FREE COURSE - Personal Branding & Digital Product Dari 0 ke 1 Miliar Pertama
FULL TRANSCRIPT
Hari ini adalah hari keberuntungan lo
karena gue akan share full course gue
yang berhasil membawa productivity boy
dari 0 ke 150.000 followers hanya dalam
1 seteng bulan dan juga membawa gue dari
0 ke 1 miliar pertama gue dengan
productivity boy lewat digital products
3 tahun lalu. Buat lo yang belum kenal,
nama gue Rama, founder of value creator
dan high ticket coaching pioneer di
Indonesia. Gue ngebantu established
creators, infopreneurs, dan service
based business owners untuk ng-scale
bisnis mereka ke multiple ratusan juta
per bulan lewat Value Creator Client
Acquisition System. Lu bisa lihat
sendiri orang-orang yang udah berhasil
gua bantu selama 3 tahun belakang ini.
Nah, sekarang buat lo yang baru mau
mulai ngonten, bikin personal branding,
atau bahkan digital product, gue enggak
mau matain semangat lo dan bikin lu
enggak bisa belajar cuman karena lo
belum punya modal uangnya. Justru gua
pengin bantu lo. Gunain ilmu yang akan
lo dapetin dari free course ini yang
durasinya 7 jam. 7 jam, Bro. gua kasih
gratis. Gunain ini seoptimal mungkin
karena kesempatan enggak datang dua
kali. Dan jujur untuk nyiapin KS ini
secara gratis, gue dan tim gue itu tuh
ngeluangin banyak banget waktu dan
tenaga untuk mempersiapkan ini. Jadi,
buat lo yang mendapatkan manfaat dari KS
ini, permintaan gua cuman satu, tolong
bantu share course ini ke orang-orang
yang lo rasa akan membutuhkan KS ini
supaya gak cuman lo dan gak cuman gue
yang berkembang, tapi semua orang bisa
berkembang juga. So, with that said,
enough of the intro. Grab some pen and
paper and we'll get into the
masterclass.
Oke, so welcome to this video. Di video
kali ini kita bakal ngebahas gimana
caranya kita bisa membangun personal
branding kita. Karena kalau misalnya
kita ngomongin personal branding ya dan
atau apapun itu, itu pasti menyesuaikan
dengan tren industri yang sedang ada.
Dan kita tahu sendiri belakangan ini
content creation, personal branding,
bikin digital product itu tuh lagi onise
banget. Nah, oleh karena itu pasti ada
banyak banget perubahan-perubahan yang
itu tuh benar-benar berjalan dengan
sangat cepat. Tapi enggak cuman
membangun personal branding doang.
Karena banyak banget orang di luar sana
itu tuh ngebahas personal branding
gimana cara dapetin views, dapetin
followers tapi mentok ya
sampai sana. Jadi kayak cuma oke gimana
lu dapat 100.000 views? Dapat 100.000
followers. Nah, tapi pertanyaan gua
ketika lu udah mendapatkan views itu, lu
udah mendapatkan followers itu, lu mau
pakai buat apa?
Next step-nya gimana? Nah, itu yang
sering banget orang missing. Nah,
makanya kita mau ngebahas end to end
nih, full strateginya ketika lu
membangun ketika lu mau membangun
personal branding itu tuh gimana. Nah,
disclaimer dulu sebelum kita lanjut ke
topiknya, I'm very excited karena today
ini kita come back ya, guys ya. Setelah
kita udah vakum beberapa bulan dan
channel ini tuh rasanya udah existan,
kita mau fokus di YouTube lagi. Kita mau
seriusin di YouTube lagi. So, thank you
kalau lo udah nonton dan lo subscriber
lama. Very happy to see you. Karena
sebelumnya kita tuh udah sempat aktif
juga ya ngonten di Value Creator ya, di
Value Creator channel. Jadi, lu bisa
ngelihat kita udah sempat upload tiga
video nih. Mungkin bisa diinsert di sini
ya. Nah, jadi itu tipe videonya gimana
ya? Ngomong kayak gini aja, unscripted.
Benar-benar enggak pakai script. Kalau
misal lu lihat, gua juga enggak baca
script atau apapun. Itu cuma ada
pointers doang dan gua benar-benar full
ngomong ke kamera dan ada tim gua di
sini ada Helmi sama ada Aril. Jadi
di sini kita sifatnya ngobrol-ngobrol
santai aja gitu ya. Kalau misalnya gua
salah pun kita enggak tetap rolling ya,
Guys.
Betul.
Jadi kayak udah ya udah enggak dicut
gitu. Benar-benar raw aja pure value. Di
sini kita enggak mau ada hyper yang
jedar-jeder. [tertawa]
ged gitu kan kita gak mau ada hyper edit
yang gimana banget ya it's just pure and
raw value aja kita mau share di sini
jadi kalau misal gua belibet pun gua
salah pun ya rolling aja oke so that's
how we drill and let's get to the video
alri so gimana cara kita bisa membangun
personal branding
pertama-tama poin pertama yang gua mau
highlight adalah kita harus tahu dulu
kalau misal personal branding itu bukan
buat semua orang
itu yang gua mau highlight dulu
karena lu sering enggak sih dengar
konten kayak
Kalau lu enggak mulai present branding
tahun ini, lu rugi nih. Ya kan? Dan lu
sering ngelihat enggak sih ada orang
kayak stop jadi orang yang sok
misterius. Karena kalau misalnya lu sok
misterius kayak lu tuh lu tuh kayak lu
tuh kayak ee apa ya melewatkan
kesempatan yang sangat bagus gitu.
Sejujurnya gua setuju enggak setuju.
Kenapa setujunya? Karena emang oke ya
personal branding tuh bisa ngasih kita
leverage.
It's really good gitu loh.
Buat bikin kita tuh punya competitive
edge, buat bikin kita punya unique edge
dibandingkan orang yang enggak melakukan
itu. Benar. Tapi yang gua mau highlight
di sini enggak semua orang bisa kayak
gitu.
Kreator-kreator yang lu suka itu paling
top berapa persen? 1%, 0.1% atau mungkin
0.01%.
Kalau misalnya semua orang bikin
personal branding, ya udah enggak ada
yang unik dong dengan personal branding.
Benar enggak sih?
Betul.
Orang yang bilang kayak gitu menurut gua
mereka ujungnya cuma jualan kelas gitu
[tertawa] loh. Pasti mereka
duar gitu kan. Enggak, maksudnya enggak
ada salnya juga, tapi ya gua mau kita
berpikir lebih dalam lagi dengan ini
gitu loh. Jadi person brand itu enggak
buat semua orang. Kenapa gua bilang
kayak begitu? It's quite a strong
statement. Benar ya?
Jadi gua bilang person brand enggak
semua orang, enggak buat semua orang.
Wah, gila ini orang ngomongnya bold
statement banget. Gua punya alasan
kenapa gua ngomong gitu gitu ya. Nah,
kenapa gua ngomong gitu? Karena gua
percaya untuk lu bisa punya personal
branding yang bagus, orang mau nengok ke
lu dan orang mau sustain follow el.
kita tuh harus punya tiga konsep ini.
Kira kita harus punya tiga ibaratnya
bekal inilah pilar ini gitu ya di dalam
diri kita. Yang pertama itu value. Yang
kedua itu karisma, yang ketiga itu
positioning. Itu kita harus punya.
Kalau misalnya kita enggak punya ketiga
ini, susah buat gede gitu loh. Gede bisa
enggak? Bisa. Tapi lu seberapa sering
lihat orang gede 1 bulan, bulan depannya
habis lagi. Enggak enggak kedengaran
lagi. Nah, itu susah tuh. Kalau kita mau
sustain gimana kita mau menjadikan ini
karir gimana? Kita harus tahu gitu loh
value yang kita punya apa, karisma yang
membedakan kita dengan orang lain apa,
dan positioning kita apa. Nah, gua kasih
contoh value, charisma and positioning.
Gimana cara kita menemukannya? Gimana
cara kita mengembangkannya? Pertama-tama
value dulu. At the end of the day,
apapun itu yang kita lakukan di social
media, it's basically a transaction of
value. Benar enggak?
Betul. Ketika kita ngasih orang value,
mereka akan memberikan kita waktu
mereka. Mereka akan memberikan kita
engagement mereka. Mereka akan
memberikan kita mungkin juga uang
mereka.
Ya,
value. It's all transaction of value.
Benar kan? Itulah makanya kenapa nama
agency kita, nama akademi kita tuh value
creator.
Udah itu aja gitu loh. That's the
biggest apa ya konsep yang perlu kita
punya. bekal terbesar kita ketika kita
mau ngonten ngasih value gitu loh.
Karena kalau misalnya kita enggak punya
value ibaratnya kita tuh kayak emas tapi
karatan. Kebayang enggak sih maksud gua?
Kelihatannya bagus tapi kalau udah kena
air sedikit atau kena barang apapun itu
sedikit kena debu gitu lama-lama karatan
gitu.
Emang Mas bisa karatan
enggak bisa.
Bisa enggak sih?
Enggak bisa
emas yang bohongan.
Oh iya itu
itu maksud gua gitu loh. Emas-emasan.
emas yang emas-emasan gitu loh. Atau
enggak misal lu beli kalung, ada enggak
nih?
Misalnya kalung kayak begini, ini bukan
masih ini apa nih namanya ya? Silver lah
ya. Kalung yang kayak gini kalau
misalnya lu beli kalung yang enggak
murni gitu kan itu pasti bisa karatan
kan. I.
Nah, pertanyaannya seberapa murni kalung
ini? Itu tuh seberapa kentel value yang
kita punya ibaratnya.
Hmm.
Karena zaman sekarang itu tuh gampang
banget buat viral.
Viral enggak pakai value itu gampang.
Benar enggak? Lu tinggal bugil aja di
kamera. Lu tinggal bagi-bagi iPhone aja,
bagi-bagi duit lu. Tinggal mandi lumpur
aja. Benar enggak? Jual kesedihan aja ya
kan? Kena musibah ya kan? Terus habis
jualan kelas laku kayak gitu. Benar
enggak?
Wow.
Sering terjadi maksud gua yang kayak
gitu dan orang pada kemakan ya kan.
Nah jadi
viral itu gampang tapi kita viral karena
apa? Itu dulu.
viral karena value. That's the key.
Kalau misalnya kita bisa viral karena
value, nah itu baru tuh menurut gua jago
baru tuh penting, gitu. Nah, jadi at the
end kita tuh harus tahu value yang kita
mau kasih apa. Tentunya kalau bisa
harusnya positif
ya. Positif dalam bentuk apa? Paling
gampang gini, dalam bentuk edukasi atau
enggak entertainment atau enggak
keduanya. Sesimpel itu aja. Jadi bukan
berarti value itu harusnya full edukasi
kasih info kayak gini gitu. Enggak,
enggak juga gitu loh.
Tapi kita harus bisa gimana ketika kita
memberikan konten, kita membuat konten,
orang nonton konten kita, setidaknya
hari mereka atau momen mereka ketika
mereka setelah menonton konten itu, they
got something itu aja. And that is
something positive. It value. That's a
transaction of value there,
gitu loh. Entah itu bisa membuat mereka
lebih pintar, lebih terhibur, atau
apapun itu. Itu dulu. Kita punya enggak
value yang positif?
Kalau enggak bisa viral, enggak bisa.
Tapi kita bisa aja viral karena hal yang
buruk atau enggak kita bisa enggak
sustain. Sesimpel itu aja. Kalau
misalnya value-nya itu enggak kuat,
ibaratnya kayak tadi kalung tapi karatan
gitu loh. Itu value. Nah, next.
Charisma.
Enggak semua orang bisa punya karisma
yang optimal gitu loh.
He.
Cara nge-hack karisma gampang. Pakai
baju yang bagus,
mandi.
Mandi, pakai parfum yang bagus, gitu loh
ya. Kenapa itu bisa membantu kita?
Karena grooming kita tuh sangat sangat
benar-benar impactful ke gimana orang
nge-perceive kita. At the end of the
day, personal branding is perception
engineering. Nah,
bisa jadi short content nih. Personal
branding is perception engineering.
Kenapa? Karena persepsi orang terhadap
kitalah itulah personal branding kita.
Dan itu kan bisa kita craft. Craft-nya
gimana? Cara kita berbicara, cara kita
berpakaian, ya kan?
I
cara kita jalan, cara kita berdiri.
komunikasi
komunikasi kita ya kan terus wangi dari
badan kita itu semua bisa di-hack.
Kenapa? Karena persepsi itu bergantungan
kepada lima indra kita. Penglihatan
kita, pendengaran kita, penciuman kita,
pengecap kita, sama perasa kita.
Sesimpel itu, gitu loh. Dan kalau misal
di online kita bisa nge-hack itu lewat
dua cara, penglihatan dan pendengaran.
Sesimpel itu. Jadi, kita bisa
nge-optimize itu. Nah, tapi lu pernah
enggak sih ngelihat orang
bajunya belel? He.
Pakai celana pendek, pakai sendal jepit,
tapi pas dia masuk ruangan kayak ada
auranya gitu loh.
Bob Bob Sadino Milioner. [tertawa]
Kenapa lu ngomong Bobsadino sih? Jadi
pokoknya ya mungkin gampangnya
engkok-engkok BCA prioritas lah gitu
loh.
H
kayak siapa tuh?
K ko BCA prioritas misalnya gitu kan.
Nah, kenapa orang kayak begitu? Karena
itu lari dari confidence mereka.
He.
Nah, confidence itu datangnya dari mana?
dari kompetensi mereka yang mereka
punya. Kompetensi mereka, skill mereka
datangnya dari apa? Dari value lagi gitu
loh.
Makanya value gua kaitin nomor satu.
Ketika lu punya value pasti lu akan bisa
mendapatkan karisma juga karena niat lu
baik gitu loh. Kita akan bisa memberikan
orang hal yang positif juga. Nah, itu
karisma tuh. Bisa nge-hacknya lewat apa
grooming bisa. Tapi kalau misal lu mau
lebih next level lagi, take care of your
body. Baju bisa dibeli, parfum bisa
dibeli, musik bisa kita pilih, ya kan?
Tapi badan kita enggak bisa dibeli loh.
Seberapa sehat badan kita dan seberapa
sixpack badan kita itu enggak bisa
dibeli. Ketika kita bisa punya badan
yang bagus itu pasti orang langsung
respect setidaknya this guy got
discipline.
Karena the measure of a man or the
measure of a of a successful person is
their perseverance and their discipline.
Itu menurut gua. Seberapa kuat el
menghadapi tantangan dan seberapa
disiplin lu. Itu itu menumbuh itu
menimbulkan karisma menurut gua. Nah,
yang ketiga, positioning.
Semua orang itu tuh punya backgroundnya
masing-masing dan punya solusinya
masing-masing dan punya masalah
masing-masing. He.
Ada orang bisa menjadi CEO tapi
background-nya beda. Ada satu dari anak
orang kaya, satu dari yang misalnya
perintis gitu loh,
punya cerita masing-masing. Jadi
relate-nya masing-masing. Yang satu akan
ngebawa masa yang lebih relate sama yang
dari anak orang kaya tapi mau merintis
sendiri. Yang satu lagi pengin ngebawa e
cerita dari gimana lu dari Rex to Riches
gitu loh.
Itu beda tuh psikologinya gitu. Nah, itu
sering banget. Jadi, just be yourself.
Karena kita di dunia ini itu tuh akan
menarik orang yang similar dengan kita
menurut gua. Jadi, just be authentic.
Ketika lu menjadi diri lu sendiri dan lu
enggak menjadi orang lain, itu akan bisa
menjadi bekal yang sangat luar biasa
ketika nanti kita ingin memulai personal
branding kita. Karena authenticity itu
gitu.
ketika kita authentic ya kita seapa
adanya gitu loh. Karena personal
branding it's like a
it's not ini bukan branding kalau
misalnya gua boleh minjam kata dari
teman gua Yasa ya Singgi. Jadi dia
bilang personal branding itu tuh bukan
kayak branding. Kalau branding tuh
kanvas kosong yang lu bisa isi. Tapi
kalau personal branding lu udah hidup
nih belasan tahun, puluhan tahun, 20, 30
tahun. Lu mau kosongin enggak bisa kan
lu udah ada memori dari lu sebelumnya
udah kebawa. Cuma tinggal dari kanvas
yang sudah terisi ini lu mau tonjolin
yang mana
gitu loh.
Nah, jadi itu positioning lu juga. Lu
memposisikan diri lu, cerita lu gimana
gitu.
Bukan logo,
bukan logo,
bukan warna, bukan font ya. Branding tuh
ya. Nah, jadi kita memposisikan diri
kita gimana? Ketika kita memposisikan
diri kita sebagai diri kita apa adanya,
orang pasti akan ngrek kok yang
sefrekuensi. Intinya gitu aja. Jadi
kalau misalnya kita mau punya personal
branding yang bagus harus punya tiga
aspek tadi. Value-nya harus ada,
cardismanya harus ada, sama
positioningnya harus ngenak gitu. Nah,
itu poin pertama. Poin pertamanya udah
panjang banget ya. Tapi di sini kita all
out ya. Gua mau ngebuka dapur
terbuka-terbukanya dan ke depannya video
kita juga akan lebih banyak kayak gini
ya, Hell real ya. Nah, jadi akan lebih
banyak kayak gini juga harapannya lu
enjoy. Oke, supaya apa yang lu dapat
full nih, enggak setengah-setengah. Gua
enggak mau bikin video part 1, part 2,
part 3 enggak. Jadi full dalam satu
video lu langsung dapat semua apa yang
ada di isi kepala gua dan tim
productivity boy and value creator gitu.
Oke, so itu poin nomor satu tadi ya.
Jadi personal branding itu enggak buat
semua orang. Nah, poin nomor dua gua mau
lanjut yaitu kita harus menguasai
namanya scope of mastery.
Kalau misalnya lo udah ngikut eh
value creator pasti udah ngerti banget
ya kan value creator ya dari dulu ya
kita udah ngajarin orang ini banyak
banget scope of myy jadi essentially gua
percaya ketika kita ingin memulai person
branding kita, kita harus memulai dari
apa yang kita suka plus jago.
Harus suka plus jago. Enggak bisa salah
satunya aja. Enggak bisa suka plus suka
dan jago. Enggak bisa suka atau jago.
Enggak bisa. Lu cuman suka doang atau lu
cuman jago doang? Enggak bisa. Let me
tell you why. Kenapa? Karena gini, kalau
lu suka doang dan lu enggak jago, ya lu
akan kalah sama kompetitor lu. Benar
enggak?
Iya.
Akan ada orang yang jago, yang suka,
yang benar-benar mendalami itu banget
sampai akhirnya dia jadi top of the
game. Lu akan kalah sama skill dia,
gitu.
He
simpel enggak sih?
Iya. He
kan kita Apple to Apple nih
comparisonnya sekarang misalnya kita
ngebahas video editing A sama Bagusan
video editingnya B ya B lebih jago lah
gampang kan
gua mendingan ngikutin dia kalau gua mau
belajar belajar dari dia. Benar enggak
sih?
He. Heeh.
Sesimpel itu harus suka plus jago.
Karena kalau suka doang akan kalah sama
kompetitor kita yang lebih jago. Nah
kalau misalnya kita cuma jago doang kita
enggak suka. Menurut gua kalau misalnya
kita ngomong
yang penting mah kita jago aja. Kalau
kita enggak suka, enggak apa-apa yang
penting makes money. Itu mah menurut gua
agak sedikit naif sih. Menurut gua
pribadi ini opini pribadi. Orang lain
mungkin bisa punya opini sendiri ya
enggak masalah. Ini my personal opini
yang suka-suka gua dong mau berpikir
seperti apa. Kenapa gua bilang kayak
gitu? Karena hidup itu enggak selalu
indah, Bro.
Enggak selalu indah. Kalau lu lagi di
atas ya bagus lu. Udah tuh ya kan ngeruk
duit. Iya.
Kalau ada duitnya bagus ngeruk duit.
Tapi kalau hidup lu lagi di bawah,
mati lu. Mati lu. Benar. Benar enggak?
Iya.
Dan kita semua tahu personal branding is
a business of momentum.
Hm.
Lu bisa aja tahun ini naik, Bro. Tapi
ketika tahun depan lu udah ada orang
yang lebih muda dari lo, lebih pintar
dari lo, lebih jago dari lo, lebih
ganteng atau cantik dari lu, lu turun
gitu loh. Dan ketika lu lagi turun dan
lo enggak suka apa yang lo lakuin,
depresi lu gitu loh. Kebayang enggak sih
maksud gua?
Iya. Enggak cuman soal content creation,
enggak cuman soal personal branding,
apapun itu gitu. Pada akhirnya yang
membuat kita stay dan punya harapan
untuk hidup dan bahagia setiap hari itu
apa? Meaning dalam hidup kita. Benar
enggak sih?
Betul.
Kalau misalnya kita enggak punya makna
dalam hidup kita yang kita taruh di
pekerjaan kita, ya lu ya dapat duit.
Tapi emangnya hidup nih cuma buat nyari
duit?
Ada capeknya?
Ada capeknya.
Ketika lu udah financial freedom,
gimana? Lu mau ngapain? Kalau duit udah
bukan jadi masalah
ya bisa aja sih orang mau nyari duit
terus terus terus tapi ya to be honest
ya I'm just not that of guy sih ada
mungkin orang-orang yang seperti itu.
Tapi ya gua enggak seperti itulah. Jadi
itu harus suka plus jago ya harus
keduanya. Karena kalau misalnya kita
cuma jago doang ketika hidup lagi
benar-benar menghantam kita, bensin kita
habis. Gampang banget buat nyerahnya.
Orang kadang-kadang yang kita suka plus
jago aja suka mau nyerah. Benar enggak
lu?
Betul. Benar. Apalagi lu udah e jago
tapi gak suka lu uh habis tuh gitu kan.
Nah, which brings me to my next point di
mana scope of mastery ini adalah formula
buat kita bisa menentukan nich kita.
Nah, tapi kan sekarang orang pada bilang
nih enggak usah fokus ke nich. Just be
yourself. Just just Iya kan
udah lu apa adanya gitu kan.
Kalau lu artis bisa menurut gua
orang yang bilang lu enggak butuh nich
itu adalah
apa ya kalau bisa bilang [tertawa]
nanti lu harus kasih lihat screenshotnya
Denk buk ini tapi bahkan Denko aja
bilang tuh kita butuh nich cuy karena
dia bilang you are the niche
kalau dia bilang you are the niche kita
adalah nich kita sendiri kita itu kan
terbuat dari beberapa aspek dalam
kehidupan kita
aspek dalam kehidupan kita itu adalah
nich-nya apa? Spirituality,
productivity, content creation itu kan
misalnya gua gitu kan. Itu nich gua.
Tapi kalau misalnya lu cuman ngasil
daily life lu bisa seberapa menarik aja
kehidupan lu gitu loh. Kalau lu kayak
Daniel Den sih oke gitu.
H
kalau kehidupan lu cuman tiap hari kerja
gitu ya
macet-macetan
bisa sih. Karena banyak loh orang bikin
video gitu kan.
Jadi relate bisa juga gitu ya. Jadi
bikin video gini nih, bangun tidur jam
5.00, masak sarapan buat suami sama eh
buat dia sama istri, ya kan. Habis itu
jam 08. Berangkat kerja, jam 09.00
kerja, jam 12.00 makan, ya kan. Habis
itu jam 12.00 makan, habis itu jam .00
balik, habis itu nge-gym lah atau
misalnya spend time sampai jam 08.00,
jam 08.00 siap-siap tidur, jam 10.
Tidur, gitu loh. Ada aja yang kayak
gitu, tapi seberapa banyak yang bisa
kayak gitu?
That's the advantage of first mover
menurut gua.
Kalau misalnya lu jadi orang kedua,
ke-10, ke 100 yang ngelakuin itu, apakah
laku?
Kalau kita enggak punya aspek pertama
yang tadi gua bilang
value, charisma, sama positioning.
At the end semua balik ke situ aja.
Itu gua harus kasih nama ya, value,
karisma, sama positioning. Itu bagus
loh.
Apa ya? The trior. Nantilah kita pikirin
yang namanya ya. Nah, jadi itu menurut
gua
kita kalau misalnya mau mulai baiknya
sih menentukan scope of myy kita. Yes.
Enggak menaruh diri kita dalam satu bok
itu bagus.
Gua enggak cum gua kan enggak bilang
juga ketika lu mau emm ketika lu mau
ngonten harus fokus ke ngomongin satu
topik aja kan gua enggak bilang gitu.
Benar enggak?
Bahkan gua aja ngebahas banyak
productivity boy aja gua namanya
productivity tapi gua ngebahas personal
branding nih gitu loh maksudnya. Iya,
tapi harus ada yang menjadi pegangan
kita. Kita tuh paling kuat di mana? Itu
aja. Karena kalau kita manusia enggak
punya pegangan, lu ngomongin apa? Benar
enggak sih?
Itu sih maksud gua. Jadi bukan bukan
berarti lu harus ee stick ke satu nish,
mulai ke banyak nich. Enggak. Lu
ngomongin banyak boleh, ngomongin satu
juga boleh, tapi harus yang penting
punya satu pegangan yang benar-benar lu
paling jago. Nah, itu scope of mastery
lo. Itulah yang akan membedakan el
dengan orang lain menurut gua. Nah, kita
lanjut ke yang ketiga ya. Ini udah
berapa menit nih? Udah berapa menit nih?
Mau 20.
Wah gila. Gak apa-apa ya? Kita lanjut
aja ya. Jadi gas ya. Yang penting kita
benar-benar bisa ngasih the biggest
amount of value di sini. Alright. Nah,
ketika kita lanjut
nomor 3 ini gua mau ngebahas yang
namanya scale of command. Nah, ini
konsep dari value creator juga ya.
Ketika kita memulai kita tuh harus tahu
scale of command kita.
Kita tuh mau jadi kreator kayak apa.
Nah, ini yang tadi gua bilang the end
goal-nya tuh kita akan nge-craft. Kita
tuh mau jadi kreator kayak gimana.
penting banget karena end goal-nya kita
mau apa? Cara untuk menuju itu
beda-beda. Kebayang enggak?
Nah, jadi ini mungkin nanti Helmi bisa
tolong masukin diagram skill of command
kita ya. Nah, jadi skill of command itu
adalah spektrum
yang terdiri dari closeness sama
authority. Ingat ya, ini spektrum. Jadi,
lu bisa di tengah-tengah bisa lebih ke
kiri atau bisa lebih ke kanan. Bukan
dikotomi, bukan lo A atau lo B, bukan
spektrum ini ya. Closeness sama
authority. Closeness itu apa? Closeness
itu biasanya adalah content kreator yang
sifatnya edukasi.
Eh sori kebalik. Closes itu adalah
content kreator yang sifatnya lifestyle
ya.
Endorse, endorse,
endorse misalnya. Nah, jadi sifatnya
lifestyle. Maksudnya gimana? Karena dia
sifatnya lifestyle, menunjukkan
keseharian dia, menunjukkan aktivitas
dia, kita jadi merasa dekat sama dia.
Benar enggak?
Berasa jadi kayak teman. Makanya mereka
tuh memposisikannya tuh kayak gua nih
teman loh dan lu bisa relate loh sama
gua. Benar enggak?
Makanya seringki yang menjadi jalur
untuk memonetisasi kreator-kreator yang
sifatnya lifestyle ini adalah
endorsement. H
karena endorsement itu sangat
rely on trust
sama rely on relatability
lu kalau udah trust lu udah relate
gampang tuh ketemu tuh
karena kayak teman saling pakai
Iya
barang-barang
benar iya kan misalnya lu ke kantor lu
bawa ee tumbler corksle corksle misalnya
terus ih lucu ya lucu ya lucu ya bulan
depan teman lu beli juga benar enggak
kayak gitu loh
i beli Stanle
iya atau enggak misalnya Stanley gitu
gitu kan ya. Apapun itulah ya, siapa
yang mau endorse kita terserah nanti
kita masukin ya. Nah, gitu itu
closeness.
Di sisi satu lagi ada authority.
Authority itu kebalikannya yang sifatnya
kreator itu edukasi. Kenapa gua bilang
authority? Karena seringkiali kalau
orang closens itu menempatkan dirinya
tuh kayak sejajar, kayak teman. Ini tuh
authority tuh yang kreator edukasi tuh
sedikit berbeda. Mereka menepatkan diri
mereka tuh sedikit di atas. Tapi
bukannya sok-sok mau jadi di atas, tapi
emang karena sifat konten mereka tuh
seperti itu.
H
jadi menempatkan diri mereka tuh sedikit
di atas. Maksudnya gimana? Karena kita
kan mengedukasi
ya
content creator edukasi mengedukasi dan
ketika kita mengedukasi akan ada
authority yang timbul di sana.
Mereka mereka akan memandang kita,
mereka akan melihat kita, "This guy
knows this girl know something." Gitu
loh. Gua bisa nih belajar dari dia gitu.
Itulah sifat content creator yang
authority yang biasanya bergerak dari
sifat edukasi konten-kontennya gitu.
Nah, cara monetiznya beda.
Seringkiali kalau kita ngedukasi,
edukasi itu kita transfer of apa?
Value,
knowledge dan in
information.
Formation.
Karena kita transfer information,
makanya seringkiali yang digunakan oleh
kreator-kreator yang sifatnya edukasi
ini, authority ini untuk monetize adalah
lewat info products.
Info products itu apa? Information
products yang biasanya kita kenal
sebagai digital products. Bisa juga term
yang lebih populer belakangan ini, yaitu
misalnya e-book lah, online course lah,
bootcamp lah, coaching lah, webinar lah,
lah yang kayak gitu-gitu ya. Nah, jadi
itu adalah info products. Kenapa info
products? Karena kita menjual informasi.
Itulah yang kita udah lakuin juga ya di
productivity boy dan di value creator.
Dan we made our big e of revenue ya dari
info product itu gitu. Jadi kalau
misalnya lu mau belajar tentang itu ya I
recommend dengerin HP akhir karena nanti
kita banyak spill hal-hal yang kayak
gitu juga ya. Nah, jadi memonetize dari
info produk. Kenapa? Karena wih dia
ngerti sesuatu nih. Kalau gua belajar
dari dia kayaknya gua bisa belajar
sesuatu yang lebih banyak gitu loh.
Ibaratnya konten gratis valuable apalagi
konten berbayarnya gitu loh.
Betul.
Nah, kurang lebih kayak gitu. Nah, itu
adalah cara memonetizasi yang berbeda.
Nah, tergantung nih kita mau di mana. Di
segi closeness, authority, eh di segi
closeness yang sifatnya lifestyle atau
di segi authority yang sifatnya edukasi.
Kita tentuin kalau kreator edukasi
seringkiali mungkin monetiznya lebih ke
digital product. ke info product. Kalau
misalnya kita kreator yang sifatnya
closeness lebih sering itu tuh lifestyle
tuh monetiz-nya lewat endorsements
karena brand lebih gampang buat percaya.
Gua kasih konteks misalnya ada brand
skincare nih mau nge-endorse orang, mau
nge-endorse orang buat make sure produk
mereka laku gitu ya. Mereka bakal ajak
closeness atau authority?
Closeness dong. Kenapa? Karena kalau
misalnya barang ini direkomenin sama
temannya, teman-teman ini bakal kena.
Benar ya?
Iya. bakal lebih gampang buat dipersuit
kayak tadi contoh yang corksle tadi.
Tapi kalau misalnya brand skincare ini
mau bikin kelas cara formulasi skinc
mengedukasi bahwa skincare ini tuh itu
adalah punya zat yang paling e baru dan
paling bisa efektivitasnya ampuh,
lu bakal ngundang siapa? Yang closes
atau authority?
Authority.
Authority. Kenapa? Karena mereka
mengedukasi, mereka punya power itu,
gitu loh ya. Nah, jadi kita tinggal
pilih kita mau ada yang di mana. Kalau
misalnya kita mau di tengah-tengah itu
perfect ya, itu udah paling bagus,
posisi paling enak, sweet spot. Kenapa?
Karena kita bisa dapat dua-duanya. Tapi
enggak sebanyak orang bisa kayak gitu.
Enggak sebanyak orang bisa kayak gitu.
Kadang-kadang mereka either di kiri
doang atau di kanan doang atau di
tengah-tengah, tapi lebih melipir ke
mana?
Kalau lu bisa di tengah-tengah banget,
coba deh. Jago sih kalau lu bisa gitu.
Itu skill of command ya. Jadi ada
authority, ada closeness. Nah, sekarang
kita lanjut ke poin keempat, yaitu
hierarchy of content.
Hierarchy of content maksudnya apa? Ini
gua membagi menjadi empat ya. Jadi kalau
misalnya kita ngomongin konten sering
kali itu kita bagi jadi empat aspek ya.
Ada video editing, ada scriptwriting,
ada hook sama ada ide. Benar ya?
Iya betul.
Kalau misalnya kita lagi bikin konten.
Nah sekarang pertanyaan gua di antara
keempat ini. Gua mau nanya ke Helmi sama
ke Aril ya tim gua ya. video editing,
script writing, hook, sama idea. Paling
penting yang mana?
Idea.
Idea.
Iya, karena mereka udah tahu. [tertawa]
Coba gua tanya ke orang awam, salah
nanya gua. Mereka udah tahu. Tapi
seringkiali mungkin orang akan mikir
hook
atau enggak orang akan mikir video
editing. Kenapa video editing? Karena
paling kelihatan. Benar ya?
Paling kelihatan. Wah, ini videonya
jedar-jeder nih. Wah, hyper edit nih.
Wah, bagus nih kualitasnya, kameranya
bagus nih. Full frame nih. Lensanya R3
juta nih, yang kayak gitu loh. Kelihatan
quality-nya langsung. atau enggak orang
bakal mikir hook karena orang udah
pintar. Oh, 3 detik pertama tuh paling
krusial. Kalau misalnya orang swipe
retention-nya enggak ada, algoritman
jelek. Nah, bisa juga.
Tapi menurut gua yang paling penting tuh
idenya. Kenapa? Karena kalau konten kita
enggak idea market fit sama aja hilang.
Contoh, video kita bagus tapi orang
enggak relate, percuma enggak?
He.
Orang enggak bakal nonton. Atau misalnya
video kita hook-nya bagus tapi orang
enggak butuh. enggak
butuh mereka bakal tetap coba misalnya
contoh ada produk bagus lu tahu nih
produk ini bisa ngilangin jerawat
testimoninya banyak nih produk ini bisa
ngilangin jerawat teman-teman lu pada
pakai
10 orang yang pakai 9 orang berhasil
jerawatnya hilang
h
lu disuruh beli tapi lu enggak jerawat
lu bakal beli enggak
enggak
buat apa benar enggak sih maksud gua
iya
karena lu enggak butuh enggak ada idea
market fit-nya di sana
hook-nya bagus kontennya bagus tapi
kalau Kalau misal orang enggak butuh,
percuma bounce dia nge-scroll, nge-skip.
Maka yang paling penting di antara
semuanya adalah idenya. Menurut gua
ketika kita bikin konter, mikir ketika
kita membuat konten tentang ide ini bisa
membantu orang enggak? Bisa ada
value-nya lagi enggak ke orang? Kalau
misalnya ada penting dah, udah itu pasti
udah
clear, viral lah setidaknya gitu loh.
Makanya hierarkinya begini. Yang paling
penting tuh ide, hook, script, sama
video. Ini kalau misalnya kita lihat nih
agak sedikit unik ya. Padahal yang
paling kelihatan tuh videonya dulu loh.
Habis videonya kelihatan, scriptnya loh
yang kelihatan. Habis itu hook-nya loh.
Habis itu baru idenya. Tapi yang paling
penting justru kebalik ya.
Iya.
Nah, ini yang s yang seringkali orang
sering kemis. Jadi itu penting banget
buat kita. Hierarchy of content. Oke.
Nah, yang kelima ya gua pengen e
ini adalah advisor advisor basic. I
actually really hate this advice tapi
menurut gua ini penting buat gua instill
ke teman-teman. Apalagi yang baru mau
mulai karena ini gini, judul dari video
ini adalah cara mulai, benar ya.
H
I.
Jadi gua ngomongnya di sini yang basic
dulu nih. Benar kan?
Ini basic dulu. Nanti mungkin kita akan
bisa bikin video lagi lebih intermediate
atau lebih advance bisa.
Tapi ini intinya dengan video ini gua
mau membantu orang-orang yang baru
mulai.
Jadi kalau lu dari nol udah lu enggak
usah beli course ini aja lu nonton gitu
loh maksudnya.
Iya.
Kalau dari nol ini penting banget
ngonten ngonten aja.
Karena kalau misalnya kita mikirin oh
harus begini, harus begitu.
Lu bakal overthinking sampai akhir lu
enggak ngonten-ngonten selama 1 tahun. H
kayak siapa?
Banyak
ya. kayak Helmi gitu ya. Ya, ini
orangnya ada nih. Contohnya lu bakal
overthinking dan lu enggak akan
ngonten-ngonten. Terus
lu enggak usah bikin video pertama lu
video paling perfect. Enggak.
Lu si gini aja rekam. Hai nih gua
challenge lu ya. Kalau misalnya lu mau
ngonten, lu nonton video ini, gua
challenge lu. Hai gue kasih tahu nama lu
misalnya. Hai, nama gue Rama dan ini
adalah video pertama yang gua mau buat
di sosial media gua. Ini adalah video
personal banding pertama gua dan gua
di-challenge oleh Rama untuk ngupload
video ini supaya gua gak punya limiting
belief. Kalau misalnya gua mau ngonten
semuanya harus bagus. Jadi ini adalah
langkah pertama gua untuk ngonten. Wish
me luck, guys. Udah lu upload itu aja ke
IG lu, ke TikTok lu, ke YouTube lu.
Hashhag
hashtag apa?
Hashproadby
challeng. Prodadby challenge. Apapun
lah, tag gua aja kalau misalnya lu bikin
video itu. Gua akan support lu beneran
ya. Karena gini, most likely video
pertama lu enggak akan viral gitu loh.
Belum tentu. Bukannya enggak akan ya,
belum tentu viral kemungkinannya. 200
views-nya mungkin di bawah 1000 ya,
Guys.
200 view-nya mungkin 100 bisa jadi di
bawah 100 gitu loh.
Tapi yang penting el mulai
karena yang paling susah ya nih gua
kasih contoh deh ini kita ngomongin
productivity sedikit
karena mau bagaimanapun username gua
productivity ya jadi gua kaitin ke
productivity sedikit.
Ketika kita lagi malas kerja, lagi malas
nugas, lagi malas apapun itu, sebenarnya
tuh bukan malasnya itu loh
yang bikin susah,
bukan tugasnya itu loh yang susah, bukan
kerjaannya itu loh yang berat, bukan,
tapi momentum untuk mulainya ngumpulin
niatnya itu loh
h
yang paling susah threshold energi
terbesarnya tuh di situ. Dikumpulin
niatnya dan akhirnya ngelakuin itu yang
paling susah. Bukan tugasnya berat,
enggak gitu. Bukan ngonten yang susah,
ngumpulin niatnya dan keberaniannya itu
yang paling susah.
Ketika lu bisa melampaui itu, momentum
datang dan winners are the ones that are
favored by the momentum, gitu. Nah, jadi
menurut gua udah mulai aja karena ketika
lu mau mulai, udah lu mulai momentumnya
datang dan lu jangan stop.
Coba aja terus.
Jangan sampai lu baru ngonten 10 konten
nyerah. Aduh, kok ini enggak works? Ya
dimaki lu sama orang yang udah e ngonten
1000 konten ya kan?
Iya. 100 konten lah. Kalau misalnya
masih enggak viral,
kita review apa yang terjadi. Ini
beneran. Jangan jangan gini, jangan
cuman konten 100 konten terus isinya
jelek semua, sampah semua ya. Enggak
gitu juga gitu. Setiap konten kalau
enggak works ya lu review apa yang perlu
diperbaiki.
I
karena yang paling penting untuk content
creator dalam fase-fase awal mereka
adalah fase testing.
Layaknya apapun itu. Lu mau nge-ads kek,
lu mau bikin bisnis kek, itu ada
testingnya, fase testingnya. Teral
error.
Iya, tral errornya lu tuh bayar tuh
paling besar tuh waktu duit lu, energi
lu tuh fokus lu tuh di sana. Testing
untuk mencari apa? Mencari yang mana
yang works. Ketika lu udah nemu konten
yang works, lu abuse itu sampai lu
enggak bisa press lagi baru lu lanjut ke
format baru. PR orang di awal-awal
disuruh bikin banyak konten buat apa?
Bukan buat konsisten, bukan buat buat
nemuin winning content itu doang.
Ketika lu udah ketemu, abuse sampai
akhirnya udah enggak bisa dipress lagi,
move on ke next content. Kenapa? Karena
orang tuh suka dengan value yang yang lu
kasih di sana. Benar enggak?
I.
Nah, makanya pentingnya adalah kita
harus menentukan apa yang kita mau
kontenin dari awal di scope of myy tadi.
Karena seringkiali kalau misalnya kita
asal ngonten, kita asal ngonten, kita
maunya viralnya jadi orang kayak gimana,
tapi k kita karena kita enggak nentuin,
kita malah viral karena apa? Hal yang
beda itu bahaya juga. Kebayang enggak?
Iya. He.
Maunya viral karena A eh tapi malah
viralnya karena B karena asal ngonten
gitu loh.
Kejadian di teman kita.
Nah, kejadian di teman kita itu saya
dulu gitu kan. Kalau misalnya lu mau
lihat buktinya itu ada akun gue yang
dulu di Seser Masati ya begitu makanya
gua bikin akun baru Productivity Boy ya
kayak gitu. Nah, jadi itulah ngonten
aja. Sama terakhir gua mau share ini
balik lagi ya. Ini buat teman-teman yang
baru mulai ini full strateginya ketika
lu baru mulai.
Kalau misalnya lu ngerasa ini terlalu
general, terlalu ini, karena ini buat
orang yang baru mau mulai. Kalau
misalnya lu tertarik nih lu udah
intermediate atau lu advance, coba deh
komen. Ee lu mau strategi yang lebih
intermediate atau advance, nanti kita
bikinin ya guys ya. Nah, jadi ini
karena keywight-nya baru memulai ini
sifatnya lebih ke beginner sama general
ya. Jadi kalau misalnya lu mau yang
lebih advance, komen nanti ee komen mau
ya komen mau ya walaupun enggak ada
autom mission karena ini YouTube
[tertawa] ya eh komen mau nanti kita
bakal lihat seberapa banyak minatnya
kita bakal bikinin e next level-nya gitu
ya. Jadi kalau misalnya lu baru beginner
ya ini yang lu perlu lakuin. Dan yang
terakhir ya ini masih menyambung ke poin
nomor 5 tadi ngonten aja ya. Poin nomor
6 gua adalah harus ngerti yang namanya
the deep. Ini konten yang kita sempat
bahas juga ya sebelumnya the. Jadi fase
kita ketika kita ingin sukses itu tuh
begini guys grafiknya ya. Nanti
di-insert ya. Jadi kita akan mulai.
Ketika kita mulai akan ada beginners
luck. Wah gua merasa paling jago. Ya
kan? Kalau misalnya kita nge-gym aja ada
new be gains, benar enggak?
Gampang banget buat dapat ototnya.
Kenapa? Karena baru pertama kali
terstimulasi.
Ketika udah mulai eh susah malah turun
ya kan?
Malah balik ke posisi awal atau bahkan
lebih buruk dari awal. Itu masuk ke yang
namanya Valley of the Spear.
Seringkiali orang nyerah di situ. H.
Oh, this doesn't work for me. Ini
kayaknya gua enggak bisa. Coba hal yang
baru aja deh. Shiny object syndrome kan.
kita harusnya udah progresnya segini
balik lagi ke A lagi. Udah segini balik
lagi ke A lagi. Udah segini balik lagi
ke A lagi. Padahal kalau kita lanjutin
kalau starting line tadi kita di sini
dan value of kita di sini dan ketika
kita lanjutin lama-lama tuh bisa naik
melebihi loh dan eksponensial loh. It's
just a game of seberapa lama kita stay
in the game melakukan hal yang sama.
Karena seringkiali orang tuh gagal.
Kenapa? Mereka quit terlalu awal aja.
Benar ya?
Karena mereka quit terlalu awal aja. You
cannot lose if you don't stop doing it
if you don't quit. Benar gak sih?
Jadi it's just a matter of improving
yourself dan benar-benar improve your
craft aja ketika nanti itu selalu
terjadi. You cannot lose. You cannot
lose. Setidaknya walaupun mungkin lu
enggak jadi terbaik atau apa, lu enggak
akan di posisi yang sama seperti lo
dulu. Itu aja. Ya, jadi menurut gua itu
sih kalau misalnya mau beginner,
itu sih menurut gua yang paling penting
ya. Karena kita harus tahu dulu sebagai
beginner arah kita mau ke mana dan
memulai. Kata kuncinya kalau misalnya
gua bisa merangkum 6 poin yang gua
sampaiin dari tadi udah berapa menit
nih? 30
30 menitan ini. 35 menit ini kalau gua
rangkum menjadi dua aspek doang lu harus
tahu lu mau ke mana dan lu mulai aja itu
doang. Iya benar ya.
He.
Lu harus tahu dulu lu mau ke mana gitu.
Maunya apa. Kalau lu enggak tahu lu
bakal keseret sama arus.
He.
Kalau arusnya lagi bagus, trennya lagi
bagus. Kalau arus tergelek, lu enggak
tahu mau ke mana, lu ngikut arus ke arah
yang jelek gitu loh.
H
lu perlu tahu lu mau ke mana dan mulai
aja. Ya, kalau lu punya itu, bekal itu
lu punya aman deh. Setidaknya you're
starting on the right path.
Sebelum kita masuk ke teknis bikin
konten, ngomongin growth, algoritma,
monetisasi atau jualan dari konten, ada
satu hal wajib yang gua perlu lo untuk
pahami dulu. Dan ini bukan soal skill,
ini soal cara berpikir sebagai contonent
kreator dan kreator prer. Karena
kebanyakan orang di luar sana mereka tuh
gagal bukan karena mereka gak bisa bikin
konten. Mereka gagal karena dari awal
mereka tuh main di game yang salah tanpa
sadar. Mereka kejar views tapi enggak
ngerti positioning. Mereka kejar viral
tapi enggak ngerti value. Mereka bikin
konten tiap hari tapi enggak ngerti
sebenarnya mereka tuh lagi membangun
apa. Dan akibatnya apa? Capek, burn out,
konten naik turun, audience enggak
jelas, dan bahkan sampai enggak bisa
akhirnya monetize dan pusing sendiri.
Makanya untuk segmen awal-awal ini
penting banget untuk kita drill
foundation-nya. Karena tanpa foundasi
ini akan bahaya banget. Walaupun lu jago
bikin konten, tapi kalau lu gak ngerti
foundation-nya, lu akan bisa melaju jauh
tapi ke arah yang salah. Dan itu bahaya
banget. So, with that said, tanpa
panjang lebar, let's get into the
foundations.
Oke, so hierarchy of creators. This
video is gonna be very important.
Apalagi kalau misalnya kita pengen long
term ya di industri content creating
ini. Menurut gua kita harus paham konsep
ini supaya kita enggak kemakan nih sama
tren-tren, enggak kemakan sama
momentum-momentum yang sesaat doang dan
kita bisa sustain yang lama. Kita harus
paham yang namanya hierarchy of
creators. That's why we're gonna discuss
this right now. Ok. So, creator hier
hard di sini kita sebutnya ada C1, C2,
C3. Bedanya apa? Kita mulai dari yang
paling bawah dulu. C1 itu ibaratnya gini
nih. These are the type of people are
the type of creators yang disukain
karena kontennya. Ya, jadi orang follow
kita karena kontennya. Why do people
follow you because of your content? Lot
of reasons. First, lo ganteng, lo cantik
bisa. Dua, eh hook lu bagus. Tiga, ide
lu market fit sama konten. Eh, sori
konten konten lu market fit. Jadi
maksudnya ide yang lu sampaikan di
kontennya itu tuh orang butuhkan. Itulah
kenapa mereka membutuhkan ide eh
membutuhkan jawaban dari konten lo dan
mereka akhirnya nonton
ya. Atau bisa juga karena visual editing
lu bagus atau bisa karena scripting lu
menarik atau misalnya karena style lu
oke gitu ya. So people like you because
of your content.
Masalahnya kalau misalnya kita cuman
sampai di titik ini doang, what if ada
orang yang bikin konten lebih bagus dari
kita.
angkap ya misalnya kita jago e ngedit
dan orang follow kita karena editan kita
bagus nih. What if ada orang yang lebih
jago ngedit dari kita?
Apakah audience kita akan pindah ke
orang tersebut? Most likely yes. Contoh,
kalau misalnya orang follow kita karena
kita ganteng atau cantik, by the time
ada orang yang yang lebih muda, yang
lebih ganteng, yang lebih cantik dari
kita, yang ngebahas topik yang sama. Apa
yang akan terjadi?
orang akan pergi ke sana gitu ya. Jadi
itu adalah kas terbawah nih dari creator
harkey yaitu orang suka kita karena
konten kita. Next, orang suka kita
karena message kita, karena value kita.
Contoh kalau misalnya di value creator
kita punya misi ya, yaitu kita mau bikin
value driven content go viral more than
drama di Indonesia. Jadi kan seringkiali
kita tahu kalau misalnya orang Indo tuh
suka konten-konten yang sifatnya receh,
entertainment, prank-prank, enggak jelas
gitu ya, bagi-bagi, giveaway gitu ya.
Kita mau bikin konten-konten, kita punya
misi, kita punya mimpi di mana kita
pengin bikin konten-konten edukasi yang
bervalue itu tuh lebih viral dari
konten-konten yang kayak gitu. Nah,
kalau misalnya orang selaras
pemikirannya, idealismenya, dan
ideologinya selaras dengan ini, pasti
mereka akan suka kita karena message
kita. We wanan to make value driven
content go viral. Nah, ketika orang bisa
struk sama itu ya. Nah, jadi orang udah
di level 2 ini nih, C2 ini.
