
dengan mantan penyelenggara negara. Tiga
yayasan terafiliasi dengan individu yang
pernah tersangkut dalam kasus korupsi
dan dua yayasan terafiliasi dengan
kepolisian dan kejaksaan. Pada kategori
yang pertama, kita mulai pada afiliasi
terhadap partai politik. Sebagaimana
teman-teman bisa lihat bahwa Partai
Gerindra yang juga dipimpin oleh
Presiden Prabowo menempati urutan
pertama sebagai partai yang terafiliasi
dengan individu paling banyak di Yayasan
Penyedia MBG. Posisi selanjutnya diikuti
dengan Partai Keadilan Sejahtera atau
PKS yang terafiliasi dengan lima yayasan
dan kemudian ada Partai Amanat Nasional
atau Partai PAN yang terafiliasi dengan
politisi yang berada di tiga yayasan.
Dari 44 politisi yang tadi ditemukan,
ada empat anggota legislatif yang saat
ini masih aktif menjabat. Empat orang
tersebut terbagi dari satu anggota
legislatif di tingkat nasional dan tiga
orang anggota legislatif di tingkat
daerah. Selain empat nama anggota
legislatif yang masih aktif menjabat,
ada juga empat nama lainnya yang pernah
tersangkut dalam kasus korupsi yang
ternyata merupakan bagian dari Yayasan
Penyedia MBG. Dengan adanya sejumlah
nama yang pernah tersangkut dalam kasus
korupsi ini, maka kita patut
mempertanyakan apakah proses untuk
mengecek rekam jejak dan juga
kualifikasi dari yayasan untuk bisa
diterima sebagai penyedia SPPG sudah
dilakukan dengan cukup baik atau belum.
Pada temuan berikutnya kami menemukan
adanya jejak keluarga polisi di balik
dapur MBG yang ditemukan melalui Yayasan
Kemala Bayangkari. Dari hasil
penelusuran kami, ada tiga nama petinggi
di kepolisian yang bisa ditemukan dari
yayasan ini. Yang pertama adalah
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo yang
merupakan suami dari ketua yayasan ini.
Kemudian Kapolri Listio Sigit Prabowo
yang merupakan suami dari pembina
yayasan ini dan juga penasihat khusus
untuk reformasi Polri sekaligus mantan
Kapolri Ahmad Dofri yang merupakan suami
dari pembina Yayasan Kemala Bayangkari.
Dengan hubungan kekerabatan berupa suami
istri tersebut, maka kita bisa melihat
bahwa yayasan ini mengarah kepada para
petinggi di kepolisian.
Temuan kami berikutnya menunjukkan
hubungan dengan aparat penegak hukum
lain yaitu kejaksaan. Kami menemukan
adanya jejak jaksa di balik MBG swasta
yang mana mengarah ke Yayasan Inklusi
Pelita Bangsa. Di dalam yayasan ini ada
dua jaksa yaitu Reda Mantovani dan juga
Deni Ahmad. Reda merupakan jaksa Agung
Muda bidang intelijen, sedangkan Deni
merupakan Kepala Kejaksaan Negeri
Kabupaten Bogor. Keterkaitan antara
yayasan ini dengan penyediaan MBG
dilaksanakan dalam bentuk skema MBG
swasta. Ketidakjelasan pelaksanaan skema
MBG swasta ini juga terjadi akibat tidak
adanya transparansi data dan informasi
berkaitan dengan tata kelola dan juga
pelaksanaan program MBG. Dugaan
keterlibatan aparat penegak hukum dalam
pelaksanaan MBG justru berbahaya bagi
proses pengawasan dan juga penegakan
hukumnya. Bagaimana kemudian apabila di
ee waktu mendatang ditemukan sejumlah
permasalahan bisa berupa keracunan
ataupun juga dugaan kasus korupsi yang
terjadi di balik pelaksanaan MBG ini.
Tentu hal ini akan sulit diawasi apabila
APH-nya justru ikut terlibat dalam
proses pelaksanaan MBG. Sebenarnya apa
sih yang dimaksud dengan skema MBG
swasta? Sayangnya dengan tidak adanya
suatu peraturan teknis yang menjadi
landasan dari pelaksanaan MBG menjadikan
tidak ditemukan satu penjelasan khusus
yang menjelaskan apa itu skema MBG
swasta. Tetapi dalam proses wawancara
yang dilakukan oleh tim ICW dengan
Kepala BGN yaitu Bapak Dadan Hindayana
disebutkan bahwa semua pelaksanaan MBG
yang dilakukan di seluruh Indonesia itu
pasti berafiliasi dan sudah melewati
proses koordinasi dan juga verifikasi
dengan BGN. Dengan demikian disebutkan
juga tidak ada satupun SPPG yang berada
di luar dari sistem yang sudah dibentuk
dan dilaksanakan oleh BGN. Artinya skema
MBG swasta yang dijalankan oleh yayasan
ini tidaklah berbeda dengan skema MBG
yang dijalankan oleh yayasan-yayasan
lainnya yang menjadi penyedia SPPG dalam
program MBG ini. Kami juga menemukan
adanya sejumlah yayasan yang terkait
dengan individu yang punya latar
belakang sebagai militer. Sebagaimana
teman-teman bisa lihat, ada enam yayasan
yang mana ditemukan punya afiliasi
dengan militer. Dari enam yayasan
tersebut, ada sejumlah nama militer
aktif yang diduga terkait dengan
pelaksanaan MBG. Selain nama-nama tadi,
ada juga 19 purnawirawan militer yang
ada di balik Yayasan Pengelola MBG.