Oke, people like you because of your
message ya. Nah, yang terakhir adalah
people like you because of you. Ini udah
paling susah. Ini udah paling susah. Ya,
kalau ditanya RAM cara ini gimana?
Sorry, menurut gua eh gua belum bisa
jawab dengan tepat karena menurut gua
aja ya ini analisis pribadi ya. Self
analisis. Balik lagi self analisis
penting kan?
Analisis gua pribadi aja menurut gua
productivity boy value creator tuh masih
di C2 nih pelan-pelan ke C3. Jadi kita
masih di tengah-tengah sini atau bahkan
di C2 kita belum nyampai sini. Jadi gua
enggak bisa kasih tahu oh caranya gimana
nih gitu ya. Ya maksud gua, gua punya
hipotesis punya tapi exactly gimana gua
belum bisa share karena menurut gua gua
aja masih di sini gitu kan. Nah tapi gua
kasih contoh orang-orang yang udah
nyampai C3 ini siapa menurut gua
contohnya adalah Titra. Kenapa? Karena
gini, Tintati Tira bikin bisnis. Dia kan
awalnya content creator beauty ya,
beauty lifestyle ya, make up ya,
skincare mungkin ya. Dia tiba-tiba bikin
bisnis kan, dia bikin bisnis eh dua FnB
ya, satu sama suaminya kan ee bikin
kayak apa sih? Yaki something like that
gitu kan yang kayak Japanese gitu sama
dia bikin matte coco ya kan. E coconut
shake laku nih FnB-nya. dia bikin lagi
ya kan beauty brand beauty second date
laku juga maksudnya apa ketika orang
udah mempunyai bisnis atau turunan ya
turunan dari personal branding dia
lintas industri FnB sama beauty kan beda
ya tapi orang tetap bisa beli audiens
tetap suka dan tetap beli
itu berarti orang sudah suka kita karena
kita contoh misalnya gua bikin value
creator nih bikin productivity Boy.
Terus suatu saat gua tiba-tiba bikin ee
baju terus baju gua laku banget. Nah,
itu berarti gua udah di C3 karena orang
suka gua karena gua. Jadi, gua jualan
apapun laku. Ya. Nah, jadi sekarang
pertanyaannya gimana kita bisa dari sini
ke sini, dari sini ke sini gitu kan. Itu
langkah. Tapi memang paling biasanya
orang tuh dari bawah pelan-pelan ke
atas. Walaupun ada orang yang tiba-tiba
langsung di atas, tapi seringkiali
fasenya adalah orang jago ngonten dulu,
jago bikin persepsi, habis itu jago ee
bikin orang suka sama kita. Ya, jadi ini
hierarki penting banget sih supaya kita
tahu kita ini ada di mana. Mungkin lo
bisa ngakses lo ada di mana. Dan
harusnya baiknya menurut gua sih
aspirasinya ya udah kalau misalnya kita
di bawah pelan-pelan kita bisa naik
gitu.
Clues versus authority. First of all,
shout out to Michael ya, Zen Boy. Karena
ini konsep tuh diciptain sama Mike
ketika kita lagi brainstorming dan kita
bawa ini ke banyak banget konten yang
kita udah produce dan kita udah
introduce konsep ini ke banyak banget
B2B clients, ke banyak banget personal
brand clients, ke banyak banget coaching
clients dan orang-orang sangat merasakan
manfaat dari konsep ini. Banyak banget
yang tercerahkan dan karena menurut gua
konsep ini cukup perfect juga. So, I'm
gonna share it to you guys right now.
Oke, closest versus authority. So val
creator we believe that creators
operates in a spectrum. Jadi creator itu
tuh bertindak berdasarkan spektrum. Nah
spektrum ini tuh ada dua ya. Jadi balik
lagi ini bukan dikotom spektrum ya. Jadi
bisa bergeser ya. Enggak A atau B bukan.
Ini spektrum jadi bisa bergeser. Yang di
kiri itu closeness yang di kanan tuh
authority. Bedanya di mana? Gampangnya
gini. Closeness itu adalah biasanya
kreator-kreator yang lifestyle
ya. kreator-kreator yang lifestyle. Jadi
mereka
menitik beratkan di kedekatan mereka
dengan audiens mereka. Mereka bermain di
sana. Ketika kita show our life kan kita
jadi menganggap, "Oh, ini cici gua nih,
koko gua nih, kakak gua nih, ini dedek
gua nih, nih bapak gua nih, emak gua
nih." gitu loh ya kan? People will think
that they are close with us. They will
feel they are close with us karena kita
menunjukkan keseharian kita. Kita pakai
brand apa? kita pakai skincare apa, kita
mandi pakai sabun apa, kita naik mobil
apa, kita makan di restoran apa. Nah,
kita jadi merasa dekat sama kreator
tersebut. Nah, ini lifestyle tuh biasa
tuh mainnya di closeness. Nah, di sisi
lain itu tuh ada yang namanya authority.
Authority ini biasa tuh tercipta ketika
yang eh mengembangkan akun ini kreator
edukasi ya. Kenapa? Karena ketika kita
mengedukasi, tiga cara untuk bisa bla
bla bla. Kalau misalnya kamu mau ini
pakai bla bla bla. Nah, itu maksudnya
ini kan sifatnya edukasi ya. Nah, ketika
kita mengeducate people, when you
educate people,
positioning-nya enggak begini ya.
Positioning-nya enggak begini. Nih, gua
gedein nih, right?
Positioning-nya itu tuh enggak begini.
Ini kelihatan lagi. Ini gua lagi rekaman
di kamar gua. So,
eh ini gua btw ini gua interm sedikit.
Gua lagi enggak di kantor. Ini di kamar
gua. So this is actually where it all
started. Productivity productivity boy
was built in this desk. In this very
desk ya and I don't know why. Seeing
this background just brings me a lot of
memories back ya. Karena sekarang kita
udah ada kantor udah ada kita bersbelas
sekarang eh I started all of this alone
in this bedroom in this desk. Ya you
might ya gua wibu guys ya. So don't mind
that. Ok. In this desk alone gitu. So I
want to talk about balik lagi ya.
Intermesanya cukup.
closest versus authority. Kalau misalnya
kita closest, most likely it's gna be
like this. Ok,
kreatornya sejajar sama audiensnya
karena mereka merasa dekat. Tapi kalau
misal authority enggak kayak gitu.
Authority itu bakal begini nih, set
kreatornya di sini. Kenapa? Karena orang
akan membandang kita di atas karena kita
punya authority di sana. Ketika kita men
mengedukasi orang, kita give people
facts, kita teach people ya we give
information, people will see us as a
panutan. Kurang lebih tuh kayak gitu
seratanya. Oke, people will see us as
panutan gitu loh. Jadi ada ada gap di
sini which is not bad. Ada gap di sini.
Makanya orang tuh respect sama kita ada
authority di sini gitu ya. So that's the
difference between closest versus
authority. Oke. Nah, jadi perbedaannya
tuh di tipe konten apa, di format konten
apa yang kita berikan ke orang. Kalau
misalnya sifatnya lebih lifestyle, lebih
entertainment, itu tuh biasanya ke sini.
Closeness. Kalau misalnya kita ngasih
lebih ke edukasi biasanya lebih ke
authority di sini ya yang muncul. Nah,
kenapa ini penting? Karena ini nanti
monetization path-nya beda. Nanti kita
akan bahas path money. Tapi biasanya
kalau misal kayak begini, closeness itu
tuh biasa lebih enak kita tap ininnya
tuh di endorsements. Kenapa? Karena
kalau misalnya kita ngajak orang kita
dekat sama mereka, mereka percaya enggak
sama kita? Percaya. Engagementnya
tinggi, brand demonen, ya. Repeat order.
Kalau misal authority seringkiali
monetize lewat info products. Kenapa?
Karena orang percaya kita karena ilmu
kita, karena expertise kita. kita
nge-share apa, orang percaya orang mau
belajar dari kita. Jadi intinya di sini
orang mau belajar dari kita. Makanya
kita jual info products. Gua kasih
konteks. Misalnya ada brand skincare
nih, ada brand skincare dia mau bikin eh
campaign buat jualan produk dia supaya
lebih laku. Dia bakal ngajak orang yang
closest atau authority. Most likely dia
bakal ngajak creator lifestyle yang
ngebahas review skinc ya karena emang
udah kebiasa udah kebentuk audiens-nya
di sana. Tapi kalau misalnya brand ini
dia mau bikin workshop formulasi
skincare, dia bakal ngajak yang mana?
Closes atau authority? Kemungkinan besar
dia kan ngajak creator yang authority,
PhD dalam dermatologi. Nah, dia bakal
ngajak dokter-dokter yang authority
kontennya ya. Jadi bianya di sana. So,
this will impact your monetization path
juga nanti ke depannya gimana. Whether
you stick with closes or stick with
authority, but you can be in the middle.
Hanya saja akan susah dan kontennya akan
kesplit. Kalau misalnya lu di awal sih
gua saranin sih kita pilih salah satu
dan kalau misalnya lu ikut course ini,
lu ikut program ini, most likely kita
akan ngarahnya ke sini, guys. Oke, so
that's scale of command and closes
versus authority.
Alright, shark bite versus moskit bye.
This is a very central concept where
value creator operate around it, gitu
ya. Jadi, ini adalah konsep yang sangat
penting di mana konten-konten value
creator cara kita bergerak itu tuh
berdasarkan konsep ini. Gua enggak bisa
bilang ini 100% original karena
sebenarnya ini tuh terinspirasi dari ee
perjalanan gua di 2000 berapa nih? 2019
ya. 2019 gua tuh ada ikut lomba startup
di Hong Kong dan gua menang juara dua
dan gua belajar ini di sana gitu. Oke,
gua gak usah jelasin secara panjang
lebar ya how it happened, but ah ini
sebenarnya ceritanya bagus banget sih.
Tapi let's see before next time langsung
aja kita ke shark bite versus moskit
bite. Intinya gini, di dunia startup itu
tuh ada term ya moskit byte versus shark
bite. Dan ketika gua ingin menerapkan
ini ke konten rasanya sangat bisa juga.
Oleh karena itu makanya gua nge
repurpose, gua nge-redevelop konsep ini
untuk dunia content creating, ya. Nah,
jadi ibaratnya gini, kalau misalnya kita
digigit sama nyamuk sama kita digigit
sama hiu, itu pasti efeknya beda. Betul?
Kalau misalnya kita digigit sama nyamuk,
cuman ini doang yang terjadi. Kita cuman
bentol dan nyamuknya kita tepok, dia
mati udah. Betul ya. Tapi kalau misalnya
kita digigit sama hiu, yang terjadi apa?
Tangan kita putus, Bos. Hiunya enggak
mati, kita yang mati, gitu ya. So,
that's the difference between shark bite
and moskito bite. Gede banget
difference-nya. Nah, ketika kita
menyambungkan konteks ini ke bisnis dan
ke konten itu apa? Kalau misalnya kita
ke bisnis seringkali begini, people say
solve shark bite problems. Karena ketika
kita nge-solve masalah yang besar, kita
akan direward dengan besar juga. Intinya
begitu. Nah, di konten sama ya, solve
shark bite problems. But the thing is,
different audience itu tuh punya problem
yang, solusinya beda, kontennya juga
beda. Nah, makanya kalau misalnya kita
bikin tipe konten yang berbeda, ini akan
menargetkan audiens yang berbeda juga.
Balik lagi begitu. Jadi dari sini ke
sini, ke sini, ke sini, ini balik lagi
ke sini nih ya. Audience kita beda,
problemnya beda. Problemnya beda,
solusinya beda, solusinya beda, konten
yang harus kita kasih beda.
Audience yang sama aja kadang-kadang
problemnya beda. Contoh, kita misalnya
mau nge-serve business owners ya, CEOCEO
gitu. Kita mau bikin konten buat CEO.
Ada beberapa CEO yang kesusahan buat
ngomset ya. Jadi, buat nyari omset
susah, dapat revenue susah. Ada beberapa
CEO yang nge-manage timnya susah,
ngedelegate-nya susah. Ada beberapa CEO
yang kesusahan soal pajak, problemnya
beda. Problemnya beda, solusinya udah
beda-beda. Nah, oleh karena itu makanya
konten kita harus kita tailor sesuai
dengan solusi yang kita mau berikan
untuk audience yang kita inginkan. Nah,
ya masalahnya
masalahnya cara untuk membuat konten
Moskitobite sama Sharkbite ini beda tuh.
Ya, gua kasih contoh Moskitobite dulu.
Moskitobite itu intinya adalah gini,
tipe-tipe konten yang kebanyakan orang
tuh rasain. Sifatnya general banget.
Kenapa? Karena moskit tuh banyak ya.
Jadi ini ecek-ecek tapi bisa diterima
sama banyak orang. Nah, gua kasih contoh
dulu ya. Contoh cara grow dari nol ke
1000 followers. Ini kalau misalnya kita
ngomongin konteks content creation ya.
Cara dapetin endorsement pertama cara
bikin dan nentuin rate card.
Ini apa? Beginner problem banget ya.
Yang kalau misalnya disentil dikit
hilang gitu loh problemnya. Kalau
misalnya kita shark by udah beda. Punya
50.000 followers tapi masih kerja itu 5.
W ini berat banget. Gua udah punya
50.000 followers nih. Tapi gua masih
ketrap ke kerja kantoran ya. Gua enggak
mau ning kerja kantoran kok. Tapi masih
kerja kantoran ya. Kenapa? Oh karena gua
udah jadi macro creator 100.000
followers tapi income-nya masih di bawah
du digit per bulan. Wah big problem.
Followers gua 100.000 lebih. Kenapa
income gua di bawah R juta? Aneh tuh.
Kenapa bisa kayak begitu? Ya. Nah, itu
masalah besar. Gua udah begini tapi kok
gua masih begini gitu loh. Gua udah
kerja keras tapi kok hasilnya enggak ada
gitu loh. Income gede followers banyak
tapi tipes karena kerja mulu. Nah, kayak
gitu juga bisa juga followers lu gede
income lu gede tapi lu burn out. Ini
masalah besar. Ini shark bite yang di
mana kalau misal ini enggak disegera
diatasi kita enggak akan bisa hidup
tenang. Sedangkan Moskito Bite kalau
misalnya begini-begini doang ecek-ecek
ini permasalahannya gitu loh ya.
Kebayang ya. Nah, moral of the story
kalau misalnya kita mau jualan kita laku
dan ketika kita ingin membuat
konten-konten yang sifat jualan, kita
harus solve shark bite problems
ya. But there's a catch. Balik lagi. Ini
gua nge-chat GPT nih atau ke pokoknya Ai
lah ya. Gua nanya, "How many people in
this world got into a shark accident?
Give me the data in percentage.
Jawabannya begini. Shark B cases itu tuh
segini nih ya. 47 dibagi populasi orang
berapa? Segini 100%-nya berapa? 0,005%.
Artinya apa? Artinya ya moskitobite
cases itu tuh jauh lebih banyak daripada
shark bite cases.
Meaning gampangnya gini gua analogi ini
brilliant banget juga. If you want to
grow,
if you want to increase your followers,
focus on moskito bite contents. Ya,
kalau lu mau nge-grow, fokus ke
konten-konten kayak gini. Karena ini
bisa diterima sama semua orang.
Ini bisa diterima sama semua orang.
Followers, followers lu bisa gede. Tapi
hati-hati ketika lo jualan bisa jadi
enggak laku. Karena ini enggak ngena
painpnya. Ya, ini painp cuman yang lu
tinggal ditepok orang bodo amat. Jadi
kalau orang digigit pun juga orang
bentol doang orang enggak masalah. Kalau
mereka enggak tahu caranya gimana,
mereka enggak masalah. Ya, itu kalau
misalnya kita mau nge-grow fokus ke
Moskitobit. Kalau misalnya kita mau
jualan fokus ke shark bite content, talk
specifically to the pain points that
people have. That's the difference. Nah,
makanya nih kenapa kayak gini ya?
Moskito byite itu banyak. Jadi kalau
misalnya kita mau nggow ya udah
moskitobite aja. Kalau misalnya kita mau
ngejualan shark bait, tapi hati-hati
kalau misalnya kita sudah tahu fakta
ini, itu berarti kalau misalnya kita
fokus ke growth seringkiali mungkin kita
akan mengkompromi sales kita. Kalau kita
fokus ke sales kita, seringkiali kita
akan mengkompromi ke growth kita. Nah,
itulah kenapa di awal-awal di value
creator mindset gua bilang, jangan takut
sama konten yang views-nya rendah. Bisa
jadi kalau misalnya kita pakai konten
yang shark byite, views-nya kemungkinan
besar lebih rendah daripada konten yang
moskit byitte. Kenapa enggak semua orang
bisa menikmati itu? Kenapa? Karena udah
bottom of funnel
ya, tofu mfu, bovu udah bottom of
funnel. Ini udah bfu. Ketika orang
banyak enggak enggak terlalu banyak yang
bisa menikmati itu, tapi di antara
orang-orang yang di bottom ofel itu
adalah orang-orang yang pengin beli.
Jadi enggak terlalu masalah juga. At the
end of the day, it's just choice. Kita
mau money atau mau virality. Ya, kita
pilih red pill or blue pill. Red pill
kita dapat banyak uang, shark bite
content. varity kita dapat banyak
followers most kita buat content. Nah,
cuma tinggal kita pikirin mana aja yang
menjadi prioritas kita. We can get both.
It's just a matter of which one is your
priority. Oke, that's pretty much for
shark b ver mosk b. Use this when you
wan to grow your content and use this
when you wan to make some seals from
your content.
Eternal markets ini adalah pasar yang
enggak akan pernah hilang dari muka bumi
ini sampai kapun itu kita hidup ggak
akan pernah hilang. Right? So, what is
the bridge between our audiences heaven
and their hell? Apa sih yang ada di
antara surga mereka dan neraka audience
kita? Yaitu adalah eternal markets ini.
Health, wealth, relationship. Pertama
kali gua belajar soal Eternal Market
ini, itu tuh datanya dari Russell
Branson, yaitu founder dari Click
Funels. Jadi kalau misalnya lo mau
mendalami ini, lu mungkin bisa baca
buku-buku dari Russell Branson. So, full
credit on this itu ke Russel Branson.
Oke. Nah, the atal markets adalah
health, wealth, relationship. Jadi,
Russell tuh bilang kalau misalnya di
dunia ini akan ada tiga market yang
enggak akan pernah hilang. Makanya
namanya Eternal atau mungkin ada orang
di luar sana nyebutnya Evergreen. Ya,
suka-suka mereka l mau namain apa. Gua
sih demennya bilangnya eternal markets
yaitu health, kesehatan, wealth, yaitu
kekayaan dan relationship hubungan. Jadi
manusia itu tuh pasti akan selalu
mempunyai permasalahan ini. Kalau
misalnya enggak mereka enggak punya
permasalahan ini, pasti mereka akan
selalu mau lebih bagus dalam aspek-aspek
ini, ya kan? Misalnya mereka enggak
sakit, tapi mereka mau badannya bagus,
ya kan? Misalnya mereka enggak miskin
nih, tapi mereka mau uang lebih banyak.
Betul. Misalnya mereka udah punya pacar,
tapi mereka mau pacar lagi. Selingkuh
dia. Ya, itu bercanda ya. Enggak kayak
gitu ya. Tapi you get my point. Jadi
orang tuh akan selalu mau meningkatkan
level mereka di aspek-aspek
market-market ini. Right? So, kita akan
balik lagi ke sudut pandang psikologi.
Nah, jadi kalau misalnya lu orang
psikologi atau suka self development
mungkin pernah melihat konsep satu ini
yaitu hierarchy of needs yang bikin
adalah Abraham Maslum. Nah, jadi
hierarchy of needs ini tuh apa? Ini tuh
adalah piramida di mana kalau misalnya
kita bisa memenuhi masing-masing level
ini, itu tuh kita akan bisa
mengaktualisasi diri yang artinya kita
bisa menjadi versi terbaik dari diri
kita. Nah, ini kita bisa bagi jadi dua,
right? Kita bisa bagi jadi survival
needs sama transcendent needs. Survival
needs itu adalah needs atau kebutuhan
kita yang kalau misalnya kita enggak
bisa memenuhi kebutuhan ini, hidup kita
akan terancam, kita enggak akan
sejahtera hidupnya, gitu ya. Contohnya
apa? Physiological needs, ada air,
water, food. Jadi kayak udara kita, kita
bisa dapat akses ke air atau enggak,
kita bisa makan atau enggak, setiap hari
kita punya rumah untuk tidur atau enggak
gitu ya. Nah, jadi itu physiological
needs yang emang dibutuhkan oleh tubuh
kita untuk reproduksi dan hidup dengan
baik. Habis itu ada safety needs,
keamanan kita. Keamanan secara fisik,
keamanan secara tinggal di mana,
keamanan secara pekerjaan, keamanan
secara
kebutuhan kita untuk bersosialisasi gitu
ya. So, next-nya ada love and belonging,
yaitu pertemanan kita dengan orang lain,
intimacy kita atau kedekatan kita dengan
pasangan kita, dengan keluarga kita, dan
lain-lain. Jadi, kita butuh koneksi
intinya. Nah, kalau misalnya kita enggak
punya tiga hal ini, itu berarti
kehidupan kita enggak akan optimal,
gitu. Bahkan bukannya optimal doang,
tapi kehidupan kita terancam, gitu ya.
Nah, kalau misalnya kita sudah bisa
memenuhi tiga ini baru kita bisa masuk
yang namanya esteem, yaitu kepercayaan
diri kita, respek kita ada. ya status
kita ada orang ngrecognize kita nih
orang tuh melihat wah bahwa rama nih
bisa bla bla bla. Nah, itu esteem tuh.
Jadi kemampuan kita, kekuatan kita itu
akan bisa
melompat menjadi kebebasan kita. Nah,
itu transcend the needs ya. Yang paling
atas itu adalah set actualization. Kalau
misalnya kita sudah mendapatkan ini
semua, kita bisa menjadi versi terbaik
dari diri kita. sepengetahuan gua belum
ada orang di luar sana di Indo atau
maupun di luar negeri yang mengconnect
hierarchy of needs ini dengan eternal
markets. Jadi ini datang dari pemikiran
gua sendiri ya sepengetahuan gua sih
sebegitu tapi kalau misalnya lo pernah
melihat ini di tempat lain lemo karena
ini gua kepikiran ini sendiri dan gua
cukup ya ingin share excitement gua
bahwa wah kayaknya gua menemukan sesuatu
atau I crack the code tentang sesuatu
yang sangat penting di sini gitu ya.
Nah, perlu kita ketahui bahwa kalau
misalnya kita baru mau mulai ngonten itu
lebih baik kita fokus ke survival needs.
Kenapa? Karena balik lagi tanpa ini kita
enggak akan bisa hidup. Betul ya? Jadi
orang pasti butuh konten-konten terkait
survival needs. Uniknya survival needs
itu hubungannya itu ada banget loh sama
etteral markets ya kan. Cuma tinggal
kita lihat ya. Nih dua ini mirip banget.
Health itu masuknya ke sini nih.
Aduh, wealth itu masuknya ke sini safety
ya kan. Kita punya uang enggak untuk
bisa ngapa-ngapain. Terakhir,
relationship. masuknya ke sini, love and
belonging. Gila, ketika gua tahu ini,
gua kaget, ternyata it's there. Emang
ini tuh enggak cuman sebatas
ngonten-ngonten doang, tapi ada human
nature-nya juga, ada psikologinya juga
di balik ini. Jadi, kalau misalnya kita
mau gampang untuk memulai, bahasnya yang
ada di survival needs. Karena pasti
orang membutuhkan konten kita. Kalau
misalnya enggak viral, gimana, Bang?
Gitu kan. Mungkin orang ada yang nanya
kayak gitu. Itu berarti konten kita yang
jelek yang harus di-improve. Realitanya
itu kita enggak bisa menolak fakta. Ya,
orang tentunya butuh uang, orang
tentunya butuh kesehatan, orang tentunya
butuh hubungan. Tapi kalau misalnya kita
ngomongin tentang itu dan orang enggak
suka, bukan berarti marketnya enggak
ada. Kitanya yang perlu memperbaiki
konten kita, gitu. Nah, sekarang
pertanyaannya kalau misalnya nich kita
transcendent needs nih, bukan survival
needs, bisa enggak? Di luar health
wealth relationship kan ada banyak ya.
Ada FnB, ada travel, ada productivity ya
kan, ada yang lain-lain lah yang
unik-unik. Nah, itu gimana? Bisa enggak
gitu, Kak? Transend needs
jawabannya tentu bisa gitu. Karena kalau
misalnya enggak productivity boy itu kan
transcenden ya, productivity. Karena
gini, orang tuh enggak butuh produktif
cuy kalau misalnya kita pikir secara
jelas dibanding soalnya contohnya gini
nih. Kita bandingin productivity sama
eternal market tadi ya, health
relationship. Kalau misalnya kita udah
produktif tapi kita enggak bisa
[tertawa]
em kalau misalnya kita produktif tapi
kita berbaring di rumah sakit bakal
happy enggak? Enggak kan. Kalau misalnya
kita produktif tapi kita sama keluarga
di rumah ribut bakal happy. Enggak
enggak. Kalau misalnya kita produktif
tapi kita enggak punya uang dompet kita
kosong bakal happy. Enggak? Enggak. Jadi
tanpa eternal market kita atau survival
kita terpenuhi, productivity yang enggak
akan bisa mempunyai makanan yang bagus.
Tapi bisa enggak mendapatkan
market? Bisa enggak membesarkan
followers dengan nich productivity?
Bisa. Karena kalau misalnya enggak,
enggak mungkin productivity boy bisa
segini. Bahkan sekarang pasti by the
time lo ngelihat video ini pasti
angkanya juga udah bertambah. Bisa
enggak Productivity Boy e mendapatkan
income yang tetap dan bisa drive di
market gitu. Walaupun trans jawabannya
bisa karena kalau enggak enggak mungkin
ada server play button di sana dan gak
mungkin gua bisa ada di kantor gua ini
di studio yang full gua buat ya dari
uang konten dari memonetisasi akun gua
gitu loh. Jadi as simple as that
jawabannya bisa atau enggak ya bisa.
Nah, jadi itu yang gua mau sampaiin.
Kalau misalnya lu adalah seseorang yang
punya nih, trans jangan putus asa karena
tetap bisa aja gimana kita ngemasnya aja
nanti.
Dan kali ini kita bakal bahas soal scope
of mastery dan eternal market. Tapi
sebelum itu, gua mau ngomongin satu hal
yang sebetulnya berhubungan tapi mungkin
kalian udah sampai bosan dan pernah
dengar ini, yaitu adalah NIS. But bear
with me. Bahasan ini bakal jauh lebih
dalam dan akan mempermudah kalian untuk
menentukan ni kalian selanjutnya gimana
dan apa market yang akan bisa kalian
targetkan. NIS itu kan sebetulnya
sesimpel ngomongin tentang apa, ke
siapa. Nah, hal ini bisa kita hubungkan
dengan mustlow hierarchy of needs di
mana menurut dia ada lima kebutuhan
dasar manusia yaitu self actualization,
esteem, love and belonging, safety
needs, and physiological needs. Nah, dua
kelima kebutuhan manusia ini dibagi
menjadi dua, yaitu transcendent needs
dan survival needs. Di mana transcendent
needs ini sebetulnya tidak dibutuhkan
sepenuhnya untuk orang bisa hidup dan
menjalankan kehidupannya sehari-hari.
Sedangkan survival needs kalau salah
satu aja enggak ada, manusia itu enggak
bisa hidup. Nah, kalau kita pengin bikin
konten menjadi content creator dengan
nich yang jauh lebih gampang untuk
night, pilih aja yang survival nit
karena pasti jauh lebih gampang. Kita
tinggal membahas tentang wealth, health
atau relationship. Bagaimana caranya
jadi kaya, gimana caranya bisa sehat,
gimana caranya bisa sixpack dengan
mudah, gimana caranya bisa dapetin pacar
dua tanpa ketahuan. Bercanda ya. Nah,
itu bakal selalu driving dan orang
sampai kapanp tetap butuh. Nah, karena
ini ketiga ini adalah eternal market
atau evergreennish yang menjadi
kebutuhan dasar dari manusia. Sedangkan
gimana kalau misalnya transcendent needs
bisa enggak sih transcenden needs itu
naik? Tetap bisa. Contohnya gimana?
Productivity boy. Productive itu kan
sesuatu yang enggak dibutuhkan banget
sama manusia. Karena orang yang punya
duit tiap hari cuman having sex, makan
itu tetap bisa hidup. Enggak, enggak
harus produktif. Tapi gimana caranya
bisa productivity boy driving dan bisa
masuk ke setiap market yang besar ini?
Yaitu dengan dihubungkan dengan survival
needs. Semudah gimana caranya produktif
untuk menghasilkan uang lebih. Gimana
caranya produktif untuk bisa punya waktu
untuk olahraga dan lebih sehat? Gimana
caranya produktif sehingga punya waktu
lebih banyak untuk keluarga?
Dengan menghubungkan transcendent needs
yang kita bahas dengan kebutuhan dari
survival need manusia itu kita bisa
masuk ke penetrasi ke market apa aja.
Nah, terus gimana kalau kita udah
memilih NIS tapi kok rasanya udah banyak
yang bikin?
Ya, sesimpel apa kata Panji Pergi
Waksono? Sedikit lebih beda lebih baik
dari sedikit lebih baik. Don't be
better, be different. Karena setiap dari
kita tuh punya quk-nya sendiri, punya
kelebihan, kekurangan sendiri, dan
kepribadian itulah yang menjadi justru
menjadi hook bagi orang lain. Contohnya
adalah kalau kita nonton satu film ada
Jason Stasham dan juga satu lagi ada The
Rock, Dwayne Johnson. Dua-duanya tuh
sama-sama berotot. Dua-duanya sama-sama
aktor laga, dua-duanya sama-sama
memerankan yang yah mirip-miriplah.
Dan dua-duanya sama-sama botak. Tapi ada
yang lebih suka nonton Jason Statam, ada
yang lebih suka join Johnson. Karena
kedua-duanya punya kepribadian dan ciri
khas yang berbeda. Nah, pada saat kita
menentukan nich, kita enggak bisa cuman
sekedar nich aja, tapi harus kita nising
down untuk menentukan subnish, subnich
dan micron nich. Nah, nis sendiri adalah
apa yang kita suka dan apa yang kita
jago.
Subnis kepada siapa kita ingin
berbicara, siapa yang mau kita bantu,
posisi kita ada di mana? Sebagai guru,
sebagai teman, sebagai pembantu
tukang ya sebagai orang yang mau
membantu. Dan micronis ini problem
spesifik apa yang kita mau solve.
Contohnya dari productivity boy. NIS-nya
adalah productivity.
Subnich-nya adalah productivity untuk
pekerja kantoran. Micronis-nya adalah
productivity untuk pekerja kantoran yang
ingin kerjaannya selesai lebih cepat dan
bisa dapat work life balance yang
optimal. Gunanya ke mana? Karena semua
ini bisa kita pakai dan turunkan untuk
pembahasaan kita, pembawaan kita,
penulisan kita, bahasan kita, semuanya
itu turun dari ini. Nah, buat
teman-teman habis ini bakal ada
worksheet yang bisa kalian isi di bawah.
Langsung aja download dan kita akan
diskusi nantinya.
Alright, so in this video we're gonna
talk about building your content pillar.
Nah, sebenarnya content pillar itu tuh
apa? Jadi, basically content itu adalah
topik-topik konten yang kita bahas ya.
Jadi, topiknya what are the topics that
we want to discuss ya. Dan ini kalau
misalnya kita sudah tahu nich kita apa
itu tuh akan jadi jauh lebih gampang
buat kita tentuin ini ya. Karena udah
kebantu banget kalau misalnya kita udah
udah tahu scope of mastery kita. Oke.
So, content pillar gua membagi ini
menjadi tiga sebenarnya. Kenapa tiga?
Kenapa enggak satu? Kenapa enggak 10?
Ya. Nah, jadi gampangnya gini. Gua udah
ng ng belajar ya dari orang-orang Indo,
orang-orang luar negeri. Gua udah
belajar dari course-kurse yang harganya
100.000 sampai R00 juta sekali bayar.
Gua tuh udah sering belajar ya. Jadi
spektrum gua tuh udah banyak banget. Dan
pada akhirnya gua menyimpulkan bahwa
sweet spot-nya kalau misalnya kita mau
bikin konten pilar itu tuh di 3 sampai
li pilar. Jadi 3 sampai li topik.
Kenapa? Karena kalau misalnya satu doang
pasti akan cepat kehabisin ide. Kalau
misalnya terlalu banyak jadi enggak
spesifik. Kalau misalnya 3 sampai 5
sweet spot kurang lebih kayak gitu ya.
Nah, jadi sekarang gua bertanya lebih
jauh lagi. Kalau misalnya kita perlu
pilih tiga sampai lima, itu topiknya
harus apa aja? Apakah bebas atau ada
framework-nya? Nah, makanya gua bikin
sih framework ini menurut gua alangkah
baiknya kalau misalnya kita memilih
konten pilar kita, gua sih stik ketiga
ya, gua sih stik ketiga. Itu
framework-nya gimana? Cara memilih
topiknya apa. Oleh karena itu gua
menemukan ya si formula ini ya. Jadi
kalau misalnya kita mau bikin konten
pillar, gua saranin kita bisa ambilnya
dari hal-hal yang kita bisa monetize,
dari hal-hal yang complementary terhadap
hal yang kita bisa monetize dan hal-hal
yang membuat kita tuh excited buat
ngebahasnya. Karena inilah yang akan
membuat kita jadi sustain supaya kita
enggak capek ngontennya. Ya, contohnya
gimana? Begini. So, for the monetizable
nich, oke, so this is something that we
should be good at and that we like.
Jadi, scope of mastery, suka sama jago
ini apa yang kita suka sama jago? Ya
kan? Misalnya kita suka sama jago value
creation. Kalau misalnya for example in
my case gitu ya. Oke. Yang paling gua
suka dan jago value creation. Bikin
content creation sama digital product
ini nih yang kita bahas sekarang ya kan.
Nah ini marketnya ada enggak? Ada juga
gede banget lagi on the rice. Makanya
gua ambil topik ini sebagai monetizable
nich. Makanya gua ngomonginnya paling
banyak ya kan. Kalau misalnya kalian
ikutin productivity boy semakin ke sini
semakin jarang bahas productivity ya.
Nah habis itu sudah excitement niche
juga. Excitement niche ini adalah hal
yang kita suka ya. Hal yang kita suka
aja gitu. Kalau misalnya gua sukanya
apa? Productivity ya makanya namanya gua
productivity boy ya. Jadi ini adalah hal
yang kita suka bahas aja in general.
Nah, complementary nich ini adalah hal
apa yang men-support ini dan ini? In my
case it's near science and psychology.
Kenapa? Karena kalau misalnya gua
ngomongin psikologinya productivity sama
psikologinya value creation itu tuh
bakal mendongkrak argumen gua banget
akan membuat gua unik gitu loh. Contoh
kapan lagi
lu nemu orang yang ngekonnectin
hierarchy of needs ke content creation
ke etteral market ke every gear market
terus ngekonnectin itu ke nich enggak
ada cuman di sini doang karena itu gue
yang bikin sendiri gue yang conectin
sendiri gitu loh. Nah itulah keunggulan
gua gua bisa mengconnectin topik-topik
ini. Nah, jadi our
homework is that gimana cara kita bisa
tahu monetizable nich kita apa, excit
nich kita apa, sama complementary nich
kita apa. So, this is how you understand
and how you can find your content pillar
supaya lo bisa nanti bikin kontennya
sesuai topik-topik ini aja dan enggak
lari-lari dari ini dan bisa saling
men-support satu sama lain.
Kalau misalnya lu pengin jadi seorang
content creator atau creator yang
memorable di mata audience lo dan enggak
cuma di mata tapi di pikiran audience lo
juga, you need to craft your perception
because at the end of the day,
perception engineering is everything.
Audience lo ngebentuk persepsi tentang
lo dalam hitungan detik. Bahkan sebelum
mereka sadar, mereka lagi ngelakuin itu.
And perception is not built by logic
first, it's built by the senses. Manusia
itu tuh punya lima indra. Nah, oleh
karena itu di next training ini kita
akan ngebahas gimana cara kita
nge-priming your account perception
supaya ketika orang pertama kali
ngelihat akun lo dan mendapatkan first
impression tentang lo ini nih selaras
dengan apa yang lo pengin mereka
persepsikan. Ini bukan soal estetika
doang, bukan masalah soal kamera atau
gear yang paling mahal, tapi ini soal
gimana cara kita ngomong, baju apa yang
kita pakai. Kenapa pakai baju ini? Kita
lagi sekarang lokasinya ada di mana? Dan
lagu apa aja yang lo pakai di konten lo?
warna apa aja yang lu pakai di konten
lo. It's all about that. So, without
further ado, let's deep dive into
mastering your perception. Priming your
account punya perception it's key.
Makanya cara nge-prime-nya gimana. Kita
ngomong di sini ada five senses. Tadi
kita di productivity udah ngomong ya,
lima senses ya. kita bawa lima sensus
lagi karena gua suka banget sama five
sens the thing is in social media
sayangnya kalau offline bisa nih kita
memanipulate lima l sens mata kalian ada
di lokasi ini, kita pakai baju ini ya
kan musik tadi ada musik ya kan wangi
ada wangi ada hujan kecium baunya ya kan
touch kalian megang ini kalian megang
sofa kalian duduk kalian gimana
ergonomisnya rasa nanti kalian akan e
makan barusan chefnya datang it's gonna
be a chef prepared meal
five senses. Masalahnya kalau online itu
enggak five senses, cuman two senses.
PR-nya gimana kita bisa memanipulasi dua
indra ini dengan sangat optimal di
online itu caranya kita mainnya di sana,
kita nge-hacknya di sana, right? Kita
ngomongin visual dulu.
visual. It's all about our choices of
these five things.
Our choice of words, our choice of
attire, our choice of color, our choice
of fonts, and our choice of
surroundings. Let's break it down one by
one. Ini contoh script dari konten kita
yang tadi yang enggak viral itu ya
dengan sengaja kita perhatiin
low CTR adjust your automation. Kenapa
gua pakai low CTR bukan how many people
click? Karena gua cuman mau ngomong sama
orang yang gak ngerti. CTR itu apa?
Karena kalau misalnya lu aja kagak
ngerti itu CTR, lu udah enggak usah
ngomong sama gua, lu belajarin sama
orang lain aja yang ngajarin basic gitu.
L I want to talk to people yang ngerti
ini tuh apa. Kalau lu nanya CTR apa,
Bang? Sorry, belajar sama yang lain aja
deh bos gitu.
Kenapa kita ngomong landing page instead
of website? It's two totally different
things. Landing page is a landing page.
Website is a website. If you don't know
the difference between both, kita enggak
tahu perbedaannya apa.
Belajar sama orang lain. Jangan sama.
Why do we use USD instead of rupiah?
Karena kalau misalnya orang yang eh
punya uang mereka sudah mikir USD.
Kalau mereka enggak mikir USD mereka
ngerti USD setidaknya gitu loh. Ah
R30.000 jir 30.000 kan segini. Ya
gitulah 500 juta yang kayak gitu.
Dan kita melabel, kita nge-call out
creator founder. Inilah kenapa kita
bilang we guys are creator founders, not
content creator. Gua udah enggak ngomong
kita content creator jual produk digital
enggak lagi gitu. We sell info gitu.
We're creator founders. We sell info.
Info tuh industrinya
looknya. Agak jiji sih sebenarnya
ngelihat muka sendiri gitu. Tapi ya ini
dibikinin tim gua. Jadi ya karena mereka
sudah mendesain sangat bagus ya gua
apresiasi lah ya.
Kenapa outfitnya begini? Kenapa
outfitnya black and white? Btw tadi Ar
bilang itu bercanda jangan dipercaya
gara-gara panda enggak gitu. Bukan
karena panda gitu outfitnya. Tapi why
black? Why? Ya color psychology juga
black gives authority, white gives trust
and purity. Contoh-contoh kayak gitu.
Jadi I want to be perceived dengan
bagaimana I dress juga kan. Makanya ah
zaman sekarang apa sih yang color apa
sih? personal color tuh laku banget.
Kenapa tadi gua pakai biru buat yang
awal-awal? Nah, itu ada alasannya juga.
Tinggal dipikirin sendiri. Tapi penting
banget cara kita cara kita berdandan tuh
penting banget. Zaman dulu kita
bandingin nih. Ini kan sekarang nih set
ya kan zaman dulu, Bro. Ini pakai kaos,
Bro. Kaos yang waffel yang di TikTok
yang ngharga Rp100.000 itu loh.
Ini juga Rp50.000. Gua enggak bohong.
Ini Rp50.000 ini po. Gua beli di TikTok
Shop.
Ini Zara lah. Okelah. [tertawa]
Ini R.000. You know what I mean?
Dan I try to shift my mindset. When I
shop for clothes, it's ok deh gua bayar
mahal. Orang pun enggak tahu. Orang pun
gak tahu itu baju apa. Tapi kalau
misalnya kita tahu, "Wow, gua pakai baju
R juta loh." Ngerti enggak sih? langsung
bus langsung it's here it's here it's
here gua pakai baju R juta bos itu gaji
lu eh itu itu misalnya gaji orang em 1
bulan misalnya kayak gitu loh different
perspective tuh yang kayak gitu langsung
it's all about perception
that's why
this is how we dress this is how we
present ourself warna penting juga ini
dipick ya sama designer kita Yuda.
Jujur ini sebenarnya ada gradasi tapi
gara-gara TV-nya jadi ya ini kelihatan
semua hitam doang gitu kan. Tapi ada
alasan kenapa kita cuman pakai
monochrome. Ada alasan bukan karena
hidup kita enggak penuh warna bukan ya.
Ini juga kita cuman pakai satu font by
the way. Kita cuman pakai manrope. Jadi
all of this itu tuh pakai manrope. Ada
alasannya juga kenapa kita pakainya
sunserif. Bukan kita pakai serif yang
kayak gitu-gitu.
Last thing perception equals to
association.
Kita harus bisa mengasosiasikan diri
kita dengan
ideal customer profile kita punya hidup.
Kita tahu target customer kita tuh suka
siapa. Kalau misalnya bisa lu beli tiket
masterm ke dia atau enggak lu ikut
conference ke dia, lu foto bareng sama
dia. Kebayang gak sih dam Ricky aja bisa
ketemu si ini. Gua mauah belajar sama
Ricky karena dia dia Ricky udah dekat
sama ini. Kalau misalnya gua dekat sama
Ricky kayaknya gua bakal bisa dekat sama
ini deh gitu loh. And that is the reason
why beapa testimoni kita yang kita pilih
adalah ini misalnya. Dan ada beberapa
yang lain juga yang lagi upcoming.
You guys know who this is? By the way,
boleh sombong dikit ya? Sombong dikit
boleh.
Find me a guy that can coach someone
yang went from 15.000 followers ke 2
juta followers in just two days. Eh,
berapa? 1 minggu ya.
in just 3 days. 15.000 followers ke 2
juta followers in just 3 days. If
somebody can beat that record, I'm gna
pay I'm gna pay them and I'm gna learn
from them. Gua ajari testimoni mereka.
Gak apa-apa deh.
Gua gak bilang, "It's all my credit,
salsa did all the work.
It's her spotlight. Yang gua milih bantu
Salsa tu adalah digital productnya."
Bahkan di meeting kita setelah dia
viral, setelah 3 hari itu gua bilang ke
Salsa, "Salsa, it's all you. I don't
take part in any of this sama sekali."
gitu. Terus dia bilang, "Ram, tapi kan
cara belajar bikin konten viral kan gua
belajar sama lu juga gitu."
Ya udahlah, mungkin dikit-dikit gua udah
berpengaruh sedikit tapi yang gua bisa
banggain dari 3 hari itu ketransfer ke
bisnis dia, bukan bisnis yang lainnya.
dia kan punya bisnis jadi dewasa kan
yang info produk yang buat e
dysfunctional family dan segala macam
itu langsung three digits first launch
digits langsung that easy karena mainnya
volume tapi balik lagi gitu loh. Nah
makanya if we associate ourselves with
these people
murid gua kan banyak ya dulu kan gua gua
kan bikin low tiket ya gua bikin low
tiket murid gua kan 10.000 lebih ya.
Kenapa yang gua highlight yang ini ini
nih? Kenapa yang gua highlight yang ini
ini nih? Yang lain-lain gua enggak
highlight. Ada alasannya juga.
Association kita dekat sama siapa itu
kita diasosiasikan sebagai apa? Gua
belajar ini dari gua nge-handle klien
politik. Sumpah di page dia, dia kok
fotonya sama ini. Padahal setiap hari
sama ini. Kok yang ini gak di ngerti
enggak sih? Oh, ternyata lagi ada kasus
ini jadi teman. Ngerti enggak sih?
Enggak boleh muncul duya kayak gitu loh.
It's association. Dan gua belajar ini
karena agency Jar. Gua belajar dari
klien gua yang politician tadi gitu.
Kurang lebih kayak gitu. It's all about
association. Makanya kita harus ngerti
visual kita gimana. Enggak cuman soal
visual, tapi soal audio juga.
Kenapa dari tadi lagunya tuh ini?
Team song kita on repeat nih dari tadi.
This is my music of choice. This is my
sound of choice. Story gua banyak banget
lagunya ini juga. Karena when I want you
to look at me and hear me, you associate
me with this type of bike. Very
important.
Jangan tiba-tiba ini besoknya Indonesia,
besoknya Korea, besoknya Jepang,
besoknya. Ngerti enggak sih? You have no
branding.
Intonation penting juga,
Mar, boleh enggak gua kasih input buat
konten lu? Karena kemarin gua nonton
konten Umar.
Umar ini kalau misalnya gua pasti kan
nanti kan Umar kan juga ngobrol-ngobrol
brainstorm kan. Kalau misalnya gua bisa
ng-twak satu konten dari Umar,
editingnya udah oke, visualnya udah oke,
not bad. Yang paling penting intonation
sebenarnya.
Intonation plays a huge role.
the rise, the lows, the pauses
like just now it plays a huge rule gitu.
Kalau misalnya kita ngomong datar dari
awal sampai akhir,
there is no abs and flow. People are not
gna be interested juga. Why? Because
they cannot resonate in the first hand.
Bahkan AI aja kadang-kadang ngomongnya
lebih bagus dari kita gitu loh. Hen tuh
lebih bagus loh. 11 laps lebih bagus
dari kita. Like, bro, masa kalah sama
AI. Pantes laku eh creator laps.
Damn. Tapi more importantly than e dan
intonation is conviction.
Conviction is the most important thing.
Kalau misalnya gua bilang
di sini ada yang ngerokok enggak?
Ihh, gila. Enggak ada. Yes, qualified.
People semua. Nice ya. Gila. E, gua juga
enggak ngerokok. Tim gua juga sekarang
udah enggak ngerokok semua ya.
Iya, guaak ngerokok.
Iya, semua tim kereta enggak ada yang
ngerokok
kecuali pot. Mana pot [tertawa]
ngip.
Why people hate smoking so much?
Orang kalau misalnya ngerokok, ih nanti
lu mati loh kalau ngerokok. Tapi have we
ever think gula tuh juga bisa bikin
lebih mati. Tapi tiap hari kita minum
kopi susu golaren, kita minum boba,
setiap hari kita makan mie banyak, orang
enggak ngomong, "Lu entar ini." Ngerti
enggak sih? Tapi sekali kita ngerokok
kita langsung dijudge.
Padahal datanya tuh kebalikannya tahu?
Smoking kills kan. Tapi tahu enggak
kalau misalnya gula itu lebih membunuh
kita 10 kali lipat lebih efektif
daripada kita ngerokok.
Tapi kita kok malah lebih kor-karin stop
ngerokok. Stop ngerokok sih bukannya
stop makan gula. Benar enggak?
Why?
Because all the facts I made just now
actually made up. Gua cuman ngarang
doang enggak sebenarnya.
Smoking kill. So don't smoke
gitu kan maksudnya ya. Tapi gula juga
memang gak bagus. Tapi gua cuman ngarang
gula 10 kali lebih berbahaya dari smoky
I'm just making it up. But maybe for one
second you believe me. Benar gak?
It's because of how I speak gitu loh.
Dari tadi kalau misalnya gua ngomong
dengan penuh keraguan nih dari tadi nih
productivity nih sampai sekarang gua
ngomongin high ticket.
Kalau gua ragu,
gua sia-sia nih dari Jambi, gua sia-sia
nih dari e Surabaya, dari Sidoarja ke
sini gitu loh. Jauh-jauh loh kalian.
What's the most important thing from all
of this is this conviction of speech ini
speak mean it gitu loh.
Don't give me that boring bullshit gitu
loh yang kayak ngomongnya tuh kayak
enggak ada auranya gitu loh. Kalau kata
agen alpha tuh ris dikitlah skibidi
jangan skibidi gitu maksudnya.
That's the big difference. And ini tadi
tadi I forgot who shared kayak Ana to.
We need to think about branding. Most
people, most agency, most coaches and
most orang-orang yang ngaku ngajarin
personal branding mereka gak ngerti ini,
man. Mereka tuh fokus ke personal
awareness. That's what I call. You just
make viral content, but you don't build
a personal brand, bro. Gimana lu bisa
bilang lu punya personal brand tapi
grade 1 sampai grade 9 semuanya
beda-beda. Fontnya beda, warnanya beda,
cara ngomongnya beda, look-nya beda,
topiknya beda, nichnya beda. That's not
branding. That's just awareness putting
yourself out there. That's good. That's
not wrong. But that's not branding.
You're getting it wrong. Kalau misalnya
ketika lu ngelihat sebuah brand dan lu
bisa eh rama banget nih, PR boy banget
nih, VC banget, itu brand.
Zaman-zaman dulu, zaman-zaman dulu,
zaman-zamannya Umar, Cela, Sarah, eh
Fata, orang tuh pada bilang gini, "Ih,
gila, script gua udah prot boy core
banget." Kenapa? Karena dulu zaman dulu
prot boy itu kita bikin script itu tuh
negatif hook semua.
Coba Mike contohin negative hook gimana
lu sebagai scriptwriter nih, ini gua I'm
putting you on the spot. Ini enggak
discript sini Mike, lu punya 5 detik
untuk mikir ke depan. pikirin contoh
dari negatif hook
ini. Btw gua enggak rencanain jadi dia
ini benar-benar raw. Give me negative
hook.
Oke, stop ikut seminar content creator
sekarang juga karena masa depan kalian
enggak akan terjamin.
Oke, negative hook. Give me a niche.
Ini kita enggak janjian ya. I will
create a negative hook for you. Give me
a niche.
Polit. Ah, jangan politik, [tertawa]
Bro. Direkam masalahnya bro.
Petsal
pets boleh. Masalahnya takutnya
ditonton.
[tertawa]
Eh, pets dulu ya. Pets dulu bar. Ea ya
pets. Nah, ini Andrew jagonya engak
masal ini. Gua juga sempat bikinin
Andrewnya [tertawa]
stop kasih anabulu makan dry food. Kalau
lo enggak mau anabulu cepat mati.
Kebayang enggak
AI?
Percuma lu belajar AI karena
bentar lagi AI akan tergantikan sama hal
baru ini.
Itu orang AI kan baru. Kenapa tiba-tiba
ada hal yang baru lagi gitu loh. Ini
yang baru lagi apa gitu.
Digital product is dead. Itu aja
[tertawa]
steel proud boyor.
Ste boy. Jadi anak-anak VCA zaman dulu
tuh udah ngerti banget ketika mereka
bikin script negatif. Oke. Ini kan lu
jago bangar. Ini PR Boy Core nih. Prot
boy core. Udah Mik, thank you. Thank
you.
Jadi kita harus punya personal branding
itu kita tuh mau diketahuin sebagai apa?
Don't just be a noise. Karena kalau
misalnya kita seperti ini,
berapa banyak orang yang kalian ketemu
di event atau gimana followersnya R juta
nih, tapi mereka ke mall enggak ada yang
tahu itu siapa.
That's personal awareness. That's not
personal.
Kalau misalnya lu udah sampai di modul
ini, itu berarti kemungkinan besar lu
mengalami problem yang sama dengan
kreator dan creator perner lainnya. Lu
udah nge-post secara konsisten, tapi kok
views-nya masih enggak ada ya? Boro-boro
followers, views-nya aja stuck terus.
Pokoknya lu udah coba semuanya. Pakai
hook yang lagi viral, pakai konsep yang
lagi viral, pakai audio training, pakai
hashtag, pakai apapun itu growth hack
yang orang lain semua di luar sana suruh
lu untuk lakuin posting di jam yang
optimal lah dan segala macam, tapi masih
aja enggak ada hasil. Well, that makes a
lot of sense because you're focusing on
the wrong thing. But the question is,
what is the right thing? Dan right thing
itu akan kita bahas di master class
selanjutnya. Enjoy.
So, welcome to the next module, IG Roles
Mastery. Di modul kali ini gua enggak
akan ngomongin tentang bagaimana sekedar
nulis script dari awal sampai akhir. E,
gimana nyari konten viral atau gimana
cara bikin konten jualan. Enggak. Tapi
gua akan lebih banyak berbicara tentang
what's the logic behind making an IG RS
that convert into our sales because in
the end that's what we want right we
want to get a new leads from our content
we want to get we want to nurture our
audience as well from our content and we
want to get sales from our content. So,
basically di sini eh kalian akan bisa
ngerti bagaimana mulai pemik bagaimana
logika dalam pemikiran untuk membuat
suatu IG reels atau video short form.
Oke, so the best content is not one that
use viral hook or transition.
It's not about using high-end camera,
not about has the best editing. It
ngaruh, itu penting juga karena balik
lagi dengan banyaknya raw konten
sekarang kualitas akan tetap membentuk
vibe kita, akan tetap membedakan kita
dengan kreator lain.
Tapi the best content yang lebih penting
adalah tiga hal ini. Understandable by
your audience. Gua di sini nge-bold your
audience karena enggak harus dimengerti
semua orang.
When we are talking about high ticket
coaching, we are attracting a different
ICP. We are attracting an specific ICP.
Dan di sini yang penting adalah dream
persona dari customer kita itu yang
harus mengerti apa yang kita bicarakan.
Yang kedua, harus punya clear context.
apa yang kita buat harus memiliki
konteks yang jelas dari awal dan orang
harus mengerti konten itu tentang apa
dalam sekali mendengar aja. Dan yang
ketiga punya clear intention. Intensi
yang jelas kita mau bikin konten ini
tujuannya untuk apa. Enggak hanya
sekedar asal ada konten aja.
Eh, before we got into the module
deeper, I want to touch a bit on how
about AI.
AI can fashion your process give easier
structure good for base structure based
script especially when you have got eh
good prompt to write AI script
tapi in the end AI script will never be
100% it will never be as good if you
yourself don't understand what makes a
good content good content pada akhirnya
script yang keluar dari E itu ya hanya
base. Kalau kalian sendiri enggak ngerti
kenapa sebuah konten yang menarik itu
bisa jadi menarik, poin apa aja yang
membuat sebuah konten itu menarik,
konten yang keluar dari AI itu enggak
akan sebagus itu.
kita di val creator punai. Tapi pada
akhirnya setelah itu personalisasi yang
kita lakukan itulah yang membuat konten
itu menjadi konten yang berkualitas
untuk personal branding, konten yang
berkualitas untuk menarik leads juga
konten yang berkualitas untuk menjadi eh
branding kita di valrator. Oke, get rid
of that. Let's go into the video. Oh,
before we got into the short video,
short and long video sebetulnya logicnya
enggak jauh berbeda. Jadi nanti di
YouTube Mastery eh gua enggak akan
mengulang logik tentang menulis sebuah
script video. Tapi yang membedakan
adalah shorty video itu lebih concise.
Strong message-nya biasa hanya satu yang
paling utama dan penggunaan kata-katanya
harus jauh lebih efektif karena kita
cuman punya waktu mungkin sekitar 90
detik maksimal 60 sampai 90 detik untuk
menyampaikan one strong message ini
dalam satu konten. Sedangkan kalau long
video YouTube e casusnya YouTube yang
kita pakai, kita bisa mendapatkan
kedalaman yang lebih di mana hasilnya
juga kedekatan dan attachment lebih dari
audiens kita. Selain itu, struktur
penulisannya juga jauh lebih banyak,
lebih macam-macam, dan lebih banyak ee
room, lebih banyak ruangan untuk kita
menambahkan insight atau cerita yang
kita buat. Jadi, eh dua-duanya ini punya
tujuan dan nicknake yang berbeda, tetapi
pada akhirnya logik penulisannya itu
sama.
So, what makes a good video is that it's
understandable, clear context, and clear
intention. Eh, kita akan pelajarin, kita
akan bahas satu-satu.
First of all, understandable by real
audience.
Basically, to to be a content that's
understandable by your audience, you
need to understand your audience. Then
we have talked about eh in the previous
chapter eh customer Persona, idle
customer Persona ICP for hidden forces,
over market exercise yang eh mungkin
kalian harusnya udah nonton juga di
chapter sebelumnya di face sebelumnya di
mana gua bilang kalau misalnya ee kalian
udah menggunakan ini, udah menerapkan
ini, udah masukin ke chat GPT kalian
atau apapun yang kalian pakai, ini bisa
menjadi base yang sangat memudahkan
kalian untuk membuat script.
membuat konten apapun itu. Karena when
you understand your audience,
understanding your audience is knowing
about what to talk to them, what they
can relate, what they can understand,
and what do they want, and especially
what they don't understand juga. Itulah
yang gue bilang kenapa kalian harus
berbicara ke ICP kalian. Yang penting
ICP kalian mengerti apa yang kalian
bicarakan enggak harus orang lain.
Karena it's useless to talk about big
pain biggest pain of a farmer when
you're talking to a fisherman. Karena
ketika kalian membicarakan problem
saya ini contoh yang cukup ekstrem aja.
Tapi misalnya kalian berbicara kepada eh
let's say kalian mau menarget kita
bicara soal fitness kalian target
marketnya adalah orang yang eh baru
mulai fitness. maka language yang kalian
gunakan itu enggak bisa eh isolation,
enggak bisa berbicara tentang
gerakan-gerakan yang rumit atau yang
baru. Enggak bisa kita bicarakan
gabungan antara mobility dan lain-lain.
Tapi karena orang yang baru mulai
fitness enggak akan ngerti itu.
Sedangkan kalau target market kalian
orang yang sudah ngerti fit, 4 tahun
tapi mau eh buat dari composition, mau
bentuk badan lebih spesifik lagi, bahasa
yang digunakan tentu akan berbeda. Dan
ini makanya penting untuk bisa lebih
mengerti audience kita.
Karena content is talking
and understanding your audience will
give you on how to talk to them, what to
talk to them, and where is the best
touch point when you want to talk about
something. This is the entry point to
clear context. Karena selanjutnya kita
juga akan bilang kalau konten yang bagus
itu adalah konten yang punya clear
context dari awal.
Clear context itu datang dari tiga di
sini. Clear contex. Klik tex ini
maksudnya adalah ketika kalian nonton
video 3 sampai 10 detik pertama itu
kalian udah jelas video ini mau
ngomongin apa. Oke. Nah, ini didapat
dari apa aja? Yang pertama language yang
tadi kita sudah sempat bahas juga
pembahasan penggunaan kata intonasi
style of speaking yang sesuai dengan
audience kita. Yang kedua, secara
structure. Structure yang digunakan ini
paling mendasar. Eh, VC juga hampir
selalu memakai struktur ini ketika
membuat konten khususnya yang ada
edukasi yang cukup panjang.
di hook-nya itu harus menjawab empat
ini. What are we talking about? What are
we questioning about? What is the goal
of the content? Dan what's in it for me?
What's in it for me? Ini aturan dasar
copywriting di mana ketika audiens
membaca atau mendengar video kalian,
dari hook-nya aja mereka udah tahu
what's in for me. Konten ini buat mereka
gunanya apa, apa yang akan mereka
dapetin. Itulah pentingnya kalian
menggunakan dan memahami ini. Karena
dari for hidden forces ini adalah bahan
untuk kalian menyelesaikan masalah
mereka. What's me? Eh, it can help me
get to my dream. It can help me to avoid
my fear. It can help me to solve my
frustration. It can help me to
fasten my progress to what I want.
For hidden forces ini digunakan untuk
bisa menunjukkan di hook
what in for me.
Secara body eh masuk ke body ada
bridging eh bisa menggunakan story
journey menambahkan reset e bridging ke
menuju jawaban yang kita mau kasih di
sini ee dan juga atau poin-poin yang
kita mau tampilkan tiga e konten paling
simpel aja. Tiga cara untuk bisa membuat
konten viral ya di sini. body itu isinya
adalah poin untuk cara membuat konten
viralnya baru ke CTA. Apakah semua
konten harus ada CTA?
Sebetulnya harus, tapi enggak semuanya
secara eksplisit. Kenapa? Karena ketika
kita membuat konten,
CTA itu akan men-drive engagement secara
meningkatkan beberapa puluh persen.
Sedapi, kalau misalnya pun kita enggak
tambahkan secara eksplisit misalnya,
eksplisit itu yang gua maksud komen di
bawah atau like atau share video ini itu
eksplisit. Kalau enggak eksplisit
biasanya kita sudah mendapat menambahkan
di cerita atau di e talking points kita
hal-hal yang sebetulnya orang akan
secara enggak langsung tertarik untuk
melakukan suatu engagement atau komen
atau mengajak suatu diskusi. Jadi kita
enggak secara eksplisit meminta mereka
melakukan sesuatu tapi udah tertrigger
melakukan sesuatu gitu.
Nah, yang terakhir adalah following the
logic of writing a video. Karena menulis
video beda sama kita nulis email, beda
sama kita nulis newsletter, nulis tweet,
em nulis artikel di LinkedIn itu beda.
Karena ketika menulis video, kita harus
write to speak not to read. Karena yang
kita tulis ujungnya adalah apa yang akan
kita baca. Kalau belum terbiasa untuk
melakukan ini, lakukan proof reading.
Oke,
setelah kalian nulis script-nya, baca
ulang scriptnya. Kalau perlu rekam dan
dengarkan kembali scriptnya karena itu
akan membuat script ini
akhirnya bisa semaksimal mungkin untuk
dijadikan sebuah video yang akan kalian
rekam, bukan tulisan yang menjadi
seperti artikel. Yang kedua, right with
the end of video in mind. Karena pada
akhirnya tulisan ini akan menjadi sebuah
video. Pada saat menulis langsung coba
bayangkan kalau tulisan ini dijadikan
video, poin-poin apa aja yang perlu
penggambaran, poin apa aja yang enggak
perlu penggambaran dengan tulisan aja
cukup, poin apa aja yang sebetulnya
enggak justru enggak perlu ditulis, tapi
ada guidance untuk menambahkan sesuatu
atau gambaran atau video apapun di dalam
tulisan kalian ini karena akhirnya akan
jadi video. Dan ketika kalian berpikir
ini pada saat membuat tulisan atau
script, ini akan memudahkan kalian
banget, memudahkan editor juga dalam
proses untuk membuat video. Sehingga
koherensi antara pemikiran kalian pada
saat ingin membuat suatu video sampai
jadi hasil akhirnya akan jauh lebih
mirip.
Yang terakhir, continuity. Pada saat
membuat script, pastikan jangan
muter-muter ee pembahasannya tetap satu
dari arahnya. Ingat dari awal orang udah
paham ini apa yang mereka apa yang
dibicarakan apa yang dipertanyakan goal
tujuannya apa. Stick to this. Kalau ada
eh poin, kalau ada riset tambahan, kalau
ada cerita tambahan yang sebetulnya
kalau dihilangkan
itu tetap poin utamanya orang bisa paham
dan goal utamanya tetap tercapai. Buang
aja tulisannya, buang aja riset
tambahannya. Karena berarti riset
tambahan itu atau poin tambahan itu
justru mengurangi value dari konten
kalian, bukannya menambah clarity lagi.
Oke, last but not least is clear
intention. Kalian ini bikin konten untuk
apa?
Dapetin leads baru, nurture leads,
dapetin leads untuk di sales atau apa.
Untuk audience di level mana? Tofu, movu
atau Bovu. Kalian harusnya udah menonton
juga materi tentang TOfu, Movu, Bovu.
Tofu itu education untuk audience yang
masih problem aware dan unware. Movu itu
case study and system untuk gimana
mereka bekerja dengan kita. Yang isinya
adalah untuk audience yang solution
unaware. Dan yang terakhir, Bovu ini
isinya sales dan testimonial.
Apakah semua konten ini bisa memakai
struktur yang ada? Bisa. Karena pada
ujungnya kalian membuat konten Movu
ataupun bow pun
kalau misalnya enggak ada hook-nya,
konteksnya enggak jelas dalam bentuk
apapun ya, dalam bentuk tulisan, dalam
bentuk grafik atau dalam bentuk kalian
omongin apapun itu kalau enggak jelas
maka kontennya enggak akan optimal.
Karena tetap aja balik lagi kita bicara
konten Movu, kita bicara konten bovu.
Kalau konten Movu dan BOF ini views-nya
bisa Rp100.000 1000 qualified list-nya
bakal lebih banyak daripada konten Movu
dan BOFU yang views-nya 1.000.
Iya, kita nargetin qualified leads. Tapi
kalau kontennya aja enggak nyampai ke
qualified lead kita, ya percuma kan.
Makanya tetap pakai struktur.
Dan jangan lupa ini ya, most of us will
lead
e will
condong ke arah sini authority and
education.
Tapi dengan menambah karena ini personal
kita bicara personal branding kita
bicara attachment juga untuk mendekatkan
orang biar mereka percaya ke kita. Eh,
tetap perhatikan ini kita membuat script
itu mau leaning ke arah mana. Full
authority, full closeness, which is
kemungkinan yang kecil, e lifestyle
based atau kita mau nambahin sebagian
dari closeness ke dalam content
authority kita. Intensi,
konteks, audience. Tiga hal ini kalian
perhatiin
dan kalian paham betul-betul. dijamin
kontennya akan jauh lebih berkualitas.
Enggak usah pelajarin hook yang viral,
enggak usah pelajarin eh struktur konten
viral, enggak tahu, enggak usah bikin
gimik-gimik, enggak usah pakai editing
terlalu gimana. Ini aja kualitas konten
kalian udah sangat jauh lebih bagus.
Karena script yang clear dan jelas
konteksnya itu jauh lebih penting
daripada editing yang dardoor segitunya.
Dan how to get better at this. Simply
write more and intentionally. Apa yang
setiap kali kalian mau bikin script, apa
yang mau di-improve, apa yang mau
dimasukin dari poin-poin yang ada di
video ini, yang ada di modul ini.
Dan kalau butuh review, send it to your
e private discord channel. Kita akan
bakal review di sana. Oke,
so untuk bikin lebih jelas lagi ada di
sini ada tiga script dari video Proud
Boy yang pernah di ada yang pernah
dipost, ada yang enggak. Tapi ini dibuat
dengan struktur yang persis sama dengan
yang gua tulis di atas. Oke. Eh, kita
bedah sedikit satu-satu.
Creator founder who sells low ticket.
This is the hook. Kalau lu adalah
seorang content creator entrepreneur
yang capai jualan eh produk Rp00.000-an
tiap bulan launching produk digital
baru, tapi income masih stuck di
situs-situ aja di Ses for you. Di sini
udah jelas siapa yang ditargetin. Di
sini udah jelas masalah apa yang mau
diselesaikan.
Masuk ke bodynya.
Gua akan tambahin sedikit penjelasan di
sini. Your posting selling grounding di
sini adalah upsor
sini adalah problem.
amplification.
Ini ada problem amplification-nya.
Lalu di sini the hard truth. The truth.
Karena lu terus jual produk murah bangun
sampin kejar volume.
This is a solution that we are offering.
Nah, after the solution this is the
proof.
Ini gua sedikit sensor. Kalau ada yang
pernah lihat kontennya, you know who it
is. Tapi kalau enggak, ya udah siapapun.
Yang penting ini hanya sebagai contoh
aja. Habis masuk ke proof di sini
conclusion sedikit baru CTA.
CTA-nya simpel aja, singkat, enggak usah
terlalu banyak.
Yang kedua,
marketing finalist bullshit. you will
get bad leads. The traditional marketing
funnel is outdated especially for
creator founders like us tofu muovu
bovu. Kalau lu cuman ngikutin funel
tradisional ini, your screw. Di sini
kita nge
melawan stigma umum soal Tomfu Movu
Bovofu karena ya kita juga ajarin tofu
Movu Bovu karena ini memang penting.
Tapi orang yang mendengar ini dan ngerti
ini balik lagi pembahasaan ini kalau
bukan ke audiens kita orang belum tentu
relate karena mereka enggak akan ngerti
creator founders, enggak ngerti
marketing funnel enggak ngerti tofu,
Movu, Bovu itu apa. Dan orang gak bakal
dengar. And that's ok.
Kalau kita masuk ke sini orang yang
mencoba meyakinkan enggak punya produk
bahkan mereka enggak punya stak jualan
produk murah audience nurin harga di
sini ada relatability point
kita setting the ground
buat mereka biar mereka tahu kalau kita
paham kondisi mereka di sini
instead my new funel system di sini
mulai ada solution
Oh sorry the bridging to solution.
Lalu masuk ke ini points-nya steps
solution
three layers of day solution
baru conclusion dan CTI lagi. Di sini
CTI agak panjang untuk menjelaskan apa
yang akan mereka dapatin kalau ngelakuin
apa yang kita minta.
Then the third script reputation game.
Sinaduknya trust me the social the
social media game is actually a
reputation game. Lu bisa punya
followers, produk, fanel. Tapi kalau
nama lu kehilangan trust, everything
collapse.
Banyak yang udah paham ini, tapi belum
dijelaskan secara lebih jelas. Eh,
hook-nya enggak harus secara struktur
kita bikin hook yang kayak balik lagi
tadi gua bilang konten yang berkualitas,
konten yang terbaik itu bukan soal pakai
hook yang viral atau hook yang gimana
banget, tapi hook yang dimengerti sama
audience kita. Oke, imagine this.
Ini sama relatability point juga.
Kita ngasih faktanya gimana trut-nya
di sini? People don't buy because of
your content. Ini sebenarnya udah semi
conclusion.
Tapi kita bridging ke solution
dari sini solution-nya solution and
proof.
Oke, baru masuk ke sol e conclusion dari
kontennya
dan CTA lagi. Secara struktur sebetulnya
semua sama yang beda cuma di body
storytelling-nya berbeda-beda.
Ini yang kita bilang bikin konten pakai
intensi dan pakai tujuan dengan konteks
yang jelas untuk setiap ee videonya.
Alright. So, in the previous module, lu
udah belajar gimana cara bikin IG reels
yang valuable. Nah, sekarang missing
piece-nya ini percuma kita bisa bikin
konten yang bagus tapi kita gak ngerti
funeling. Kita gak ngerti tofu, kita gak
ngerti Movu, kita enggak ngerti boofu.
Ini essential banget kalau misalnya kita
mau bisa monetize akun kita. Karena
audience temperature itu tuh beda-beda.
Ketika kita cuman mau fokus untuk ngejar
yang namanya views, ngejar namanya
followers, kita main di top of funnel
aja enggak masalah. Tapi kalau misalnya
kita udah mau mulai untuk berjualan
entah itu digital product, kita punya
jasa atau kita punya produk fisik atau
apapun itu harus banget kita ngerti yang
namanya MOV sama BOV. So with that said
kita di modul ini akan ng-deep dive yang
namanya tofu movu boofu. Kita semua
pahamin ya tofu movu bovu ya. Gini kalau
misalnya kita ngomain ke those bahkan
bukan 10%
bahkan not the top 1%. Actually how I
see this? Kita kan sering banget ya
mikir mikir tuh begini nih. Kalau
misalnya kita ngomongin keuangan orang
kan piramida kan orang kan sering bilang
kan
ini misalnya top 1% ya kan terus sisanya
99% nih ini kan top 1% s 99% I don't
believe it's like that
I believe this is the 99%
I'm not a macroeconomist this is just
how I see things ya ini sudut pandang
pribadi aja gituah meaning yang di sini
ini tuh enggak ada sebenarnya
So, we pick kita mau ngomong ke orang
yang sini atau ngomong ke orang yang
sini. Masalahnya kalau kita jual low
tiket, kita akan ngomong ke orang yang
sini. Ketika kita ngomong ke orang yang
sini, kita harus menyesuaikan persepsi
kita ke orang yang sini. Cara ngomong
kita jadi kayak begitu. Cara berdandan
kita jadi ngomong kayak gitu. Kita jadi
perlu memperlihatkan sebuah persona yang
mungkin kita enggak mau, tapi mereka
suka. Jadi kita melakukan hal tersebut
gitu loh.
You don't see a Ferrari parked outside
because I don't have a Ferrari. But I
don't need a Ferrari to convince you
guys to come here because you don't see
my value from the Ferrari. Kebayang gak
sih? That's how the 1% things kan.
Basically,
we don't think about the material needs.
Di sini ada banyak orang-orang yang jauh
lebih sukses dari gua. Revenya lebih
tinggi dari gua. Itu gue yakin ada man
di sini. Tapi kalian masih ke sini gitu
loh to learn together ya. Karena we
speak the same language di sini. And
orang yang di sini enggak mikin dream
outcome yang gila-gila. Wah beli Ferrari
R miliar pertama enggak. Ini orang-orang
di sini udah lewat R miliar gitu loh.
Ngerti enggak sih maksud gua?
Pilihannya kita mau ngomong ke orang
sini atau ke orang sini? Nah, I choose
to speak only to here. Tapi untuk kita
ngomong ke sini ada strateginya. which
is this.
Makanya kita harus ngerti yang namanya
tofu mofubov.
Kalau misalnya kita ngomin high ticket
sama 1%
itu tuh di sini mainnya
Movu sama Boofu. Tapi kalau misalnya
kita ngomongin the top eh the bottom 99%
itu mereka di sini semua
boleh ini baru mau jelasin. Nah, jadi
gini
contoh ini kan top of funnel ini middle
of funnel ini bottom of funnel.
Fungsinya ini
adalah awareness nih.
Ini awareness yang sinifu. Orang dari
enggak tahu kita jadi tahu kita.
Followers banyak tuh di Tofu nih di sini
nih. Nah, Movu itu adalah orang
interest sama desire ya. Ya, Guys.
Masuknya ke sini.
Ini ibaratnya kita panggilnya
YTTA aja. Yang ini nih Movu YTTA aja.
BOVU itu
adalah orang yang beli,
yang bisa beli produk kita. Nah, bedanya
di di mana? Bikin kontennya beda banget.
Kita mau nge-attract ini sama kita mau
ngetrack ini tipe kontennya beda,
semuanya beda. Contoh, kita bikin konten
TO Mar, kita bikin konten TOfu. Tiga
tips produktif yang bisa bantu kamu
kelarin kerjaan 8 jam hanya dalam 4 jam.
itu tofu tuh semua orang mau dari
bisnisman, dari mahasiswa dari ibu rumah
tangga dari orang yang kerja kantoran
semua mau. Kenapa? Ke capture banyak
banget.
Tapi masalahnya dengan konten TOVU ini
yang sering tidak terjadi adalah ini.
They don't give us
qualified leads. Mereka enggak ngasih
kita qualified leads di sini karena
sifatnya kontennya terlalu broad gitu.
Nah, itu untuk si Tofu. Makanya itulah
alasan kenapa most of my content itu tuh
di sini. Nanti akan ada statistiknya
juga. You will see views peractivity itu
all time high low. Eh, all time low,
tapi review ini lagi menuju all time
high lagi gitu loh.
Karena we speak here. But kita lihat ane
Movu sama Bovofu tuh di bawahnya Tofu
ya, Guys. Awareness kan datangnya dari
sini. Kebayang ya?
Ya, makanya kadang-kadang kalau mau
diselipin ini bagus juga. Kenapa? Karena
it trickles down.
Orang dari sini akan turun ke bawah.
Bedanya kadang-kadang movu tuh jadi
tofu. Kebayang enggak sih maksud gua
Movu tuh jadi tofu most likely. Tapi
seringkiali orang tuh datang dari sini.
Nah, makanya kalau misalnya kita
ngomongin ke sini, "We speak to the
99%." Tapi enggak apa-apa karena bisa
jadi di 99% itu tetap ada 1%-nya gitu
loh. Jadi diselingin aja enggak apa-apa.
Tapi kalau misalnya if I focus right
now, this is my 8020. Jadi this is my
20% that gives me the 80 80% of results.
Itu tuh di Movus sama Bi. Kenapa? Karena
mainnya high ticket. Kebayangan
any question cukup ya? Boleh Ram
to know your thoughts. Ini hanya works
di
akun yang emang tofunya udah ada atau
if the case the the account is still
zero and then they don't have any tofu
kontennya itu akan sampai gak ke si
sampai?
Oke. Kalau gua jadi kalau gua enggak
bangun productivity boy productivity boy
hilang gua bakal langsung mulai dari
Movubovu kalau gua main high ticket ya.
Oke,
lebih enak karena yang kebangun justru
demografinya sama algoritmanya udah
lebih bagus karena langsung e langsung
high qualified prospek. Tapi yang bikin
jadi proactiv itu bermasalah kenapa
makanya viewsnya tuh jelek banget jadi
jomplang justru tuh bisa bertolak
belakang tahu kalau gua mengedukasi
kalian kalian bisa ngelihat Ram sekarang
views lu aja jomplang mau ngomong apa
ngapain lu ngomong di depan kita semua
kan sekarang views lu lagi jelek gitu
loh ngerti enggak sih? Nah, jadi bisa
bertolak belakang nih gua pakai strategi
ini sebenarnya kalau misalnya gua mulai
dari nol sebenarnya itu ideal. Jadi, it
grows along. Sebenarnya emang paling
enak strategi gua. Gua tuh bikin akun
baru sebenarnya paling enak. Gua mulai
dari nol lagi tapi gua mikir kalian
semua follow gua di productivity boy. Ya
udah productivity boy aja langsung. Nah
gitu. Tapi jawabannya yes. It can work
in a new account. Trafficnya dari mana?
Organic content sama ads content.
Yang penting lu ngerti kontennya bagus
atau enggak. Itu dulu skill-nya harus
ada. Ini konten bagus. Kalau misalnya lu
tahu ini bakal bisa nge-hit dan lu
ngomong konten yang bisa ngadress
painpoint ICP lu, ideal customer profile
lu, busa aja. Berarti enggak ngaruh ke
waktunya, Ram. Maksudnya waktu yang
dibutuhkan untuk conversion itu enggak
ngaruh ya antara akun yang udah Do you
get what I mean?
I get what you mean. Ngaruh. Ngaruh.
Is it longer for new account?
Anything sebenarnya? Everything is about
trust. The reason why you know how easy
it is to sell this this mastermind 2
hari sold out.
Why? Because I buil the trust over three
years. Kebayang maksud gu.
Andrew ini semua warm prospect. Eh, ini
semua hot sama warm prospect. Tinggal
gua toel dikit percaya gitu loh. That's
the power of time gitu Rik. Tapi kalau
misalnya kita mulai dari nol bisa
enggak? Bisa hanya lebih lama aja.
Kenapa? Karena edukasinya kita lakuin
langsung.
Bukan sebelumnya. Kalau sebelumnya kan
udah teredukasi,
tapi kalau kita baru, kita jadi butuh
waktu buat mengedukasi mereka aja. Gitu
aja sih. Anything else?
Ini good topic by the way. Thank you.
Enggak untuk semua orang.
You will need time for this to be
honest.
You will need time. Tapi the thing is
makanya bisa kita delegate,
kita bisa bangun tim juga. customer
success, video editor,
udah selesai. Kayaknya dua-dua itu cukup
deh kalau kita mau bangun high ticket
bisnis. Jadi yang nanganin klien tim
kita satu orang, kita muncul sesekali.
Nah, itu nanti high ticket tuh ada
structur-nya juga. Apakah itu one ones
group one on coaching, grup coaching
beda juga. Umar sudah paham betul. Nah,
itu tergantung nanti kita
ngestrukturinnya gimana. Habis ini kan
ada personaliz session, kita bisa
ngomong-ngomong lagi gitu. Tapi bukan
buat semua orang. Yes. Bukan buat semua
orang.
Eh du
itu apakah perlu ngalami fase yang
itu fase dan for you dulu gitu bikin.
Nah itu yang gua lihat kan di
VC gitu kan ya. Mungkin dari gua jawaban
cepatnya enggak tapi karena gua ngalamin
itu gua jadi bisa ngambil angle.
Kebayang gak? I freaking clos my agency
yang all time high so that I can build
this bu a good marketing material.
Rama agya. eh hit lebih dari 50.000 USD
per month. Tapi dia nutup itu semua buat
ngebangunin yang baru. Wah, berarti ini
next big opportunity yang lebih bagus
dong daripada bisnis 50.000 USD per
month gitu loh.
Tapi mungkin enggak kalau kita skip yang
done for you apa emang harus sih
sebenarnya?
Eh, enggak apa-apa diip. Kalau misalnya
gua bisa mulai gua skip langsung.
Ngapain gua agency?
Enggak ketawa tuh dia udah jing Ram lu
ngapain bikin agency sih gitu kata El.
Tapi gini Jar, I wouldn't trade the
experience. Gua belajar banget di
agency. Dan one thing ini kayaknya aku
pernah share ke Anda juga. The thing
that I'm most grateful about of the
agency is the people I meet. Kalau gua
gak bikin agency kemarin, gua gak akan
bisa ketemu sebanyak orang itu. Karena
literally kenapa gua close agency? Kayak
gua udah e gua udah e complete all the
checklist deh of the ideal customer
profile yang gua bisa serve. Gua udah
mulai serve dari content creator. Gua
udah mulai serve dari entrepreneur,
founder, founder. Konglo udah,
politician juga udah. Gua mau serve
siapa lagi?
Kayaknya udah hit the ideal customer
profile punya ceklist deh. Game over
deh. Yuk kita move ke yang lain gitu.
Simply. Karena itu kayak belajarnya udah
cukup deh.
Itu berarti sebenarnya untuk dapetin
terust kan di situ. Nah, kalau untuk
yang kita mungkin
enggak pakai agensi langsung itu
terustnya gimana gitu. Kan kita
sebenarnya jualnya low low low low aja
gitu. He.
Dan gimana cara dapetin supaya terasa
lebih tinggi di high ticket ini gitu.
Perception. Kita bahas sampai sini ya.
Oke,
next material.
Oke,
kita lanjut dulu ya, Guys.
Nah, it's a game of perception. Kenapa?
Karena kita udah enggak perlu main
volume lagi. Satu sale high ticket itu
tuh kayak 100 low ticket. Coba bayang
ya.
Satu high ticket itu 100 low ticket. We
100x your business with so much
leverage. Kalian udah punya course-nya,
tinggal kalian tambahin pendampingan.
Jadi, man gitu jadi gitu. More margins,
more peace. And we create leverage with
this. This is the proof. Yang kayak gua
bilang, guys, tadi all time lu nih
6.000, 2.000, 3.000, 5.000.
Banyak alasan. Satu, karena emang bovu
banget. Movu-bofu banget. Alasan kedua,
karena bahasa Inggris semuanya full
English. Why do I use English? Because I
want to talk to people. Gini deh, orang
yang bisa bayar R juta pasti orang yang
bisa ngomong Inggris dong. Most likely
gitu loh.
Most likely
enakin skill to US juga.
That's why I use English and that's why
I use USD punya ini gitu loh.
Jadi satu karena emang movu, dua emang
karena Inggris, ketiga emang karena su
productivity bo udah 6 bulan kagak
ngonten gitu [tertawa] karena gua
ngurusin klien-klien yang lain kan.
Jadi, gua baru mulai ngonten lagi. Tapi
balik lagi, benar ya, ini semua dari
high ticket sales ini nih.
Ini btw down payment, partial payments,
eh semua down payments, partial
payments. Ini dulu kita lihat ya. Bedain
ya. Ini views-nya nih beda nih.
5.000 nih
tiketnya segini.
Yang dulu views-nya mm ya. Gue juga
ngerti cara bikin konten viral aja cuman
gua udah enggak mau nge-viralin kok.
Jadi, it's intentional nonvirality. Apa
sih [tertawa] pokoknya gua secara
intensi gua emang sengaja bikin enggak
viral. Kenapa? Karena main movubovu.
Tapi kalau mau bikin konten viral bisa
tinggal gua bikin aja. Cara memanipulasi
orang supaya mereka ngerti sih bikin
konten-konten gue yang kayak dulu gitu
loh. Iya, engak, Dru? Atau enggak gua
tinggal bikin konten lagi. Ini adalah
satu lagu yang bisa bikin kamu tertidur
hanya dalam 1 menit viral. Itu fix fix
11 m, 4 m, 1 m, 1 m sealsnya begini.
Flow blueprint.
Malas banget, Men. Rp250.000.
Yes. Strukturnya punya struktur
atau strateginya secara teruk enggak
untuk tadi ya konten yang sama
ada.
Kita bahas sedikit ya.
Basically sebenarnya kalau misalnya tofu
kita tuh balik lagi ke tadi kita ngejar
awareness. Jadi kita bikin segeneral
mungkin
bikin painp. Nah gini kuncinya di sini
painpnya besar
solusinya gampang. Ini kalau boleh
dicatat catat. Painpinnya besar
solusinya gampang. Kalau misalnya movu
bovu apalagi bovu painpnya spesifik
solusinya spesifik gitu. Itu doang
kebayang ya. Karena orang yang tofu
mereka pengin masalah besar cepat-cepat
selesai. Instant gratification tuh
mainnya. Tapi kalau misalnya orang yang
e mainnya itu tuh udah e bfu, mereka
bakal mau spesifik dan spesifik. Kenapa?
Karena mereka ee butuh cepat dan enggak
mau ribet. Gua bayar mahal enggak
apa-apa, yang penting cepat gitu loh.
Karena gini, kita tiba-tiba atap bocor.
Atap bocor ada dua, ada dua solusi.
Lu nelepon orang suruh kelarin, bayar
mahal enggak apa-apa atau enggak lu
belajar kas orang yang enggak bisa
datang kasih gua instruksinya gua urusin
sendiri gitu. Enggak mungkin lu
beli-beli course Rp300.000, lu pelajarin
dulu 11 jam itu udah keburu rembes nih
rumah gitu loh. Kurang lebih gitu. Makai
specificity specificity.
Oke, so you guys have watched the mov
breakdown video that's made by Rama. We
want to just add a little bit of more
insight and
little deep dive on the content creation
on this Tofu Movu boofu. Jadi eh seperti
yang kita tahu tofu movu bovu ini untuk
kedalaman dari audiens kita dan proses
dan tujuan dari setiap konten yang kita
buat itu akan berbeda. Nah, untuk di
tofu yang kita buat itu mostly adalah
inside education atau lebih ke inside e
ditambah dengan edukasi.
Jadi yang biasa yang ditargetkan adalah
untuk audiens yang masih belum problem
unaware dan problem aware tapi belum eh
tapi belum punya awareness kalau ini ada
solusinya.
Nah, untuk MOVU itu contoh eh kita lebih
ke arah case study system. Jadi mereka
udah solution aware tapi masih belum eh
solution unaware dan belum tahu nih jadi
untuk menyelesaikan ini proses untuk
mendapatkan solusinya seperti apa. Nah
dan untuk kita sebagai yang menjual high
tiket konten-konten paling banyak akan
kita buat adalah di sini di Movu dan
juga di Bovu. Nah, contohnya contohnya
konten Movu seperti apa? konten podcast
dengan klien untuk breakdown masalah
dia. Eh, konten yang mungkin kalian
teman-teman juga pernah lihat ada di
YouTube. Eh, kalau teman-teman pernah
lihat ada di YouTube eh Productivity Boy
ini breakdown eh Hight road map ini.
Lalu ini, ini semua konten MOVU karena
ini adalah untuk eh kita membuat konten
untuk ngcase study bagaimana proses kita
dengan klien. konten MOVU tujuannya
adalah supaya klien, supaya calon klien
ee calon leads kita ini tahu bagaimana
rasanya, bagaimana prosesnya untuk
bekerja atau ee dilatih atau coaching
atau mengikuti program kita. Sedangkan
yang terakhir ada konten bovu atau
konten sales e testimonial untuk orang
yang udah solution aware. Jadi
orang-orang ini udah paham eh calon
klien kita ini udah paham kalau problem
mereka ini apa dan ada solusinya apa aja
listnya dan mereka yang mereka perlukan
adalah yang mana yang harus mereka
percaya, yang mana yang harus mereka
pilih. Nah, di sini jadinya kita harus
buat ee lebih ke arah sales dan
testimonial. Kenapa? Karena di sini
mereka akan melihat orang-orang seperti
apa yang menjadi klien kita dan sukses.
Jadi, apakah mereka ini bisa mereka ini
bisa merasakan dan mereka bisa jadi
meng-gouch apakah kita cocok untuk
mengajar atau membantu mereka
menyelesaikan masalah mereka atau
enggak. Di situlah konten Movu eh konten
bovu makanya itu lebih banyak ke arah
sales dan testimonial.
E begitu aja tambahan singkat dari gua.
Good luck.
And for the next master class, this is
one of my favorites. This is one of our
value creators classic. It's idea
generation masterclass. Mungkin beberapa
dari kita pernah mengalami fase yang
namanya creative breadth atau misalnya
writers block atau creative blog dan
segala macamnya. Itu normal banget buat
kita mengalami hal tersebut. Apalagi
kalau misalnya kita ngonten setiap hari.
Nah, sekarang pertanyaannya kalau
misalnya kita udah kehabisan ide nih,
gimana cara kita bisa menghasilkan ide
yang unlimited? Gua punya metodenya dan
di sini kita bisa mengubah satu ide jadi
del angle ID yang berbeda. And I'm very
excited to share it to you. So, welcome
to Idea generation master class. Oke,
Teman-teman, let's get to the point.
Jadi, Teman-teman, hari ini kita bakal
ngebahas soal idea generation angle
twisting. Why this is important? Karena
the power of ideas itu teman-teman semua
tahu ya. Jadi, kalau misalnya kita
tarik, kalau misalnya kita tarik
konten itu kan konten kan ada the
content output-nya. Terus yang mereka
lihat pertama-tama tuh apa? Video
editingnya. Sebelum video editing mereka
lihat apanya? Script-nya ya kan kita
nulisnya gimana. Sebelum script apa
hook-nya? Hook-nya bagus atau enggak?
Sebelum hook-nya ada idenya. Nah, jadi
sebenarnya idenya adalah proses pertama
tapi paling krusial. Karena kalau
misalnya kita gua udah sering banget
ngomongin teman-teman mau konten lu
video editingnya sebagus apa, script
writingnya sedewa apapun. Tapi kalau
misalnya idenya enggak market fit itu
enggak akan bisa nge-generate the
results that you want. Jadi, ID is
actually very important in this case.
Nah, the power of winning idea itu tuh
akan bisa ngebawa konten kita jadi
winning content. Nah, ketika kita punya
winning content, enaknya adalah kita
bisa pakai terus. Jadi, ketika kita tahu
nih kita lagi butuh ng-boost sesuatu
yang penting, itu pasti akan naik
views-nya, pasti akan viral dalam tanda
kutip. Contoh, kalau misalnya kita lagi
ada promo atau kita lagi mau ng-launch
kelas atau kita lagi mau ng-announce
sesuatu yang penting, pasti kontennya
akan naik. Kenapa? Karena itu winning
content. Nah, that's the part of winning
idea. Dari winning idea bisa jadi
winning content. Makanya kalau misalnya
eh teman-teman yang udah follow gue dari
cukup lama pasti tahu kalau misalnya gua
tuh beberapa kali suka pakai konten yang
kayak gini nih. Hook-nya nih. Cara
memanipulasi bla bla bla ya pasti sering
lihat ya. Pasti sering lihat. Kenapa?
Karena itu udah winning. Jadi gua tahu
kalau misalnya gua pakai konten itu gua
kemarin testing guys. Kalian bisa cek di
reels gua. Gua kemarin testing, gua
pakai hook yang sama, enggak ada muka
gue, cuman pakai full broll. Masih,
masih hampir 1 MV ya. Literally masih
hampir 1 MW diels. Jadi kan terbukti ya,
jadi dari idenya udah bagus pasti
hasilnya akan bagus. Nah, ketika ini
terjadi ini tuh akan bisa ningkatin
konten bank kita dengan sangat luar
biasa. Purpose-nya itu tadi ya buat make
sure kalau misalnya kita ngupload itu
pasti viral. Nah, sekarang pertanyaannya
kalau misalnya kita udah punya konten
kayak gitu, gimana cara kita ngwistnya
supaya orang enggak bosan? Ya kan? Kalau
misalnya dia ngelihat cara memanipulasi,
cara manipulasi terus terus terus terus
terus orang juga capek jenuh. Akhirnya
dari yang tanya viral jadi enggak viral.
Nah, gimana cara kita nge-quis itu
supaya bisa tetap viral terus gitu. Ada
tiga cara teman-teman. Ada tiga cara gua
chat ya.
Yang pertama adalah reuploading. Yang
kedua adalah repurposing.
Yang ketiga adalah angle twisting. Kita
akan bahas masing-masing dikit-dikit.
Reuploading itu apa? reuploading itu
adalah ngebahas the exact same content,
the same exact script. Tapi bedanya
jangan di-upload. Maksudnya reuploading
adalah konten dengan script yang sama,
tapi diretake, diedit ulang supaya at
least ini Pram enggak usah enggak usah
di spotlight video gua. Eh, ya. Jadi,
Teman-teman, reuploading itu bukan
konten yang udah ada kita download lagi,
kita upload ulang. Enggak. Tapi konten
dengan script yang sama kita take ulang,
kita edit ulang supaya at least kalau
scriptnya sama tapi viben-nya beda itu
most likely akan hit. That's what I'm
doing with my content this week. Jadi
teman-teman nanti bisa ngelihat konten
gua dari yang lama banget gua coba di
purpose nih eh gua coba diupload pasti
hasilnya sama pasti tetap viral gitu.
Satu reupload. Kedua adalah repurposing.
Repurposing itu adalah we taking the
same content tapi kita beda. Contohnya
kita punya kita bikin jadi karusel.
Kita punya karusel, kita bikin jadi
thread. Kita punya thread, kita bikin
jadi read caption. Tahu gak sih yang
video yang kita sering bikin belakangan
ini? Pada pada mirip ya video semua ya
yang kayak [tertawa] tak tak tak read
caption. Kita bisa bikin kayak gitu ya.
Jadi repurposing itu the same content
kita kemasnya berbeda. Nah, that is for
repurposing. Nah, yang terakhir which is
angle twisting. This one is my favorite
Teman-teman. Karena we literally can
twist one idea into eight different
content. Oke, so I'm gna share to you
what it looks like.
Nah, Teman-teman, aku bakal share ini
juga ke Teman-teman semua. Ini aku
share-nya view only ya. Jadi, nanti
teman-teman bisa make a copy. Oke, ini
template-nya.
Nah, Teman-teman,
let me show you something cool. This is
how we can twist one contents.
Jadi, Teman-teman, kalau misalnya kita
ngomongin content creation
yang kita bisa twak tu angle-nya.
Jadi, satu ide kita bisa bahas dari
beberapa sudut pandang yang berbeda itu
akan melahirkan konten yang jauh berbeda
gitu loh. Contoh, kita go terus
satu-satu dulu ya. Angl-nya tuh ada apa
aja?
Tamb punten minta tolong di zoom.
Oh, diperbesar. Yes.
Oke. Kelihatan kekecilan.
Ibu Bos minta dizoom. Baiklah kita zoom,
guys. Oke. So, the first one actionable.
Actionable itu adalah how to. Ini adalah
tipe-tipe konten gua. Tipe-tipe konten
Bandoro nih. Tipe-tipe kontennya Fata,
tipe-tipe kontennya Putra gitu ya. Jadi
ini adalah how to actionable. cara bla
bla bla supaya bla bla bla kita tahu
dream outcome-nya apa, cara melakukannya
gimana ya kan atau enggak misalnya
teman-teman pasti pernah lihat kayak
tiga cara supaya bla bla bla. Nah, itu
how to itu actionable. Kenapa? Karena
setelah mereka nonton video ini mereka
tahu apa yang harus mereka lakuin.
Itu angle pertama.
Angle kedua adalah inspirational.
Inspirational itu contohnya kayak
gimana? Kayak kontennya Zia ya kan?
Kayak kontennya Rohman.
Nah, itu inspirational gitu. Jadi, we
inspire people to take action based on
our stories or personal experience atau
lessons. Kita belajar apa, kita share.
Ini pembelajaran gua setelah bla bla bla
bla. Hasilnya begini loh. Gimana kalau
misal lu yang lakuin? Nah, itu
inspirational tuh contohnya. Angle
kedua. Angle ketiga adalah analytical.
Pernah ngelihat orang bikin konten
ngebahas brand enggak? Ya kan? Misalnya
analytical tuh kayak gini, belajar
marketing dari subway, belajar marketing
dari pizza H atau enggak misalnya cara
bikin konten yang bagus dari Kabilim.
Kabil kan content creator TikTok yang
tinggi banget ya views-nya eh
followersnya. Atau enggak misalnya hal
luar eh hal yang membuat Blackpink
berbeda dari eh K-pop K-pop Girl Group
lainnya gitu. something like that. Jadi
kita menganalisa sesuatu yang sudah
terjadi. Kenapa mereka bisa menjadi
seperti itu. Ini bisa people, bisa
orang, bisa brand, bisa company,
organisasi, dan lain-lain. Apapun yang
related ke nich kita. Atau enggak ini
contohnya gini nih. Misalnya ini adalah
teknik pernapasan Wimhoh. Nah, itu
konten gua pernah bahas tuh. Mungkin
teman-teman tahu Wimhoh. Jadi, Wimhof
itu kan Icem ya. Jadi, orang yang bisa
Nah, ini juga eh Mike bilang copywriting
IKEA. Nah, gitu tuh. Itu analytical.
Nah, di antara ini semua favorit gua ini
teman-teman pasti tahu negative atau
pain ya. Stopping people attention by
leveraging negativity. Kita semua tahu
bahwa manusia itu tuh lebih ketrigger
sama hal-hal yang negatif daripada hal
yang positif. Kita tuh lebih gak suka
kehilangan sesuatu daripada kita bisa
mendapatkan sesuatu. Triggernya beda,
fear of lossnya jauh lebih tinggi. Jadi,
yang kita bisa lakuin adalah kita
ngebahas hal-hal dari segi aspek yang
negatif.
Cara supaya kamu enggak insia.
Ini kita misalnya ngomong soal tidur ya.
Nih, ini ini gampang bangetnya aja lah
ya teman-teman ya. Kamu enggak mau
insopnia lakuin ini gitu kan. Positifnya
gimana? Kalau misalnya ini kan negatif,
ini positif gimana mau tidurnya? Nah,
lakuin ini tinggal kita twist begini.
Ini hook yang berbeda, ide yang berbeda,
Teman-teman. Tapi
sama topiknya benar enggak tidur
nyenyak. Yang satu ngebahas fear-nya
supaya mereka insomnia. Yang nextnya
ngebahas dreamnya mau tidur nyenyak,
tidur cepat gitu. So that's the
difference. Positif itu adalah apa yang
kita ingin dapatkan.
Nah, kalau misal opposite itu adalah hal
yang kebalikan dari statusku. Misalnya
kita biasa makan pakai tangan tapi ada
orang makan pakai kaki. What the heck
gitu kan. Ini apa tiba-tiba orang makan
pakai kaki gitu kan. Nah itu different
statusku. Kalau misalnya kita ngebahas
kayak gitu pasti viral. Nah itulah salah
satu alasan kenapa flow zone blueprint
itu viral. Kita ngomongin time
management ya.
Contoh time management.
Stop belajar time management
karena ini bullshit kalau kamu enggak
tahu ini. Nah, ketika gue ngomong kayak
gini
ini ads-nya performingnya gila banget
sama organiknya performnya gila banget.
Kenapa? Karena ibaratnya fata apa sih?