Temuan berikutnya adalah yayasan yang
berisikan tim pendukung dalam pemilihan
presiden. Dalam kategori ini kami
menemukan ada lima yayasan yang
terafiliasi dengan individu yang pernah
menjadi pendukung dari pasangan calon
Prabowo dan Gibran. Selain itu, ada juga
dua yayasan lainnya yang terafiliasi
dengan individu pendukung dari pasangan
calon Anis Muhaimin dan dua yayasan juga
yang terafiliasi dengan individu
pendukung dari Joko Widodo. bentuk
afiliasi tersebut bisa berupa
keikutsertaan ataupun jabatan struktural
individu di dalam yayasan pada
organisasi masyarakat maupun kelompok
relawan lainnya yang pernah menjadi
bagian dari tim pemenangan dari para
pasangan calon tersebut. Selanjutnya,
Teman-teman, pada kategori berikutnya
kami menemukan adanya sejumlah yayasan
yang terafiliasi dengan individu yang
memiliki jabatan di birokrasi
pemerintahan. Ada 12 yayasan yang kami
temukan dan dua di antaranya merupakan
Badan Gizi Nasional yang merupakan atau
yang mendapatkan mandat untuk melakukan
e penyelenggaraan dari program MBG ini.
12 yayasan tersebut terbagi di tingkat
pusat dan juga daerah. Ada lima yayasan
yang afiliasinya terhadap institusi di
tingkat pusat dan juga tujuh yayasan
lainnya yang terafiliasi dengan
institusi di tingkat daerah. Pada
yayasan yang terafiliasi di tingkat
pusat yang jumlahnya ada lima, dua
yayasan di antaranya terafiliasi
langsung dengan tenaga ahli dan juga tim
teknis dari Badan Gizi Nasional.
Teman-teman bayangkan Badan Gizi
Nasional itu adalah badan yang
mendapatkan mandat untuk bisa melakukan
penyelenggaraan dari pemenuhan gizi
nasional. Di dalamnya ia juga
dimandatkan untuk bisa melakukan upaya
pemantauan dan juga pengawasan terhadap
pelaksanaan pemenuhan gizi nasional.
Ketika justru orang-orang yang
terafiliasi dengan BGN malah ikut
menyediakan MBG, bagaimana proses
pengawasan tersebut bisa dilakukan
dengan baik?
Teman-teman bisa lihat di layar ada
tujuh yayasan yang punya afiliasi dengan
e institusi di tingkat daerah. Dari
tujuh yayasan di tingkat daerah, ada dua
yayasan yang mana individu di dalamnya
punya keterkaitan dengan jabatan sebagai
mantan penjabat di tingkat daerah. Ada
Yayasan Pendidikan Islam atau YAPIS di
tanah Papua yang mana Muhammad Musa'ad
sebagai ketuanya itu merupakan mantan
pejabat gubernur Papua pegunungan.
Kemudian ada Yayasan Lazardi Kendari
yang didirikan oleh Zayad Kaimudin yang
di mana dia pernah menjabat sebagai
pejabat bupati Muna. Temuan lainnya kami
menemukan ada 18 yayasan yang mana
individu di dalamnya memiliki afiliasi
dengan sektor bisnis ataupun swasta.
Kemudian ada juga tujuh Yayasan Mitra
MBG yang terafiliasi dengan
penyelenggara negara dan mantan
penyelenggara negara alias orang dekat
pejabat.
Kenapa semua temuan ini berbahaya?
Karena dari apa yang tadi kita lihat
bersama ini mengindikasikan bahwa
program MBG itu syarat akan praktik
patronase yang dijalankan oleh rezim
Prabowo dan juga Gibran. Pelaksanaan
program MBG sangat mungkin untuk
dijadikan wadah bancakan dan sarana
untuk mencari keuntungan bagi orang
terdekat dan orang-orang yang berada di
lingkaran ee pemerintahan saat ini. Bila
demikian maka bukan penerima MBG yang
pada akhirnya diuntungkan, tapi justru
kelompok-kelompok yang dengan sengaja
terlibat agar bisa mendapatkan
keuntungan dari pelaksanaan proyek ini.
MBG sudah dijadikan sebagai sarana yang
mengakomodir politik patronase atau
politik balas budi yang dikelola dan
dijalankan oleh rezim Prabowo Gibran.
Hal ini bisa terjadi sebagai bentuk
balas budi atas dukungan elektoral yang
sempat diterima pada pemilihan presiden
lalu, maupun juga sebagai bagian untuk
mengakomodir, mengamankan, dan menjaga
loyalitas dari para jejaringnya agar
bisa memberikan dukungan elektoral pada
kontestasi mendatang. Jika hal yang
demikian yang terjadi, maka penerima
manfaat dari program ini yaitu siswa dan
juga ibu hamil dan juga Ibu menyusui
tidak akan bisa sepenuhnya mendapatkan
manfaat dari program MBG. yang
mendapatkan manfaat dan keuntungan
justru elit yang berada di lingkaran
pemerintah dan rezim saat ini.
UNLOCK MORE
Sign up free to access premium features
INTERACTIVE VIEWER
Watch the video with synced subtitles, adjustable overlay, and full playback control.
AI SUMMARY
Get an instant AI-generated summary of the video content, key points, and takeaways.
TRANSLATE
Translate the transcript to 100+ languages with one click. Download in any format.
MIND MAP
Visualize the transcript as an interactive mind map. Understand structure at a glance.
CHAT WITH TRANSCRIPT
Ask questions about the video content. Get answers powered by AI directly from the transcript.
GET MORE FROM YOUR TRANSCRIPTS
Sign up for free and unlock interactive viewer, AI summaries, translations, mind maps, and more. No credit card required.