Can really this dan bisa validasi ini
productivity. Kalau misalnya kita
ngomong productivity hal pertama yang
nyantol di kepala orang tu apa? Pasti
time management kan. Gimana cara kita
bisa mengatur waktu. Ketika gua ngomong
stop belajar time management ini
bullshit. Gua tuh kayak nyari perang
semua orang yang ada di industri
productivity gitu kan. Jadi kenapa itu
ngena banget? Karena opposite atau nama
lainnya contrari. Kita mengambil
unpopular opinion. Nah ya. Jadi ini
adalah unpopular opinion, Teman-teman,
gitu. Misalnya Bandoro e ngomongin soal
anxiety gitu ya. Eh kan ada medikasi,
let's say eh enggak tahu ya, ada enggak
sih anti anxiety medication gitu kan.
Kan misalnya ada obat yang bisa nurunin
anxiety anxiety kita entah ng-repress
flat or flat atau apapun itulah I don't
know for sure. Tapi pasti ada
obat-obatan ini nih. Terus Banduro
bilang, "Jangan minum obat ini nih
karena enggak guna dan buang-buang duit
pasti viral ya kan orang biasa minum
obat itu kok. Kenapa tiba-tiba gua lu
nyuruh gua enggak minum obat itu." Nah
itu yang kayak gitu-gitu itu opposite
contrari ya. Nah lalu kita lanjut ada
next. Next-nya itu adalah observation.
Observation itu adalah sesuatu yang kita
observe dan kita ceritain ke audience
dan itu bisa namain value
gitu. Nah, ada ada yang mau dicontohin
enggak? Ini ini btw ini gua live ya
semua ya. Jadi ini apa yang ada di
kepala gua langsung gua tulis nih. Jadi
ada yang mau dibikinin konten enggak?
Langsung nih komen dong. Komen dong
[tertawa] komen. Ada yang mau dibikinin
konten enggak? Gua bikinin
mumpung live guys.
Ayo Sara ya. Finance ya. Kita mau
ngomongin apa Sara? Finance
apa ya? Berhemat misalkan.
Oke, misalnya finance atau hemat
ternyata ini adalah rumus hemat.
Nah, kenapa kayak gini itu eh kita sebut
observation? Kata kunci observation itu
ada di mana, Teman-teman?
Coba deh yang membuat ini observation
tuh ada di kata yang mana? Ada yang bisa
tebak enggak? Yang membuat ini
observation? Coba deh, apakah ternyata?
Apakah ini? Apakah adalah? Oke, kalau
Sara bilang ternyata ya, unfortunately
salah Sara. Teman-teman, ada yang tahu
enggak ini bisa menjadi content
observation karena keyword yang mana?
Apakah adalah rumus hemat yang bikin gue
bisa nabung atau yang mana?
Fata bilang gue bisa nabung. Vine bilang
dalam 5 tahun.
Yes.
Sara sama Fatah benar. Karena ada kata
apa? Ada kata gue.
Gue itu menandakan bahwa gue sudah
melihat atau sudah merasakan ini. Jadi,
it comes from a personal experience.
When we talk from that lens,
Teman-teman, ini menjadi konten yang
personal dan observasional jatuh. Nah,
jadi kalau misalnya next time
teman-teman mau bikin konten yang
observational bisa pakai kayak gini
gitu. Next kita bahas kita sor ini gua
salah harusnya di sini A versus B. Nah,
ini salah satu gua juga. A versus B itu
adalah misalnya nih kita ini ya
yang paling gampang food lah. Let's say
contoh
McD versus Burger King menang mana gitu
kan. Let's say saham versus crypto kalau
misalnya Sarah menang mana gitu kan.
Let's say kalau misalnya mic content
writing versus copywriting lebih cuan
yang mana gitu kan. Let's say kalau
misalnya
kalau misalnya Fata gitu ya.
lebih mending konsistensi atau
intensitas gitu kan. Something like that
gitu. Nah, jadi itu yang eh A versus B.
Jadi kita harus tahu yang mana yang
lebih bagus di antara kedua ini kita
kasih alasannya. Nah, yang terakhir
teman-teman kalau misalnya Teman-teman
lagi malas ini semua tuh butuh riset dan
butuh mikir. Kalau misalnya teman-teman
lagi malas yang paling enak adalah ini.
List. List itu apa? List itu let's say
ini productivity ya.
Paling enak tuh gini. Ini pasti bikinnya
enggak nyampai 1 menit. Lima buku yang
mengubah
ya patah ya Zia ya. Jadi ini udah paling
gampang di apapun bisa productivity bisa
aja bilang lima buku yang mengubah hidup
gue gitu kan. Atau enggak kalau misalnya
di keuangan lima e lima bisnismen yang
mengubah sudut pandang gua terhadap uang
gitu kan misalnya. Atau misalnya
Bandoro.
Em, gua mau ngomong lima breathing
teknik, tapi enggak breathing teknik
juga gitu. Misalnya lima fakta tentang
anxiety yang harus kamu tahu. Apa yang
membuat ini list? Karena ada angkanya di
sini ya. Jadi 4 5 7. Nah, biasanya kalau
misalnya kita ngomongin list enaknya tuh
5 sampai 7 teman-teman gitu. So, that's
what we normally do here ya. ini gua
gua duplicate dulu supaya ini kita bisa
hapus.
So, that's pretty much it for what I
would like to share. Jadi, ini adalah
yang bisa kita lakukan teman-teman untuk
satu konten kita twist jadi delan konten
yang berbeda. So, now I'm going to
demonstrate satu topik nih. Tadi kan
cuman kita pecah-pecah nih topiknya. So,
give me a topic yang teman-teman mau
bahas deh. Kalau misalnya mau missnya
masing-masing juga boleh. Tapi chat aja
topiknya mau apa nih? Nanti kita bahas
satu topik kita tulis jadi angle yang
berbeda-beda. Karena kan tadi
topik-topiknya beda-beda ya. Nah, ada
yang mau request enggak topik apa?
Kita langsung bikin live bi are improm
to
positive psychology.
Oke, Teman-teman ada yang tahu positif
psychology enggak? By the way,
V coba dong jelasin ke teman-teman dulu
positif psychology apa?
Aduh. Jadi sebenarnya singkatnya itu
adalah kalau yang ee psikologi pada
umumnya yang terkenal itu kan psikologi
tradisional di mana ee psikologi itu
terlihat untuk merubah atau menyehatkan
orang-orang yang tanda kutip sakit gitu
kan. Di mana kalau positif psychology
itu adalah eh bro kita kan enggak
semuanya sakit ya gitu. Eh, ini nanti
akan jadi konten sih, tapi ya jadi
contohnya kayak kalau orang-orang kalau
sakit ke dokter gitu, tapi kalau eh
positive psychology itu lebih kayak oh
ini vitamin-vitamin yang bisa lu e
pakai. Jadi lu sebenarnya enggak enggak
sakit sih, tapi lu bisa menjadi diri lu
yang lebih optimal lagi. Nah, positive
psychology itu lebih ke situ. Oke, sip.
Thanks, Vine. Eh, specifically about
positive psychology kan cukup broad ya,
I mean ya, karakter, strength lah, flow
lah.
He.
Ada spesifik enggak yang kita mau bahas?
Em,
well, sebenarnya sih kepikirannya pas
awal-awal ini memang buat mengenalkan
positive psychologinya aja sih. Emang
kayak jadi emang cukup broad, tapi
karakter strength boleh
ya. Karakter strength ya. Karakter
strength itu apa coba?
Karakter strength itu adalah bahwa
jadi kayak nge-quisin ya. Ini pasti
teman-teman tahu ya V ya.
Iya. Iya enggak apa-apa. Bagus.
[tertawa]
eh character strength itu jadi ee bahwa
setiap manusia itu ya gimana ya pada
dasarnya punya 24 dasar kekuatan lah
yang maksudnya ini udah pakai riset dan
lain-lain ee pakai latar belakang apapun
dan lain-lain. Ini ada 24 kekuatan yang
semua orang punya kok. Jadi ini tuh
kayak misalkan kalau yang terkenal ee
apa ya, MBTI atau apa gitu-gitu kan
kayak orang oh manusia seperti apa dan
lain-lain. Nah, kalau karakter streng
ini semua orang nih punya nih 24
kekuatannya. Jadi bukan yang kayak ee oh
berarti nomor 24 tuh yang paling eh lu
jadi enggak punya gitu karena itu di 24
enggak kayak kita punya semuanya. Dan ya
sebenarnya lebih baik kalau kita ee
memperhatikan
seluruh 24-nya ya karena berguna
semuanya gitu. Kayak pemain bola kalau
Kak SW suka ngomong ya. Main bola kan
yang cadangan juga dilatih ya gitu.
Ibaratnya kayak strah ya. Jadi kekuatan
ya kita ngebahas itu.
Oke sip. Actionable-nya nih kita ngg ya.
Jadi topik karakter str kita coba twist
jadi delan topik yang berbeda ya. Kalau
misalnya actionable paling gampang gini
cara
misalnya something like this we can do
it cara menjadi versi terbaik dari diri
kamu. Kenapa? Karena kita nglist down
how we can become the best version of
ourself gitu ya. Nahiral
based on inspiring people gitu kan.
Eh,
oh sor ini alasan kenapa
something like this. Eh, Vine, ini
adalah alasan kenapa Michael Jordan
misalnya menjadi atlet paling dikagumi
sepanjang masa. Karena ada misalnya dia
relynya on his character strength gitu,
bukan his weakness gitu kan. Something.
Nah, analytical.
Oke, analytical. Let's say
company.
H ini gua asal aja ya. H
menerapkan satu
misalnya ini kita ganti deh
ada tua ya misalnya TikTok menerapkan
satu heksikologi Ini yang membuat mereka
jadi perusahaan nomor satu di 2024.
Something like that. Ini btw datanya
ngasal ya.
H
negative pain. Negative pain. Stopping
people's attention by leveraging their
negativity bias. Nah, kita harus
identify dulu fearnya apa, dreamnya apa.
Like we always know, gitu kan.
e eh
rahasia tanpa
Misalnya something like this.
Bentar. Btw, ini kita wrap dulu biar
ini agak agak sedikit strong sih, tapi
ini contoh aja ya, V ya. Misal
kalau kamu enggak lakuin ini maka kamu
akan depresi seumur hidup. Kalau
misalnya kamu enggak jadi kita
ngeportray kalau misalnya lo enggak
ng-develop karakter strength lo ya lu
enggak akan bisa begini gitu.
Kalau misalnya kita mau jadi orang yang
tahan banting ya tanpa tanpa harus ke
psikolog ya kita bisa leverage our
character str something like that gitu
kan. Nah
ini ini agak sedikit opposite ya.
Nah, iya sejurnya memang lagi mau
ngegodok konten yang hook-nya mungkin
kayak ngapain psikolog enggak guna gitu,
tapi agak ya iya ya kayak gitu.
Nah, gitu. Nah, jadi something like
that.
Oke. Misalnya ya ee
dep eh
apa ya? A versus B ya yang enak ya.
Hm.
P misalnya yang gampang banget ya.
Psikolog psikologi positif apa psikologi
kuratif ya.
Eh tradisional sih ini omongin heeh
tradisional
gitu. Something like this gitu kan. Ini
misal tujuh cara supaya kamu bisa jadi
pribadi yang lebih tangguh yang lebih
kuat. Something observation.
Nah, something like this. Nah, ini bisa
dibawa pulang ya, bisa kamu jarin
konten.
Yes, yes,
ya. So, habis ini e linknya kan aku udah
share jadi you guys can take a look.
Jadi, Vinya juga bisa pakai. Bear in
mind teman-teman ini gua live ya, jadi
gak gak gak staged gak anything. Jadi
emang seadanya yang ada di pikiran gua
gua tuangkan aja. Ini kalau misalnya gua
kerjain empat kayaknya gua bisa lah bisa
bisa ngasih free service ke kalian gitu.
[tertawa] Ee ini gua gua emm kerjain dua
e kerjain satu lagi deh teman-teman ya.
Biar nanti teman-teman latihan sendiri
habis ini kita Q&A ini kan. Jadi masih
ada tiga nih set hassle overthinking
sama deep work. Teman-teman tolong coba
komen dong yang teman-teman mau kita
yang mana
komen ya. Saras Nasel
yang lain gimana?
Mau dibahas topik yang mana?
Sara aja baik banget sih Zia perhatian
banget.
Oke kita bahas ya
dengan senang hati V.
Oke, kita bahas hasle. Nah, ini sama
aja. Jadi, framework berpikirnya kayak
tadi, Teman-teman. Satu angle kita twist
aja kayak tadi ya. Misalnya actionable
nih ada ini jadi lebih gampang. Kalau
misalnya udah ketemu satu, Teman-teman,
jadi lebih gampang. Kenapa? Karena
tinggal dikopas terus tinggal kita ganti
aja subjeknya. Benar ya? Cara untuk bisa
dapetin R10 juta pertama dari sideite
hassle di segampang itu, Teman-teman.
Kalau udah ada contohnya framework-nya
tinggal dikopas semuanya subjeknya
diganti nih. Tinggal kita kopas lagi
nih. Benar nih. Ini adalah alasan kenapa
jadi content creator
ini. Ini kita ganti adalah ini. Ini
alasan kenapa jadi content creator
adalah hassle terbaik selama 10 tahun ke
depan. bisa lihat something like that
bisa analytical
ee misalnya kita
siapa ya ee e pebisnispisnis
deh dari misalnya menerapkan satu money
hack Ini
kembang 10 kali lipat something like
that gitu.
Negative pain. Kalau kamu enggak lakuin
ini maka kamu akan gampang banget ya.
Tinggal kita ganti depresi jadi miskin
ya kan. Terus ini next kita ganti
rahasia menjadi milion pertama.
milioner
pertama
dalam keluargamu
tanpa harus kerja kantoran. Benar
enggak? Sudah dapat nih set hasle. Ini
juga menjawab Erwin nih ya. Nah,
berhenti pergi. Eh, nah ini opinion
berhenti kerja kantoran
karena
ini
cuman buang
waktu dan masa depan lo ini gua nulisnya
seakan-akan gua berbahasa seperti Sara
gitu ya. Terus misalnya ini gua
menerapkan satu
habit ini dan satu habit ini dan dan
tabungan gua
naik lima kali lipat dalam 2 bulan
misalnya something like that. By the
way, quick tips teman-teman orang-orang
tuh suka data. Jadi throw in some
numbers misal kayak gini nih gua
menerapkan satu habit ini dan naik lima
kali lipat dalam 2 bulan ini orang makan
banget nih kayak gini seara nih jadi
bisa dipakai yang kayak gini karena ada
data, ada real data lalu A versus B
misalnya ya tadi ya versus crypto misal
kripto
yang mana lebih cocok jadi side hasle ya
Ya, bisa kita gitu.
Terus last list tujuh side hassle yang
kamu bisa coba sekarang walaupun masih
SM kelar nih. Cepat kan? Enggak nyampai
5 menit sekarang bikin kayak gini. So,
that is the way teman-teman. I've laid
down the foundation. Ini kerangkanya
template-nya udah ada. Jadi kalau
misalnya teman-teman mau ganti tadi kan
ada overthinking ya, ada Bandoro eh Fata
juga deep work ini tinggal diganti aja
cara untuk bisa berhenti overthinking
hanya dalam 1 menit. Ini adalah alasan
kenapa eh ini adalah alasan kenapa tokoh
terkenal enggak pernah overthinking
sebelum maju ke panggung. Something like
that. Atau misalnya deep word. Ini
adalah cara kamu bisa e menyelesaikan
kerja 8 jam hanya dalam 4 jam. Ya, gua
konten gua eh something fata gitu kan
ya. Jadi tinggal di kuis aja gitu.
Ini kalau enggak kerja kantoran gak bisa
beli MCH.
Oke, Teman-teman, that's pretty much it.
Maybe would like to know your opinion.
What do you think about this content
matrix? Apakah helpful untuk membuat
ide? Cukup helpful, cukup baru tahu ada
ini atau ini mah gua udah tahu. Boleh
dong share pendapatnya teman-teman
dari Zia. Btw, semua angle ini optimal
di
tipe contontu segmented kayak beberapa
untuk talking eh Zak ini gua udah coba
karena gua main Twitter juga kan
walaupun lagi rehat
gua main Twitter, gua main Instagram,
gua main TikTok, semuanya works bro.
Jadi for every content, every format
works that I can say gitu. Enggak bantu
pisan ya, Vin apalagi ya dibikin Vnya di
konten ya enak ya tinggal masukin konten
plan ya Vnya ya. Oke,
thank you.
Dengan senang hatilah, santai aja.
Sebenarnya udah beberapa kali nyobain tu
angle, tapi lebih terstruktur. Jadi, ya
Fata, ee karena kadang-kadang kita
mikirnya lari-lari aja gitu kan. Gue
tahu nih ini gua bisa twist ke sini, ini
gua bisa twist ke sini, tapi you don't
know the big picture. Kayak kita belum
tahu big picture. Nah, jadi ketika kita
ngel down dalam foundation kayak gini,
it becomes a lot easier to actually
really understand kita mau ngapain.
Basically, Teman-teman, what you can do
kalau misalnya teman-teman mau gila
adalah konten 6 bulan bisa jadi hanya
dalam 1 jam. Kalau misalnya teman-teman
gini kan literally cuma tinggal bikin
tiga template jadi yang kayak begini
bikin tiga biji yang berbeda bikin lima
topik kelar. Itu udah gila banget udah
berapa ratus konten itu. So, that's
pretty much it sih, Teman-teman. yang I
would like to share for you today. Ini
template-nya teman-teman bisa copy and
paste ya. Jadi bisa di
copy and paste nanti tinggal di ini aja
tinggal di isi buat konten sendiri.
Dengan itu, you will have lot content
that you can tweet from there.
Oke, so if you've reached this module,
most probably this is gonna be the most
fun part for you. Karena di series
beberapa video ke depan kita akan
ngebahas secara tuntas gimana cara kita
memonetisasi lewat low ticket digital
products. Kata coachnya di situ, low
ticket digital products. Apalagi buat lo
nih content creator edukasi yang
kesulitan untuk mendapatkan income dari
perjalanan content creator loh. Karena
susah banget kan ya, kita dapat
endorsement, kita dapat affiliate, kita
dapat adsense, mungkin nature dari
industri educational creator itu tuh
enggak keprime ke arah-arah yang sana.
Karena contohnya kalau misalnya kita mau
mendapatkan endorsan, big five-nya apa?
Let's say fashion, lifestyle, travel,
FnB, skin care, ya kan? Jadi enggak
masuk tuh edukasi ke sana, enggak masuk
productivity, bisnis itu tuh jarang
banget. Jadi, productivity, tag atau
bisnis atau nich apapun itu yang
kategorinya edukasi kadang-kadang akan
suka sulit untuk diselipin endorsement
yang seperti demikian. Nah, karena itu
brand juga jadi susah datang ke kita.
Nah, sekarang cara monetize-nya gimana?
It is by monetizing your knowledge, your
info. So, with that said, let's deep to
it. Gimana cara memonetiz akun lo kalau
misalnya lu adalah seorang educational
content creator?
What's up? This video is going to be
very interesting karena di video kali
ini kita akan ngebahas yang namanya
value lether. Dan ini adalah salah satu
topik favorit gua ketika kita ngobrolin
tentang monetisasi. Karena kalau
misalnya kita menguasai ini, kita bisa
literally double triple or even
quadruple our business literally karena
kita ngerti konsep value leather ini. So
value leather ini maksudnya apa? Jadi
kita ada dua ais ya, ada value ya, ada
price. Nah, jadi semakin naik value
kita, price-nya bisa semakin naik juga.
But sometimes people perceive value itu
kan differently ya. Jadi itu yang harus
kita taker baik-baik di sini. Oke. Nah,
jadi di sini ada beberapa fase
sebenarnya. Kalau misalnya kita lihat di
sini gampangnya ada bait, front end,
middle, back end, sama ada yang namanya
profit maximizer. Ini adalah program
termahal kita. But kalau misalnya kita
fokus ke bait, ke front end aja, ini
sebenarnya udah bisa gila banget. Ini
udah gila banget sebenarnya. Kita bisa
make large money dari sini aja udah
bisa. Bahkan eh flow zone blueprint aja
kan satu produk ya sampai bisa 3 digit
per bulan itu. Padahal ini cuma baru
front end doang. Dan sebenarnya udah
bisa kalau misalnya kita mau double
digit, triple digit per bulan tuh bisa
dengan front end doang. Imagine kalau
misalnya ada middle, ada backend sama
ada profit maximizer bisa gimana
potensinya? But let's focus on here
dulu. Karena kalau misalnya ininya aja
kita belum benar, kita ke belakangnya
akan susah ya. Jadi di sini kita akan
fokus ke dua hal ini. Bait itu kita bisa
sebut juga sebagai yang namanya lead
magnet. Oke.
Nah, front end itu kita bisa sebut juga
sebagai yang namanya core offer.
Bedanya lead magnet sama core offer apa?
Lead magnet itu adalah hal yang kita
kasih secara gratis dan mereka atau
audience kita bisa tukarkan dengan data
mereka dengan nama, nomor HP sama email
mereka. Jangan anggap bahwa ini tuh
nothing karena bukan duit. Ini tuh
adalah duit yang ditanamkan oleh mereka
di awal-awal. Karena data kita bisa
pakai terus-menerus untuk kita dalam
tanda kutip gangguin mereka. Ya, jadi
itu sepowerful itu. Orang ketika naruh
data dan mereka tukarkan dengan produk
gratis kita itu udah menunjukkan intent
yang luar biasa sebenarnya sampai mereka
rela loh buat ngetik data mereka, ngasih
data informasi mereka untuk bisa
dikirimkan produk kita. Itu udah crazy
banget sebenarnya gitu. Nah, ini kita
bisa nurture nanti ini di sini. Nah,
ketika kita sudah bikin ini baru kita
bisa tawarin yang ini nanti ya. Jadi
fungsi yang pertama ini itu adalah kita
kasih gratis supaya kita bisa dapat data
mereka. Nah, ketika kita sudah dapat
ini, kita bisa dengan gampang menawarkan
yang ini. Jadi, ibaratnya pintu masuk ke
sini dari sini, nanti pintu masuk ke
sini dari sini, pintu masuk ke sini dari
sini seterusnya, gitu. Nah, tapi
[tertawa] kadang-kadang ada orang yang
langsung skip, enggak ada pintu dua ini
langsung masuk ke sini, enggak ada pintu
dua ini, tiga ini langsung masuk ke
sini. Itu possible juga sebenarnya. Nah,
tapi untuk cara kita yang akan kita
lakukan di program ini, kita akan pakai
lead magnet, terus kita akan tawarkan
core over, gitu. Nah, jadi ini namanya
value leader. Jadi semakin naik semakin
mahal. Let me give you an example biar
lebih gampang. Nah, jadi productivity
boy pertama kali lahir itu kan Juni nih,
Juni 2022. Nah, kita fast for 1 bulan
kita udah langsung bikin lead magnet
saat itu tuh ini adalah kelas pertama
yang productivity boy buka secara gratis
ya 2022 Juli. Oke, Juli ya. Jadi, what
happens di sini adalah lead magnet-nya
itu adalah OT image class. Jadi, optimal
time management hack. Ini tuh lead
magnet-nya
di sini ya. Jadi, ini itu tuh lead
magnet-nya. Nah, dari sini kita bisa
jual ke front and coreover. Tapi saat
itu yang gua observe adalah karena kan
kita bikin kelas ini first batch batch 1
free class ada 100 seats. Tapi saat itu
hanya dalam 1 hari kebook 1000 seat.
Jadi kayak karena di mana terlalu besar
akhirnya gua bilang nih kayaknya enggak
bisa nih kalau misalnya semuanya free
karena udah terlalu banyak yang daftar.
Jadi gua langsung pindahin tuh dari yang
tadinya free gua kasih harga Rp75.000.
Jadi eventually OTMH juga dari yang
tadinya free bisa berubah jadi coreover
juga. Nah, yang gue lakuin apa? Setelah
orang udah masuk ke OTMH ini kan ada dua
batch nih. Batch satu ada dua kelas,
terus batch du yang berbayar ini udah
ada dua kelas juga. Jadi ada empat
gerbang nih. Jadinya OTMH ini yang
tadinya coreover gua kasih ini harganya
Rp75.000 ya. Habis itu gua upsell. Nah,
ini baru yang middle kita itu ada yang
namanya TMM atau time management
mastery. Jadi, buat orang-orang di sini
gua tawarin ini nih. Nah, ini gua
tawarin harganya berapa? Segini
ya. Jadi kurang lebih kayak gitu.
So, that's what I did. Jadi tadinya lead
magnet tapi ada demand gua pindahin.
Jadi, OTMH ini jadi coreovernya terus
habis itu ada middle productnya langsung
jadi TMM. Nah, dengan nge-utilize ini
aja dalam 1 bulan pertama gua
ngemonetize itu hasilnya R0 juta dari
OTMH nih ya. Jadi dari OTMH ada dua
kelas, optimum time management hack ada
dua kelas ya. Free class and batch 1 di
kami sama satu. Terus ada batch 2 di
sini ya kami sama satu juga gua upsell
ke sini. Nah ini hasilnya R juta. So
that's the power of value leather. Kalau
kita ngerti lead magnet, kita ngerti
coreover, kita bisa nge-ups ke sini.
Udah enak banget. Jadi yang perlu kita
lakukan adalah tentuin minimal ini dulu.
Jadi enggak usah ribet-ribet. Kita e
bait-nya dulu. Kita ngomongin-nya dulu.
Terus kita ngomongin front end. Front
end-nya
ya. Terus kita ngomongin middle-nya.
Kita ngomongnya ini dulu deh. Enggak
usah enggak usah ribet-ribet sampai
middle. Kita sampai core over depan sini
aja tuh udah luar biasa sebenarnya. So
that's what we can do. Jadi tugas kita
sekarang adalah tentuin bait-nya mau apa
sama nanti front end-nya mau apa, lead
magnet-nya mau apa, corever-nya mau apa.
Kita akan latihan bareng-bareng, kita
akan nentuin ini bareng-bareng di bagian
offer creation exercise. Oke, hope you
guys have fun and enjoy.
Okay, guys. So, what is the funnel that
you can use to make your first or next
100 million rupia? Oke. Nah, jadi
sebenarnya gua pengin ng-reflect back
lagi nih ke si value leader yang kita
sudah bahas sebelumnya. Kan kita semua
tahu ya bahwa ada lean magnet, ada
tripwire, ada core offer, ada profit
maximizer. Oke. Nah, lean magnet ini
sifatnya free kan ya. Jadi kita tuh
menukarkan data ya untuk mendapatkan
sebuah akses ke info product secara free
yang sebenarnya enggak free-feet karena
kita bayar data kita gitu kan, dapat
nama, nomor, HP, email yang kita bisa
gunain di ke depannya untuk bisa
nge-follow up our audience gitu. Nah,
next. Ini mirip kayak lead magnet.
Bedanya ada harga sedikit ya. Jadi ini
range-nya sekitar Rp20.000 sampai
Rp100.000 nih. Oke. Nah, next ada core
offer. Oke. Coree offer ini sesuai
namanya core. Jadi ini adalah produk
utama kita yang seringkiali kita jual
dan kita distribusikan secara massal
gitu. Nah, ini range harganya Rp100.000
R000 sampai R1 juta. Nah, ada yang
namanya profit maximizer. Oke, dari R1
juta sampai R10 juta. Oke, kita mungkin
enggak ngharapin dapat banyak sales dari
sini dalam artian dalam bukan banyak
quantity dari sini, tapi sekali kena
bisa lumayan kegebok rezeki juga gitu
kan kerasa gitu. Nah, lalu yang terakhir
adalah yang udah lebih ekstrem lagi
yaitu di atas R juta gitu. Nah, if you
wanna to do our first 100 million, I
would suggest you guys to focus on just
this. Segini aja udah cukup kok. Oke,
jadi kalau misalnya kita mau achieve R
juta, fokus ke sini dulu aja. Enggak
usah pikir yang ini. Trust me. Enggak
usah pikiran yang ini dulu. Fokus ke
sini dulu. Ini belum bisa baru eh ini
udah bisa baru lanjut ke sini. Jangan
sampai ini masih babak beluru. Udah mau
main-main ke sini ribet ya. Orang aja
enggak mau beli produk lu Rp100.000,
gimana orang mau beli produk lu R juta
gitu. Kebayang gitu ya. So what is what
are the types of digital products yang
you can sell? Oke, ada banyak tipenya.
Ada webinar, ada online course, ada
ebook, bootcam, workshop, templates,
paid community, paid newsletter,
coaching, consulting, and many more. So,
sekarang pertanyaannya yang paling bagus
yang mana? Enggak ada yang paling bagus.
Oke, yang ada yang paling cocok sama lu.
Sama aja kayak konten format juga.
Enggak ada konten format paling bagus.
Yang ada hanya yang paling cocok sama
lo. Kalau misalnya lo jagonya ngajar
kayak live ngajar gitu, bikin webinar
bisa, bikin workshop bisa. Kalau
misalnya lu jagonya bikin video, ya lu
rekam dan lu ngajar di video itu bikin
online course. Kalau lu jagonya nulis,
bikin ebook. Kalau misalnya lu jagonya
bikin template, ya bikin template. Kalau
lu jagonya bangun komunitas, bikin
komunitas. Ya, kalau misalnya jagonya
consulting and coaching, ya bikin
consulting and coaching. Jadi tergantung
strength.
Jadi make something based on your
strength. Karena apapun itu akan bisa
dijual pada akhirnya. Oke. Nah, ini gua
pengen share sedikit beberapa case tadi
some of the best funnels yang kita udah
lakuin buat value creator sendiri, buat
productivity boy dan buat our partners
and clients ya.
Biasanya yang kita lakuin begini nih.
Jadi kita bikin eh triper sama coreover
ya. Jadi kan selalu e stacknya begitu.
Trip sama coreover. Tripower-nya kita
bisa jual Rp50.000. Nah, targetnya tuh
sekitar 1.000 participan. Habis itu kita
di webinar ini kita enggak full edukasi.
Jadi sebenarnya di dalam webinar ini ini
tuh kita story selling ya. Kita story
selling kita jualan. Jualan apa? Jualan
coreover ini ya. Kita jualan coldover
ini kita jual 399. Nah kalau misalnya
kita totalin 1.000 partisipan itu tuh
Rp50 juta. 250 participan itu tuh Rp99
juta. Kalau misalnya inhit target ya ini
149. Kalau misalnya kita dapat 80% atau
70% aja ya juga udah R jutaan. Jadi not
bad at all. And ini works di our case
ya. Karena setiap kali kita nglaunch
sesuatu tuh pasti selalu triple digit
gitu. Nah, ini adalah sesuatu yang
sifatnya less agresif. Kalau misalnya
kita more agresif bisa. Cuma tinggal
kita ganti corover-nya aja. Kita ganti
corovernya di sini ya.
Yang satu sedikit ee harganya tapi yang
beli 250 nih. Yang satu harganya lebih
mahal tapi yang beli 50. Ini bisa juga
kalau misalnya kita mau pakai cara ini.
Kurang lebih income-nya sama tuh ya
sekitar 149 140 ya. Enggak bisa kita
expect kalau misalnya kita jual segini
yang beli juga 250 W itu namanya ngimpi.
Sebenarnya bisa kalau jago, tapi kalau
misalnya sebagai beginner rasanya susah
ya. Jadi kalau misalnya kita targetin
segini sih masuk akal ya. Jadi ini
adalah nomor yang sudah tervalidasi,
yang sudah terbuktikan. Kalau misalnya
kalian penasaran RAM buktinya mana, gua
bisa kasih screenshot screenshot-nya ya.
Jadi ini adalah sesuatu yang kita sudah
achieve sebelumnya gitu. Nah, next. Atau
enggak sebenarnya bisa juga kita enggak
usah pakai coreover kita full repire.
Jual Rp50.000 buat 2.000 participan
Rp100 juta juga. Atau enggak kita jual
corver doang enggak pakai trip 399.
260 participan tiap bulan R juta juga
ya. Nah, jadi sebenarnya enggak ada yang
salah, enggak ada yang benar di sini.
So, what I'm trying to say here is that
yang penting kita fokus ke sini ya. Kita
harus tahu lead magnet kita apa, trip
kita, corover apa ya. Nah, pilihannya
apa aja ini
ya. Terus nanti mau jualnya gimana kita
discuss bareng karena this is very
personalized. Bisa jadi funel ini enggak
cocok sama lo. Bisa jadi ada orang yang
cocoknya jualannya begini, ada orang
cocoknya jualannya begini. ada orang
cocok jualannya begini dan begini gitu.
So, ini basic-nya aja ini cara
berpikirnya. Nanti your actual funnel,
your actual value leader. Kita bahas
bareng ya secara one onone one ya.
Supaya nanti lu bisa benar-benar
mendapatkan
personalized feedback dan personalized
strategy secara optimal. Oke, but this
is how you actually construct your
funnel gitu.
What's up? Welcome to this video. Nah,
di video kali ini gua mau ngebahas soal
yang namanya te shout. Ini adalah cara
yang gua lakuin supaya kita bisa
mempromosikan offer kita dengan elegan.
Karena lu pernah enggak sih kayak
ngelihat content creator nih, terus dia
jualan online course misalnya, terus
kayak dikit-dikit klik link di bio,
dikit-dikit klinkling di bio gitu ya.
Jadi kayak every time kita buka konten
dia di akhirnya klik link di bio ya.
Atau misalnya kayak kita buka story-nya
klik link di bio ya. I mean kayak yes we
get it gitu kan. You have such a great
course, I understand. Tapi kayak itu
rahasia tuh kayak kita tuh dijejelin
gitu, woi beli woi. Gitu kan. And
sometimes people don't want that. Ketika
kita melihat itu dan orang-orang lain,
audience kita misalnya ngelihat kalau
misalnya kita ngelakuin itu orang kayak
chill man, chill gitu. I I got it. You
have a course gitu kan. Nah, jadi gimana
cara kita bisa mempromosikan dengan
elegan supaya ketika orang melihat apa
yang kita share ke mereka, mereka jadi
tertarik. Nah, kita bagi ini jadi tiga
fase. There's tease, there's tell, and
there's shout. Kita mulai dengan tease
dulu. Masing-masing dari tiga fase ini
punya objektif yang berbeda. Ya, kalau
misalnya tease objektifnya itu tuh
enggak bukan kita ngasih tahu, "Hei, I
have a course, hey, I have a digital
product." He gua punya offer baru.
Bukan. Fungsi dari teala cuman bikin
orang penasaran, nih orang lagi bikin
apa ya? Kayaknya seru nih. Nah, kurang
lebih kayak gitu. Tipe kontennya gimana?
Sesimpel kita bisa bikin IG story, kita
bisa bikin TikTok post, kita bikin IG
reels, IG carusel post, IG post feit
gitu ya. Kita lagi foto, anything
simple. Kayak kita lagi ngedokumentasiin
behind the scene aja. Kita kita lagi
mengerjakan offer kita. For example,
kita lagi bikin buku, misalnya kita lagi
nulis buku nih, kita tinggal ambil HP
kita aja terus kayak kita ngerekam terus
kayak kita ngasih lihat gitu loh. Terus
kayak kita gini doang or something and
then kayak udah stop the story. Jadi
cuman literally ngasih lihat kita lagi
have something under the works going on
gitu loh. Cuman ngasih lihat bahwa kita
lagi working on something. As simple as
that. Kita ggak usah bilang kita lagi
bikin ini, kita lagi bikin itu. Enggak.
But do it everyday. Ketika kita
ngelakuin ini setiap hari, orang jadi
mikir, "Nih orang lagi ngerjain apa ya?
rajin banget tiap hari ngerjain ini.
Seru nih kayaknya orang jadi
bertanya-tanya nanti orang bisa aja dim,
"Kak, itu apa sih, Kak?" gitu. "Share
dong, Kak, lagi bikin apa, Kak?" Nah,
when people do that, kita bisa move on
to the second phase, which is tell. Tadi
kita udah teas, sekarang kita tell. Hai,
Teman-teman. Thank you ya udah pada
kepoin bla bla bla. Iya nih, aku dari 1
bulan lalu, dari 2 bulan lalu, dari 1
tahun lalu aku udah ngerjain ini nih
buat kalian seru banget. Ada yang bisa
tebak enggak ini apa? Nah, jadi kita
bisa engage juga sama audience kita.
kita buka question box, kita kasih poll
or anything gitu ya. Oke, habis itu kita
bisa reveal, "Oke, I'm actually working
on my new course nih. I'm actually
working on my new book. Namanya ini
bakal dapat ini ini aja tentang ini.
Tertarik enggak? Bla bla bla enggak ini
itu enggak." Nah, itu kita bisa lakuin
itu. Itu tell. Jadi, yang tadinya kita
cuma kiss, kita pengin bikin orang
penasaran, orang udah kepok kan ini
orang ngapain? Gitu kan. Terus kita
tell, eh ini gua sebenar gua sebenarnya
lagi bikin ini. Nah, orang jadi klik,
"Ah, gua aware sekarang dia lagi bikin
ini. Gua jadi pengin e kalau misalnya
tertarik gitu ya, gua jadi pengin
ngikutin terus nanti produk akhirnya
gimana. Something like that, gitu kan.
Nah, itu hell kita udah declare ke
orang-orang kita lagi bikin ini." Nah,
itu ketika sebelum launch. Ketika udah
launch atau menjelang launch baru kita
bisa shout. Shout itu adalah ibaratnya
ya bukan teriak literally gitu ya, bukan
kita bikin konten w gitu. Enggak gitu,
enggak gitu. But it's basically doing
handraisers.
Jadi calling out the people yang rasanya
resonate with our product dengan target
market kita. Kita shout ke mereka, "Hei,
for those of you yang bla bla bla. Hei,
buat kamu yang lagi susah produktif,
hei, buat kamu yang lagi insecure, hei,
buat kamu yang lagi sakit pinggang, hei,
buat kamu yang lagi keuangannya lagi
rusak, aku lagi bikin ini nih buat kamu.
Kalau misalnya kamu ngerasa ini ini,
ini, ini, DM aku kasih keyword. mau ya
DM aku join ya, DM aku wealth ya, DM aku
kaya ya, DM aku bla bla bla ya, nanti
aku kirimin kamu lead magnet-nya, nanti
aku kirimin kamu coreover-nya. Nah, jadi
kurang lebih kayak gitu. Teas health
shout. Nah, gua rekomendasiin sih ini
kita udah bisa gunain ketika kita mulai
bikin lead magnet kita supaya orang udah
wah apa nih pengen dong gitu. So, that's
it. How to sell elegantly supaya kita
gak kliking di b ya, kliking b ya.
Nanti orang jadi pushing away from kalau
misalnya kita terlalu gitu kayak kita
jadi kayak bagger gitu takutnya kayak
meminta-minta banget buat orang
klik-klik ini bio. So let's do this
elegantly and you can do that. Ok. So
tease tell sh mantap.
So today is going to be really
interesting and I'm pretty sure useful
for you guys. So we're gonna talk about
lead magnet mastery. Nah mungkin
beberapa dari kita masih ada yang gimana
ya karena kenapa gua pilih topik ini?
Karena beberapa dari kita eh walaupun
udah ada yang jalan beberapa bulan,
beberapa minggu masih ada yang bingung
walaupun udah ada yang bikin corover
juga kayak lead magnet tuh harusnya
bentuknya gimana sih? Terus seberapa
banyak sih yang harus kita yang harus
kita eh bikin gitu. Terus seberapa dalam
lead magnetnya, right? You guys might
have might have that question. Jadi
seberapa banyak eh yang harus kita
masukin di lead magnet kita, seberapa
panjang? Terus habis itu lead magnet tuh
formatnya gimana segala macamnya ya kan.
So today we're gonna talk about it.
Outline-nya adalah kita enggak akan
ngebahas dulu lead magnet itu sebenarnya
apa, terus kenapa sih kita tuh butuh
bikin sebenarnya. Nah, yang paling
penting adalah
nomor 3 sama nomor 4.
Common lead magnet mistakes. Ini adalah
this is what's gna kill your lead
magnet. Karena kalau misalnya kita
melakukan kesalahan ini, lead magnet
kita yang kita udah bikin capek-capek
itu justru bisa backfire takutnya.
Right? Next is the value prizzation
framework yang gue bakal share. Jadi
kalau misalnya teman-teman habis ini mau
ngebikin lead magnet baru, this is the
framework that you can use. Nah, yang
terakhir adalah backend optimization.
Gimana kita udah bikin lead magnet
ngoptimize backendnya. So, first what is
lead magnet? This is pretty straight
forward karena I assume teman-teman
semua udah e baca course-nya ya. Jadi
sebenarnya udah harusnya paham. Nah, so
pop quiz teman-teman ini kan val leader
kita semua tahu ya val leader itu apa.
Nah, di antara bait front end middle and
back end lead magnet itu ada di mana?
Coba komen. Kalau masih salah wah gak
boleh jadi graduate nih.
Pat bilang dibait ya teman-teman yang
lain gimana cela?
E Thomas Putri Bait ya. Rohman gimana
nih? Bandoro,
Erwin, Sarah Bait. Yes. So it's correct
teman-teman di bait ya. Btw ada Sel
nanti Sella mau speech guys. Kata
kemarin udah fting speech, hari ini
selling speech. Nice. Oke mulai pada on
cam kan. The power of Sella. Sella on
cam, Sara langsung oncam tuh. Oke. So
bait teman-teman. Jadi, lead magnet itu
ada di bagian paling awal ya,
Teman-teman ya. Nah, mungkin
kebanyakan dari kita tuh
sedikit bingung sama dua term ini. Lead
magnet sama trip wire itu bedanya apa?
Lead magnet itu sama trip wire
essentially it's quite similar. It's
both debate. Tapi bedanya eh by industry
center lead magnet tuh biasanya tuh kita
kasih gratis. Trip wire tuh
mirip-mirip kayak lead magnet tapi
berbayar. Nah, kualitasnya seberapa
seberapa sama gitu menurut gua 111 sih
cukup mirip sebenarnya. But once your
lead magnet itu dikasih harga itu
berubah menjadi trip wire. Sesimpel itu
sebenarnya. Jadi kedua form of product
ini adalah bait supaya banyak orang bisa
nyicip produk kita gitu kurang lebih.
So, next. Kenapa kita sih sebenarnya tuh
harus bikin lead magnet gitu? Nah,
Teman-teman semua pasti udah pintar,
udah ngerti ini juga gitu kan. Kalau
misalnya kita ke toko es krim favorit
kita, whatever it is, Coldstone, Baskin
Robins kek, Agendas kek, Oria kek, atau
apalagi es krim yang seru gitu kan,
pasti ketika kita mau pilih flavor, kita
dikasih testernya ya kan. So, it's
pretty much similar tapi not so similar
gitu. It can act like a tester. Tapi
sebenarnya enggak cuma tester. Karena
kalau misalnya mindset kita lead magnet
itu supaya orang icip-icip kita doang.
Terus kalau misalnya dia suka terus eh
dia beli. What if orang enggak suka?
Right? Berarti
game over dong. Yes and no. Game over
kalau misalnya kita biarin aja. Enggak
game over kalau misalnya produk kita
kita improve. Kalau misalnya orang aja
enggak suka lead magnet kita, ya itu
udah sign. berarti kita harus level up
our product game. Ini bukan masalah
marketing lagi, tapi masalah produk kita
harus kita optimize. Jadi bukan sekadar
tester sebenarnya. Lead magnet itu
penting banget, Teman-teman, buat
beginners. Bagi teman-teman yang baru
pertama kali mau launch digital
products. So, bagi teman-teman yang
masih dalam fase-fase awal, this is very
important. Nah, tapi bagi orang-orang
yang udah berkecipungan cukup lama
beberapa bulan, beberapa tahun kayak gue
pun ini juga sangat penting gitu. Kenapa
penting? Karena satu
aspek ini akan menimbulkan aspek-aspek
lainnya sampai ke trust. Nah, yang
pertama lead magnet tuh akan nge-build
report. Jadi maksudnya kayak kita tuh
orang bisa perceive kita bagai eh
sebagai seseorang emang in the space to
actually share our knowledge, share our
ideas and monetize it. Kayak people tuh
akan terbiasa dengan kita menawarkan
mereka sebuah offer. Next, it builds
credibility.
Orang ketika mereka ngelihat lead magnet
kita, mereka jadi ngerasa nih, wah
bagusnya lead magnetnya. Jadi nimbul
kredibilitas di sana bahwa this person
understand what he talking about. This
person understand what she's talking
about. Jadi orang bisa ngerti bahwa kita
emang benar-benar ngerti apa yang kita
bicarakan. Ini orang enggak asal ngomong
gitu. Mereka bisa tahu itu dari lead
magnet kita. Next, setelah
credibility-nya terbangun, kita akan
build expectation. Jadi ketika orang
udah cicipin lead magnet kita, mereka
akan bisa expect kurang lebih
ini
gratis aja gua dapat segini apalagi
berbayar gitu. Although sebenarnya itu
policy sih menurut gua itu cuman
psychological trick karena yang gua
lakuin juga em what I'm trying to do.
Bahkan sebenarnya di my lead magnet and
my and my trip wire ini sedikit hack sih
teman-teman. Gua lebih niat editnya
karena kan kita akan ng-launch trip baru
juga. Nanti Helmi itu akan lebih lebih
niat ngeditnya. Sedangkan core over
productivity boy sama HVC nanti lebih
minimal on the editing side. Kenapa?
Karena so people em can see gitu loh
bahwa oh ini sebenar gitu ya. Nah, tapi
mungkin kita berpikir kalau misalnya
kayak gitu kita ngebongin orang dong
yang di depannya udah bagus tapi yang di
belakangnya jelek. Sebenarnya enggak
gitu juga sih, karena at day people buy
transformation.
Ironya gini, Teman-teman.
Ketika kita ngasih sesuatu yang lebih
murah, orang akan lebih banyak expect.
Tapi ketika kita ngejual sesuatu yang
mahal, orang akan lebih diam. Mereka
enggak banyak sor bacot gitu loh. Setuju
enggak?
If
high value creator accelerator harganya
R298.000, Orang pasti banyak yang
komplain sesimpel itu. Kok ini kok pakai
notion apa sih? Enggak ngerti notion bla
bla bla. Kok gak ada videonya sih? You
know something like that. Tapi you guys
never complain, man. That's the
psychology behind it. Semakin mahal kita
jual produk kita, orang akan semakin
enggak complain. Kenapa? Karena we
attract quality people. Dan when we
attract quality people, yang mereka
lihat tuh sebenarnya bukan seberapa
bagus modulnya, tapi seberapa
transformatif modulnya. Jadi, that's the
paradigm shift yang I like to share to
you guys. Jadi,
kalau ini kayaknya bisa jadi konsep baru
sih. So, when we make lead magnet, kita
bisa bikin itu secantik mungkin di luar
tapi dalamnya kosong. Paham enggak sih?
Jadi, e kelihatannya bagus tapi
sebenarnya isinya kosong. Kenapa? Karena
itu cuma bridging ke corover gitu loh.
Nah, tapi corover gua choose to do the
exact opposite. Jadi, dalamnya itu
benar-benar daging banget tapi
penjelasannya simplified banget. Jadi,
it builds the expectation. Next, it
builds authority. Orang udah credible,
orang udah expect kita bisa mendeliver
bagus. Jadi, kita punya authority in the
space. Kita bisa menguasai
otak mereka atau pemikiran kita ketika
kita berbicara soal let's say
productivity, productivity boy gitu kan.
Kalau misalnya kita ngomongin mindset,
mindset bertumbuh gitu. Kalau misalnya
kita ngomongin personality, Marcela gitu
kan. Jadi something like that. When it's
once it's done, it builds trust. Nah,
ketika trust is built, that's where the
money comes in.
As simple as that. Ini balik lagi ke
theory marketing funnel. Ingat ya,
Teman-teman ya, ada top of funnel,
middle of funnel, bottom of funnel.
I kan ya.
Jadi, as simple as this. Orang yang di
atas itu adalah orang-orang yang paling
cold. Jadi, mereka paling enggak kenal
sama kita. Tapi semakin bawah mereka
udah kenal sama kita.
Ini adalah orang yang belum pernah beli.
Ini adalah orang yang tahu kita punya
produk dan penasaran buat beli. Ini
adalah orang-orang yang sudah beli gitu
loh. Nah, ketika kita menawarkan produk
kita ke orang-orang yang udah trust sama
kita di bawah sini, most likely I don't
need to pitch them. I don't need to host
a webinar. I don't need to make a
landing page. Kita tinggal tawarin aja.
He gua ada produk ini. Kita kirimin
email. Mau check out gak? Pada check
out. Jadi that's the power of trust.
Sebenarnya, Teman-teman. Ketika kita
mate properly, it will be able to get us
the money, gitu. Nah, Teman-teman, this
is where larvest get things wrong.
Basically, ini adalah tujuan dari lead
magnet. Jadi, kalau misalnya kita
berpikir lead magnet itu sebenarnya
tujuannya apa? Itu adalah buat ngasih
quick win. Nah, quick win-nya ini dalam
bentuk apa? Dalam bentuk dua hal,
Teman-teman. Dalam bentuk insight dan
dalam bentuk hope. Nah, bedanya apa?
Kedua ini, insight itu kita membuat
mereka merasa lebih pintar. Jadi, mereka
PD sama kita. Hope itu membuat mereka
merasa bahwa kita punya solusi yang
bagus. Nah, jadi ketika kita bikin lead
magnet,
balik lagi quick win. Quick win artinya
kita lead magnet kita tuh isinya tuh
harus hal-hal yang menggerakkan kita
supaya kita take action. Dan ketika kita
take action itu akan ng-drive mereka
untuk ngerasa bahwa kita punya solusi
terhadap masalah yang mereka punya gitu.
Jadi, lead magnet sebenarnya sebaiknya
itu enggak yang terlalu edukatif,
tapi yang lebih banyak exercise-nya.
Karena kita pernah tes, gua lupa
percentage-nya berapa, tapi we literally
made a lead magnet ya, from monk mode
system kalau misal lu ingat. Tapi itu
different sih itu effort banget.
Em
tapi eh itu effort banget engagementnya
naik tapi sales-nya enggak naik resek
gitu loh. Engagement kita naik banget ya
Pram sama orang-orang yang ikut tuh kita
benar-benar jadi besty banget tapi
sales-nya naik enggak.
Nah jadi balik lagi kalau misalnya kita
mau naikin engagement ya udah kasih give
a lot of value aja. Give value. Nah
balik lagi value sama insight tuh beda
loh. Nah value itu kita ngajarin mereka.
inside itu kita ngasih tahu mereka
sebuah cerita atau sebuah e case. Nah,
that's different, man. Itu beda banget
tuh. Itu dua aja udah beda. Nah, jadi
kalau misalnya kita kasih kebanyakan
value yang naik apa? Engagementnya,
bukan sales-nya. Tapi kalau misalnya
kita ngasih mereka quick win dalam
bentuk insight, kita ngasih mereka
sebuah informasi baru tok ya dan kita
ngasih mereka harapan itu akan lebih
efektif untuk sales. Nah, jadi quick
win-nya itu tuh kita bisa drive mereka
dari exercise, dari contohnya gini nih,
checklist kayak templates kayaknya kayak
gitu-gitu tuh karena mereka pakai mereka
langsung ngerasa quick fix, quick win.
Gua pakai template-nya Fata, gua
langsung bisa jurnaling nih. Gua pakai
template-nya S, gua langsung tahu nih
MBTI gua apa. gua pakai template-nya
Sara, gua langsung eh utang gua langsung
lunas nih misalnya something like that
gitu. Jadi itu akan ng ng ngasih
authority
balik lagi jadi jangan ngedukasi delete
magnet tapi bridging. Nah itu yang
paling penting karena kalau misalnya
kita ngasih too much ya people malah wah
ini gua udah dikasih banyak mereka malah
ngelunjak pengin lebih eh dapat banyak.
So that's the
common mistake. Now this is some of the
most commonly magnet mistakes yang I
find. Kayaknya ada empat atau lima deh
if mistaken. Sebelum gua reveal common
mistake-nya apa aja, gua pengen ngajak
teman-teman semua guess dong kayak what
do you guys think is the most common
lead magnet mistakes yang kita tuh
sering lakuin. Kesalahan terbesar kita
dalam membuat lead magnet tuh apa sih?
Coba deh kasih tahu di komen supaya kita
Iya udah dipel ya. Mengajar kata Sara ee
kebanyakan info terlalu panjang Fat. Ada
yang lain Cela mungkin. Eh Rio Bandoro,
Oman, Thomas, Erwin.
Oh.
Hm. Ini Putri udah jago banget. Emang
tinggal nglaunch doang dia sebenarnya.
Udah jago suhu.
Oke, kurang jualan. Nice. Kurang
entertain kata Erwin. Teman-teman, the
first one. Betul. Kepanjangan.
Balik lagi. Ini enggak cuman apply ke
lead magnet, tapi apply ke coreover
kita. People don't wanna read essays,
man. Karena ini bukan buku. Kalau
misalnya buku ya lu makin panjang makin
bagus gitu kan. Kecuali kita nulis buku,
that applies. Panjang. Wih, banyak
ilmunya nih. Persepsinya gitu. Tapi
course enggak kayak gitu. Pernah enggak
sih kita eh most the most rook mistake
ada kalau kita bikin corover, kita nemu
orang nih bikin course terus yang dia
pamerin di e di value stackingnya wei
100 jam plus 60 jam plus 100 modu lebih.
Wah gua ngelihat itu gua kayak irritated
sih. What the heck man? Can you not make
it more concise? Gitu loh. Kayak
emangnya gua mau spend 60 jam. Ini
sering banget terjadi di UDMI. Aduh gua
kesal banget orang-orang Yudemi itu tahu
enggak sih? Kayak gua suka banget yang
diajarin bagus, dulu gua tuh pernah
pernah enroll eh live coaching
certificationemi kan manfulness gitu
yang ngajarin namanya K Ramsey. Mungkin
yang suka eh suka mindfulness atau suka
life coaching things mungkin tahu dia.
Jadi namanya Ken Ramse dia tuh cuy 60
jam lebih man modulnya. Gu ya gua kayak
untung ini certification jadi makes
sense tapi imagine our course 60 jam
lebih orang bakal butuh komplit-nya
berapa lama considering kita cuman punya
1 jam per hari butuh 60 hari
berturut-turut gitu loh itu kalau kita
enggak bolong kalau misalnya bolong 4
buluy sedangkan kita mau orang bisa
nge-compllete secepat mungkin flow zone
blueprint aja itu dikomplete-nya tuh 2
sampai 3 jam itu kita kenapa sengaja
structure kayak gitu supaya teman-teman
bisa selesain dengan sangat cepat
apalagi lead magnet it probably
Eh eh se 10% dari itu aja duration-nya.
So I would say maybe kayak 20 menit,
setengah jam, 10 menit lead makan tuh
udah harus selesai dibaca gitu atau
harus selesai diconsume. Right? Jadi
kepanjangan.
Nah, make it rule of time adalah
sebenarnya kalau misalnya bisa semakin
pendek semakin bagus, I would say don't
go more than 30 minutes sih. Itu udah
itu pun udah kepanjangan gitu ya.
20 minutes is good gitu. Although
sebenarnya kalau kepanjangan masalah
enggak sebenarnya enggak juga. Karena
dulu kita sempat testing PPH itu tuh 40
menit bahkan Ch kayaknya bikin dulu lead
magnet 1 jaman sekitar 1 jam ya S ya itu
masih convert juga gitu. Sebenarnya
there's no golden rule atau gimana tapi
I think it will be better aja gitu sih.
Itu preference aja gitu teman-teman. So
that's number one. Number two adalah
enggak spesifik.
Maksudnya enggak spesifik apa? We don't
solve a certain problem. Kita cuman
blabber-blab doang. Kita mencoba untuk
knowledge bombing gitu. Tahu gak sih?
Kayak weh, gua paling ngerti soal habit
nih. Gua tulis semua soal habit gitu
loh. Kayak segala hal tentang habit kita
tulis jadi enggak spesifik. Padahal
habit itu kan kalau kita pecah banyak
lagi ya Fat ya. ada morning routin lah,
ada keystone habit, ada habit
installation, ada night routin, ada
stacking dan lain-lain. Jadi, my
recommendation lead magnet itu tuh kita
pilih satu topik aja justru one topic
for one solution for one avatar.
Jadi nih, Teman-teman, satu topik buat
satu solusi buat satu target market itu
yang kita pakai itu lead magnet harus
begitu. Nah, nanti akan kita kaitin ke
exercise kita di akhir yang namanya
master class harus ada workshop ya kalau
misalnya sama gua harus ngerjain sesuatu
biar teman-teman selesai ini udah ada
ide buat bikin 6 lit magnet habis ini
nih teman-teman akan langsung bisa bikin
6 lit magnet. Next.
Ini yang putri bilang juga enggak ada
CTA-nya teman-teman. Maksudnya apa? Kita
udah bikin lead magnet ya kan
capek-capek nih bikinnya 1 hari 2 hari
apalagi sampai harus cuti gitu kan.
Anjir, kalau misalnya enggak ada yang
check out sedih gitu kan. Ialah gitu.
Nah, itu kenapa terjadi? Karena enggak
ada CTA-nya di lead magnetnya enggak ada
CTA-nya atau enggak CTA-nya enggak
optimize.
Udah untung ada deh. Tapi kadang-kadang
masih ada yang enggak taruh CTA. Jadi
cuman pure value doang kayak, "Bro,
that's ok but I think you're missing a
lot gitu loh." So, enggak ada CTA. Jadi,
Teman-teman jangan lupa delete magnet
tuh harus dislipin offnya.
Nah, offer itu diselipinnya kapan? Based
on my trial.
Em, ini gua buka buka data ya. Jadi
teman-teman karena ini gua baru share ke
yang hadir di middle child kemarin aja
tuh. Gua baru share ke Sarah, Bandoro,
Putri, sama Fata.
Kan e made a webinar kan, we made a lead
magnet. E, gua juga janji gua bakal
share kan statusnya gimana kan. So, we
made three webinars. So, in three days
kayak dalam 3 hari kita berhasil
nge-close 50 sampai 60 juta in 3 days
gitu kan. Sebenarnya itu masih kurang in
my opinion itu targetnya sebenarnya tadi
lebih banyak tapi not that bad lah gitu
ya. Nah, dari
3 hari itu hari per hari kita
nge-optimize. Jadi yang kita pelajarin
di hari pertama kita implement ke hari
kedua. yang kita belajar ke hari kedua,
kita implement ke hari ketiga. And we
found out CTA itu, Teman-teman, jangan
ditaruh di akhir. Kita sering kayak gitu
kan, kita taruh di akhir. Ada beberapa
course E LM gue yang gua masih taruh di
akhir nih, bahkan scopri aja, APC aja
gua belum ganti masih di akhir. Itu
harusnya diselipin di mana? Di
seperempat pertama nih. Misalnya kita
ada empat bab ditaruh di bab pertama
justru.
Kenapa? supaya di bab 2 3 4 kita bisa
taruh reminder.
Jadi mereka enggak decision making itu
cuma di akhir. Karena mereka ketika
decision making cuma di akhir, mereka
cuman punya beberapa detik atau beberapa
menit doang buat mikir mereka mau beli
atau enggak. Tapi kalau mereka kepapar
dari awal sampai akhir, decision making
time mereka keexpend dari yang tadi cuma
5 menit bisa jadiura selama durasi
mereka lagi ng-consume that le magnet.
Nah, itu ningkatin probabilities buat
mereka check up. So, that's really
important, Teman-teman. itu yang
itu itu yang yang kita implement gitu.
Itu gila sih my opinion. Nah, yang
terakhir adalah ini enggak ada backend
optimization. Ada yang tahu enggak
backend optimization itu apa? Ini
sebenarnya cuman kata-kata fancy sih,
tapi ada yang bisa tebak
what is back and optimization kira-kira?
Ayo, ayo. Enggak tahu. Oke, Teman-teman.
So, basically ini adalah apa yang
terjadi ketika apa yang terjadi setelah
mereka obtain dan setelah mereka
consume. Kalau misalnya mereka beli, apa
yang terjadi? Kalau mereka enggak beli
apa yang terjadi? Bahasa gampangnya
follow up. Kalau misalnya kita udah
bikin lead magnet tapi enggak ada
automation buat ngegiring mereka sampai
closing, wah itu sayang banget
gitu, Teman-teman. So, itu yang perlu
kita lakuin juga. Makanya
kita kalau misalnya bikin lead magnet, I
would highly recommend harus ada email
follow up sequence ya tuju deh gitu loh.
Tapi kita harus bisa pintar-pintar if
yes-nya. Harus bisa kita pilah. Jadi
kalau misal orang udah beli kita exclude
tuh kita jangan kirimin lagi. Atau kan
entar kita dimaki orang lah gua udah
beli lu kirimin gua email mulu
nawar-nawarin mulu. Gua pernah digituin
tuh dulu tuh. Jadi hati-hati teman-teman
gitu. So that's number four. We need to
optimize that ya teman-teman. And this
is myite part.
Jadi ini em part ini akan menjawab
banyak sekali pertanyaan soal gimana
cara bikin lead magnet berapa banyak dan
sedalam apa. Teman-teman ini adalah
framework yang gua pakai ketika kita
bikin litm.
And now this is yours. You can use it,
Teman-teman. Asik ya? Asik ya. So, ada
tiga
bulatan besar. Let me let me jelasin
mungkin ini kedengarannya kayak sangat
ini ya sangat wah intermediating apa nih
ada benefit pain som gitu kan pillar apa
ya ini kita kasih contoh aja teman-teman
ah ini ini nih kita kasih contoh dulu
nih gini teman-teman so this is the
example ya som itu apa teach guys how
can use to formulate magnetil beli ini
jadi gampang banget teman-teman kalau
misalnya sering enggak sih ee aduh mau
bikin lead magnet nih lead magnet
berikutnya tapi idenya apa gitu kan
sering bahasa apa ini le magnetnya
teman-teman pakai ini pertama-tama what
we need to know adalah som kita som itu
apa scope of mastery kita ya nich kita
apa suka plus jagonya apa jadi basically
nich kita apa kalau misalnya rama kan
productivity kalau sara kan eh eh ini
kan money kan kalau eh sela kan
personality misalnya fatah habit so on
and so forth gitu nah Jadi kita isi SOM
kita misalnya ini gua kasih contoh eh
communication ya. Communication nih Rio
nih. Rio nih. Mana Rio nih? Ini bisa
dipakai ya Rio ya. Habis ini kalau
misalnya masih ng-delete magnet kacau
nih. Nah ini communication right. Nah
setelah communication teman-teman what
we're gonna do adalah kita cari tahu
ketika orang ngomongin soal komunikasi
painp utamanya apa. Nah
painpinnya apa nih? Kita cari tahu tiga
ya. Contoh
kalau misalnya kita komunikasi, gua mau
ngomong public speaking nih, tapi gua
enggak credible. Gua enggak pernah di
depan panggung. Boleh enggak gua ngomong
something likeet gitu loh, Teman-teman.
Atau enggak misalnya gua pengen nge-gaet
gebetan nih, gebetan baru, tapi gua
bukan bandoro gitu kan. Gua enggak
sejago itu nge-gaet cewek baru gitu kan.
Nah, gimana gitu kan caranya? Nah, jadi
enggak kredibel dia. Dia enggak tahu
dia. Nah, atau enggak gua mau mulai
kenalan sama orang tapi gua enggak punya
network. Jadi enggak ada yang bisa ee
kenalin gua. gimana nih komunikasi sama
orang gitu. Atau misalnya gua pengin
jadi professional public speaker tapi
gua enggak ada profitnya, gua belum bisa
monetize dari sini, gimana caranya?
Right? So, kurang lebih kayak gitu,
Teman-teman. Painnya apa? Nah, ketika
kita udah tahu painnya, next kita cari
tahu apanya? Kita cari tahu benefitnya.
Apa yang kita bisa kasih mereka supaya
pain killer-nya tuh work, supaya hilang,
right? Nah, uniknya perhatiin
teman-teman. Jadi, painp ini
intersection-nya kita kasih solusinya.
Painpoint ini ada intersection-nya, kita
kasih solusinya. Painpoint ini kita ada
intersection-nya, kita kasih solusinya.
Contoh, kalau misalnya kita enggak punya
credibility
dan kita enggak punya income, yang bisa
menyelesaikan masalah ini itu apa sih
sebenarnya?
Sesimpel kalau jabatan kita naik, jadi
kita punya income yang lebih gede dan
kita lebih credible. Jadi, how to kill
two birds with one stone solusinya apa?
Nah, itu buat yang ini. Kalau misalnya
kita enggak kredibel terus kita enggak
punya network, yang harus kita ningkatin
apa? Status kita, gitu kan. Jadi, itu
adalah feel yang harus kita kasih ke
audience kita. Statusnya harus bisa kita
naikin. Nah, kalau misalnya kita enggak
ada income, kita enggak ada network,
yang harus kita naikin apa? Ya, uangnya
gitu. Supaya kita bisa mendapatkan kedua
ini. Jadi, gimana cara dapetin dua ini?
Kita harus punya ini. Gimana cara
dapetin dua ini? Kita harus punya ini.
Gimana cara dapetin dua ini? kita harus
punya ini something like that. Nah,
ketika kita sudah punya solusinya,
benefit yang kita bisa kasih ke mereka,
yang tinggal kita formulate adalah
idenya. How can we make them this way?
That is going to be your pillars,
gitu, Teman-teman. Nah, contohnya kalau
misalnya lu mau jadi lebih credible, apa
yang harus lu tingkatin? Personal
development lu gitu. Kalau misalnya lu
enggak ada profit, lu enggak ada income,
yang lu perlu tingkatin apa? skill lu di
sini kalau misalnya lu eh udah jago tapi
lu masih enggak naik-naik pangkat yang
lu perlu tingkatin apa soft skill
komunikasinya harus dinaikin
interpersonalnya
kalau misalnya lu enggak ada network
yang harus di tingkatin apa ability to
negotiate-nya kalau misalnya lu enggak
ada status yang perlu e dilakuin apa
ningkatin influence-nya kalau misalnya
if you don't have money, what you need
to learn? sales, something like that.
Nah, jadi kalau misalnya kita melakukan
exercise ini,
kita akan bisa nge-find out lead magnet
idis dengan sangat gampang gitu,
Teman-teman. So, which brings me back to
the question, berapa banyak lead magnet
yang harus kita bikin? Gitu kan,
Teman-teman. Sebenarnya kalau misalnya
my personal opinion, tiga itu cukup at
least bisa nge-solve ini, ini, sama ini
gitu. tiga aja udah cukup. Tapi kita
kalau misalnya ngelakuin exercise ini,
kita punya enam pilihan. Nah, jadi dari
enam ini teman-teman bisa bikin
enam-enamnya bebas. Tapi kalau misal if
I would recommend kita bikin tiga.
Kenapa tiga? Supaya kita bisa rotate.
Soalnya teman-teman pernah kayak gini
enggak sih? E kepikiran kayak gini. When
we wan to make our lead magnet gitu ya.
Kita suka mikir, gua punya satu lead
magnet, gua promosiin hari ini, gua
promosiin besok, gua promosiin usaha,
gua promosiin. Terus orang kesal enggak
yang ngelihat lead magnet gua? Maybe you
have that eh thought gitu. Orang capek
ngelihat lead magnet gua CSH mulu, Ich
mulu gitu kan. Jadi aduh enggak enak nih
gua sama audiens gua.
What's up? So, this video we're finally
going to make our offer. By the end of
this video, lo udah akan punya kerangka
overlow agar lo udah bisa mulai
memproduksi dan membuat mengeksekusi
digital products lu. Oke, tapi sebelum
kita mulai ke sana, gua pengin
nge-introduce lo beberapa mitos dan
beberapa fakta terkait overcreation.
Kalau misalnya kita ngomongin over
digital products gitu ya, enggak
jauh-jauh dari yang paling populer tuh
online course, webinar, ebook, bootcamp,
ceklist, template, dan lain-lainnya.
Tapi mungkin yang paling populer tuh
online course. So I'm going to take
online course as an example here ya.
Jadi sebenarnya orang-orang tuh enggak
mau beli online course yang kayak gini
nih, yang panjang banget sampai ratusan
jam, yang materinya banyak banget sama
website-nya bagus dan kualitas videonya
kayak film di bioskop. Mungkin ini
kedengaran enggak kan ya? Lah bukannya
kualitas bagus itu tuh penting ya gitu
kan. Nah, ini tuh dulu contohnya gua
pernah bikin pick productivity cross ni
kayak gini gua sampai bikin website
sendiri asli gitu ya. Ini kita coba
cek ya.
masih bisa enggak
nih gua bikin member area kayak begini
ya
kan bikin membership hosting domain
terus member areanya dibikin gitu nah
jadi lah malah masuknya ke WordPress.
Anyways kita coba lagi.
Ini dulu banget nih ini. Ini tuh udah
inaktif selama berbulan-bulan lalu ya.
Jadi emang udah udah lama enggak
di-manage ini kita akses lesson kayak
begini nih. Tuh
nih pick productivity course ya. Nah tuh
kayak begini bikinbikin begini gitu loh
sampai ada member areanya, ada progress
barnya segala macam. Jadi emang
benar-benar dibikinnya sebesagus mungkin
lah gitu kan. But people actually don't
necessarily want this gitu kan. Nah yang
mereka mau tuh sebenarnya apa? yang
mereka mau itu tuh adalah course yang
bisa menjawab shark bite problems
mereka. We get to that in a minute.
Course yang bisa memberikan transformasi
course yang singkat pada dan jelas dan
bisa diselesaikan secepat mungkin. So,
they don't mereka tuh enggak butuh yang
website fancy-fancy kayak gini mereka
tuh enggak butuh. Kenapa? Karena rasanya
tuh kalau misalnya materinya panjang
sampai ratusan jam terus banyak banget
effort. Jadi kayak kuliah, cuy. Ini ini
orang tuh mau beli course bukan pengin
kuliah gitu kan. Terus jadi susah gitu
kan. Terlalu banyak hal yang enggak
spesifik. Jadi kayak going and beating
around the bush gitu loh. Jadi orang
butuhnya B, kita kasihnya A, ke C, ke D
ke E, baru ke B gitu loh. Dan enggak
unik dan enggak realistis karena kalau
misalnya kita menganggap mereka semua
bisa belajar semuanya di KS ini itu
enggak realistis gitu. So, yang
orang-orang mau sebenarnya tuh yang
spesifik aja yang menjab shark bite
problems mereka, ngasih mereka
transformasi. Jadi, mereka tuh enggak
butuh website bagus, produksi bagus.
Mereka tuh enggak butuh yang sefancy
ini. Yang mereka butuhkan tuh bukan
website kualitas bagus. yang mereka
butuhkan adalah transformasi. Orang tuh
beli course tuh bukan cuman buat nonton
video bagus. Mereka tuh beli course
karena mereka berharap mereka dari poin
A bisa ke poin B. That's what they want,
right? Jadi mereka tuh butuhnya
transformasi ya. Sesingkat mungkin kita
bikin course-nya ini akan membantu
supaya mereka tuh bisa lebih cepat
memahami dan mereka bisa transform lebih
cepat lagi. So that's the key ya. So
contohnya kayak floon blueprint. Di sini
gua bikin tuh minim video ya. Kenapa gua
bikin videonya sedikit dan lebih banyak
tulisan? Literally flow dan blueprint
tuh coursenya begini tulisan. Karena
kecepatan orang membaca itu tuh lebih
cepat daripada kecepatan orang nonton
video. Right? So that's how I structure
this. Dan gua sudah memvalidasi ini ke
tim gua dan ke audiens gua yang sudah
membeli course ini. Mereka bilang
rata-rata mereka menyelesaikan course
ini hanya dalam 2 sampai 3 jam. Kalau
mereka duduk fokus selesai coursnya. So
that's what they need. mereka udah dapat
esensinya langsung bisa praktik. That's
it. That's what you need to do gitu loh.
Literally loh. Jadi itu ya kurang lebih
ya. Cepat dikonsumsi, easy to check out,
super specific, relatable positioning
ya, validated sama realistic by science.
Ini kalau misalnya dalam konteks flozen
blueprint. Oke. So, what we need to
understand adalah kita harus membedakan
shark bite sama moskito bite. Shark bite
problem atau masalah dalam hidup audiens
kita yang kalau misalnya enggak
diselesaikan hidup mereka tuh akan babak
belur akan berantakan. Ibaratnya gini,
bayangin ya. Kita lagi di kita lagi
berenang gitu kan di laut terus ada hiu
makan tangan kita habis dong tangan kita
hilang dong tangan kita berdarah segala
macam dong. Kritis dong. That's what
shark b problem should feel like. Ketika
kita enggak membantu audience kita untuk
menyelesaikan ini, mereka jadi akan
kegigit hiu rasanya. Sakit banget.
Mereka enggak bisa tidur, enggak bisa
mikir, pokoknya sakit banget. Nah, kita
tuh harus nge-solve problems yang kayak
gitu supaya kalau misalnya mereka dapat
solusinya, mereka leganya setengah mati.
Jadi fokus untuk mencari problem yang
seworth itu. Jangan fokus ke moskit
bite. Moskito baite itu gimana?
Problemnya kalau misalnya kita digigit
cuman rasanya apa? Gatal-gatal doang.
kita tekok sedikit itu juga mati gitu
moskitonya. Jadi enggak enggak enggak
greget gitu ya. Tapi jangan sampai
moskitonya DBD juga. Kalau misalnya
nyamuknya DBD ya enggak enak juga gitu
kan. Nah jadi kurang lebih gitu. So what
we need to find is shark but problem.
Kira-kira problem apa sih yang worth
solving? Oke. So that's where we're
going to go to the product to offer
building. Jadi ini adalah framework yang
kita bisa pakai. Oke ini gua udah kasih
contoh. Kita akan walk through ini. So
sharp byte cure solution. Shark B ini
adalah problemnya. List sebanyak mungkin
problemnya yang mereka punya supaya
nanti kita bisa memilih biggest wnya apa
shark buy terbesar dari problem-problem
ini itu apa? Ingat ketika kita mengisi
ini, bayangkan kita lagi ada di posisi
mereka dan bayangkan kalau misalnya ini
terjadi terus-menerus hidup kita enggak
akan tenang, kita enggak akan damai.
Problem-problemnya apa aja. Nah, jadi
kurang lebih ini mungkin yang lebih ke
shark by tuh ini. Ini agak sedikit
moskit by. Oke. So, kita punya
problem-problem ini. Nah, kita sudah
punya problem ini. Cure-nya apa?
Solusinya apa? Lu burn out, selesaiin
kerjanya lebih cepat supaya bisa lebih
cepat istirahat. Ya, jadi ini dua solusi
mirip-mirip ini. BTW contohnya related
to flow zone blueprint ya. Jadi inilah
yang gua lakukan ketika membuat course
ini, gitu ya. Jadi ini kurang lebih
cure-nya apa, solution-nya apa, oh focus
management, oh productivity techniques.
Nanti bisa dijawaban lebih lanjut lagi.
Nah, cure sama medicine bedanya apa? Ini
adalah solusinya. Ini cara kita
bungkusnya gimana? Right? Right. Nah,
bisa aja kita bungkus ini dalam online
course solusinya. Bisa aja kita focus
management ini kita kasih mereka focus
playlist. Bisa aja untuk productivity
technics ini kita enggak usah ajarin
mereka di course, tapi kita bikin
tools-nya aja. Kita share ini tools-nya
lu pakai ini aja kelar ya. So, kita list
down. Bisa di-adow,
bisa di-delete more row ya. Jadi kalau
misalnya
kebanyakan kekurangan tinggal di-adjust
saja row-nya. Oke, next kita masuk ke
biggest moon. Di antara ini semua yang
paling ngena tuh yang mana
menurut gue pribadi yang ini. Kenapa?
Karena karena kalau misalnya ini
kelamaan ya akan burn out. Oke. So the
biggest one is this. Nah, woon-nya ini
solusinya apa? Selesain kerjaan lebih
cepat. So that's what we need to focus
at. Gimana cara kita bisa membuat sebuah
online course yang bikin orang lain
kerjaannya lebih cepat. Nah, dari situ
gua berpikir untuk gue bisa menjelaskan
ini ke mereka butuh butuh waktu berapa
lama? Sesingkat mungkin. Kalau bisa
online course ini harus dikonsumsi itu
secepat mungkin. Nah, kita tentuin
durasi yang kita inginkan orang untuk
menyelesain course kita tuh berapa jam
supaya ketika kita nge-craft course
kita, kita jadi punya patokan waktunya
gitu ya. Oke, gua pikir kayaknya kalau
misalnya mereka bisa selesaiin ini dalam
3 jam udah sangat oke deh dengan mereka
mengkonsumsi bakterinya dan mereka juga
udah tahu apa yang harus mereka lakuin
setelah ini. Habis itu baru kita masuk
ke offernaming. Ini bagin paling seru.
Nah, oleh karena itu gua namain flowzone
blueprint. Cara menyelesaikan kerjaan 24
jam hanya dalam 3 jam. Ibaratnya ini
kayak
buku aja ya.
Jadi ibaratnya flow zone blueprint itu
adalah atomic habits-nya. Oke, flow zone
blueprint itu adalah atomic habits-nya.
Judul bukunya, judul course-nya. And
this, cara menyelesaikan kerjaan 24 jam
hanya dalam 3 jam adalah subtitle-nya.
Justru ini yang penting. Jadi namanya
penting supaya apa? Supaya orang bisa
ingat course kita. Tapi efeknya, dream
outcome-nya yang kita masukin di sini.
Kalau misalnya lu baca buku Atomic
Habits, ya lu akan bisa tahu cara-cara
untuk build good habits and break ones.
Kalau misalnya lo beli eh FGZB flow
blueprint dan lo menerapkannya, lu akan
tahu gimana cara menyelesaikan kerjaan
24 jam hanya dalam 3 jam. Oke, that's
what we need to do. Jadi bikin title,
bikin subtitle for our course. And one
thing yang gua pengen touch ini penting
banget. Jarang orang bahas ini ketika
ngomongin soal course. Oke, remember
hierarchy of needs ya. Ketika kita
ngomong hierar key of needs, kalau
misalnya course kita seputar health,
wealth relationship oke. Kenapa? Karena
ini eternal markets, every greenish.
Jadi orang pasti bakal makan. Kalau
misalnya kita ngomongin health, wealth,
relationship terus course kita enggak
laku. Bukan salah, bukan salah
course-nya. Salah kitanya enggak bisa ng
ngmarketnya dengan bagus. Karena pasti
semua orang butuh, kan? Semua orang
pasti mau sehat, semua orang pasti mau
kaya, semua orang pasti pengin punya
hubungan yang baik. Semua orang pasti
enggak mau sakit, semua orang pasti
enggak mau bangkrut, semua orang pasti
enggak mau kesepian. Oke, jadi three
markets. Pertanyaannya gimana kalau
misalnya course kita tuh transcendent
needs? Contoh kayak productivity. Yang
kita bisa lakuin adalah ngframe ininya
namanya atau landing page-nya kita
arahin seakan-akan
meng-solve
si tiga markets ini. For example. For
example. Oke, flowzone blueprint. Cara
menyelesaikan kerjaan 24 jam hanya dalam
3 jam supaya kamu bisa punya lebih
banyak waktu main sama anak. Nah, masuk
tuh ke relationship supaya kamu bisa
punya lebih banyak waktu untuk
mengembangkan bisnis sampingan kamu
masuk tuh ke wealth supaya kamu bisa
punya lebih banyak waktu untuk nge-gym,
untuk olahraga masuk ke health ya. Jadi
kalau misalnya cover kita transend
needs, jangan khawatir enggak apa-apa
tinggal kita connectin aja ke eternal
marketing. Simple as that. So once we
can do it, kita akan be very set lah.
Kita akan be good to go. Nah, tapi let's
kita step further ya. Ini namanya, ini
yang namanya value equation yang dibikin
sama Alex Roosi. Oke. So, ini bagus
banget. Maksudnya apa? Jadi, ada dream
outcome, ada perceiv likelihood of
achievement, ada time delay, ada effort
and sacrifice, ada value. So, what we
need to do adalah kita harus ngincrease
hal-hal yang ada di atas garis ini.
Jadi, kita harus meningkatkan dream
outcome audience kita. Kita harus
meningkatkan perceive likelihood of
achievement mereka. Dream outcome itu
apa? Mimpi yang mereka mau. Kita harus
tahu itu persis apa. Kita catat di sini
ya. dream out ke mereka apa? Terus kita
harus tahu seberapa gampang audiens kita
mencapai mimpi mereka ketika membeli
produk kita.
seberapa yakin produk kita akan works.
Kita harus cari tahu dan kita harus
meningkatkan kemungkinan itu. Jadi kalau
audience beli produk kita, kita harus
meningkatkan kemungkinan mereka untuk
bisa mendapatkan dream outcome ini. Jadi
yang di atas garis ini kita harus
naikin, sedangkan yang di bawah garis
ini kita harus kurangin. Jadi seberapa
cepat audiens mereka bisa seberapa cepat
audiens kita bisa mencapai mimpinya
ketika membeli produk kita. Semakin
cepat lebih baik. Semakin sedikit waktu
yang dibutuhkan lebih baik. Dan semakin
sedikit effort dan sacrifice yang
dibutuhkan lebih baik. Itulah kenapa
alasannya orang tuh kalau misalnya sedot
lemak lebih orang tuh lebih pengin sedot
lemak daripada mereka olahraga. Betul
kan? Kalau misalnya mereka mau kurus
sedot lemak gimana? Cepat banget.
Beberapa jam, beberapa hari mungkin
kelar terus enggak terlalu sakit, enggak
perlu ngap-ngapan, enggak perlu capek,
ya kan? Sedot lemak. Jadi less time
delay, eh jadi more time delay. Eh,
sorry, less time delay, less afford and
sacrifice. Sedangkan kalau misalnya
mereka lari tiap hari kardio capek
banget dan lama banget waktunya. Nah,
jadi kurang lebih itu bagian atas ini
kita harus naikin, bagian bawah ini
harus kita kurangin. Apabila itu
terjadi, value dari offer kita naik,
value-nya naik. Nah, itu yang perlu kita
pastikan dari sini. Jadi, ini kita bisa
isi. Once we're done with that, dari
core offer ini, kita akan bikin yang
namanya lead magnet. Jadi setelah kita
isi ini, kita akan ambil salah satu
aspek dari sini atau kita bisa bikin hal
yang baru, kita jadiin lead magnet.
Ibaratnya apa? Goalnya apa? Supaya
audience kita bisa icip-icip course
kita, supaya bisa icip-icip kita, supaya
bisa icip-icip yang kita bisa kasih ke
mereka. Dan goal dari lead magnet adalah
bukan bikin mereka pintar. Oke, goal
dari lead magnet adalah kasih mereka
seenough mungkin, secukupnya agar mereka
bisa take action dan bisa mendapatkan
kemenangan instan yang cepat. Karena
ketika mereka mendapatkan quick wins
atau kemenakan instan yang cepat, mereka
jadi merasa, "Eh, what drama tells me to
do works nih. Apa yang lo bilangin ke
gue pas gua coba works nih." Mereka jadi
ningkat terasnya dengan kita. Dan ketika
itu terjadi, mereka jadi pengin kerja
sama kita. Mereka pengin belajar dari
kita. So that's the go. Jangan kasih
kebanyakan, just enough. Make it simple,
make it simple, make it quick supaya
mereka bisa eh supaya mereka bisa
implement dengan cepat dan mereka bisa
mendapatkan apa yang mereka inginkan
dengan cepat. Oke, so that's the goal of
lead magnet. Next, kita bisa buat lead
magnet itu tuh dari mengambil sebagian
kecil dari coreover kita atau enggak
kita buat terpisah ya. Jadi, lead magnet
ini bisa menjadi jembatan ke coreover.
Kalau misalnya lu ingin viral growth
mastery, viral growth mastery itu yang
ini jembatan. Kalau misalnya kayak gini
gimana? Let's say lu punya e-book.
E-book ini, let's say ada 12 bab. Lu
kasih bab satu sama du gratis. Nah, itu
tuh membagi sebagian kecil dari corover
kita dikasih gratis. Atau misal lu bikin
online course ada 12 chapters, kita
ambil chapter 1 sama 2 kita kasih
gratis. Nah, kayak gitu. Tapi so far
dari pengalaman gua yang lebih convert,
yang lebih makes sense eh bukan makes
sense, yang lebih works adalah yang ini
yang kedua. So, you might want to
consider that, ya. Jadi nanti habis kita
tahu kita mau bikin apa, Lead magnetnya
kita namain juga. Terus kita bentuknya
apa, namanya apa terus ini medicine-nya
apa, packaging-nya apa, apakah online
course, apakah ebook, apakah ceklist
atau apa. Oke, kita bisa bikin itu.
Setelah selesai kita bikin posternya.
Poster buat corover sama poster buat
lead magnet. Posternya kayak gimana?
Yang kayak gini supaya kita bisa masukin
ini ke landing page kita. Oke, that's
pretty much it for making your offer. I
hope this helps and looking forward to
review to review sampai belibet gua
karena saking excitednya to review
offers. Kalau misal udah selesai bikin
ini jangan lupa buat share ya ke offers
talk supaya kita bisa feedback
bareng-bareng. Thank you and good luck.
Oke, Teman-teman let's take a look at
our screen. So, this talk about bagi
Teman-teman yang ngikut
accelerator ini sebagai refreshment ya.
Tapi pasti setelah kita udah jalan
bareng selama beberapa bulan pasti akan
ada angle-angle baru yang kita bisa
ambil. So, we talk about it today. Nah,
serem. Oke. Nah, jadi hari ini
teman-teman kita ngobrolin tentang yang
namanya million dollar offer ini. Aku
tanya-tanya ke teman-teman dulu deh.
Kalau misalnya kita ngomongin content
marketing atau content creating atau
content monetization kan aspeknya banyak
banget ya. Dan kita semua tahu kalau
misalnya ketika kita ingin menjual
sebuah digital product di mana ini
adalah vehicle ya atau creator kalau
misalnya teman-teman udah nonton
videonya itu adalah bagian utama kita
yang akan kita jual produk utama kita
lewat. Nah, sekarang gua pengin tanya ke
teman-teman. If you are going to sell a
digital product,
kira-kira apanya sih yang paling
penting? Coba deh dari sebuah digital
product, bagian mana yang paling penting
yang akan berdampak langsung ke
penjualan teman-teman? Ke sales
teman-teman. Jadi bagian ini itu
ibaratnya adalah bagian yang bikin
produk teman-teman paling laku. Coba deh
pas di kolom komentar. Bagi teman-teman
yang gak bisa oncam enggak apa-apa tapi
I would highly recommend to interact in
the chat supaya kita bisa ngobrol
bareng. Nah, jadi kira-kira teman-teman
ada yang tahu enggak bagian terpenting
dari sebuah digital product itu apa?
Coba harga dan apakah digital product
itu menjabat kebutuhan? Nice. Nice. So,
very nice. Oke, Teman-teman yang lain
ada yang punya input? Putri mungkin.
Nah, sebagai sepuh nih
dari Putri, Putri sudah tahu jawabannya.
Oke, Teman-teman. Nah, sebenarnya yang
Su bilang itu tuh betul. Jadi, it's
actually the price and whether it can
solve our audience problem or not. Itu
betul gak salah. Karena pricing itu
merupakan sebuah aspek yang penting
juga. Nah, kalau misalnya kita ngomong
pricing ada banyak ada banyak nih. Ini
aku aku share ke teman-teman. Ada yang
namanya low ticket, ada yang namanya
high ticket. Low ticket itu adalah
pricing point yang sekiranya cukup
rendah dan orang tuh enggak enggak perlu
mikir panjang untuk bisa beli produk
itu. Harganya kira-kira berapa? Harganya
kira-kira di sekitar di bawah Rp100.000,
198, 298. Sering lihat kan kor-kor kayak
gitu. bahkan sampai hybridated blueprint
398. Nah, mentok-mentok itu tuh 398,
Teman-teman.
Nah, ini adalah low ticket programs. Low
ticket programs itu orang tuh enggak
terlalu banyak mikir kalau misalnya gua
mau beli, gua beli. Nah, on otherum
there is high ticket program. High
ticket program itu gimana? High program
itu adalah ketika kalau misalnya kita
sebuah produk tapi harganya premium
bisa R juta, bisa juta dan bahkan lebih.
Nah, ketika itu terjadi, orang-orang kan
harus berpikir du atau bahkan sampai
lebih ya untuk gue pengin beli atau
enggak nih karena investasinya besar.
Nah, untuk high ticket program ini
makanya cara kita untuk memmarket loh,
cara kita untuk bisa mempromosikannya
beda juga. Nah, tapi bagi teman-teman
sih I would recommend di low tiket dulu
supaya teman-teman bisa fokus ke
strategi kita karena itu untuk paling
itu begitu teman-teman. Nah, aku enggak
mau ngelewatin apa yang Putri bilang
bahwa yang terpenting dari produk adalah
namanya.
Which is very true. Karena kalau misal
teman-teman tahu, jadi gini, let's take
look at.
Aku gak akan pernah bosan ngomongin
cerita ini, Teman-teman. So, close on
blueprint ini ya, Teman-teman. Flow
blueprint ini adalah course productivity
boy yang paling winning. Jadi pertama
kali winning tuh horasnya ini. Which
means winning dalam dalam bahasaku tuh
gimana maksudnya definisi winning tu
gimana? Minimal 3 digit per bulan. Nah,
Fion blueprint itu adalah pertama dari
produk dib yang bisa angka itu. Nah,
clos blueprint pembuatannya tuh 1,eng
bulan teman-teman.
Nah, 1 seteng bulan terdiri dari ngapain
aja bikin materinya 1 minggu, mikirin
namanya 1 bulan.
Ya, itu penting banget. Kenapa? Karena
nama ini ibaratnya adalah
billboard berjalan dari produk kita. In
order for people to buy our product, ya.
Mereka harus resonate dulu, harus relate
dulu sama namanya. Kalau kalau misalnya
mereka e ngerasa bahwa namanya gak
rilate, ya mereka bakal langsung skip
karena inilah garde terdepan dari produk
kita. Itu namanya. Tentu dong.
Kamu mau beli apa? Mau beli baju, dia
tahu baju itu fungsinya buat apa. Mau
beli apa? Mau beli rumah. Rumah itu
fungsinya buat apa? Mau beli produk ini,
produk ini namanya apa? Misalnya high
value creator blueprint. Kalau misalnya
kita berpikir soal high value creator
blueprint blueprint buat apa nih? Gitu
kan. Nah, makanya itulah ada
kadang-kadang
di bawah sini ada subheing-nya. Nah,
makanya di sini namanya flow zone
blueprint tapi ada subheading. Ininya
nih yang lama dipikirin. Enggak perlu
habit dan motivasi. Kerjaan sehari
selesai dalam 3 jam. Apa cara produktif
instan ini. Nah, ini nih yang bikin
orang bingung sebenarnya.
Nah, kita ambil contoh
mana ya? Cobalah.
Wih, kita ambil contoh high
ya, Teman-teman. Kenapa sih Teman-teman
beli ini? Benar enggak? Kan pertanya
menarik dong. Kenapa teman-teman beli
ini? Coba ee bentar aku. Nah, let's take
a look.
Kenapa teman-teman beli course ini ya
kan
high value creator blueprint ya? Karena
teman-teman pengin dapatin R juta per
bulan dari konten tanpa endorse benar
loh, tanpa affiliate, tanpa itu. Itulah
kenapa nama itu penting banget. dari
nama kita harus bisa sudah mentransfer
outcome yang mereka dapatkan apa. Nah,
balik ke poin yang tadi bilang di mana
orang tuh harus tahu mereka punya
problem apa, kita menyelesaikannya
gimana. Nah, itu makanya penting banget
namanya itu penting gitu. Nah, ini ada
pertanyaan dari Rijal ya. Bang, saya
termasukkan orang berpenghasilan lebih.
Kenapa saya beli kelas ini tanpa mikir?
Trik apakah yang digunakan? Ya, ini
Rijal namanya. Pasti kan kamu mau kan
mendapatkan dream outcome ini,
mendapatkan hasil ini. Makanya
kemungkinan besar kamu beli kelas ini,
gitu. Nah, itulah kenapa ketika
teman-teman nanti ingin memulai
monetisasi konten teman-teman harus
pikirin banget namanya dengan optimal.
Ya, kenapa nama itu penting? Selain tadi
berdampak langsung soal sales ya kan
clear outcome, ada tiga hal lagi
teman-teman yang
pertama yaitu psychology. Ketika orang
mengingat sebuah brand, pasti mereka
akan mengundang namanya.
Jadi kalau misalnya mereka ingat nama
produk kita dengan gampang, kata produk
kita, nama produk kita akan sangat mudah
untuk diucapkan sama orang lain ke orang
lainnya lagi. Eh, kemarin gua udah coba
F blueprint nih. Eh, kemarin gua udah
coba high value creator blueprint nih.
Hasilnya begini ya kan? Jadi ngomongin
apa? Ngomongin high value creator
blueprint. Nah, itu secara psychologi
bisa jadi top of mind. Yang kedua aku
enggak usah jelasin lagi karena tadi
teman-teman udah aku jelasin ya betapa
pentingnya sales itu tuh drivernya tuh
dari nama karena zombin aja porsnya
bikin 1 minggu namanya mikirnya 1 bulan
seting itu karena percuma kalau misal
pors kita bagus tapi gak ada yang beli
betul kan betul kan so that's point next
balik lag marketing it also
increases thickness maksudnya apa orang
jadi gampang ingat dari top of main jadi
orang word of mouth ini jadi organic
marketing yang paling pals loh itu
marketing juga. Nah, terakhir ini adalah
sistemnya. Jadi ketika kita ingin
menjual sebuah produk orang tuh harus
tahu kira-kira cara yang kita lakuin tu
apa sih? Supaya mereka tuh bisa mencapai
mimpi tersebut, supaya masalah mereka
tuh bisa hilang gitu. Metodenya apa,
orang harus tahu mereka tuh harus expect
apa. Contohnya buat high value creator
blueprint. Orang-orang tahu kan kalau
misalnya beli ini ya kita enggak akan
ngebahas soal endorsement, kita enggak
akan ngebahas soal, kita enggak akan
ngebahas soal
live shopping. Orang-orang tahu
sistemnya, orang-orang tahu. Kita enggak
akan mungkin membahas itu. Nah, itu
harus kita jelaskan juga. Ada dua cara,
entah kita langsung sebut atau enggak
kita exclude. Kalau high value creator
pakainya exclude. Jadi orang-orang
penasaran nih, bukan endorse, bukan live
shopping, bukan lihat apa dong orang
jadi penasaran orang beli. Benar ya.
Nah, itu adalah salah satu caranya juga.
Caranya bisa begitu dengan mengekclude
supaya orang-orang mikir-mikir ini
caranya gimana ya. Although semakin
berjalan ini ya nanti akan dikasih tahu
yang akan kita lakuin itu apa gitu. Nah,
nama yang bagus itu gimana cara kita
tahunya?
Harus menjelaskan
over kita tentang apa tanpa harus
panjang-panjang. Nah, kalau misal
teman-teman lihat ini namanya ini
flowone blueprint ini jadi namanya
blint. Nah, flow itu harus cukup abstrak
tapi harus cukup mendeskripsikan juga.
Nah, kita bikin konkrit gimana dari
bawahnya sini ini sampai ini baru kita
jelasin lebih detail lagi namanya.
Kurang lebih gitu. Next. Orang sekali
baca harus nangkap ini. Kalau misalnya
teman-teman ngelihat ini bakal tahu kan
apa yang kita lakuin? Ya, kerjaannya
akan cepat selesai. Teman-teman baca ini
tahu kan apa yang kita akan lakuin? kita
akan dapetin dapat 10 juta per bulan
harus clear teman-teman nama itu seperti
itu. Nah, makanya kita akan ngebahas
tiga hal hari ini, Teman-teman. So,
chapter 1, parity of market tangible
versus intangible offer, Tillion Dollar
offer. Oke. Nah, yang pertama kita
ngebahas
market dulu. Bagi teman-teman yang mau
nanya, BTW, diri buat langsung ketik di
kolom chat ya, supaya kita bisa langsung
tanya jawab juga gitu. Nah, pertama-tama
needs market. Aku pengin tanya dulu ke
teman-teman semua di sini. Ini ada 20an
orang yang ikut. Please jawab di kolom
chat. Udah pernah baca atau dengar aku
ngejelasin materi ini belum? Kalau misal
udah coba kasih di kolom chat supaya aku
bisa langsung skip. Kalau enggak,
kalau misal belum, oke, Hali udah. Ya
su, udah di materi. Huh, Irma udah udah
ngerti ya apa apa inti dari sini. Nah,
kalau gitu aku pengin ajak teman-teman
buat diskusi. Asik.
itu tuh apa sih? Ada yang bisa
dijelasin?
Ada yang ada yang mau volunte mungkin
ada yang mau open mic
kalau misalnya enggak ada mungkin aku
tunjuk on.
Oke,
Teman-teman. Kalau enggak ada mungkin.
So, do you mind explaining what's of
needs? Maybe.
Eh, Ram, tolong go back to the slides
dong.
Oh, sure sure sure. Ya, ya. Maksudnya
mau jawab tapi lihat dulu slide-nya.
Oke. Your question apa? Kenapa your
question adalah yang
boleh boleh explain enggak of ini apa?
In your own words.
Oke. Oke. Ini eh kalau kalau enggak
salah ya ini hierarch of nih. Go back to
eh psychological ini bukan sih yang
teorinya Maslov? Bukan sih ya mungkin
salah nih tapi kira-kira.
Betul. Jadi, jadi ee yang paling bawah
kan ee kebutuhan fisik ya gitu kan.
Kayak misalnya sandang pangan, papan
kira-kira kayak gitu. Semakin ke atas
itu semakin penting enggak penting
kira-kira lah kayak gitu. Tapi semua
orang pengin punya self actualization.
Nah, ee sebenarnya kalau yang kalau
enggak salah nih yang ee gua baca di
Porce lu adalah ee semakin kita bisa
memenuhi yang paling bawah physiological
dis ya sebenarnya sebenarnya itu yang
orang-orang butuhkan gitu karena orang
butuh misalnya kayak eh wealth, health
relationship kayak jadi kalau kita
content creator dan mengedukasi misalnya
kita ada di tiga market itu misalnya di
cara dapat uang misalnya atau di health
kayak aku edukasi diabetes atau tentang
relationship itu sebenarnya nya market
yang pas karena semua orang butuh itu.
Benar enggak teman-teman? Boleh
tambahin.
Yes, itu on point banget. So, thank you
very much to e for for explaining and
elaborating. Jadi kurang lebih
teman-teman survival needs kita itu
adalah needs yang kita enggak akan bisa
hindari.
Kita enggak punya ini, hidup kita akan
sengsara. Bukannya biasa-biasa hidup
kita akan sengsara. Nah, kalau misalnya
kita corate sama marketing strategy atau
marketing theory orang-orang dealer sana
ini yang mencetuskan konsep ini tu
Russel Branson dari Amerika bapaknya
panel. Nah, dia itu bilang bahwa ada
tiga market yang gak akan pernah mati di
dunia ini, yaitu health, wealth, sama
relationship. Karena pasti seumur hidup
kita orang itu gak akan pernah lepas
dari yang namanya masalah kesehatan.
Tentu orang kan akan meninggal jadi gak
akan pernah lepas tuh. Kalau misalnya
orang sudahudah sehat pun pasti dia
pengin lebih sehat. Betul ya? Orang
sehat nih tapi dia pengin dong badannya.
Orang sehat nih tapi pengin dong dia
makin ganteng. Something like that gitu.
Wealth. Kalau misalnya kita gak punya
uang kita miskin. Tapi kalau misal orang
gak miskin dia pengin lebih kaya dong
ya. Nah jadi itu relationship juga.
Orang kalau misalnya enggak punya teman,
gak punya keluarga, enggak punya
pasangan, mungkin akan sengsara. Tapi
kalau misalnya sudah punya pacar pengin
punya pacar kedua mungkin kadang-kadang
orang kan masuk aneh gitu ya. Nah, jadi
kurang lebih kayak kita ya. Ini
pentingnya tuh di sana. Nah, kita
mengambil konsep dari three markets ini,
market ini, kita harus bisa
mengkorelasikan itu dengan nama offer
kita, Teman-teman. Itulah yang membuat
offer kita powerful. Nah, ada dua tipe.
Ada tangible versus intangible,
Teman-teman. Bedanya di mana? Tangible
itu sifatnya nyata dan bisa diukur. Ini
nih,
bisa diukur maksudnya gimana? Jadi kita
tahu kalau misalnya kita sudah sukses
itu tuh gimana suksesnya kita tahu.
Contoh teman-teman tahu enggak kalau
misalnya teman-teman sukses di high
value creator blueprint dan yang lainnya
gimana? Teman-teman akan sukses kalau
sudah mendapatkan ini. Betul ya? Itu
tangible-nya. Ini adalah tangible offer.
Dan di sini teman-teman akan kalau
teman-teman sukses dengan flow zone
gimana? Karena ini 3 jam doang kerjaan
teman-teman kelar. Nah, itulah tangible,
Teman-teman. Penting banget. Harus bisa
diukur. Karena contohnya gini, kalau
misalnya aku bikin offer
ini formula untuk menghapkan R juta per
bulan tanpa endorse, affiliate sama live
shopping dibandingin sama
eh content creating master class,
teman-teman akan pilih yang mana?
Tentunya yang pertama kan. Enggak
mungkin yang kedua konten creating
masterclass. Masterclass konten
creatingnya ngapain ngonten nih? Bingung
orang. Nah, itulah pentingnya tangible
offer, Teman-teman. Bisa dirasakan,
dilihat, diukur, dan dalam tanda kutip
dipegang pakai tangan lah. Duit kan bisa
pegang pakai tangan. Kalau misalnya kita
sixpack kan bisa dipegang pakai tangan.
Kalau misalnya kita punya hubungan yang
lebih baik dengan pasangan kita kan bisa
kita pegang pakai tangan ya kan. Jadi
kurang lebih kayak gitu. Nah, yang
berdampak secara universal adalah tadi
tiga ini ya. Eternal markets ini makanya
penting banget teman-teman. Nah,
pertanyaannya gimana kalau misalnya kita
nih transend need? Betul ya? Kalau
misalnya teman-teman ngomonginnya
traveling, teman-teman ngomonginnya
productivity, teman-teman ngomonginnya
yang lain-lain. Gimana caranya supaya
kita bisa bikin hal yang enggak nyata
jadi nyata, Teman-teman? Contohnya lebih
produktif, lebih cepat masak, lebih jago
public speaking, lebih enggak stres,
enggak cemas. Masalahnya di sini kita
enggak tahu lebih produktif seberapa
produktif. Kita enggak bisa taker. Betul
enggak, Teman-teman? Lebih jago masak,
lebih cepat masak, gimana? Kita enggak
tahu takaran. Jago public speaking,
skalanya gimana? Dapat nilai gitu. Susah
kan kita takarnya? Kadang-kadang, "Oh,
dia jago, dia enggak jago gitu doang.
Binary, enggak cemas seberapa cemas?"
Kalau misalnya ngomongnya sama Mbakoro
di sini ya, mungkin yang ngebahas soal
mental health, dokter kita nih, dokter
andalan kita mungkin dia akan ada
skala-skalanya. Tapi kalau misal orang
yang bukan dokter pasti enggak tahu
gimana cara ngukur dengan optimalnya.
Nah, kalau misalnya kita ngomongin
fashion lebih enggak normal, lebih
bagus, gimana kita tahu tolak ukurnya
apa? Nah, dari nontang jadi tangible
kita bisa mungkin transend ini itu tuh
dikaitkan dengan
teman-teman. Caranya begitu.
Cara bikin non tangible jadi tangible
adalah diutin aja. Nah, yang pertama
caranya adalah hubungankan dengan
eternal market. Yang kedua ada lagi
hubungkan dengan tangible factors. Aku
ngomong yang eternal market dulu ya.
Contohnya gini.
Iya. Ini kalau misalnya teman-teman
lihat Bandoro, Putri, sama Sarah itu tuh
member dari high value creator Acceler
kita nih udah seram-seram. Jadi kalau
misalnya teman-teman mau nanya lebih
banyak, bingung nih cara nulis konten
yang bagus gimana? Cara cara ee bikin
digital produk yang bagus gimana,
tanyanya ke mereka aja udah udah
keren-keren. Udah Putri juga udah
closing-closing, Sarah juga udah double
digit, ya kan. Bandoro juga kontennya
viral terus gitu kan. Nah, jadi
teman-teman bisa tanya dari mereka. Nah,
teman-teman cara yang pertama kita
lanjutin dulu ya. Hubungkan dengan
etteral market. Di sini ada enggak yang
nich-nya transcenden need? Boleh, boleh
kast dong teman-teman di kolom chat
masing-masing dari kalian nish-nya apa?
Sudah tahu belum ngebahas topik tentang
apa? Kalau sudah tahu boleh kasih tahu
di kolom chat ya supaya kita semua tahu
nih.
Putri traveling topik aku tentang UIUK
William tentang digital marketing. Yang
lain gimana?
Ada yang mau share supaya nanti aku bisa
kasih contoh ya. B health diabetes nice
nice very specific very good self growth
personal development. Nah teman-teman
contohnya kalau misalnya kayak kalau
tentang elektro masuk ke mana? Teknik
elektro maksudnya kalau teknik elektro
maksudnya tentu ke transh menurutku.
Kalau bonek literasi dini bisnis dan
financial masih bimbang mau yang mana.
Keduanya seksi sih. Kenapa? Kenapa Irma
keduanya bisa? Karena keduanya kehubung
sama Wales. Jadi bisa keduanya kalau
misalnya ngomongin soal financial bisa
ke Sara tuh. Karena topiknya tentang
finance juga nih, Sara. Gua gua
promosiin lu, Sar.
Nih, Teman-teman bisa dicek nih
ini sama high value creater dari
followers di bawah 1 sekarang udah
udah lebih dari udah ada K lah
minimap. Terus income-nya juga ada dua
digit nih. Ya,
jadi teman-teman bisa belajar dari SAR
juga. Udah lama nih belajar sama aku
kurang lebih. Kita lanjut dulu.
Ya
notifnya emang iya ya gua gak nyadar
tiap hari emang udah begitu si put sor
oke teman-teman so caranya gimana satu
hubungan dengan etal market kalau
misalnya ya misalnya kayak to diabetes L
juga digital marketing kan Irma kayak
Will lebih oke. Nah, tapi contoh kalau
misalnya kayak Hali kayak Hood gitu kan
ini kan sedikit transcenden ya. Nah,
gimana kita ngghubunginnya ke eternal
market gini teman-teman. Mish
itu tuh contohnya time management
nontangible offer. Maksudnya gimana?
Cara menyelesaikan kerjaan 8 jam hanya
dalam 4 jam. Nah, ini sebenarnya udah
cukup tangible. Kenapa? Karena ini nih
udah diukur berarti lu bisa hemat 4 jam.
Nah, ini sebenarnya udah agak-agak
tangible. Kalau misalnya non tangible
banget biasanya gimana? Kayak gini nih,
Mas gini doang nih. Ini nontangible nih
ya kan. Ini kita enggak tahu kita
ngbelajar time management gimana. Kurang
lebih kayak gitu. Cara bisa bikin
tangible dikaitkan dengan etal market.
Contoh misalnya gini,
cara menyelesaikan kerjaan 8 jam hanya
dalam 4 jam gimana? Begini ditambahin
supaya banyak waktu main sama anak. Ini
jadi ada hubungannya sama apa? Sama
relationship, Teman-teman.
supaya bebas stres dan tidur cukup. Ini
ada hubungannya sama apa? Sama health.
Supaya omset naiknya dua kali lipat.
Nah, jadi bagi teman-teman yang punya
offer atau punya produknya itu tuh
nontangible atau n itu tuh bukan health
wealth relationship. Caranya gimana?
Cuma tinggal ditamin aja supaya bla bla
bla bla supaya bla bla bla bla supaya
bla bla bla bla. Nah, ini akan
mengaitkan over teman-teman ke eternal
market tadi supaya lebih powerful
dan teman-teman bisa ambil angle yang
berbeda-beda. Nah, caranya begitu. Jadi,
kalau misalnya teman-teman ngebahasnya
di luar health relationship, caranya
gimana? Tinggal dikaitin aja. Ini akan
jadi lebih optimal, Teman-teman. Next.
Kalau misalnya public speaking di sini,
kalau misalnya ada yang bikin konten
public speaking,
kalau misalnya kita cuman bikin course
gini, course supaya kamu jago public
speaking. Wah, orang mah
bingung sejago apa nih gua public
speaking kalau misalnya gua belajar sama
lu. Tapi kalau misalnya kita ganti gini,
jago public speaking supaya penonton lu
akan berubah jadi fans relationship.
Jago public speaking biar orang lain
nurut sama apapun yang lu bilang.
[tertawa] Ini bisa juga nih kalau
misalnya kita ngomongin em
ke relationship lagi ya. Nah, next. Jago
public speaking supaya gaji lo auto naik
dua kali lipat. Nah, itu kan ada orang
kan ada tangible gitu. Jadi ada ada
tangible-nya orang jadi bisa ukur kalau
misalnya gua belajar public speaking
sama lo yang gua akan dapatkan apa? Ya
ini gaji gua kemungkinan naik dua kali
lipat gitu. Contoh terakhir nih fashion.
Kalau misalnya teman-teman ngisinya ada
yang fashion. Nah, kalau misalnya
teman-teman ngomongin fashion kan
fashion itu kan seringkiali kan sama
styling, mix and match bla bla bla
gitu-itu. Kalau misalnya kita ngomong
soal fashion kayak begitu itu gimana
nanti cara kita supaya bisa ngitin
dengan etal market. Karena kalau
misalnya styling oke gua styling nih,
tapi gua akan bisa dapat benefit apa
dari stying yang bagus. Kalau misalnya
baju gua rapi apa? Apakah cuman rapi
doang? Karena kalau misalnya hasilnya
cuma rapi doang pasti kita enggak mau
gitu loh. Nah, jadi itu yang bisa kita
perhatikan. Nah, caranya gimana kita
ngitin? Balik lagi ke et market. Fashion
styling one untuk guide gebetan hanya
dalam sekali.
Bayangin lu kalau misal ikut course gua
gua dandan l punya gebetan sekali lu
pakai baju yang kita udah discus lu
kegbetan lu. Sekali ngok dia langsung
jatuh cinta sama lu orang pasti mau dong
kayak gitu kan. Nah, itu ada hubungannya
tuh sama etal market. Next.
101 untuk membuka bos supaya kalau
misalnya kita kerja bos jadi semangat
sama kita, jadi respect sama kita,
kemungkinan besar bisa dikaji gitu.
Atau misalnya terakhir passion 10 untuk
hidup lebih nyaman tanpa keringat. Ini
kalau misalnya supaya kalau misalnya
kita lagi ee olahraga ya buat health
kita supaya kita nyaman matin. Nah,
kurang lebih gitu teman-teman. Inilah
yang kita bisa lakuin. Nah, terakhir
terakhir ya. terakhir
eh masih banyak ternyata
ini, Teman-teman. Kalau misalnya kita
pengin kalau misalnya saking excitednya
gua udah ini aja kan. Yang kedua,
teman-teman bisa hubungkan dengan
tangible factors. Tangible factors itu
ada beberapa hal yang kalau misalnya
kita include dalam penamaan offer kita
ini akan bisa membuat kita jadi lebih
strong nih overnya.
Nah, kita tinggal bisa memanipulasi
beberapa hal berikut. umur,
uang, waktu, tempat, atau orang
gitu, Teman-teman. Nah, jadi kalau
misalnya contoh nih, contoh kalau
misalnya uang kita, kalau misalnya kita
pakai uang, contohnya gimana? Kayak gini
bisa dapetin R10 juta per bulan bla bla
bla bla itu uang tuh. Kalau misalnya
umur gimana bisa dapetin R10 juta per
bulan di bawah umur 20 tahun. Nah, itu
kan umur tuh ada aspek umurnya. ini
sudah fakta, sudah enggak bisa
diapa-apain. Nah, bisa dapat R10 juta
per bulan di bawah umur 20 hanya dalam 1
bulan luar gitu kan lebih parful lagi.
Bisa nih aku kasih contoh ya. Kalau
misalnya kita ngomongin ee uang bisa
dapat R10 juta per bulan nih ya
teman-teman ya.
Kita akan bikin nama yang powerful. Ini
uang nih. Kalau misalnya kita ngomongin
umur di bawah umur 20 tahun ini masuk
nih umur kita ngomongin waktu kita bisa
tambah lagi. Hanya dalam 1 bulan kita
tambahin tempat. Kita tambahin tempat
hanya dalam 1 bulan di dari belahan
dunia manaun.
orang ya
orang kalau misalnya kita ngomongin
apapun
ee di mana pun itu termasuk orang juga
deh karena ini kan environment kita.
Nah, jadi ini itu tuh sudah mencakup
lima faktor ini teman-teman
ya. Nah, jadi bisa dapat 10 juta per
bulan di bawah umur 20 tahun hanya dalam
1 bulan dari belahan dunia manapun. Nih,
Teman-teman coba deh bikin offer kayak
gini pasti ramai yang beli. Kenapa?
Karena dari namanya aja udah kencang,
udah bagus, Teman-teman. Kira-kira kalau
aku tanya deh ke Teman-teman simpel.
Kalau misalnya Teman-teman ketemu yang
kayak gini, bakal mau beli enggak
kira-kira? Coba kasih chat. Kalau mau
kena besar pasti mau beli kan karena
namanya sepitu teman-teman. So, that's
the power of naming. Oke. Nah, itu
adalah cara kita gimana kita bisa
menamakan produk kita dan memposisikan
produk kita separuhful itu supaya
orang-orang langsung membeli. Itu
caranya ya. Nah, next pertanyaan dari
teman-teman mungkin gini. Gimana kalau
nich gua enggak ada hubungannya sama
hal-hal barusan? Enggak bisa bikin over
bagus dong. Tentunya santai dulu karena
pasti bisa ya. kita bisa melakukan yang
namanya tangible factor terakhir yaitu
aksi
aksi itu maksudnya gimana? Setidaknya
kalau mereka enggak bisa mendapatkan
hasil, mereka akan bisa beraksi.
Nah, paham enggak, Teman-teman?
Setidaknya kalau misalnya kita sudah
bikin course, kalau misalnya mereka kita
enggak bisa menjanjikan hasil ke mereka
nih, kita nih enggak bisa menjanjikan
mereka hasil. Setidaknya yang kita bisa
janjikan ke mereka adalah kita akan
membuat mereka beraksi.
Nah, dengan mereka beraksi sedikit
banyak mereka merasakan perubahan. Nah,
itu adalah salah satu cara yang
teman-teman bisa terapan juga keover
teman-teman supaya powerful. Nah, ini
adalah salah satu course dari
productivity dulu juga yang cukup
best selling lah gitu ya teman-teman ya.
Kenapa ini works? Karena ada aksinya
tujuh langkah untuk punya 48 jam sehari.
ada tujuh langkahnya. Nah, tujuh
langkahnya ini itu adalah bentuknya
aksi. Jadi, kalau misalnya orang ikut
KES ini mereka menerapkan tujuh langkah
itu mereka sudah bisa progres. Itu
adalah aksi yang kita instill ke peserta
gitu teman-teman ya. Habis ini kita akan
tanya jawab.
session with this framework.
Teman-teman, aku pengin tanya nih di
sini udah ada yang bikin offer belum?
Udah ada yang eh punya digital product
belum? Kalau misalnya udah coba coba
kasih tahu di kolom chat deh. Siapa tahu
nanti bisa kita review dan kita langsung
optimize.
Ada enggak di sini yang udah bikin
digital produk
coba? Atau masih baru mau bikin? Nah,
ini dari Samuel. Coba dong ee boleh
kasih tahu di kolom chat enggak digital
produknya namanya apa?
Ini Kris juga kalau misalnya masih on
progress boleh k boleh dikasih tahu dong
kira-kira namanya bakal apa nih? Oke 120
topik ngobrol. Oke. Nah
eh Samuel kita bisa ngobrol-ngobrol
enggak nih? Nah supaya kita bisa
ngebedah your product.
Express self love dari Chris Nice. Kalau
putri juga boleh kok.
Oke enggak apa-apa santai aja.
Nih begini. Karena kalau misalnya kita
ngomongin
120
tapi ngobrol kita ambil di sini kita
bahas di sini.
Kita tulis dulu ya. 120 topik ngobrol.
by Sam. Terus dari Kris Express Self
Love.
Oke.
Terus terakhir
ada
digital marketing notion handbook
by W. Nah, ini dari Putri practical tips
to enjoy Japan. Udahlah ini gak usah
dibahas Putri udah bagus orang kita udah
review. Nah, contoh yang bagus tuh kayak
Putri teman-teman ya. Udah tangible.
Kenapa? Coba ada tahu gak kenapa ini
tangible punya Putri? Practical tips to
enjoy Japan million for next. Tahuak
kenapa offernya bagus? Ada yang bisa
tahu? Coba kasih di kolom chat. Kenapa
namanya bagus menurut R?
Udah di state hemat R juta. Yes, betul.
Jadi udah di state hemat R juta sudah
kena ya faktor uangnya.
Faktor aksinya juga udah ke state hemat.
aksinya sudah dapat, tempatnya sudah
tahu. Di Jepang tempatnya juga sudah
tahu.
Nah, kalau misalnya kita mau eh optimiz
ini kan kita tahu nih ada waktu ya,
tinggal kita tambain aja untuk berapa
lama tuh mungkin itu bisa optimal juga.
Tapi kalau misalnya enggak mau
ditambahin enggak apa-apa si optional
dari good gitu. Kalau misalnya mau
dioptimiz lagi bisa ditambin waktu.
Sip. Oke, next. Kita ngobrol kita
satu-satu kita optimiz ya, Teman-teman
yang tiga ini ya biar Teman-teman
nangkap. Eh, Sam, do you want to talk
about your product? Ini 120 topik
ngobrol tu konsepnya gimana sih? Dan
salam kenal ya. Happy to you.
Hai, halo. Panggilnya apa nih ya? Kok
Rama ya?
Rama aja enggak apa-apa panggil nama.
Oke, Ram. Salam kenal.
Kita bisa ketemu juga. [tertawa] Yoi.
Nice. Lama ngikutin lu gua.
Happy to see.
Oke. So, gimana nih?
Ee kira-kira 120 topik ngobrol nih boleh
dijelasin enggak knya bakal tentang apa?
Jadi kan ee orang kalau mau PDKT
seringki mereka bingung ya ee ee
beraninya sudah ada tapi bingung mau
ngomongin apa.
Jadi dengan
topi ngobrol ini ide-ide itu bisa
dipakai sih gitu.
Nah, ini tadi udah udah ini ini kan
berarti kan relationship ya.
Iya.
Ini kalau misalnya kita mau optimize
bisa gini
supaya lo eh enggak mati gaya
first di
bareng. something like this akan ngebump
sedikit jadi lebih spic up gitu loh.
Karena kita harus mikir begini nih 120
topik ngobrol itu topik buat apaan gitu
kan. Karena kalau tadi gua nanya, karena
gua enggak nangkap konteksnya apa,
ngobrolnya buat apa. Sedangkan kalau
misalnya kita gini 120 topik ngobrol
supaya lu enggak mati gaya di first date
bareng doi, orang jadi tahu, Jir, kalau
misalnya gua pakai eh e trik-trik yang
ada di kelasnya SEM, ya berarti nanti
kalau gua ketemu doi gua, gua gua enggak
bakal mati gaya nih. Dan bisa aja gua
bisa akan nge-secure next date gua
bareng dia gitu loh.
Hm. Nah, ini. Nah, ini lebih gila nih
dari makanya saya enggak pilih. Saya tuh
enggak salah pilih set of content, cuy.
Nih, ini dari Mike nih. 120 topik
ngobrol asik gbetan atau baper dalam 10
menit duar gitu kan, Sam? Benar enggak?
Iya. Iya. Cakepcakep nih. Keren, keren.
Nah, tinggal ini tinggal ini di
ee digabungin aja gitu kan. Ee
nih 120 topik ngobrol.
Nah, Sabar asik gebetan.
Eh, belum
anti kalau misal mau digabungin ya.
H
dan something like this. Anti mati gaya
dan gebetan atau bapar dalam 10 menit.
Nah, lu bikin kayak gini laku nih. Gua
jamin nih. Entah dua ini deh lu pilih
deh. Karena dari namanya aja tuh sudah
mendeskripsikan. Benarnya iya kan? Nah,
asik tuh. Nah, jadi mungkin sedikit
input dari kami itu ya semen. Jadi kalau
misalnya mau dioptimize mungkin bisa
pakai ini. Sip.
Masih siap ya. Y
best of ya. Kalau misalnya mau nanya
apa-apa berkabar aja ya di grup ya.
Kalau misalnya nanti mau nanya apa-apa
di Discordnya chat aja nanti.
Oh oke. Siap siap kalau gitu.
Kalau misalnya kan gua kan selama ini
kan gua pakai ini ya e trebelio
patch-nya si Kodeni itu
sama si siapa? eh firsttingen itu kalau
misalnya gua melampirkan linknya gitu
untuk direview gitu, is that ok?
Oh iya boleh boleh enggak apa-apa enggak
apa-apa.
Oke siap now aja. Oke thank youah
thank you.
Oke next. Nah ini express self love by
Chris. Nah ini ada Krisnya nih. What's
up Chris Christopel? How are you bro?
Eh, halo malam bro.
Nih nih review apa in the public nih.
Deg-degan nih saya sebenarnya sih.
Bisa aja lu santai kali. Siap. Happy to
see you again.
Heeh. Kris ini kan self love nih. Nah,
self love balik lagi. Kira-kira
dari self love ini yang mereka akan
rasakan apa? Nah, jadi gini, gua tahu
kita kan akan lebih self, tapi setelah
kita self love apa yang akan terjadi
gitu.
H
kalau aku sih kemarin kebetulan baru ini
sih ya apaam aku baru sempat bikin
slogannya tuh slogannya kemarin sih aku
sih tulisnya ekspresikan Anda secara
singkat dan melekat sih.
Hm. Oke,
ekspresikan Self
blok Anda
secara secara singkat dan melekat.
Oke.
Nah, balik lagi dari sini sebenarnya
udah bagus ee untuk e slogannya gitu.
Tapi balik lagi harus ada outcaya apa
nih?
Supaya. Nah, ini nih yang perlu kita isi
nih. Oh, isi
atau enggak express self love.
ee
misalnya
auto PD
dan berhenti insecure misalnya misalnya
kan orang self love gitu kan enggak PD
dan insecure misalnya misalnya sampai
sini auto PD dan berhenti insecure
dalam
ya berapa lama lah misalnya dalam 1
minggu gitu am tu itu bisa lebih optimal
pasti akan lebih lebih convincing Kris
gitu jadi bisa begitu nah tapi mungkin
Ini kan dari kampus ini kan masih dalam
development. Nanti coba dievelop dulu
nanti kita review lagi ya di
komunitasnya.
Boleh. Boleh.
Oke thank you guys. Nah last but not
least nih top G nih William Fernandez.
Yo bro. Gimana Will digital marketing
notion handbook outcome apa?
Eh btw ini belum ada suara ya?
atau
Oh, ya enggak kedengaran benar ya
berarti
masih belum ada WA.
Nah, L
belum ada
digital marketing notion handbook
atau enggak, Will? Boleh gini deh, nanti
kamu coba chat kira-kira ee ini akan
tentang apa. Nanti kita bahas
bareng-bareng. Eh, bentar. Ini kamu lagi
pasang earphone coba ya.
Bentar ya teman-teman ya. Kita belajar
bersabar
menumbuhkan self loss. Kalau misalnya
kata Kris ya kan.
Oke ini Will enggak belum belum ada
Will. Will mungkin gini aja Will kamu
deskripsiin aja di chat aku jelasin
bagian bawah ini dulu nanti aku balik ke
kamu lagi yaitu ya. Sip. Nah.
Ini sebenarnya tadi kan em
ada pertanyaan bagus banget nih dari
Sam. Sam tuh nanya. Sam tuh nanya kalau
misalnya bahasa-bahasa kayak gini
dapatnya dari mana resource nih? Nah
sebenarnya sejujurnya itu dari
pengalaman. Tapi kalau misalnya mau
dapat resource nih resource-nya ini
framework-nya biar teman-teman enggak
bingung. Karena mungkin tadi Sam, Kris,
Putri atau teman-teman yang lain bingung
ini kok Raman sama Mike itu kok bisa
bikin langsung kayak gini instan gitu
kan. Kok bisa nih dapat kayak begini
instan gitu bisa kepikiran kayak gini.
Nah, ada framework-nya teman-teman nih.
Nah, framework-nya begini. Durasinya
berapa lama, berapa banyak, outcome-nya
apa sistemnya apa?
Contohnya gimana nih durasi atau berapa
banyak? tujuh langkah ni outcome-nya
untuk punya 48 jam.
Eh, sori sori ini sistemnya. Sistemnya
tujuh langkah. Nah, dalam sehari
durasinya sehari.
Nah, ada satu lagi sistem. Cara
outcome-nya menyelesaikan kerjaan 24 jam
durasinya 3 jam. Nah, Teman-teman bisa
ikutin formula ini ya kan tadi kan kita
juga pakai di sini
120 topik ngobrol asik ini adalah
sistemnya nih. Ini sistemnya nih. Itu
sistemnya
ya kan dalam 10 menit durasinya
ini outcome-nya gitu ya. Jadi kita pakai
formula ini SEAM. Jadi kalau misalnya
nanti teman-teman Sam dan yang lain mau
bikin ee produk bisa ngikutin sistem ini
aja. Makanya tadi offnya Sam bisa
langsung kita twik kayak gitu. Jadi
pakai formula ini. Nah, sistem ini itu
apa? Mungkin bingung sistem itu apaan
sih? Sistem itu adalah metodenya.
Metodenya apa nih? Apakah dalam bentuk
blueprint? Apakah dalam bentuk
challenge? Apakah dalam bentuk sistem?
Apakah dalam bentuk hack? Apakah dalam
bentuk course atau mungkin kadang-kadang
ini rahasia cara ya kan eh atau misalnya
something like that. Jadi bisa kayak
gini nih sistem tuh tinggal kita ganti
aja kata mana dari sini yang cocok masuk
ke sini gitu teman-teman. Nah, kalau
misalnya non tangible gimana durasinya
berapa banyak, outcome-nya apa?
Sistemnya apa? Plus tangible factor atau
eternal market. Kayak tadi contoh tiga
rahasia ini buat fris nih mungkin
optimal nih. Tiga rahasia ya kan durasi
atau berapa banyak outcome-nya apa?
Berdamai dengan stres.
Sistemnya apa? Challenge
supaya sehat mental dan fisik. Nah, ada
eternal marketnya, Teman-teman.
Atauak bisa yang kedua kita tinggal
balik aja tangible factor dulu, sistem
outcome baru durasi sehat mental dan
fisik. tiga rahasia berdamai dengan
stress challenge gitu
teman-teman ya. Jadi kurang lebih gitu
caranya yang kita bisa lakuin. Nah,
kalau misal teman-teman mau lebih
optimal lagi semua ini tinggal
ditambahin pain.
Jadi contohnya kalau misalnya punya SE
tinggal kita tambahin tanpa di sini
tanpa ini
nih tanpa apa? Tanpa harus ganteng luar
makin menarik enggak coba? Kadang-kadang
kan orang kan takutnya begitu. Gua mau
ngobrol sama gebetan gua, mau sok asik
nih sama gebetan gua supaya dia baper.
Tapi gua enggak PD karena gua enggak
ganteng. Benar enggak? Kalau misalnya
kita bilang gini, 120 topik ngobrol asif
gebetan buffer dalam 10 menit tanpa
harus ganteng semua cowok beli, Bro.
Gitu kan. Nah, jadi tanpanya itu loh ini
powerful banget.
Makanya ini juga dipakai dier blueprint
ya tanpa endorsement, tanpa live
shopping, tanpa ail penting banget tuh,
kencang banget ya. Jadi tinggal kita
gituin aja. Sama contohnya kayak tadi,
siap traveling ke Jepang besok dengan
modal R juta untuk 5 hari. Nah, ini
contohnya put yang tadi gua share juga
nih. Bisa dioptimasi juga kayak gini ada
ada nominalnya, ada durasinya.
Nah, Teman-teman,
kurang lebih gitu tuh yang kita bisa
lakuin. Nah, tanpa harus tajir juga bisa
nih ya. Tanpa harus ganteng atau enggak
tanpa harus tajir nih. Sudah masukin
ini sudah bisa nih. Keren.
Orang pasti beli. Oh, atau enggak gini
tanpa harus ganteng dan tajir. Mantap.
Orang pasti beli semua nih. Kini gua
juga mau beli kalau saya gini kan apa
gua bikin aja kayak gini. Menarik nih
hajar ini pasti mantap nih salnya nanti.
Oke last but not least kita e ngobrol ke
Will punya ya. Jadi WH itu coursenya
tentang belajar digital marketing social
media dan lainnya. Tapi belajarnya by
notion tulisan enggak pakai video jadi
lebih cepat karena aku lihat di luar dan
aku pernah itu juga itu mahal.
Oke. Nah ini berarti yang udah ketemu
tuh baru aspek ininya aja Will baru
durasinya doang yang udah ketemu.
Sistemnya juga udah ketemu nih. Apa?
Karena gini.
Durasinya itu
dih kamu bilang 3 hari ya sistemnya
notion handwork ya Will. Nah, tapi
outcome-nya belum ada nih. Ini yang
harus kamu cari
ya kan? Kalau misalnya udah ada bisa
gini digital marketing
notion handbook
auto profit
juta dalam 3 hari misalnya something
bisa nih kayak gini contoh nih.
Nah, tapi outcome-nya harus ada dulu.
Apa nih outcome-nya? Kalau aku kan kasih
contoh kan auto profit ya kan. Nah, ini
nanti kamu harus bikinnya sendiri gitu.
Semoga membantu ya, Wil ya.
Sip, Teman-teman. That's pretty much it
so far. Gimana session-nya? Apakah
mencerahkan? Let me know. That's pretty
much it for the session.
Oke, Teman-teman. So today we're gonna
discuss about this ya. Jadi gimana sih
cara kita bisa ngebangun million dollar
offer ya kan. So we're gonna talk about
people's most common mistakes. Jadi
supaya teman-teman tuh bisa menghindari
kesalahan ini semenjak gini. Karena aku
udah ng for your information aku udah in
this business sekitar 2 tahunan du
hampir 3 tahunan and I made more than 20
products already. Jadi aku udah ngetes
banyak banget dari ebook, dari online
course, dari webinar, dari based
courses, dari online coaching, dari grup
coaching, every single thing that you
can imagine. Aku udah tes dan dalam
perjalanan itu ada beberapa kesalahan
yang oh rasanya kalau aku tahu lebih
awal nih aku bisa meminimalisir e
kesalahan tersebut gitu. Jadi aku akan
share habis ini. Ada juga getting the
right pricing. Nah, karena kalau
misalnya kita ngomongin harga gitu ya,
Teman-teman. Ketika misalnya lagi mau
bikin digital product, nanti mungkin ada
beberapa dari Teman-teman tuh yang udah
mikir, "Ini gua udah tahu mau bikin apa
tapi bingung nentuin harganya gimana,
harga yang pas tuh berapa ya." Nah,
something like that. Nah, kita akan
bahas juga nanti, Teman-teman. And we're
gna talk about tapping into core human
needs. Jadi, gimana cara kita make sure
ketika kita bikin digital product, bikin
offer, ketika kita launch itu tuh emang
udah benar-benar yang termaksimal.
Jangan sampai kita eh maksudnya ketika
udah launch eh tapi kok ternyata masih
ada yang bisa di-improve dan segala
macam. Nah, itu tuh kita bisa tahu
dengan cara apa? Dengan melihat human
needs, gitu. Nah, last but not least, my
favorite part which is shark bite versus
moskito bite. Teman-teman, we're gna
first discuss about people's most common
offered creation mistake. Ya, jadi ini
teman-teman ketika nanti membuat
offernya, coreover-nya apalagi kayak
Dave Sue udah mulai bikin lead magnet,
sudah mulai bikin coreover, ini bisa
menjadi renungan gitu ya e buat ke
depannya juga. Teman-teman, the biggest
mistake is actually we tend to make too
many offers.
Nah, ini kesalahan terbesar kita
kadang-kadang itu tuh kita tuh membuat
kita tuh pengin buat banyak gitu.
Padahal terkadang mungkin teman-teman
mikir bikin satunya gua udah capek
setengah mampus apalagi bikin banyak
gitu kan. Nah, tapi ketika teman-teman
gini trennya trust me ketika teman-teman
sudah bikin satu kalian akan PD dengan
apa yang kalian bisa buat dengan potensi
kalian. Kalian akan PD ketika itu
terjadi kenapa gua enggak bikin dua aja
ya? Kenapa gua enggak bikin tiga aja?
bikin empat aja itu akan terjadi. Trust
me. Ketika teman-teman sudah selesai
bikin offer pertama kali, kalian akan
berpikir seperti itu. Kayaknya nih gua
udah bikin online course, gua tambahin
mini ebook. Asik nih gua tambahin ini
asik nih. Akan seperti itu ya. Apalagi
Sam nih. Shoutout juga Sam. Sam tuh
enggak cuman offnya yang banyak, akunnya
aja ada lima. Sam gua kagak ngerti. Sam
tuh terlalu dewa gitu ya. Time
managementnya bisa sampai bikin lima
akun gitu kan teman-teman. Nanti bisa
cek ya Sam maybe you can share your
accounts ada apa aja nanti teman-teman
bisa cek semua. Ya, kayak gitu. Too many
offer, Teman-teman. Nah, kalau misalnya
kita bikin kebanyakan,
hasilnya seperti apa? Nah, ini aku kalau
enggak salah dapat dari buku Effortless
sama Essentialism dari Greg Mcwin. Dia
tuh bilang gini, "Kalau misalnya kita
bikin satu aja, satu aja off-nya,
hasilnya kayak yang kayak di kanan nih,
Teman-teman. Tuh, eksponential
growth-nya
ya. Jadi, dari 1 2 3 4, wah mantap
banget.
Nah, tapi teman-teman kalau misalnya
kita satu orang nih bikin 8 1 2 3 4 5 6
7 8 kita bikin 8 yang berbeda,
kita marketingin, kita distribusiin
secara waktu yang bersamaan,
Teman-teman. Ya, hasilnya begini, enggak
ke mana-mana. Satu produk cuman bisa
segini, produk kedua bisa segini, produk
ketiga bisa segini, produk keempat bisa
segini, dan seterusnya. Tapi sedangkan
kalau misalnya
kita bikin satu, kita put of our
marketing and sales effort itu one.
Hasilnya begini, Teman-teman. And kalau
misalnya Teman-teman perhatikan
itulah yang gue lakukan selama beberapa
bulan ke belakang. It's actually pretty
easy to get 1500 orang yang eh ikut
webinar kemarin. Kenapa? Karena every
single post, every single content kita
arahin ke sana. Kita sold out sebelum eh
waktunya webinarnya sudah berjalan.
Kenapa? Karena kayak gitu. Makanya kalau
teman-teman lihat postingan, teman-teman
bisa scroll, teman-teman bisa cek every
single one of our post, most of them
teman-teman, itu tuh 80% tuh ngarahnya
ke webinar, sisanya ke kasih value aja
gitu. Nah, jadi itulah the power of
focus yang I'm gonna share you in a bit.
Nah, kalau misalnya kita ngomongin
marketing ratio, Teman-teman, this is
the ratio. Jadi, mungkin Teman-teman
juga kadang-kadang ada berpikir ketika
nanti udah jadi nih digital productnya
ya, berapa kali ya kita harus jualan,
berapa kali ya kita harus kasih value.
Yang enaknya gimana supaya audience kita
tuh enggak merasa dijualin terus. Benar
enggak sih? Pernah berpikir seperti itu
enggak? Nih nanti gua bikin produk nih.
Jualnya seberapa sering ya? Supaya
audiens tuh enggak risih. Nih orang kok
jualan mulu gitu. Nah, so that is the
question that a lot of us have gitu.
Kalau misalnya kita ngomongin secara
teori sebenarnya 3 is one, teman-teman
untuk setiap tiga konten value yang kita
kasih kita bisa minta sekali. Jadi empat
konten nih, tiga kontennya itu kita
ngasih value. Satu kontennya kita jualan
boleh. Nah, itu zaman dulu. Tapi zaman
sekarang, Teman-teman, here is the crazy
part. Makanya kalau misalnya teman-teman
udah paham em Handra ya, apalagi Dave,
Sue Sam pasti udah paham Sam, eh Samuel
juga kalau misalnya eh udah
nonton yang day wah udah day berapa tuh?
D6, D7 kali ya atau misalnya yang VCU
yang monetization there's something
called handraiser. If you guys take a
look at that, you can sell in every
single one of your content and you don't
sound like selling. Kenapa? Karena it's
just a call to action to just chat.
Benar enggak?
komen mulai ya, komen bla bla bla ya.
Nanti gua kirimin lo DM supaya lu bisa
tahu cara mulanya gimana. Kan kita
enggak jualan, lu ikutan webinar gua ya,
lu beli online course gua ya. Enggak
kayak gitu. Jadi dari yang tadi angkanya
3 banding 1 bisa semuanya kita jualan
gitu. Nah, ini saya kayaknya agak
sedikit salf ya sama chat-chatnya ya.
Terlalu luar biasa ini kan. Kalian lihat
loh akunnya Samuel Moses. Segitu banyak
dia manage akun.
kayaknya saya aja kalah gitu kan. Gua
aja manage dua akun aja capek Sam. Ini
dia manage berapa akun? Del akun. Keren.
Nah, ya kayak gitu teman-teman. Jadi
fokus ke giving value. Tapi kalau
misalnya kita udah pakai strategi
handrazer, you can actually sell in
every single one of your content. Nah,
here's the thing, Teman-teman. Ketika
Teman-teman sudah tahu itu, the thing is
kalau misalnya kita jualan di seluruh
konten kita, itu tuh bisa tapi ada
tekniknya.
Kalau misalnya kita cuma punya satu
produk, di setiap konten kita, kita
jualan produk yang sama, itu enggak
apa-apa. Kenapa? Karena it's all
centraliz into one single product.
Nah, Teman-teman, kalau misalnya
melakukan itu, orang-orang tuh jadi
awareness-nya terhadap produk
Teman-teman tuh jadi akan makin mantap.
In a sense people will understand saat
ini yang teman-teman lagi lakuin itu tuh
apa, yang lagi mau ditonjolin apa. Itu
jadi gampang. Nah, mungkin teman-teman
pernah dengar yang namanya rule of
seven. Pernah dengar enggak?
Kalau misalnya audience kita tuh masih
cold, masih benar-benar tuh enggak
familiar banget sama kita, mereka tuh
perlu melihat offer kita atau apa yang
kita bisa tawarkan tujuh kali sampai
akhirnya mereka mau beli. Nah, itu rule
of seven. Mungkin pernah dengar eh
marketing rule itu dan itu sebenarnya
cukup true juga. Jadi patokannya gini,
orang tuh harus melihat konten kita atau
offer kita tujuh kali. Nah, ketika orang
udah lihat tujuh kali, mereka baru bisa
make purchasing decision. Nah, mereka
bisa mil itu akhirnya gua mau beli atau
gua enggak mau beli atau gua belinya
entar. Itu bisa terjadi seperti itu. Itu
kalau cool. Kalau misalnya warm udah
beda, apalagi kalau udah hot. Contoh,
kalau udah hot gimana? Misalnya Dave,
misalnya Ari, misalnya Jonathan,
misalnya Aini, misalnya Paula, misalnya
Mas Budi. Gue tawarin nih, Guys. Gua ada
program lanjutan nih untuk Value Creator
University sekian-sekian nih
investmentnya. Mau enggak? Mungkin di
atas 50%
mau gitu atau mungkin di atas 70%.
Dev is to kind ya always ya. Mau di atas
80% 90% mau. Kemungkinan besarnya untuk
orang-orang mau invest di program kita
kalau udah hot market. Hot market
maksudnya apa? Udah beli program kita
sebelumnya mereka mau. Nah, tapi
bagaimana dengan Cold? Makanya butuh
rule of 7 gitu. Ini dari Dimas. Ini
boleh minta record-nya kah? Nanti karena
sinyal saya lagi jelek. Enggak apa-apa
boleh kok nanti kita kasih ya tenang
aja. Nah Levina Kak tapi aku baru lihat
iklan ke Arawa sekali doang langsung
percas webinar kemarin. Itu makan ya
gunanya copywriting dan nanti
teman-teman bisa belajar juga ya. Jadi
selama 14 hari ke depan ya ee
teman-teman utilize ada Mike, ada Helmi,
ada timku ya. Teman-teman bisa doner
aja. Tolong dong bantuin gua bikinnya
donunder aja terus sampai mereka
stresonder aja. Gua pun juga kalian
doner enggak apa-apa. Kalau misalnya
Sam, Dave, Sue itu kan kita masih lama
ya. Jadi you can doner me every single
day enggak masalah ya tenang aja gitu.
Nah, jadi that's what's up. Kalau
misalnya kita bikin satu produk semuanya
kita centralize effortnya ke satu produk
itu aman. Tapi here's the thing. Kalau
misalnya kita delan produk orang
bingung.
orang tuh bingung gini loh, misalnya di
konten yang ini gue promosiin produk A,
di konten yang ini gue promosiin produk
B, di sini produk C, produk D, produk E,
produk F, dan seterusnya. Jadi, setiap
kali kita promosi, kita mempromosikan
hal yang berbeda-beda, orang jadi
bukannya malah mau beli, jadi bingung
gua beli yang mana nih ya? Benar enggak
sih? Make sense enggak gitu loh.
Orang tuh jadi bingung, "Eh, gua tahu
nih lu punya produk tapi gua belinya
yang mana ya?" Nah, jadi kurang lebih
kayak gitu. Orang tuh jadi bingung gua
harus beli yang mana. Sedangkan kalau
misalnya semuanya satu produk jadi
gampang kita tahunya. Oh, Rama wants to
fully focus on this. So, let's join
this. Gitu. Nah, Teman-teman, kalau
misalnya orang udah bingung akhirnya
mereka yang tadinya mau beli jadi enggak
beli. Sayangnya itu that is one of the
biggest mistake yang gue punya dan gue
lakuin dulu ketika gue bikin banyak
banget produk, balik lagi gua udah bikin
20 lebih produk. Nah, dari semua itu
udah ditesilnya seperti demikian. Jadi,
sebisa mungkin jangan ditiru kesalahan
tadi gitu. Nah, balik lagi ke yang tadi
gue sempat bilang di awal. There is a
dilemma, Teman-teman. There is a
dilemma. Kenapa? Karena begini, no
briner kita kalau misalnya kita bikin
lebih banyak produk, duit kita lebih
banyak, right? Let's say kita punya satu
produk kita bisa dapat berapa? Tapi
kalau misalnya kita bikin dua, kita kali
dua nih, kita bikin tiga, kita kali 3
nih, kita bikin empat kita kali 4 nih
our revenue. Nah, kurang lebih kayak
gitu logikanya. Tapi sebenarnya it's not
as easy like that. Nah, solusinya gimana
kalau misalnya kita mau bikin banyak
off? Ini ini berlaku juga buat Mas Budi
ya, karena kan trainingnya ada banyak,
Mas. Jadi, ini bisa di eh
implementasikan buat BQC juga. Here's
the thing, Teman-teman. Udah ada yang
pernah lihat ini belum? Di modul udah
sempat lihat intip ini belum? Apalagi
Teman-teman yang baru ya. Ah, ini belum.
Kalau Samuel Oxy udah ya, Teman-teman.
So, bagi teman-teman yang belum, belum
sampai situ ya, belum ya, ada beberapa
yang udah gini teman-teman. So, there's
something called value leader. Oke,
value leader itu apa? Kita harus paham
dulu ketika kita mau bikin core offer
sebelum kalau misalnya kita mau bikin
corover harus paham ini dulu. Kenapa?
Dengan kita paham ini kita jadi tahu
kita harus bikin digital product itu apa
aja.
Dari awal kita sudah harus tahu itu.
Nah, ketika kita tahu itu, jadi kita
efektif planning ke depannya tuh gimana.
Nah, ini ada berbeda-bedanya kayak gini.
Contoh bait. Bait itu tuh ada dua tipe,
Teman-teman. Ada yang namanya lead
magnet, ada yang namanya trip wire.
Bedanya apa? Lead magnet itu gratis tapi
kita kasih mereka gratis mereka tukerin
data ke kita, ya. Jadi mereka kasih
nama, nomor HP, sama email. Gunanya apa?
Ketika nanti kita launching produk, kita
bisa tawarin ke mereka. Itu yang namanya
lead magnet. Mereka dapatnya gratis tapi
mereka tukerinnya sama nama, nomor HP,
email. Lead magnet. Yang kedua adalah
contohnya webinar yang teman-teman
kemarin ikutin. Ingat ya, value creator
webinar harganya berapa? Ada yang 27,
ada yang Rp20.000, ada yang R7.000. Itu
sifatnya trip bait. Kenapa? Karena
harganya sangat murah. You wouldn't
think twice. Segini doang ya udahlah
coba aja. Benar enggak. Nah, itu adalah
bait-nya. Nah, after bait comes the
front end. Nah, front end ini adalah
yang namanya core offer.
Di webinar ini aku mau fokus ngebahas
yang namanya coreover ini. Yang middle
sama back endi kita ngebahasnya kayaknya
ketika nanti kita udah lebih punya
struktur yang bagus dan kalau misalnya
digital produk kita corovernya sudah
sukses baru kita ngomongin yang belakang
ini gitu. Nah, coreover ini apa? adalah
produk terlaku kita yang tadi
teman-teman lihat nih yang di sini yang
kita jualin semua ini. Ini tuh harusnya
yang paling besar tuh corover kita.
Kenapa? Karena it's the biggest eh
product that we can promote dan
harganya. Oke. Nah, contoh core
offer-nya productivity boy
ya. Maybe I'll just share it to you
guys.
Oke.
Oops.
Itu dulu ini
yang namanya flow zone blueprint. So I
basically got my first eh one billion
rupia. Jadi R miliar pertamaku dari dari
sini nih. Lumayan juga jualan C.000
dapat 1 M. Not bad right gitu kan. Nah,
jadi teman-teman kalau misalnya
teman-teman udah ketemu ini ada Arif
Budi nih. Shoutout nih Arif Budi juga
ada hari ini. Jadi kalau misalnya
teman-teman udah nemuin your winning
product ini, teman-teman promosiin
gila-gilaan, you can literally print
money gitu loh. Nah, itulah fungsi dari
si coreover tadi.
Nah, cara mainnya gini, Teman-teman. Ini
aku kasih simulasi
tadi ya. Kalau misalnya kita ngomongin
ada trip, ada coreover, sama ada back
end. Nah, kita ngomongin ee simulasi
gini, Teman-teman.
Ini adalah ee contoh dari
roadmapku dulu ketika gue pengin bikin
kan dulu productivity full ya, ketika
dulu bikin productivity mindsetnya
begini nih. Jadi inilah yang eh gue
design untuk customer journey-nya. Nah,
mungkin Mas Budi bisa relate-relate
juga. Jadi, I'm aware teman-teman ini
dari sudut pandang productivity ya.
Kalau misalnya orang mau produktif yang
harus pertama-tama diatasin tuh apa?
Masalah mereka nunda-nunda atau enggak.
Karena kalau misalnya mereka
nunda-nunda, mereka sudah beli course,
udah beli pun mereka masih nunda-nunda
mengkonsumsi coursenya. Betul enggak?
Nah, jadi pertama-tama yang harus kita
atasi apa? Masalah nunda-nundanya. Nah,
ketika mereka sudah beres bisa
nunda-nunda,
mereka baru bisa mulai belajar time
management, energy management, sama
focus management. Basic tiga ini sudah
dapat, mereka baru bisa jadiin ini
habit. Nah, logikanya ke sana. customer
journey-nya ke sana. Nah, kita ganti
shift kita perspektifnya kita ganti.
Ibaratnya kalau misalnya kita ngomongin
ee sekolah ini tuh SD, ini tuh SMP, ini
tuh SMA gitu loh. Semakin naik kelas
semakin mahal kan. Nah, jadi kurang
lebih kayak gitu. Kalau misalnya kita
ngomongin topik lain, Teman-teman,
supaya lebih seru, give me a topic, a
niche. Apa kek, a finance kek, apa kek,
kasih deh niche. Gua kasih contoh.
Ada enggak yang mau traveling health?
Oke, kita lock dua itu ya. traveling ya
sama health ya. Let's say putri for
putri traveling yang di sini kita bisa
bikin let's say contoh gini nih
itinerary misalnya di sini pergi ke
Jepang itinerary-nya apa? Jadi literally
cuma D1 sampai D7 sampai D14 ngapain
kalau traveling? Nah di sini kita bisa
bikin ebook culture-nya orang-orang eh
Jepang tuh gimana sih? Habis itu hidden
jam-nya tuh apa aja sih? Terus gimana
cara berinteraksi sama orang Jepang tuh
apa sih gitu ya. Atau kalau misalnya lu
ketika ke Jepang mau eh berbaur sama
orang Jepang, apa aja yang harus
dilakuin sih bisa bikin ebook-nya kayak
eh kayak gitu. Nah, lanjutannya lagi
yang lebih mahal kita bisa bikin eh
group travel put which is the thing that
you are doing already. Nah, jadi
something like that funnel. Nah, kalau
misalnya kita ngomongin health, contoh
health misalnya ngej. Nah, nge-gym
98.000 ini kita bisa jual apa?
misalnya
ee nutrisi kita nih kalau misalnya lagi
mau keluar makan kan suka bingung ya mau
cari nutrisinya apa. Jadi kita kumpulin
semua restoran-restoran yang ada di
mall-mall. Contoh Solaria kek, HWBand
kek, Paper Lunch kek, BGM GM ke or
apapun itu kita kumpulin let's say 100
list restoran terus kita kasih mereka
menu-menu menu-menu yang sehat yang lo
bisa nikmati di restoran ini apa aja ya.
Nah, itu masuknya ke sini. Kenapa?
Karena quick w queen sifatnya. Next-nya
kita baru edukasi lebih dalam lagi.
Ketika el tetap mau menjaga pola hidup
lo dengan makan lebih baik, lebih proper
lagi, yang harus dilakukan adalah apa?
Teknik-tekniknya apa? Misalnya
memanipulasi hormon misalnya ee ya
walaupun I'm not eh enggak gua enggak
terlalu setuju ngitung kalori tapi
ngitung kalori something like that gitu.
Nah, jadi bisa yang lebih dalam di sini.
Nah, di belakangnya sini kita bisa
tawarin coaching. Lu mau enggak jadi
klien gua? Gua ajarin deh cara supaya
bisa nge-gym dengan bagus, nutrisi
dengan bagus. Nah, funnelnya kayak gitu,
Teman-teman. Nah, jadi what we need to
do adalah sebenarnya kita fokus di sini,
Teman-teman.
Fokus di barrier paling pertama ini
dulu.
Entry level-nya ini kita fokus di sini
offer kita. Jadi, kita make sure ketika
kita lagi membuat offer, yang paling
bagus tuh yang di sini. Kenapa? Supaya
bisa nge-pol semakin banyak audience,
Teman-teman.
Nah, although kalau misalnya di
awal-awal sebenarnya emang bagus kalau
misalnya kita bikin lead magnet. Kenapa?
Karena sifatnya itu tuh gratis. Tapi
ketika nanti kita udah udah naik level
harus kita hargain teman-teman
course-nya. Semurah apapun mau hargain
Rp20.000, R7.000, R97.000
harus dikasih harga. Kenapa? Karena ada
perbedaan besar di antara lead sama
customer.
Ada perbedaan nih. Ee kastanya gini,
Teman-teman.
Kastanya gini.
ini langsung ee ini aja ya
kastanya gini nih,
ada yang namanya audience, ada yang
namanya leads, ada yang namanya
customer, ada yang namanya client. Nah,
gini ibaratnya gini, Teman-teman.
Satu leads itu tuh kayak 10 audience.
Satu customer itu tuh kayak 100 audience
value-nya. Satu klien itu tuh kayak 1000
audience value-nya. Nah, maksudnya apa?
Audience itu hanyalah orang-orang yang
nonton konten kita ya. Oh, views-nya
berapa? Banyak. Ada 100.000. Nah, tapi
kalau misalnya dari 100.000 itu kita
bisa dapat 1000 leads itu udah bagus
banget. dari 1000 leads itu kalau
misalnya kita bisa dapat 50 customer itu
udah bagus banget. 50 customer tuh
ibaratnya tuh lebih bagus daripada
100.000 views. Paham ya teman-teman ya?
E comparison-nya di sini ya. Nah, satu
klien itu tuh ibaratnya tuh kayak 1000
audience, 10.000 audience. Kita kita
dapat 100.000 views 1 M views. Dari 1 M
views itu kita bisa dapat 10 klien. Udah
bagus banget klien tuh. Maksudnya apa?
yang eh membayar kita eh service kita
lebih dari du digit misalnya, itu udah
oke banget. Nah, audience itu tuh cuman
orang yang mau menikmati konten gratis.
Leads itu adalah orang-orang yang
menunjukkan intensi bahwa mereka
tertarik dengan produk kita sampai
akhirnya mereka menukarkan nama, nomor
HP, sama email mereka. Customer itu
orang yang sama kayak leads, tapi
bedanya mereka sudah rela bayar. Klien
itu adalah yang udah percaya total.
Contohnya kalau di kasus ini misalnya
Mas Budi Dave ya ke gue gitu. Nah, jadi
itu sifatnya udah klien. Nah, next,
Teman-teman. Nah, ketika kita lagi udah
buat over ini, what we can do adalah
jangan enggak buat
over-over di belakang ini, Teman-teman.
Jadi, tadi gua bilang bikin satu offer
di awal kuncinya.
Ketika nanti teman-teman sudah jalan,
harus bikin back end-nya belakangnya
karena duit besarnya justru di sini.
Nah, ee lebih paham enggak teman-teman?
Gitu. Jadi duit besarnya sebenarnya tuh
di belakangnya. Tapi untuk orang nyampai
belakang gerbangnya harus dibuka dulu,
gitu. Nah, jadi di konten-konten kita
yang kita bisa fokus jualin adalah yang
si di depan ini. Yang belakang ini kita
fokusnya tuh ngenerchernya pakai email
sama WA, Teman-teman.
Nah, caranya kayak gitu. Inilah yang
kita bisa lakuin supaya offer kita tuh
optimized, gitu ya. Jadi ibaratnya gini,
kita bisa punya 8 produk boleh, kita
punya empat produk, tiga produk boleh,
tapi yang kita promosiin satu aja supaya
orang tuh kenal kita tuh, oh si Ramani
punyanya value creator webinar ya. Oh,
si Ramani punya e flow zone blueprint
ya. Nah, course-course paling terkenalku
kan itu. Nah, jadi itu yang kita bisa
lakuin, Teman-teman ya. Sampai sini ada
pertanyaan teman-teman.
A bit makes sense ya. Jadi, this is
setting you up for your scaling. Nanti
ketika nanti teman-teman udah sukses
dengan offer pertamanya karena kita
harus punya mindset asumsi kita akan
nail it ya, kita harus sukses ya. Enggak
boleh enggak sukses dong gitu kan. Jadi
nanti ketika teman-teman udah launch
produk pertama teman-teman nanti jangan
fall into the scaling trap teman-teman.
Bikinnya
gini ibaratnya gini teman-teman. Jangan
bikin ini tuh ada tig ada empat ada del
biji. Jangan bikin begitu. Ini yang
depan cuman satu, produk belakangnya
yang bisa banyak gitu intinya gitu. Ini
Eza mau tanya. Monggo Eza. I've open the
mic.
Oke, thank you Rama. So, forgive me
karena aku lagi gak bisa open mic eh
open mic open cam.
Tapi aku eh really appreciate webinar
hari ini. Yang pengin aku tanyain eh
sebenarnya ee apa ya? Framework ini juga
aku menarik banget gitu. aku udah ngeh
juga gitu. Cuman yang pengin aku tanyain
adalah kalau kita mau ngejual yang high
management, energy management, focus
sama habit building ini berarti kan tadi
Rama bilang pakai eh email eh tadi pakai
email dan WA ya. Berarti itu kita
nawarinnya ketika kita ngadain lead
magnetnya yang free itu ya berarti
either yang free soalnya gini ini kan
listnya kita ada. Nah list ini kita
ngegedeinnya dari mana? either dari
previous customer, orang-orang yang udah
pernah berinteraksi sama kita atau beli
produk kita sebelumnya. Nah, tapi kalau
misal belum ada cara kita ngebangunnya,
gimana dengan menukarkan produk gratis
tadi lead magnet gitu.
Oke, berarti once kita mau ngejualin
time management berarti kita harus
ngejualin procrastination gitu.
Eh, ini ibaratnya kan contoh misalnya
gini, Eza, kalau misalnya aku ingat eh
yang kamu pernah bikin, kamu kan pernah
bikin webinar nih, I kan. Eh, how to
[tertawa] start your pharmacy journey.
Nah, kamu kan buka ada berapa spot tuh?
50 spot, 100 spot, e 500 spot misalnya.
Misalnya kita asumsi semua nih udah full
book ya. Misalnya 500 ini.
Nah, yang kita lakukan ketika kita mau
rilis yang ini, kita tuh tawarin offer
baru kita ke orang-orang yang sudah beli
ini Eza gitu.
Oke. I ya ya, ya. Ya, C belakangnya ya
berarti ya.
Iya. Jadi karena kenapa? Investmentnya
di sini kan lebih besar.
Iya.
Bukan berarti orang kalau misalnya kita
tiba-tiba tawarin di konten nih lu beli
Rp300.000 Jadi, Bu, orang enggak mau.
Bukan begitu
bisa juga, tapi kemungkinan orang-orang
yang udah pernah percaya sama kita, yang
sudah beli sebelumnya, kalau mereka puas
pasti mereka mau beli lagi dong, gitu.
Oh, iya benar.
Lebih gampang.
Iya, iya iya iya.
Cara mainnya gitu.
Sip. Thank you.
Thank you. Next kita lanjut ke Mas Eka
ya. Silakan
ya. Makasih, Bang Rama ee kesempatannya.
Saya cuma mau konfirmasi aja karena ada
beberapa idea yang akhirnya muncul.
Cuman saya ini kan bedanya karena
karya yang dijual ya, bentuknya tulisan
puisi.
Nah, jadi untuk di fokus awalnya itu
saya sih rencananya gini awalnya, Mas.
Jadi saya jual awal itu produknya adalah
memang buku puisi saya mau rilis bentar
lagi. Nah, di ujungnya yang jadi paling
mahalnya adalah menulisnya tuh
sebenarnya.
Hm. He.
Buku tips menulisnya cuman dibalikkah
gimana konsepnya dari perjalanannya itu
atau tetap seperti itu gitu. Nah, kalau
ada penawaran kayak misalnya dalam harga
yang murah atau gratis terlebih dahulu
kayak di course-nya itu kan masalahnya
kalau nulis puisi itu kan penghayatannya
panjang ya Mas ya. Enggak bisa 2 jam 3
jam beres ya. Jadi, gimana tuh, Bang, ee
untuk untuk ee mungkin ada brainstorming
idea atau untuk saya ee runutin tuh si
perjalanan ee produknya
itu aja sih, Mas.
Ini ee jadi nanti produknya dalam
bentuknya dalam bentuk puisinya gitu ya.
Itu saja atau ada yang lain? Eh, Mas.
Iya. Eh, untuk saat ini saya kan baru
rilis dua tuh. Yang satu masih coming
soon, yang satu sudah pernah ada. Nah,
baru dua aja berbentuk puisi.
Ini digital sejatahnya
digital.
Oke. Ah, ee harganya berapa untuk
masing-masing? Yang pertama 30, yang
kedua 50. Oke. Nah, ee itu kan kita bisa
anggap berarti tuh itu tadi jatuhnya ke
yang ini, Mas, ke yang si
di depan ini nih kan jatuhnya.
Nah, itu jatuhnya ke
bait. Nah, nanti kita tinggal bikin
coreover-nya. Corovernya dalam bentuk
apa? Mungkin bisa kumpulan puisi tadi.
Let's say misalnya ee Mas Eka punya
lima, punya lima ee lima punya 10 puisi.
10 puisi. Kalau misalnya ee kita harga
normal Rp500.000, Bu, oh kita kasih
harga spesial jadi 397. Nah, itu bisa
tuh kayak gitu formatnya. Kalau misalnya
kita mau bundle
bisa atau kalau misalnya mau bikin yang
lebih ekstrem lagi ee bisa ngajarin cara
orang gimana nulis puisi. Itu bisa juga
harganya 397 atau apa. Lu kan sudah
menikmati nih puisi-puisi gua mau
belajar nulis kayak gua enggak banyak
tuh pas yang mau. Ketika itu ee udah
marketnya udah kegar bisa dibikin course
kayak gitu juga karena kan kita
menukarkan value ya, value creator gitu.
Jadi itu mungkin salah satu cara yang
bisa dilakukan sih itu ee menurutku Mas
Eka gitu.
Nah, I berarti kalau saya kan maunya
ujungnya tuh menulisnya karena kelas itu
kan sebenarnya yang mahal nantinya gitu.
Nah, cuma saya bingungnya ee si
pembukaanpembukaan
kayak ininya apa sih kalau di course-nya
tuh lead magnetnya itu loh ngawarkannya
sih sebenarnya yang agak pusing gitu
karena kan kayak misalnya creating
memory tuh experience saya nyari-nyari
apa hooknya orang bikin puisi
kayak gitu loh Mas. Jadi seringsering
kendalanya di situ sih sebenarnya
emang emang enggak gampang Mas Eka
karena kalau semua gampang semua orang
bisa betul enggak jadi gitu tapi Mas Eka
sudah di track yang betul kok ya jadi
menurutku sih tinggal dikembangin aja
ya siap siap Mas Eka guys by the way ini
gua enggak sadar udah jam . What the
heck? Harusnya ini 1 jam. Biasanya kita
1 jam ya, Mas Budi ya. E Dave dan
teman-teman lain ya. Tapi ini gua izin
extend ya, Teman-teman ya. Eh, izin
extend ya. Jadi mungkin 30 more minutes
teman-teman. Jadi kalau misalnya bagi
teman-teman yang perlu leave dulan,
silakan leave. Nanti ada rekamannya
juga. Tapi kalau misalnya mau stay
sampai habis mumpung gua lagi hype up
banget ya, jadi kita lanjutkan aja. Ini
kita simpan sampai Samuel sama Dave ya.
E kita lanjut dulu ke DI kalau ada yang
mau nanya.
Oke, Man. suara dengan aman aman aman.
Oke, kemarin gua sempat bikin lead
magnet cuma kayaknya masih melenceng
sama like where will go malah educate
kebanyakan isinya untuk misalnya expose
the problem si itu gimana caranya ya
kalau yang aku sempat revisi tapi jadi
berasa kayak lari dari topik ngajar itu
sendiri lebih bahas ke
inflasi lah kenapa harus tambahin income
segala macam kayak gitunya sih karena
yang e shar-nya yang mau gua ambil kan
tentang lebih ke wealth-nya gitu.
Hm. Oke, ini gua live eh sharing aja ya.
Jadi sebenarnya kalau misalnya kita mau
bikin lead magnet, nah Dave ini nih lagi
di fase lagi mau bikin lead magnet,
Teman-teman.
Ada ini kita em fokus ini kita basic of
copywriting deh. Kalau copywriting kalau
misalnya teman-teman yang pernah eh
belajar copywriting kan ada satu yang
namanya P yaitu problem agitate
solution. Nah, yang kita lagi lakuin
Dave adalah kita tuh lagi ngelakuin dua
fase awal ini supaya apa? Supaya yang
ini itu tuh nanti itu jatuhnya tuh di
coreover kita. Nah, orang tuh nanti
sampai mau beli corover kita buat ini
gitu. So, what we're doing right now is
agitating the problem and exposing the
problem gitu. Nah, tapi bukan berarti
solutionnya kitaak bisa kasih. So, I
would say it's probably like this
probbly like 80% of the problem
and agitation plus 20% of the solution.
Boleh kayak gini.
This is what we can do. Nah, jadi eh
kasih solution itu sebatas apa? solution
itu tuh sebatas
framework kita bisa kasih atau misalnya
outline di itu dulu loh. Kalau misalnya
di eh value creator kan ada webs model
gua jelasin nih visioning tuh begini,
expanding tuh begini ya kan. Eh lalu eh
building tuh begini kalau zaman dulu kan
visioning growing, monetizing ya. Jadi
visioning, growing, monetizing. Nah,
jadi menurut gue teman-teman this is a
very important topic juga. What we need
to do adalah kalau misalnya teman-teman
mau skill your product, make an IP.
IP itu maksudnya apa?
dengan gua bilang
value creator aja ini tuh sudah ngasih
new opportunity karena we're not content
creators. Paham enggak, Teman-teman?
Kita tuh udah bukan content creator
lagi, tapi kita tuh value creator. Nah,
value creator itu jatuhnya IP. Kenapa?
Karena inilah kata-kata yang gua buat.
Paham ya deh ya? Nah, jadi you can make
your own framework. Misalnya rekan
pengajar model atau misalnya rekan
pengajar eh framework or rekan pengajar
sistem something like that gitu.
Nah, jadi bisa dibikin kayak gitu. Nah,
di sini itu yang kita jelasin
framework-nya aja garis besarnya. Nah,
nanti setelah itu eh ng-deep drive-nya
baru di corover gitu, De.
Eh, sori. Eh, unmute lagi.
Oke, I see. Tapi kalau misalnya problem
sama-nya lebih ke enggak bahas ke topik
utamanya, it's oke kah?
kan mengajar
tapi bahasnya lebih ke inflasi sama
kenapa ya gitu sih
karena itu makro level ya kan itu
levelnya enggak apa-apa enggak apa-apa
yang pentingannya kok
oke alright then
thank you day
thank you ram
sip oke next kita e terakhir sor yaena
ya kita habis ini lanjut dulu nanti di
akhir ada sesi lagi kok terakhir kita
lanjut ke Samel Oxi dulu ya
oke halo halo Kak Rama
Nice to see.
Oke. Ee mungkin cepat aja ya Kak Rama
ya. Jadi tadi aku sudah lihat ee sambil
make notes gitu ya eh tentang slide yang
tadi yang procrastination, time
management, energy management dan sampai
di habit building. Nah, eh core offer
aku itu sudah ada dan untuk tripwirnya
juga sudah ada. Cuman yang belum aku
bikin itu adalah lead magnet. Nah,
ee jadi nich yang aku dalamin itu adalah
di grafologi sama mental health.
konsultan grafologi itu adalah ngam
nganalisis kepribadian dari tulisan
tangan.
Boleh minta akunmu enggak? E before
that. Apakah Samuel Oxi juga atau apa,
Sam?
Iya. @ Samuel Oxi. Boleh. Boleh. Adamel
oxi.
Oke. Sip. Aku sambil buka ya biar
gampang.
Heeh.
Eh sip. Boleh sambil lanjut.
Oke. Nah ee di
Oh jadi malu dibuka di sini. [tertawa]
Nah, ee yang pengin aku jadi pertanyaan
buat aku adalah ee bukan delete
manetnya. di lead partitnya itu udah
tadi sempat searching-searching ya di
sempat ee ngobrol sama CGBT juga kalau
lead market-nya itu modelnya mau tadi
problemnya 80% sama nanti 20%-nya adalah
ee solusinya kira-kira di mana. Nanti
coreovernya adalah yuk kita analisis
tulisan tangan kamu untuk bisa ngerti
bakat minat atau ngerti trauma kamu.
Nah, yang jadi kebingunganku adalah
bukan setelah le magnet kan nanti masuk
ke tadi ya ee prokastinasi kalau di
Heeh. He
slide-nya Kak Rama kan prokrastinasi.
Nah, yang aku bingung adalah ee
plat keduanya itu yang time managemen
yang di managementen. Nah, itu aku
bingungnya di situ mau aku isi apa.
Karena di yang sudah aku jalani sekarang
itu adalah orang beli e-book terus
mereka baca, mereka tertarik untuk dapat
laporan. Karena di dalam ebook juga aku
kasih kupon diskon 80% untuk ee laporan
grafologinya. Nanti mereka langsung ee
minta laporan anakku analisis langsung
kita konsultasi. Jadi end goal-nya
adalah tengah-tengahnya dikonsultasi.
Harapanku sebenarnya yang begitu
tengah-tengahnya tu mau aku isi apa
gitu. Apakah hanya n di konsultasi aja?
Karena tadi kalau Kak Rama kan
ngomongnya adalah konsultasi itu atau
coaching itu sebenarnya adalah eh high
end produknya gitu Kak Rama.
H. Oke got it. This is a very
interesting case. Ini si Dave
senyum-senyum ini kayak karena di chat
ada sesuatu kali ya.
Eh, bentar kita lihat dulu ini ada apa
sih ini? Kadang-kadang Samuel Moses nih
kalau ngomong langsung eh [tertawa]
bikin ketawa emang si Sam. Eh, oke. Eh,
for Samel Oxy ya. Eh, gini, ini
dua-duanya sama-sama Sam ya. Tapi ya you
guys know lah.
Panggil aja Oxi. E, aku bisa.
So, here thing in my opinion ini. E,
jadi aku ini dulu.
So, what we can do adalah
Oh, wait.
Ibu kamu tuh masuk masuknya ke sini.
Nah, tapi tadi konsultasinya tuh
langsung jampai ke sini kan maksudnya
kan
konserning. He.
Nah, terus di tengah-tengah ini
kita mau bikin apa gitu.
Heeh.
Nah, pertama-tama aku mau tanya harga
consultation-nya berapa? Axi
ee biasanya aku langsung satu paket.
Jadi untuk cor aku ada tiga paketnya.
Satu adalah cuma laporan biasa itu
around Rp150.000.
Terus yang kedua itu dapat laporan lebih
komplit plus konsultasi. Yang ketiga itu
laporan grafologi plus analisis trauma
plus konsultasi gitu. Aku ada tiga over
seperti itu.
Oh, absel-apsel ya. Oke.
Heeh. Jadi kalau konsultasinya langsung
rangkap jadi satu.
Heeh. Nah, kamu pernah tahu ini enggak
tahu Samara enggak?
Belum tahu
Samara ini dia human design coach
menurut aku offnya menarik. Although dia
sebenarnya bakal bisa di e update kalau
misalnya pakai funeling tapi dia ini aja
enggak pakai funeling. Kalau dia
sistemnya mirip sama kamu e Oxi. Jadi
dia ada report yang sedikit doang, ada
report yang banyak, ada report yang
lebih banyak lagi. Ada eh zoom
consultation.
Nah menurut aku
di sini ee itu tuh jatuhnya tuh report
your eh report. Nah, kita ngomongnya
dari segi pricing juga ya yang akan kita
bahas di sini. He. So,
tadi eh harga paling mahalnya berapa
Oxi? Sori.
Eh, harga paling mahal 400.
Oke, 400. Ini udah consultation ya?
Plus konsultasi udahan.
Yang beli aku ini aku straight forward
aja ya. Yang beli laku enggak?
Eh, so far karena aku enggak terlalu
push ya di konten pakai manet enggak
terlalu push yang laporan grafologi itu
so far baru tiga round tiga. Yang paling
banyak yang tengah soalnya karena itu
oke lah menurut mereka.
Ini yang 150 ya berarti
itu yang tengah itu yang yang paling
laku itu yang 250.
Oke 250
ini kan berarti tadi ebook ee arti
tulisan tangan.
Heeh.
One on one consultation biasanya berapa
lama? Eh, Sen
1 jam.
Ini menurutku dinaikin nih harganya nih.
Jadi minimal 897 lah. Terus ini ee BT
teman-teman aku sekalian ke ngomong
pricing ya karena ini akan e berhubung
sama Oxi punya. Jadi aku lanjut sedikit
Oxi ya. Habis ini kita
eh balik lagi ke kamu karena kebetulan e
getting the right pricing is our next
topic. Maksudnya gini, kita tuh sering
bingung nentuin harga. Bahkan barusan
mungkin Oxi juga bingung harganya oke
berapa ya? Sampai tadi gua bilang 800
tuh sampai kok 800. Teman-teman,
ada yang punya guest enggak kira-kira
ee harga yang bagus nominalnya untuk
kita jualan coreover kita itu tuh berapa
sih? Ada yang punya enggak? Eh, guess
just guess gitu. Harganya berapa nih
yang bagus di chat ya coba ya.
497 500 plus plus apa tergantung skill
kita lif ya good observation menurut aku
jangan dibahas 100.000 Kata Will 349 499
R 1 juta. Wah gila Mas Budi udah next
level ya. 298 299 5007.
Actually guys you guys are not wrong.
This is the best range based on my
experience selama 2 tahun ini. Ketika
aku udah ngetesting 20 lebih off ini
harga yang paling lukratif.
Betul Faris. Betul banget. Jadi gini
bisa ranging dari 47 sampai 397. Kalau
misalnya kita dari 47 sampai 97 itu tuh
kita mainnya di trip wire ya. Tapi kalau
udah sampai 197 sampai 397 itu tuh ada
corover lumayan. Nah maksudnya apa? Ini
kelipatan. Jadi harganya bisa gini
teman-teman 97, 197 atau 297 atau 397.
Nah mungkin teman-teman bingung kok ada
ee 9797-nya. Ini kan sebenarnya kan
Rp50.000 sama R00.000 gitu kan. Tapi
kenapa 9797 gitu teman-teman? Karena
yang namanya manusia ini kan psychology
of anchoring ya. Jadi kita akan ngelihat
lebih sedikitnya. Kalau misalnya kita
ngomongin 400 sama 397, otak kita tuh
bakal mikir ini 300.000 kok bukan
R00.000 gitu loh. Sesimpel begitu aja.
Nah, ada juga alasan kenapa kita tuh
belakangnya 7 atau 9
teman-teman. Aku udah ngetes banyak
harga. Rp50.000 aku udah sempat tes.
R5.000 aku udah sempat tes. 47.000 aku
udah sempat tes. 49.000 aku sempat tes.
298 bla bla aku sempat tes semua.
Ini udah berdasarkan riset juga. Yang
bikin riset tuh Click Funels punya
founder Russell Branson itu orang udah
dewa banget. Jadi enggak usah diraguin
lagi. Dia bilang gini, "Kalau misalnya
lu mau overall laku eh psikologi pricing
yang paling optimal itu tuh kita tuh
ngplace
ending dari harga over kita itu tuh 7
atau enggak 9. Contohnya gimana? Kalau
misalnya kita mau bikin ee R90.000-an ya
97 jadi R97.000 atau enggak R99.000
jangan R98.000 R. Kalau mau R0.000-an
197 atau enggak 199 itu lebih efektif
begitu.
Oke, jadi di video kali ini aku mau
share nih terkait struktur dari sebuah
landing page. Jadi apa aja yang harus
kita include ya ketika kita membuat
sebuah landing page gitu kan. Nah, jadi
ini ada beberapa hal, ada beberapa aspek
yang harus kita masukin. Jadi, kamu mau
pakai layanan apapun itu yang kamu ee
rasa suk gitu ya sama kebutuhan kamu
bebas. Mau pakai WordPress kayak, mau
pakai ini, mau pakai itu, mau pakai
Google Docs, mau pakai Notion, bebas
kamu pakai apapun. Yang penting
elemen-elemen ini harus kita masukin ke
dalam landing page. Nah, ini aku ambil
contoh dari landing page aku yang soal
webinar content creating. Nah, ini akan
kita jadiin contoh ya untuk
pembahasannya gitu. Nah, ini akan kita
jadiin contoh. Nah, jadi kita akan
ngebahas soal hook dulu. Pertama,
seperti sebuah konten landing page itu
harus punya hook. Jadi, apa nih yang ada
di paling atas? Nah, jadi ini hook-nya
nih. Tuh, ketika aku menemukan metode
ini, aku berhasil memecahkan kunci
menghasilkan Rp juta hanya dalam 2
minggu. Bakal orang mikir enggak kayak
gimana caranya gitu kan. Nah, itulah
efek yang kita inginkan ketika orang
membaca hook. Kita harus dam gitu. Nah,
dam-nya bisa dua tipe kayak dam gua
butuh nih gitu kan. Jadi orang ketika
ngelihat gini, "Dam, gua butuh nih, mau
banget menghasilkan Rp juta hanya dalam
2 minggu." Nah, itu efek yang harus kita
incer gitu kan. Nah, atau enggak yang
kedua, dam gua juga mau nih kayak gitu
gitu kan. Nah, atau enggak kayak orang
kat ngelihat ini, "Dem, gua juga mau nih
kayak punya Rp50 juta hanya dalam 2
minggu." Nah, kalau misalnya kita bisa
mendapatkan emosi itu, membuat audiens
kita berpikir emosi seperti itu dan
mendapatkan dan merasakan emosi seperti
itu ketika melihat hook ini, itu berarti
kita sukses. Jadi, apapun itu yang kita
tulis efeknya sama kayak bikin konten.
Harus bikin mereka kayak what the heck
gitu kan. Nah, itu yang kita mau dari
hook kita di landing page kita. Nah,
setelah hook kita bisa kasih storyting
intro.
Nah, storyting intro tuh maksudnya
gimana? Nah, ini yang aku terapin di
sini. Jadi di sini aku enggak langsung
oke ini yang kamu dapat, kamu dapat
enggak tapi bercerita dulu. Kenapa
karena manusia seperti kita belajar di
branding supercharge ya,
manusia itu tuh adalah makhluk emosional
di mana otak kita itu tuh berpikir lebih
dominan secara emosi daripada logis.
Nah, jadi di sini kalau kita ceritain
cerita kita, kita akan bisa menyentuh
sisi aspek emosi dari manusia. Jadi, ini
cerita dan ini kasih before after-nya
nih. Eh, ini kasih result-nya. Oh, bisa
menghasilkan segini loh, gitu kan. Nah,
itu adalah storyting-nya. Nah, jadi di
sini kita mengintroduksi diri kita,
memperkenalkan diri kita lewat
storyting. Nah, lalu setelah itu kita
masukin empathy points. Jadi, empathy
points ini adalah ibaratnya kita tuh
berempati dengan audience kita. Oh, kamu
pernah merasa kayak begini, aku juga
pernah loh. Nah, jadi supaya mereka tuh
ngerti kalau misalnya kita tuh tahu apa
yang mereka merasa dan kita tuh pernah
dalam fase itu. Tapi sekarang kita udah
keluar. Caranya gimana, caranya gini.
Nah, itu yang kita kasih lihat di
empathy points di sini nih. Nah, coba
cek apakah kamu pernah merasakan hal-hal
di bawah ini? Udah ngonten tiap hari
tapi enggak ada views, brand, enggak ada
yang ngajakin buat kolaborasi bla bla
bla. Ini adalah hal-hal yang mereka
rasain dan kita bilang ke mereka, "Kita
juga kok ngerasain kayak gini, tapi kamu
bisa loh berhenti merasa seperti ini."
Nah, ini adalah empathy points di mana
kita berempati dengan audience kita,
dengan calon customer kita. Lalu setelah
itu kita elaborasi nih benefitnya
gimana. Nah, benefitnya itu adalah yang
di bawah ini
tuh. Inilah yang akan kamu dapatkan.
Nah, tuh. Tuh, inilah yang akan mereka
dapatkan. Ini total-total ini offnya
kan. Nah, jadi ini benefitnya apa aja,
offer-nya apa, bonusnya apa, kita share
semua di sini gitu ya. Nah, lalu setelah
itu baru penting nih social proof.
Jangan lupa testimoni. Makanya di atas
sudah ada testimoni. Ini banyak banget
yang ikut. Terus ini testimoni dalam
bentuk video ya.
Halo. Kenal. Tuh, jadi ini emang
benar-benar orang bisa nonton videonya
terkait pendapat orang-orang terhadap
kelas ini. Nah, kurang lebih seperti
itu. Enggak cuman itu, tapi sebenarnya
ini juga menjadi social proof. Karena
social proof tuh enggak cuman hanya
testimoni, tapi perjalanan kita before
and after kita. Dari yang tadi followers
aku hanya segini gitu ya, sekarang udah
segini gitu kan. Sekarang udah segini
tuh terus naik insights-nya kita kasih
lihat ini social proof membuktikan bahwa
apa yang kita ngomong itu benar. Nah,
itu social proof penting banget. Ini
yang paling penting nih, social proof.
di sini. Lalu bonus. Kalau misalnya ada
bonus kita kasih bonus gitu ya.
Contohnya kayak ini di sini. Oh ini loh
bonusnya kamu dapetin. Enggak cuman live
webinar kamu enggak cuman kamu akan
belajar materi-materi ini. Tapi kok kamu
juga akan dapat sesi Q&A. Kamu akan
dapat sesi review akun, sesi bla bla bla
bla bla bla gitu. Nah, ini semua kita
jabarin. Ini bonusnya. Lalu ini kalau
misalnya kamu mau ini enggak ada di sini
ya. Tapi kamu bisa kasih guarantey juga.
Misalnya kalau aku di yang dulu di sini
kayaknya ada nih gurenty-nya.
Oke, tidak ada. Nah, tapi biasanya kalau
misalnya kamu lihat landing page orang
lain biasanya tuh mereka ada guarantee
di mana mereka bilang, "Oke, money back
guarantee gitu kan. Jadi ada
garansi-garansi yang kamu bisa kasih."
Ini opsional. Aku sih kurang suka ya
kalau bikin garansi gitu karena
maksudnya kalau emang orang mau belajar
apalagi kalau digital product mereka
bisa mengeksploitasinya. Jadi mereka
bisa ee menggunakan itu untuk benefit
mereka bisa niat jahat lah ibaratnya.
Jadi mereka cuman beli terus minta
refund padahal ya mereka tetap bisa
akses. Nah itu kan kurang enak ya. Nah
jadi sebenarnya kalau untuk digital
produk aku pribadi sekarang udah enggak
pakai garansi gitu. Nah jadi ini
sebenarnya tapi kalau misalnya kamu mau
pakai bisa jadi kita bisa bilang oh
kalau kamu enggak suka produk ini kita
bisa kasih money back guaranti kok.
Kalau misalnya kamu ah coba masih enggak
bekerja kita bisa ganti rugi. Kita bisa
kembalikan uangnya. Nah jadi kurang
lebih garansi atau guarantey tuh seperti
itu efeknya. Nah, lalu ini juga jangan
lupa direct CTA. Nah, penting nih. Jadi
ini harus ada daftar sekarang tanya via
WhatsApp kalau misal belum ini. Jadi di
antara semua ini, ini kan ada tombol.
Nah, ini tombol tuh harus ke sini nih.
Harus ngarahin kita ke CTA ini. Tuh kan
ada banyak tombol kan. Kalau misalnya di
landing page atau enggak di paling atas
ini daftar sekarang set harus ngarahin
kita ke sini. Ngarahin kita tinggal kita
scroll dikit lagi. Oh, daftar sekarang
ya. Nah, ini yang kita mau mereka klik
kan. Jadi mereka harus klik ini. Nah,
jadi semua copywriting kita di atas ini
itu tuh harus membuat mereka pengin
scroll, pengin scroll, pengin scroll,
pengin scroll sampai akhirnya mereka
take action. Take action-nya gimana?
Dengan membeli produk kita. Membelinya
gimana dengan CTA ini. Daftar sekarang
klik orang nanti beli. Oke, bandling.
Nah, gitu. Nah, jadi kurang lebih
seperti itu. Harus ada direct CTA-nya
dan juga ada bisa kita kasih frequently
asked questions. Jadi kalau misalnya kan
kita malas ya kalau misalnya ngeladenin
orang misalnya ratusan atau ribuan orang
yang mau beli produk kita tapi nanyanya
sama mulu. Nah, jadi kita bisa kasih
lihat di bawah kalau misalnya ada FAQ.
Nah, misalnya contohnya kayak gini. FQ
tuh kayak gini tuh. Jadi kayak gini. Apa
yang membedakan program ini dengan
program lainnya? Kelas ini akan diadakan
offline atau online? Nah, jadi kalau
misalnya kamu ingin membuat FQ seperti
ini juga boleh banget untuk membantu
menyelaraskan ekspektasi dan persepsi
customer kita dengan realitanya seperti
apa nih kelas kita atau produk kita.
Nah, bisa seperti itu juga supaya
gampang kalau mereka punya pertanyaan
dan pertanyaan ini cukup banyak ditanya
dan kita bisa kasih lihat aja supaya
mereka enggak nanya ke kita lagi tapi
mereka udah punya jawabannya. Nah, jadi
kurang lebih untuk landing page
strukturnya seperti itu. Jadi pakai
layanan apapun aman banget. WordPress
kayak Google Docs, Tribelio, Notion,
apapun semua bebas asal yang penting
strukturnya nih kita bisa ikutin. Nah,
jadi kurang lebih seperti itu. Nah,
ketika kamu membuat landing page, kamu
bisa melihat nih top creator kamu siapa.
Jadi, kamu bisa dapat inspirasi dari
landing page mereka. Oh, mereka
strukturnya ini dulu ya, baru ini dulu
ya, baru ini dulu ya. Nah, gitu. Nah,
jadi ini tuh enggak berurutan ya. Enggak
berurutan. Terserah kamu mau pakainya
kapan, kapan, kapan dulu, yang mana
dulu, yang mana dulu. Tapi yang penting
ini semua kalau bisa ada gitu ya. Nah,
jadi kurang lebih seperti itu untuk
struktur landing page. Jadi bisa make
sure buat ambil-ambil inspirasi dari top
creators yang kamu punya juga di nich
kamu supaya bisa mendapatkan
kira-kira bergambaran oh yang converting
tuh landing page tuh yang kayak gini.
Nah, jadi kurang lebih seperti itu untuk
struktur landing page. Semoga membantu
dan have a great time creating your
landing page.
Kita ngomongin hari ini landing page
copywriting masterclass. Eh, ini
kelihatan depannya bagus. Percayalah
desain yang bagus ini hanya bertahan
sekitar tiga halaman.
Misalnya sudah terlalu lelah untuk
melakukan desain. Yang penting materinya
tersampaikan dan bisa membantuah.
Oke, pertama kenapa harus ada landing
page? E
landing page itu secara
umum itu gunanya cuman tiga,
itu yaitu untuk bikin audiens kita
relate kalau apa yang kita jual itu
sesuai sama mereka. Yang kedua, bikin
mereka percaya kalau kita bisa
menyelesaikan problem mereka. Dan yang
ketiga ujungnya adalah bikin mereka
beli. Enggak gak ada tujuan aneh-aneh
lainah.
Karena kan landing page itu kalau
dibilang seolah-olah adalah seolah-olah
kayak sales person kita, yaitu bikin
problemnya, nyesuain produk kita sama
problem dia, bantu dia percaya kalau
kita bisa selesaiin dan bikin mereka
beli. Nah, sebenarnya apa sih landing
yang ini kayak tadi apa sih landing
page? Landing page itu bukan cuman
sekedar halaman, tapi eh perjalanan
orang masuk dari pintu kita. Karena
orang datang ke landing page itu
bukannya yang belum tahu sama sekali
biasanya, tapi yang udah tahu kita, udah
tahu tokonya. kita masuk ke satu toko
misalnya IKEA
kredibility
how the product works sneak peck
masuk ke
journi perjalanan kita landing page-nya
gimana harus nentuin ini dulu eh ini si
sebutan aja sih biar gampang ingat
diamond persona namanya fs challenge
dream valu ini juga pasti udah pernah
harusnya udah pernah bikin di audience
persona ya nah pada saat bikin landing
page coba e dilist lagi betul-betul
karena gini karena seperti yang kita
tahu pas kita awal bikin konten kita
sudah nentuin challenge, fear, dreams,
value apa. Tapi begitu seperjalanan kita
bikin konten, seaudience kita grow, kita
makin ngelihat lagi nih sebenarnya
problem yang bisa kita solve itu apa.
Kayak dulu aku pertama kali bikin
konten, pengin bantuin orang bisa nulis
konten, bisa viral, bisa dapat duit dari
menulis. Tapi ternyata lebih banyak
orang pengin belajar jadi copywriter
untuk hasilin duit. Nah, ujungnya itulah
yang bikin jadi produk. Ada fear-nya
dari situ, dreamnya dari situ, challenge
value-nya juga dari situ. Sebelum bikin
landing page, coba dilist dulu di satu
halaman kayak di satu word atau apa.
Karena ini bakal bikin kita pas bikin
landing page tuh jadi gampang dan cepat
banget. Ini kuncinya di sini. Nah,
makanya dari situ kita masuk pertama ke
main poster atau main offer. Contohnya
adalah ini kalau di OWB dan juga di HHF.
Aku aku mengambil contoh dua aja yang ee
dua-duanya aku tulis ya. Ini yang satu
adalah eh berdasarkan dream sama
challenge. Yang satu berdasarkan dream
and dream lagi. Yang ini dream paling
atasnya ini kerja 4 jam sehari sampai 12
jam bebas itu dream. Bisa naikin income
dua kali lipat dan ngejar passion itu
juga dream.
Nah, ee dari mana kita bisa tahu titik
pertama ini kita mulainya dari mana?
Adalah kita lihat dari diamond yang tadi
mana yang paling kuat, mana yang paling
bisa menarik audiens kita. Karena ee RAM
itu kan sebetulnya udah pernah ada
produk FZB ya untuk bikin focus
management itu bisa kerja selesai
kerjaan 24 jam hanya dalam 3 jam. Nah,
itu kalau itu kan berdasarkan dari
challenge dia dan dari dreamnya. Tapi
kalau yang ini karena kita ngambil untuk
next stepnya lagi orang udah bisa fokus
bisa apa segala macam penginnya apa
selanjutnya penginnya bisa naikin income
dreamnya ini yang harus kita kejar gitu.
Nah, kenapa ini harus pada paling atas?
Karena ini adalah yang betul-betul harus
menarik mereka. Makanya kenapa tadi eh
di awal harus dilist dulu diamond
personanya ini eh fear dream challenge
value-nya karena jadi kita bisa lihat oh
yang mana nih yang sebetulnya paling
penting untuk kita taruh di paling atas.
Nah, dari situ kita masuk ke audiens
persona. Ini contohnya ee apa lo ini
hobi menulis? Orang yang hobi menulis
pengin jadi copywritter, pengin kerja
full time tapi pengin menghasilkan juga
dari side hassle.
ee pengin juga eh pengin hidup sebagai
penulis terus ini udah capek kerja
income gitu-gitu aja susah dan makan
waktu ini. Ini adalah mungkin [tertawa]
terdengar mirip sama painp karena
dasarnya tetap sama yaitu tadi fear.
Tapi di sini kita pengemasannya adalah
kita bentuk dari persona seseorang.
Bukannya bukannya kata kerja, tapi ee
ada orangnya di situ. Nah, goalnya apa?
Kalau misalnya ini goalnya cuman dua,
bikin orang merasa terpanggil dan merasa
terwakili. Sama apanya? Sama masalahnya
dia, sama fear-nya dia. Karena kayak
tadi lagi kan dibilang untuk landing
page ini tujuannya adalah bikin orang
relate terus bikin mereka trust. Kalau
kita bisa solve
problemnya mereka
gitu. Nah, setelah di sini ada ee kita
udah bikin mereka tahu kalau mereka tuh
adalah audiens kita dan kalau mereka
yakin kalau misalnya problem mereka ada
di sini, di sini ada breaking point
pertama. Makanya kalau dilihat di HHF di
sini langsung ada nih em apa? instant
payment button ada daftar sekarang
karena main-nya udah kita kasih,
personanya udah kita kasih. Mereka tuh
udah bisa ngrelate kalau yang udah
percaya banget sama sama Rama eh mereka
bakal langsung check out bakal langsung
daftar sekarang. Makanya di sini kita
langsung kasih solusinya. Solusinya
adalah produk kita HF
gitu. Nah, kalau misalnya belum juga
kita kasih selanjutnya lagi painpin poin
bernya
ini.
Nah, makanya si painpin ini lahir dari
pain tambah personanya orang. Ini
sebenarnya sor bukan pain doang sih, ini
pain itu eh apa namanya? Dream fear
challenge lagi. Kembali ke yang tadi
lagi tiga ditambah personanya gitu. Maka
ini sih karena audiensnya by udah
terlalu luas ya, jadi enggak ada yang
cukup spesifik. Tapi kalau misalnya
audiensnya ada yang mau spesifik
misalnya pekerja atau enggak freelancer
itu bisa ditulis banget di sini.
gitu. Karena goal di sini, goal di sini
apalagi sama kayak tadi, merasa
terpanggil, merasa terwakili untuk ke
masalahnya dia gitu. Nah, ee kembali
lagi ya, ini urutannya tuh sebetulnya
enggak terlalu harus saklek begini, tapi
ini ee contoh aja ada beberapa pelajaran
yang aku ambil dan aku compile jadinya
tuh begini. Nah, selanjutnya kenapa
harus ada testimonial adalah karena tadi
lagi kita sudah bikin trilate nih yang
belum adalah mereka belum trust kalau
kita bisa solve problem mereka. Makanya
di testimonial ya dasar.
Nah, di testimonial tujuan ee di di sini
tujuan kita itu bukan untuk show off,
bukan untuk show off kalau ini udah
banyak yang beli produk kita nih udah
udah ada ini, udah ada ini, udah ada
ini. Sebetulnya bukan itu tujuan
utamanya, tapi tujuan utamanya adalah
untuk menghancurkan objection dia akan
produk yang mau dia beli.
Nah, contohnya ini. Kalau misalnya di
produk aku masalahnya adalah apakah
produk ini betul-betul bisa bikin orang
itu menghasilkan uang? Apakah produk ini
bisa meningkatkan skill mereka? Makanya
di sini iya pas banget. Makanya di sini
yang aku taruh di atas adalah kalau
ilmunya diterapin balik modalnya bakal
cepat. Jadi objection mereka kalau ih
duit gua bakal balik enggak ya? Di sini
langsung kejawab. Nah, itu beda lagi
produk-produk yang lain. Nah, kalau
produknya Rama yang HHF di sini eh
objection-nya adalah karena dreamnya tuh
kita mainin dream and dreamdream yang
gede banget kan. Apakah cara ini akan
masuk akal? Nah, makanya di sini
dimasukin di sini lebih bagus adalah
bisa dimasukin gini sih kalau cuman satu
ya objectionnya dan dibikin kita kasih e
breaking objectionnya apa? Ada orang
yang sudah menghasilkan ini nih pakai
metode yang diajarin.
Contoh lagi eh Fata karena banyak
audienceku adalah orang yang betul-betul
enggak bisa nulis. Ah banyak ke DM tuh
Bang kalau misalnya gua belum pernah
nulis kalau dari nol bisa enggak ya join
course-nya? Itu enggak sedikit yang
nanya. Makanya ini aku masukin di sini
mudah dimengerti untuk pemula. Jadinya
orang begitu ngelihat, "Oh, ini bisa
dimengerti walaupun ini nanti harus
dimainin lagi di founder eh ini
pekerjaan orangnya apa, festil
tambahannya apa, itu bisa dimainin lagi.
Tapi tujuan utamanya itu. Nah, untuk
yang HHF yang sebelah kanan ini eh
productivity course for everyone." Dan
di sini dia dokter. Jadi kayaknya dokter
tuh
mungkin ada hubungannya, tapi bukan
seseorang yang bakal terpikirkan kalau
ini orang yang butuh tanda kutip
produktivitas. Tapi ini dokter pun
mengasih testi seperti ini. Jadinya kita
bisa bangun bangun terust yang lebih
lagi gitu.
Nah, selanjutnya adalah kayak tadi eh
karena relate tujuannya relate dan juga
tujuannya trust, dream identity itu
gabungan dari keduanya, yaitu bikin
mereka relate sama dream mereka dan juga
trust sama kita. Nah, ini contohnya yang
diaku adalah jadi penulis online,
menghasilkan uang, bisa dibikin konten
viral. yang dirama ini tahu prioritas
hidup, kerja 4 jam sehari, belajar
menguasai skill dan sampai naik income.
Nah, ini tujuannya kayak relate dan
merasa kalau dia terwakili. Terwakilinya
dan merasa terpanggilnya apa? Bukan
masalahnya lagi di sini, tapi sori
terwakili dan terpanggil soal mimpinya
dia. Kalau misalnya dia tuh memang ada
di sini dan kita tuh kita ngasih tahu
kita bisa loh wujudin mimpi lu. Nah,
baru selanjutnya kita mulai bangun
trustnya nih dengan salah pertamanya
adalah credibility dan introduction.
Karena kenapa ini ee ini contohnya dulu
ya. Ini contoh di aku adalah ya gini
konten set of content productivity itu
aku tulis soalnya masih kredibilitas
rama masih tinggi banget kan jadi itu
bisa dicuri kalau misalnya kita punya
kerja di tempat apa atau pernah punya
klien apa itu bisa ditulis banget
semuanya.
Nah the goal-nya sama kayak tadi lagi.
Eh bukan sama kayak tadi goalnya adalah
karena orang itu membeli barang itu dari
orang. Orang lebih percaya sama orang.
Karena tujuan dari credibility ini
adalah bikin dia percaya kalau kita bisa
solve problem mereka. Makanya di sini ee
kita kasih kalau bisa kasih foto. Kalau
memang ya ada foto harus kasih foto sih
kalau mau bagus sih.
Nih trustnya people buy from people that
they trust. Karena makanya di sini kita
bangun mulai kita bangun kalau misalnya
tuh em kita tuh bisa dipercaya sama
mereka gitu. Nah, di sini karena kita
udah mulai kayak tadi udah kita bangun
trust, kita udah kasih tahu
relatability-nya, kita udah kasih tahu
problemnya, kita udah kasih tahu
solution-nya, kita bisa kasih breaking
point lagi. Breaking point-nya ya sama
kayak tadi, biar mereka bisa beli di
sini. Main over-nya udah ada, personanya
udah kita ambil, udah relate, problemnya
udah kita tahu solvingnya bagaimana,
trustnya udah mulai kita bangun. Dari
situ kita bisa kalau misalnya orang
sudah mulai percaya ya mereka langsung
beli, gitu. Nah, kalau masih belum
percaya
tambah lagi ee kita sudah bikin relate,
relate, relate, kita lanjutin lagi.
Orang enggak beli karena enggak percaya.
Itu kan karena aku selalu bilang ee
berlian dijual sama tukang siomai,
enggak ada yang beli tuh berlian
walaupun harganya 1.000 dan murah
walaupun itu berlian asli gitu. Tapi
sioma ini dijual sama tukangnya siomai
ya dibeli karena orang percaya sama dia.
Masalahnya tuh di trust, bukan masalah
di produknya doang gitu. Produk bagus
tapi orang enggak percaya sama yang jual
sama aja
gitu. Nah, ini contohnya ya yang ee apa
gimana cara kita sebagai produk maker
ini bantu audiens kita. Kalau di aku ya
dikasihnya gini, apa aja yang mereka
dapat, format belajar seperti apa. Ini
ee bikin mereka jadi jadi bisa goalnya
itu adalah making sense. Jadi mereka tuh
masuk akal ini bisa tercapai karena ini,
ini bisa tercapai karena ini. Dream
mereka tuh tercapai karena apa yang kita
kasih overnya.
Dan gol ada gol kedua sebenarnya dari
ini, tapi gol keduanya harus kita bahas
dulu sebelumnya adalah sneak pick dari
ee produk kita. Snik itu contohnya
seperti ini. Kalau di kita bisa kasih
betul-betul list apa aja yang mereka
pelajarin semuanya. Kita bisa kasih
video contoh pembelajaran. kita bisa
kasih contoh cheatsetnya, contoh
worksheet, apapun itu yang enggak enggak
terlalu reveal tapi masih bikin
penasaran. Kayak ini kan kenapa aku
kasih judul-judulnya di sini?
Karena judul-judul ini adalah hal-hal
yang sering ditanyain sama audiens.
Kembali lagi karena basisnya adalah
audience, kita kembali lagi ke audiens.
Mereka pengin belajar copywriting,
gimana caranya? Diajarin oh enggak,
Bang? Ee kalau AI masalahnya gimana?
Terus gimana cara mulai freelance?
Karena menurutku judul-judul dari setiap
bab ini sudah menjawab, jadi aku
masukinnya ini. Sedangkan kalau dirama
kalau dimasukin judul semuanya HHF itu
bakal kepanjangan banget. Tapi garis
besarnya adalah dua gitu. Garis besar
inilah yang membuat ee mereka bisa
mencapai gol mereka.
Nah, seperti tadi ini sama making sense
of the offer. Nah, tapi eh kayak yang
tadi aku bilang kedua hal ini sneak pick
dan juga e how the product works itu tuh
ada dua goal sendiri.
Goal keduanya adalah untuk menjawab
orang kayak gini, jangan beli kucing
dalam karung. Jadinya mereka bisa tahu
dulu apa yang mereka beli sebetulnya.
Apakah ini beli? Apakah ini beli buku,
isinya seberapa banyak, apa aja yang
akan dipelajarin sebelum mereka beli,
mereka jadi sudah tahu dulu. Dan itu eh
untuk beberapa orang itu tuh breaking
the objection juga ujungnya.
Nah, selanjutnya adalah overstacking.
Mungkin ini juga pasti pernah lihat deh
overstacking isinya berapa juta-berapa
juta. Walaupun juta-jutanya ini juga
kita buat-buat sendiri sebetulnya,
tapi kita kita yang sudah pernah bikin
ee berpikir ini ya ini dibuat-buat
karena kita ngerti.
Tapi most people enggak ngerti soal ini.
Jadi kita buat begini dengan angka yang
tanda kutip masih masuk akal ini membuat
mereka jadi sama lagi making sense. Tapi
di sini bukan making sense kalau
misalnya produk kita bisa mencapai dari
mereka tapi making sense dengan harga
yang akan kita kasih. Sebetulnya e bayar
segini tuh dapat apa aja dengan harga
yang mahal ini R10 juta, Rp1.500 500 ada
yang R juta. Nah, makanya selanjutnya
kita bedain sama pricing di bawahnya tuj
ee karena karena kembali lagi kalau
pricing itu kan harga yang mereka bayar.
Kalau misalnya overstacking adalah harga
yang mereka dapatkan. Tujuannya adalah
di sini sama making sense tapi making
sense of the price. Dan second goalnya
adalah namanya value perception. K eh
pasti pernah deh maksudnya kalau
misalnya ke UNIClo atau ke tempat-tempat
lain tulisannya diskon 50% tapi sebelum
diskon 50% tuh harganya udah dinaikin
dulu kayak hampir hampir hampir dua kali
lipat mungkin udah dinaikin dulu 30%
jadi seolah-olah kita dapat value lebih
jauh lebih gede. Padahal mah ya udah
diskon emang harganya segitu aja gitu.
Itu tujuannya pemisahan pricing yang
kayak gini tuh
gitu. Dan terakhir FQ
break and as question. Ini sebenarnya
tujuan akhirnya adalah cuma breaking
small objections dan questions. Jadi
daripada mereka kalau ada hal-hal kecil
yang bikin mereka enggak beli, kita
kasih ini aja biar mereka enggak usah
nanya kita dulu, enggak usah apa. Jadi,
jadi customer journey-nya bisa lebih
cepat.
Nah,
karena kembali lagi ee pembuatan landing
page ini adalah yang tadi aku bilang
sebuah perjalanan jernih dari customer
kita. Jadinya kita yang bikin journey
itu engak enggak usah nyesuainin sama
template ini. Kalau mau sama enggak
masalah, kalau mau beda ya itu lebih
bagus lagi karena harus disesuaikan per
audiens. Nah, bagaimana bedainnya adalah
ee harus tahu kalau semua jernih tadi
itu tuh terbagi jadi empat esensial.
Journe ini dari main over, audience
persona, paint sampai ke FQ itu tuh
dibagi jadi empat yaitu NIS kita.
problem yang kita solve, solution yang
kita kasih, dan transformation yang akan
mereka dapatkan.
Keempat ini yang sebetulnya kita kasih
di semua ini cuman dalam bentuk yang
berbeda-beda. Jadi, kalau misalnya mau
di mau kita ubah urutannya ya ubah aja
urutan berdasarkan ininya.
main goal-nya ini oh eh problem yang
kita kasih kurang tambahin problem lagi.
Solution-nya e kurang testimony. Makanya
berapa landing page ada yang
testimoninya dua. Bukan masalah
testimoninya kebanyakan tapi ya itu yang
bisa dikasih dua karena credibility
enggak mungkin kita kasih dua kali. E
how the product work susah juga kita
kasih dua kali. Sneak pick kalau kita
kasih dua kali jadi ngwenin. Tapi
testimoni kita bisa kasih dua kali
bahkan tiga kali itu karena kita bangun
trustnya di situ. Dan terakhir
transformation dream identity ini juga
bisa kasih dua kali kalau misalnya
memang masih kurang.
So today kita akan ngebahas tentang how
to conduct a webinar that sells ya. Nah,
jadi kalau misalnya teman-teman pernah
ikut webinarku yang
value creator webinar series ya yang
cara mendapatkan 5 juta dalam 14 hari
tanpa affiliate, tanpa live shopping,
tanpa yang gitu-gitu tanpa endorse ya. I
think that's a very popular webinar for
us diow Creater dan teman-teman rasanya
keracun ikut ini gara-gara itu semua e
baik dari teman-teman ya. So, I'm gna
break down that webinar. Why do I
structure it like that? Supaya
teman-teman paham betul. mindset ketika
kita bikin webinar tuh gimana dan
harapannya adalah teman-teman bisa
mendapatkan framework ya. Jadi bukan
cuman contoh webinar tapi framework-nya
ngerti kenapa bikin webinar tuh begitu
gitu. Dan for your information webinar
ini tuh nge-generate itu lebih dari 3
digit per webinar. Jadi itu ekspektasi
yang teman-teman bisa harapkan gitu ya.
Semoga sih kalau enggak nyampai 3 digit
ya at least double digit lah dapat
multiple double digit gitu. Nah, karena
ketika PR Boy praktikin, itates more
than triple digits every single time.
Nah, jadi harapannya adalah I'm going to
pass this knowledge to all of you. So,
you can also do the same. Al right,
Teman-teman, kita sebelum ngebahas
structur-nya, kita akan ngebahas
misconception-nya dulu. Kenapa sih kita
tuh bikin webinar? Itu dulu yang gue
pengin bahas di sini ya, Teman-teman.
Kita harus tahu dulu goal-nya webinar
itu apakah untuk give value, yes or no?
Ini pertanyaan penting dulu. Teman-teman
harus renungin dan coba jawab deh di
kolom chat. Goal dari webinar apakah ini
untuk give value? Yes or no? Nah,
dari William yes. Dari Dave yes. Menurut
teman-teman gimana kita bikin webinar
nih? Apakah untuk give value dari Sy?
Yes. Teman-teman yang lain Michael yes
juga. Nah, Susan mau ngomong nih pas
bisa yes bisa no.
Oke. Kenapa tuh Su?
Yesnya memang ada value yang dibagikan
di depan, tapi noya karena not entirely
giving value. Kita mau jualan
my opinion
ya. Your opinion is my other.
Luar biasa emang emang benar jawabannya
depends. J ini udah kelamaan di VC udah
jadi terlalu terlalu terlalu wah terlalu
pintar gitu kan di sini ya. Jadi very
good that's the truth depends. Nah
pertama-tama dependsnya depends on apa?
Kita harus ingat ini lagi value leader
kita dependsana apa. Contoh kalau
misalnya teman-teman bikin webinar,
webinarnya ini udah middle and over ya.
Jadi udah middle over harganya Rp500.000
ya udah yes berarti full give value aja.
Kenapa? Karena harganya udah mahal, udah
duitnya udah banyak dari sana gitu.
Kalau misalnya ini udah menjadi lebih
dari coreover, artinya udah bukan lagi
coreover yang kita promosikan
terus-menerus dan harganya udah di arah
yang premium, enggak apa-apa full give
value. Kenapa? Satu harganya premium.
Jadi, people do expect a lot from the
webinar. Jangan sampai webinar 500.000,
R juta, 2 juta kasihnya cuman cetek
gitu. Wah, itu orang ngamuk gitu ya.
Nah, jadi layak untuk kita kasih as much
rally as we can. Nah, the thing is kalau
misalnya kita kayak gini yang kita
lakuin webinarnya misalnya kayak
Vincent. Vincent kan lagi mau bikin free
webinar tuh. Lagi mau bikin free webinar
di sini ya. jatuhnya ke bait atau lead
magnet berarti gratis nih. Atau misalnya
teman-teman kalau misalnya gua lihat
kalau enggak salah Sarah tuh lagi bikin
webinar juga ya R85.000 ya kan. Nah dia
mau bikin sekitar 47.000
5.000 atau R97.000 ini jatuhnya tuh ke
front and over jatuhnya ke apa namanya
trip wire ya teman-teman bagi
Teman-teman yang masih belum paham trip
wire itu apa, lead magnet itu apa, ada
di materi yang ada di eult. Jadi silakan
eh search aja Tripwire lead magnet pasti
akan ngerti nanti bedanya apa. Nonton
materiku yang ngebahas value lader aja
pasti nanti akan ngerti total
perbedaannya apa. Kalau teman-teman itu
webinarnya itu gratis
ya atau trip wire benar yang tadi Su
bilang jangan cuman give value. Kenapa?
Supaya kita bisa m-maximize yang namanya
LTV. Nah LTV itu apa? bukan TV yang kita
sering nonton, bukan, tapi lifetime
value. Jadi kita bisa meningkatkan value
orang tuh di produk-produk kita.
Contohnya gimana? Dengan yang namanya
upsell misalnya. Makanya kalau misalnya
teman-teman ke McD, ke McDonald's, let's
say mau pesan Big Mac nih, pasti ditanya
dong, mau paket enggak sama kentang,
samaan? Mau sama es krim enggak? Yang
kayak gitu-gitu. Nah, jadi kita bisa
meningkatkan customer lifetime value
juga supaya dia beli lebih banyak dan
datangnya lebih sering. Nah, itu adalah
konsep dari value leader. Makanya kita
harus ngerti dulu at the end of the day
kalau misal ada orang mau belajar
tentang digital product pasti topik
pertama yang gua selalu ajarin ke
orang-orang adalah valer supaya kita
bisa ng-reverse engineer goal kita and
goal-nya apa. Itu tuh dari val reader
tersebut ya. Jadi kalau misalnya
teman-teman bikin webinar yang harganya
masih relatif murah atau elite magnet
atau trip wire, no. It's not for purely
100% giving value. Harus ada unsur
jualannya juga gitu di sana supaya apa?
Supaya bisa convert orang-orang tersebut
ke coreover teman-teman. Kalau misalnya
enggak ke coreover teman-teman, ke
midver teman-teman. Kalau misalnya jago
bisa nge-convert langsung ke high
ticket. Nah, itu adalah triknya. webinar
goal give value itu enggak cuman give
value tapi juga yang namanya kita sebut
di sini persuad. Nah, sekarang cara
persnya gimana? Inilah yang akan kita
bahas ya dari cuma di awal-awal sini dia
bisa naik akhirnya ke sini nih. Itu yang
akan kita bahas di webinar ini. That's
the goal of today's webinar ya. So, I'm
gonna call this the 12 webinar
commandments. Asik sudah ketahu-ket apa
aja nih commandments kan udah si paling
sok keren gitu kan kata-katanya
commandments. Right? So, we're gna talk
about this today. This is what I want to
show you guys. Ya. So, we're gna talk
about social proof. Social proof adalah
webinar commandment yang pertama. Jadi,
gini, di webinar ini eh di master class
ini, I'm gonna walk you through apa yang
gua pakai. Semua slide webinar gua
teman-teman akan gua kasih lihat. Jadi,
if you guys want to know webinar yang
terakhir kali teman-teman ikutin dari
Productivity Boy itu tuh berapa slide?
386 slide ya. Jadi emang sebanyak itu,
tapi the results paid off ya. Tapi
teman-teman bukan berarti wah gila gua
harus bikin webinar 300. Enggak, enggak
gak. Ini emang gua seniat itu kalau
bikin materi. Jadinya makanya kenapa
hasilnya bisa optimal juga. Ini hanya ee
sebagai contoh yang kita lakukan ya.
Jadi 386
slide. Nah, yang akan kita lakukan di
webinar ini adalah nge-go through
part by part. Jadi ibaratnya webinar ini
tuh gua udah bagiin jadi
chapter-chapter, Teman-teman. supaya
teman-teman paham habis ini masuknya
apa, habis ini masuknya apa, habis ini
masuknya apa. Dalam konteks webinar yang
kita pakai di sini adalah webinar buat
kasih value dan jualan. Gabungan di
antara GueU and Pursuit supaya
teman-teman bisa nge-upsel orang-orang
yang sudah beli webinar teman-teman ke
produk yang lebih mahal gitu ya. So, the
first aspect yang kita mau bahas di sini
adalah social proof. I always start my
webinars with social proof. Nah, ini
slide-nya yang kita pakai. Ini ngasih
lihat apa? Social proof. Kenapa? Karena
ini ngasih lihat nih account gua
grow-nya segini,
impression-nya segini, growth-nya
segini, income-nya segini ya. Kenapa gua
share ini? Mau kasih lihat ini semua
possible. Ini social proof. Kenapa?
Karena ngasih lihatnya data. Real kan?
Teman-teman bisa lihat sendiri. Makanya
data itu tuh very powerful di sini. Yang
kedua adalah breaking the status qua.
Jadi kita pakai yang namanya breaking
the status qu. Kenapa breaking the
status qu itu penting? Karena kita
nge-set ourselves apart from everybody
else.
Teman-teman coba bayangin ngebahas
productivity misalnya, terus gua bilang
nih time management tuh bullshit gitu.
Wah langsung diattack tuh sama satu
industri. Mat itu yang terjadi dulu
ketika gua bikin flo blueprint kan
makanya knya laku banget tapi ada
beberapa kontra juga gitu loh. Jadi kita
status quenya apa? Kita bilang jangan
begitu gitu tapi harus make sense ya.
harus make sense. Makanya contoh kalau
misalnya di fitness industry mungkin ini
lebih relate sama Vincent nih. Dan Vina
barusan kalau misalnya kita ngobrol di
eh Discord juga Vina kan bikin nutrition
ya, bikin milk plan dan segala macam.
Kalau misalnya kita bilang gini,
sehari-hari kalau misalnya mau sehat
jangan makan cuman minum air aja gitu.
Weh langsung tuh diattack tuh pasti kan.
Kalau misalnya kita ngomongin water
fasting misalnya, su mungkin
ngerti-ngerti yang kayak gini-ginian.
When we talk about water fasting,
although it's a cutting edge research on
that gitu ya, dan itu lagi eh bukan on
demand sih, tapi lagi rising banget,
kontranya baik banget juga. So that's
why kalau misalnya kita bisa jadi
pioneer dalam water fasting itu tuh akan
bisa hasilnya luar biasa. Dan itulah
yang dilakuin sama Shelly. Kalau
misalnya teman-teman ingat di webinar
yang gua share itu kan ada Shelly
ini bentar.
Jadi ada satu contoh kan yang I showed
you guys di sini yang ini nih loose 3
cage in 7 days yang diajaran apa? Water
fasting
dari sini berapa? Udah 1 M cuyime
lifetime sales-nya gitu ya. Nah jadi
that's the power of eh breaking the
status. Flow zone brin juga 1 m lebih
lifetime sales ya kan. Nah jadi
maksudnya itulah yang membedakan
over-over yang biasa aja dengan yang
luar biasa gitu teman-teman. harus bisa
breaking the status go. Nah, yang kita
lakuin di sini adalah enggak cuman dari
offer kita, tapi dari what we do in our
content. Itu tuh udah kita kasih lihat
di sini breaking the status yang gua
lakuin apa di sini gua bilang, "Lu bisa
bangun brand nih di Indo tanpa harus
joget-joget, tanpa harus madi lumpur,
sama tanpa harus giveaway." Karena kalau
misal orang mikir mau cepat viral,
gimana? Ngikuti yang sudah viral,
joget-joget, kasih-kasih duit biar cepat
dapat followers, komen ini ya. Terus
nanti orang berikut yang hoki gua
transfer Rp500.000. Wah, gitu. Kalau
misalnya itu yang terjadi kan kita bakar
duit tiap hari gitu kan ya bisa sih
kalau banyak duit enggak masalah tapi
kalau misalnya enggak dan kita justru
mau make money from this ya enggak
effective breaking the state school so
with this sequence dengan sequence ini
gua ngset myself apart from the other
creators yang melakukan ini. Kalau
misalnya kita sefrekuensi lu akan suka
dengan apa yang akan gua share karena
gua enggak akan melakukan ini yang orang
lain lakuin. Nah kita jadi sefrekuensi
di sini banyak orang yang ngejual-jual
kelas juga tapi enggak walk the talk
ngajarin hal yang enggak bermutu yang
sampah. Nah, ini sama aja kayak kita ke
dokter kulit tapi dokternya jerawatan.
Ini sama aja kayak kita nge-gym misalnya
Vincent lu nge-gym terus ptinya gendut
kocak kan maksudnya gitu kan. PTI kok
tapi gendut enggak make sense gitu.
Ngapain gua belajar dari dia ya kan
dokter kulit tapi kok jerawatan enggak
make sense. Kenapa? Karena no skin in
the game itu yang kita establish.
Breaking the status setting ourself
apart from the others. Next we're gna do
more social proof. Nah, ini kayak
ngesandwich nih. Social proof breaking
the status. social proof lagi. Nah,
kalau misalnya kita frekuensi, lu akan
tahu kalau misalnya lu akan bisa
mendapatkan hasil-hasil ini juga. Nah,
ini baru kasih testimoni nih dari our
past clients. Kalau tadi yang di pertama
social proofnya social proof gua
pribadi, sekarang social proof klien
gua. Biar orang paham ini enggak works
gua nih, tapi di clien gua udah
diterapin dari berbagai macam bidang
tuh, pengembangan diri, kedokteran,
psikologi, ya segala macam, finansial,
asuransi, MLM, udah semua mereka semua
bisa dapetin hasil yang sama. Nah, lu
mau enggak? Habis itu ada call to
action. Nah, Teman-teman ingat apa yang
terjadi habis ini? Giveaway ya,
launching free. Kalau misalnya lu mau
dapat ini gampang carinya gimana nonton
sampai habis. Ini ada call to action.
Buat apa supaya orang nonton sampai
habis? Permasalahan kita gini,
Teman-teman. W doar yang kita mau
jualan. Kita kan seringkiali jualannya
di akhir ya kan? jualannya di akhir.
Tapi kalau misalnya nyampai akhir, let's
say datang 200 orang, tapi di
akhir-akhir tiba-tiba 140 orang sisa.
Wah, itu kan huge problem. 60 orang
hilang tuh kita enggak bisa jual ke
mereka. Nah, PR-nya gimana cara supaya
ketika kita bikin webinar orang nonton
dari awal sampai akhir?
That's the hardest part in a webinar.
Apalagi webinar murah, apalagi webinar
gratis. Ah, gua enggak bayar, udahlah
skip aja gitu loh. Jadi enggak ada
urgency-nya, enggak ada scar city-nya
buat dia, gitu. Nah, itulah yang membuat
orang tuh jadi aduh udah entar aja deh.
Tapi kalau misalnya ada ini kan orang
jadi pengin nonton apa akhir bisa kok
dapat gratis gitu ya. Next kita kasih
outline. Kalau misalnya teman-teman
mau bikin presentasi rule number one of
presentation design ada banyak tapi
salah satu yang paling penting adalah
kasih clear expectations. Give the
outline. Hari ini bakal bahas apa aja
supaya teman-teman enggak bingung nih
orang kapan selesai ngomongnya. Nah,
sering enggak dengerin orang presentasi?
Mungkin sering kali dosen nih dosen
presentasi atau pembicara presentasi
ngoce mulu. Kita enggak tahu kapan dia
selesai karena apa? Enggak ada
outline-nya. Jadi kita establish ini
dulu outline-nya
gitu. Supaya orang tahu oh si Rama udah
nyampai di sini. Oh dia udah nyampai di
sini. Bentar lagi kelar nih. Supaya
mereka tahu harus sampai mana dia
berekspektasi.
Btw ini gua plugin juga. I'm not
sponsored or anything. Tapi teman-teman
gua tuh belajar presentation skill ini
tuh dari tendon. Kalau misalnya
teman-teman pernah dengar tendon. Jadi,
gua tuh belajar dari sini. Ee gua
berawal dari murid, terus mereka
akhirnya sempat jadi klien Proty juga
sampai akhirnya kita teman dekat gitu
sama foundernya. Jadi kalau misalnya
teman-teman mikir, "Wah, kok
presentasinya Protby bagus, cara eh
desainnya bagus, cara komunikasinya
bagus, gua belajar dari mereka." Jadi
kalau misalnya teman-teman mau belajar,
mau nge-deep dive bisa belajar dari
mereka juga. Gua enggak ada affiliate
code, enggak ada apa. Jadi pure gua gua
ggak ngambil profit dari sini sama
sekali. But I'm justing them karena
mereka bagus banget. As simple as that.
Jadi I just want to v them so I I learn
from them. Y gitu. Jadi dari Fendy Dave
ini Dave ada nanya juga kalau yang nomor
tiga kita belum ada that's social proof
from our clients. Oh gini. Nah dari Rafa
sama dari Dave. If you guys don't have
this teman-teman. Nah gua juga awalnya
di di landing page landing page gua awal
ketika gua pertama kali mau nge-launch
off gua kan enggak ada nih social proof
kayak gini. Yang gua lakuin apa? Gua
minta teman-teman terdekat gua atau yang
pernah belajar dari gua minta pendapat
mereka tentang my eh tentang me
personally. Jadi, social proof-nya
enggak harus tentang course-nya, tapi
omongan orang tentang kita, gitu loh.
Paham enggak sih? Misalnya Dave bikin
high demand tutor, tapi belum belum
banyak nih misalnya review-nya yang what
you can do adalah ask your previous
students atau ask parents dari previous
students itu pendapat tentang Mr. Dave
gimana kumpulin jadi satu masukin ke
sini. Gantinya bisa gitu. Jadi enggak
harus testimoni tentang course, tapi it
can be a testimony for you mewakili your
personal branding, gitu. Jadi, hope it
helps ya. That's what I do and that's
what I did and it worked gitu. Nah, jadi
balik lagi outline ya, kasih outline
supaya mereka tahu ekspektasinya gimana.
Lalu kita lanjut ke materi.
Nah, makanya kalau misalnya teman-teman
lihat ini materinya banyak nih dari
slide 70. Wah, ini kita scroll ya sampai
bawah banget sampai 180-an deh kayaknya.
Ini tuh materi full ya. Jadi baru deh di
sini kita give value ya kan. Jadi ini
kita bisa tarik ulur bisa 50-f 50% give
value sama 50% jualan gitu sih. That's
what I did gitu. Tapi kalau misalnya
teman-teman mau jomplangin dikit ya
enggak apa-apa juga gitu. Terserah
teman-teman ya. Jadi ini sampai slide
wah bahkan lebih sampai slide 199 tuh
ya. give value kasih materi berarti
berapa tuh? 150 slide lebih ya udah give
value. Nah, next baru kita ngreap. Balik
lagi. Kalau misalnya tadi kita ada
outline, baiknya kita ngreap supaya
orang ingat apa yang mereka udah
pelajarin. Makanya setelah itu, we have
a recap. Yang udah kita pelajarin ini,
ini, ini. Ya, ingat kan yang kita udah
pelajarin apa aja? Ini, ini, ini, gitu.
Nah, habis itu baru kita mulai jualan di
sini. This is the valley stack.
This is the valley stack. Before I jump
into the valley stack dari Dave nanya
kalau testingnya bukan transformation
yang kita offer enggak apa-apa ya?
Enggak apa-apa
note aja on us itu udah cukup supaya
people still know gitu. Karena kalau
misalnya teman-teman mau beli barang di
Shopee, di Tokopedia, di Go Shopee Food
kek, di Grab Food kek, di manap pun itu
mau ngebeli barang atau beli makanan
pasti teman-teman lihat review-nya
bintangnya udah berapa nih
yang like udah berapa sama digital
produk juga gitu psikologinya gitu. Nah,
so after we gave value and everything
else in between, this is the time where
we shine. Di sini kita ngasih value
stack. Kalau misalnya value stack simple
itu apa, Teman-teman? Mungkin yang sudah
belajar cukup lama paham. Value stack
simple adalah gini nih.
Iya kan? Set ini doang nih value stack
nih. Kan yang membedakan over dengan
produk apa?
Over itu ada value stack-nya lebih dari
cuman course produk itu gua cuman jualan
course nih. Over itu ada course plus apa
plus apa plus apa plus apa plus apa ini
value stack. Nah di sini gua take it
with steroids gitu. Daripada gua cuman
ngejabarin gini doang gua nge-breakdown
masing-masing tuh bakal dampaknya apa,
transformasinya apa. Makanya teman-teman
bisa lihat di sini ya. Kita lihat
bukti-bukti bla bla bla. What if I give
you all the key to this? Gitu kan.
proudly presents. Nah, kalau misalnya lu
udah bla bla bla bla bla bla, this is
for you. Ya kan set. Btw, teman-teman,
ini rahasia kecil, jangan di-share ke
siapa-siapa. Bahkan ini desainnya gua
mepet karena gua bikin hamin satu. Lihat
aja ini masih lorem. [tertawa]
Tapi enggak ada yang nyadar kan lorem
kan. Karena gua sepionate itu ketah
presentasi dan ini cepat kok jalannya
masih loren Ipsum tuh lihat tuh ya. Nah,
jadi when you speak with conviction this
can happen gitu teman-teman ya. Jadi di
sini kita kasih value stack, kita
elaborate masing-masing ini apa, terus
jeder kita kasih masing-masing value
stack itu dapatnya apa. Jadi value stack
dalam value stack, habis itu kita wah
total value-nya segini. Nah, yang gua
over kan enggak cuman satu, ada empat,
kita repeat empat kali.
Nah, ini yang kedua set ya kan. Kita
lanjutin ini yang ketiga.
Set. Lanjutin terakhir yang keempat.
Set. Nah, total yang lu dapetin kalau
misalnya lu ngikut program value creator
bakal begini su aja sampai wah [tertawa]
bingung gitu kan ngelihatnya kan banyak
banget gitu kan. Nah, jadi makanya
itulah kenapa gua bilang ini value stack
dari value stack udah ada value-nya udah
ada bonus-bonusnya bonusnya pun
dijabarin lagi. Makanya powerful banget
orang sampai ngenal banget oh ini
tangible banget bikin itu sampai
setangible mungkin gitu. Nah after the
value stack is done this is the
highlight.
This is the highlight which is the plot
twist.
Ya, plot twist apa? Kalau misalnya
teman-teman ingat makanya when I
presented ingatkan enggak segini, enggak
segini, enggak segini tapi berapa Rp
berapa? Rp nol duar orang langsung ah
ini benar gitu kan. Orang kaget langsung
semua. Nah, ini menjadi plot twist.
Kenapa? Karena orang udah ngikutin, udah
happy mood-nya udah enak terus tiba-tiba
pas dikasih ini jeder orang langsung
kayak you are the best gitu kan. If
you can see the chats, we have the
recording. People went crazy, people
went bananas. I swear to God, everybody
was like, "Kok bisa begini?" Jadi ini
eufornya lagi gila banget ya ketika kita
ini. Kenapa? Karena plot twist-nya dapat
di situ ya. Orang tuh begini ekspresi
mukanya kan pas ngelihat ini. Nah, gua
mau cerita dulu baru kasih tahu back
story-nya kenapa gitu kan. Kalau
misalnya kasih gratis
kureng gitu kan. Makanya kita kasih
plotist lagi daripada money back
guarantey yang sering orang abuse kita
hanya result based guarantey. Kalau lu
jadi top seven, top three, kita akan
balikin uangnya. Jadi we will give you
money
if you achieve the goal. Kenapa? Karena
kita mau kalian semua achieve. Kita
bukannya kalian enggak mau achieve, kita
balikin uangnya, tapi kita ganti. If you
achieve, kita kasih uang. Ini plot twist
lagi. Jarang ada yang ngelakuin ini kan.
Seringkiali orang money back guaranti.
Lu lu ngerasa ini enggak bermanfaat, gua
balikin uangnya, gua balikin lagi, plot
twist lagi. El berhasil sama gua, gua
kasih uang lu balik. Kenapa? Karena lu
udah kerja keras, cuy. Dan enggak
gampang. Nah, kayak gitu bla bla bla bla
bla. Ya, ini challenge-nya. Nah, baru
kita kasih investmentnya segini. Mahal
amat bla bla bla. Kita kita anchoring
juga bedanya di mana. Nah, habis itu
kita pakai yang namanya this is whatical
choice. Ini adalah sebuah opsi yang gak
s kalau lu gak ambil.
Ini adalah sebuah opsi yang lu tahu
sendiri. Kalau misalnya lu enggak ambil
ini, lu yang rugi. Caranya gimana? Entar
ini ada yang nge-chat. Apakah ada
pertanyaan?
Nah, dari Iya, benar sih. Kalau kalau
karena kalau gratis jadi gampang ini.
Yes, betul gitu. Nah, jadi gini. Next is
rhetorical choice. Rethodorical choice
itu adalah kalau misalnya kita ngasih
options, ada dua options, mereka tahu
yang benar tuh sama yang benar yang
mana. Jadi enggak ada yang benar, yang
salah, tapi yang benar sama yang benar.
Ya, caranya gimana kita apply-nya di
sini? Makanya kalau misalnya teman-teman
ingat di sini kan ada gini ya, gratis
kami bayarin bla bla bla. Ini kita kasih
social proof lagi ya.
Nah, kita kasih opsi good news. Kalau
misalnya lu mau jadi kayak mereka sama
bad news. Kalau misalnya lu mau jadi
kayak bocil nyinyirin lagi. Nah, makanya
lu pilih lu mau jadi tipe yang mana.
Jadi yang nyinyir atau jadi yang bagian
dari kami. Ini kan rhetorical choice.
Orang kalau misalnya punya eh rational
brain to actually think about it even
clearer, you pick this one. Logically
speaking. Kenapa? Karena iyalah udah
banyak kok yang dapetin juga dan it
makes sense rationally. So people would
want that gitu. Life pula social
proofnya. Betul. Betul. Nah kan. Karena
balik lagi what makes this webinar
powerful adalah salah satu unfake
advantage yang gua punya. Gua udah punya
skin the game. Jadi memang udah ada
orang-orang yang udah berhasil dan
enggak sedikit banyak. Jadi lu mau
ngomong apa lagi gitu loh. Enggak bisa.
Ini semua udah bukti gitu. Kalau kalian
scroll ke atas ini semua ini pasti juga
ada yang lu follow kan gitu kan. Nah
jadi masih mereka aja sama gue kok
apalagi yang lu butuhin gitu.
simpel itu gitu. Nah, ini yang paling
gua suka teman-teman mungkin wah ini
susah nih gua belum ada gua belum ada
testimoni gua belum ada ya kan gitu-gitu
kan apply ini. Ini udah paling gampang
urgency sama scar city this is what I
did. Yang lu perlu tahu gua punya
promise dan I always keep my promise
gitu ya. There's only 50 spot. Makanya
beneran untuk setiap batch ini kita cap
ke 50 spots. Value creator OS itu 14
hari itu leave 50 spots. Value creator
accelerator kemarin itu 50 spots. Ya,
jadi kita cuman nge-cap sampai 50. Nah,
tapi kita tahu kalau misalnya limitnya
50 ada 500 orang nih yang daftar
misalnya atau ada 1000 orang yang daftar
misalnya followers gua total across all
platforms itu tuh 1000 lagi 1 juta
orang.
Which means begini rasilnya bahkan
mungkin ini jauh lebih sekecil harusnya.
Segini kali ya. Jadi yang spotnya ada
segini, yang daftar segini, yang bisa
lihat over ini segini. Nah, lu mau
enggak masuk ke sini gitu. Kalau misal
mau bisa tapi harus cepat-cepetan. Orang
tahu gitu ini akan cepat habis masuknya
ke Scar City sama tinggal gua tambahin.
It's gonna sold out tonight. By our
experience in batch one, it's gna sell
out in just 15 minutes. Ya, jadi ada
masuk Scar City-nya di sini. ini scar
city nih. Nah, lalu ini urgency.
Urgencynya juga powerful. Kenapa? Karena
based on previous results, sebelumnya 15
menit udah sold out. Which means orang
akan mikir ini 15 menit nih bakal out
lagi. Kalau misalnya kita enggak gak gak
take action sekarang. Logicnya kan
begitu. So people will think like that.
Nah, next.
This is where the money comes in. Sales
checkout. Ketika gua nyampai sini kan
gua bilang dah ah capek ngoceh mulu.
Pram comes in ya kan PWK ya. Pram GPT
comes in. Pram tolong di Zoom chat kasih
link checkout-nya. Pram kasih link check
out terus gua kasih ini checkout duar
duar duar. Udah notif HP gua langsung
meledak di situ. So that's e what I did
ya. Kalau misalnya kalian lihat gua
jualan cuma dua slide cuy ini doang.
Tapi nge-build up ke sini 380 slide
kalau misalnya teman-teman. Nah,
strukturnya apa? Kita pakai the 12
commandment tadi. Jadi, if you guys want
to screenshot anything, this is what you
can screenshot, I believe, ya. Jadi,
kita ngflow-nya apa? Social proof dulu.
Social proof pertama itu adalah dari
diri kita sendiri. Kita ngelihat, kasih
lihat ke orang lain, kita sendiri bisa
enggak nih menerapkan ini?
Barusan gua dapat ads dari ada salah
satu platform, dia bilang, "Cara
mendapatkan R miliar dari digital
product SAS enggak?" Enggak SAS. Kalau
misalnya dia kasih lihat hasilnya kan
dashboard dia misalnya dia kasih lihat
dan e real testimony itu enggak sas tapi
dia enggak ngasih lihat hasil sama
sekali tapi dia ngeklaim dia bisa begitu
di otak gua lu aja udah begini belum
gitu loh 1 miliar tiap bulan dia
ngeklaimnya begitu nah tapi kalau
misalnya kita ngasilit hasil kita
sendiri itu akan powerful habis kita
ngasil habis kita ngaslit hasil kita,
kita break the status orang biasanya
gimana ini bukan cara gua enggak begini
gua dapat segini
ratusan juta miliaran dari sosial media
itu bukan dari endorse bukan Bukan dari
affiliate, bukan dari live shopping yang
lagi ramai yang kalian tahu semua, tapi
gua bikin dari digital products,
breaking the states home. Habis itu biar
orang makin percaya, kita kasih apa?
Social proof lagi. Social proof kali ini
berbeda. Kenapa? Karena ini social proof
adalah datangnya dari testimoni atau
hasil-hasil orang, penilaian orang
terhadap kita. Entah itu bisa dari
transformasi mereka atau enggak bisa
dari pendapat mereka tentang kita.
Masuknya di sini. Habis itu kita kasih
call to action. Nah, call to action-nya
apa? Call to action supaya mereka nonton
sampai habis. kita kasih apa? Bisa kasih
giveaway ya atau bisa kasih
encouragement lain, emphasis lain,
benefit lain sampai mereka nonton sampai
habis ya. Habis itu kita kasih tahu
outline-nya supaya mereka tahu
ekspektasinya apa dengan webinar ini ya.
Baru kita pemaparan materi ya setengah
sesi set kita ng-recap materinya sudah
ngebahas apa aja. Habis itu kita
ngevalue stack yang tadi kita bahas.
Habis itu baru
plot twist ya, baru jeder. Finalinnya di
sini, epic-nya di sini, eya paling besar
di sini. Habis itu kita kasih rortical
choice. Lu mau gak gimana? Bla. Nah,
baru urgency scar city supaya mereka
langsung check out dan akhirnya kita
kasih sales and check out. So that's
pretty much it. This is what I did.
This is the psychology and the logic
behind a successful webinar versi value
creator. Bisa jadi orang punya
framework lain,
tapi mereka menghasilkan berapa? Ini
menghasilkan 3 digit. Sekali ngocek 2
jam 3 digit. Kalau misalnya teman-teman
mau copy pas boleh ya, tapi asal jangan
disebarluasin ya. Awas [tertawa]
sebarlasin jangan. Copy paste boleh.
Kenapa? Karena ini benefit kalian gitu
ya. Jadi this is your eh perks. This is
how I structure my webinar. And webinar
ini adalah webinar terbaik yang boy
pernah em
buat. Secara conviction gua
menyampaikannya gua sangat PD. Kenapa?
Karena emang hasilnya nyata. Gua enggak
nipu sama sekali di sini. Enggak nipu
karena hasilnya real dan orang-orang
udah mendapatkan hasilnya dan gua pd
dengan value yang gua kasih di sini dan
gua tahu gua punya produk yang bagus gua
bisa tawarin. Jadi that on top of this
framework that's what that's what makes
a killer webinar in my opinion. Jadi
teman-teman bisa steal ini ya. Tapi
jangan lupa di ATM gitu. Cuman tinggal
teman-teman adjust social proof-nya kan
enggak bisa pakai social proof gua. Jadi
pakai punya sendiri status qu-nya cari
dengan sendiri social proof yang lain
sendiri call to action-nya bonusnya
terserah giveaway-nya mau apa sendiri
outline-nya sendiri material sendiri
semuanya diadjust aja dengan nich
teman-teman dengan personal branding
teman-teman dan dengan offer teman-teman
itu yang paling penting. That's pretty
much it. It's been fun teman-teman. kita
udah ngomongin webinar. That's what I
did to to launch three digits webinar.
Tinggal diin and repeat aja. By the way,
I did that for my clients to and they
got three digits juga dari eh this
framework. So, I gave that. Jadi,
sebelum teman-teman mendengarkan materi
ini, gua memberikan materi ini ke klien
gua. Dia udah nerapin itu dan dia
mendapatkan tiga digit juga. Jadi,
it's proven. Enggak cuman gua, tapi udah
ada klien gua juga. Tapi karena NBD gua
enggak mau disclose siapa ya. Eh, jadi
eh that's pretty much item
without further ado. So, this is what
we're gonna cover today ya. Ada tiga hal
penting yaitu online customer journey,
key matrics to monitor. Nah, jadi
matrik-matriknya apa aja nih? Kan
teman-teman pada bingung ya yang perlu
kita taker itu apa aja. Nah, kita bahas
nanti. Nah, lalu kalau misalnya kita
sudah tahu matriknya ketika goes wrong
apa yang perlu kita improve. Nah, itu di
poin ketiga nanti kita bahas ya. Nah,
sebelum kita lanjut teman-teman, so I'd
like to ask all of you. Boleh di chat,
boleh unmute bebas. What is the most
important matric to track for our
digital product? Ada yang berani jawab
enggak atau ada yang mau nebak enggak?
Ini enggak ada salah, enggak ada benar
ya. Maksudnya feel free aja ya.
Roas,
Roas. Oke. Sip. dari Sam Roas, dari
teman-teman yang lain. Ada ada thoughts,
ada mau tebakan kira-kira matrik apa sih
yang terpenting kalau misalnya kita
ngomongin tentang digital product yang
harus kita ukur?
Sales.
Oke, sales ya atau conversion ya dari SU
ya. Oke, any other kalau dari will
comment. Oke, satu lagi mungkin ada yang
mau nebak
leads kalau dari gen. Nah, jawabannya
mirip-mirip semua, tapi jawaban tertepat
adalah dari SU ya. Jadi, congratsu. It's
actually the sales, it's actually the
conversion. Kalau misalnya dari gen
leads benar, tapi leads leads to sales.
Jadi, leads leads to sales. Jadi, matrik
paling akhirnya tuh apa yang kita ukur
gitu. Nah, Dave sebenarnya juga enggak
salah karena ROAS itu juga penting kalau
misalnya kita lagi ngomongin performance
marketing.
Sam,
tapi kan kita
tapi kita kan lagi ngomongin organik
gitu ya. Nah, D ada mau tambahan?
No. Tadi Sam yang jawab Ras kayaknya.
Oh iya gua salah ngomong ya berarti tadi
ya. Belum makan malam guys mohon maaf.
Mantap ya. Jadi tadi Sam ya e Roas ya eh
Roas itu penting. Enggak cuman roas Sam.
It's also the conversion. Jadi intinya
website conversion ya atau purchase
value-nya. Jadi total sales-nya RAS itu
kan dirive kan dari total sales juga.
Nah, jadi itu matrik terpenting
sebenarnya. Jadi kita ngomongnya sales.
Kenapa? Karena kita value creator ya,
bukan content creator. Kalau content
creator mikirinnya views, kita udah
beda. Kita harus mikirinnya sales-nya,
conversion-nya gimana. Nah, on a scale
of 1 to 10, Teman-teman, how important
is it to track our matrix? Nah,
ini dari Mas Budi Rama kayaknya enggak
ngelihat kamera. Iya, karena ini aku
ngelihatnya laptop kameranya di sana,
Masud biar lebih keren. 10 dari Sena.
Ada yang mau jawab Y-nya juga enggak
kenapa. Ini kan pada jawabnya 10 penting
banget, right? Nah, tapi Y-nya kenapa
nih kira-kira? Hmm. Numbers don't lie
ya. Mantap.
Buat ngukur. Nice.
Boncos masa diterusin. Oke, nice. Biar
tahu progresku, Teman-teman. Udah pada
jawab ya-nya ya. supaya kita tahu
progres kita, KPI-nya. No sales berarti
produknya no value. Nice dari Kris ya.
Sena juga supaya tahu nanti arahnya ke
mana, yang perlu di-improve apa gitu ya.
Dari Arif baru join ya enggak apa-apa
santai aja kita santai kok. Nah jawaban
teman-teman benar semua. Kalau misalnya
gua nambahin ya kenapa kita harus ng
track our progress? Supaya kita tahu
funnel kita tuh brokennya di mana,
funel kita tuh rusaknya di mana? Jangan
sampai produk kita udah bagus. konten
kita yang jelek kita benerinnya malah
produk kita sama aja. It's not a product
problem, it's a content problem. Jangan
sampai konten kita udah bagus views-nya
tapi enggak convert-convert nih. Pernah
ngerasain gitu enggak? Mungkin views gua
udah ratusan ribu, udah 1 M, tapi kok
enggak ada yang convert, tapi kok enggak
ada yang beli produk gua. Nah, itu
berarti bukan masalah di kontennya, itu
masalah di produknya, di offer-nya. Nah,
itu yang perlu kita cari tahu sebenarnya
letak masalahnya tuh di mana. Nah, oleh
karena itu ada yang namanya online
customer journey. Nah, ini penting
banget ya buat teman-teman perhatikan
zaman dulu. Nah, ini mungkin ya kalau
misalnya ini nih, kalau misalnya ada ini
ada ini kan di sini kalau misalnya
teman-teman yang digital marketer pasti
udah enggak asing lagi ini. Apalagi Will
juga pasti udah enggak asing lagi pasti
pernah dengar yang namanya Aida. Dave
juga pasti tahulah gua yakin. Sam juga.
Jadi ini tuh udah model lama banget yang
orang-orang tuh bilang ini sebenarnya
udah outdated juga gitu. Nah, jadi ada
yang namanya Aida. Aida itu apa?
Attention, interest, desire, action.
Basically this is customer journey.
Orang dari yang enggak tahu kita, jadi
kenal sama kita, terus jadi tertarik
sama produk kita atau jasa kita sampai
akhirnya mereka beli. Nah, tapi ini udah
outdated nih. Makanya orang-orang ada
yang bikin 5A juga.
aware, appeal, ask, act, advocate.
Bedanya di mana? Teman-teman bisa lihat
di bagian bawahnya ini. Kalau mereka
aware, mereka tahu kita tuh exist.
Mereka tahu kalau misal produk kita tuh
ada. Appeal itu apa? Mereka tuh tertarik
sama produk kita. Ask itu apa? Mereka
tuh sampai nanya-nanya. Kalau misal
orang mau beli produk ya misalnya Sem di
salon mobilnya ada orang yang mau e
datang ke salon e mobilnya pasti
nanya-nanya dulu kan ini bukanya jam
berapa jam berap harganya berapa atau
misalnya kita mau beli ee mau beli
handphone kita ngelakuin hal yang sama
ini harganya berapa ada promo enggak?
Nah itu ask. Nah habis itu ada juga act.
Act itu adalah oke gua bakal mau beli
nih budgetnya sudah disiapin tinggal
cari waktunya kapan dan akhirnya beli
gitu. sampai akhirnya kalau misal mereka
suka banget sampai produknya tuh bagus
banget, mereka tuh sampai rekomenin ke
teman-temannya. Mungkin teman-teman ada
yang pernah kayak gitu entah itu
misalnya contoh teman-teman pergi pijit.
Nah, kemarin beberapa waktu gua lihat
Jen sempat pergi pijit ya karena lagi
enggak enak badan terus pergi pijit.
Kalau misalnya tukang pijitnya enak
banget pasti kita bakal ee komen ke
teman-teman, eh kemarin gua pijit di ee
di sini loh. Terus atas nama ini nih si
terapisnya enak banget gitu. Lu kalau
misalnya mau pijit di sini, mendingan lu
sama ini deh. Karena enak pijitannya
pasti kita begitu. Sama juga kurang
lebih kalau misalnya teman-teman puas
sama value creator, eh kemarin gua ikut
kelasnya value creator seru nih
pengalamannya. Lu coba deh kalau mau
belajar ngonten sama value creator
something like that. Jadi advocate. Nah,
ada versi lain juga namanya ISAS. Tadi
ada Aida ada 5A ya, 5A of Marketing sama
ada ISA. ISAS itu apa? Attention,
interest, search, action, share. Nah,
ini ada poin bagus nih. Dua pertama ini
itu tuh pasif, sedangkan yang tiga poin
terakhir ini itu tuh aktif.
Attention sama interest ini bisa jadi
subconscious. Kenapa? Karena ini tuh
tugasnya kita sebagai marketer untuk
menunjukkan konten kita ke audiens kita.
Ini dalam kontrol kita. Nah, tapi yang
tiga ini itu di luar kontrol kita
ya. Attention tuh gimana? Kita bikin
konten. Orang ngelihat konten kita di FP
mereka tertarik enggak? Nah,
itu tugas kita yang bikin mereka
tertarik. Habis itu baru role-nya
pindah, bolanya pindah nih ke audience
kita. Mereka bakal mau search enggak
produk kita? Mereka bakal mau take
action enggak buat beli produk kita?
Mereka bakal mau share enggak produk
kita? Contoh misalnya kita mau beli
iPhone, teman-teman udah tahu nih,
bentar lagi Apple udah mau ngeluarin
iPhone baru misalnya, terus tertarik mau
beli. Setelah teman-teman tertarik, yang
Teman-teman lakuin apa? Search di Google
dong launch date-nya kapan, spek barunya
apa nih yang ngebedain sama iPhone
sebelumnya? Iya kan? Kalau misalnya
sama, mendingan gua beli iPhone yang
baru atau yang lama. Nah, paham enggak
sih? Kayak gitu. Atau misalnya
teman-teman ikutan value creator
accelerator, teman-teman tanya nih sama
alumni-alumni yang udah ikutan value
creator accelerator bagus enggak sih?
Hasilnya lu gimana yang lu dapetin gitu
kan. Worth it enggak segala macam. Ya
kan? Value creator accelerator sama yang
lebih murah produknya bedanya apa ya?
Nah, kita nanya kayak gitu kan pasti
buat make decision. Habis kita udah
tahu, kita jadi punya consciousness di
mana, "Oh, yang ini nih produk yang
terbaik buat gua sampai akhirnya kita
action dan kalau kita puas kita share."
Tapi here's the thing, Teman-teman. My
point is ini banyak banget kan? Udah ada
Aida, udah ada 5A, udah ada ISAS itu
jadi gua pakai mana nih lu kasih gua ada
tiga biji Rama ya kan. Jadi gua pakai
yang mana? Takutnya teman-teman semua
pada bingung. So my point is let's
simplify all this. Daripada teman-teman
bingung seperti biasa yang teman-teman
sudah tahu dari Rama, Rama tuh udah
paling demen bikin konsep sendiri. Jadi
daripada lu ngikutin itu ribet-ribet,
mendingan
kita gampangin dengan satu terminologi
baru ini, yaitu modern online funnel.
Nah, gua singkat jadi tiga. Gampang kan?
Jadi dari tahu tertarik sampai beli
masing-masing ini ya Dave dan
teman-teman ada matrik buat ngukurnya.
Matriknya apa? Kalau misalnya orang tahu
kita itu datangnya dari mana nih? Ya,
teman-teman sudah bisa lihat Prot Boikor
ya secara manipulasi ya. Ini lagi banyak
banget yang pakai konten ini. Kemarin
Sara bikin, S bikin ya, terus Dav juga
bikin ya. Bentar lagi ini feeling gua
Sam sama Jen juga ikutan bikin nih yang
kayak gini-gini kan cara memanipulasi
ya. Ini Mas Budi juga tinggal nunggu ya.
Ini Mika juga kan. Nah, jadi
malam minggu nanti Mas Budi
sudah tadi hari ini lagi
langsung
langsung ya kan ini boyor ya. Nah, jadi
dari konten kita
orang tuh tahu produk kita dari konten
kita karena ada CTA-nya. Nah, next-nya
dari orang tahu sampai tertarik mereka
gimana kita ngetracknya dari sini
teman-teman ya kanan apa kita
landing page kita, Teman-teman.
Tugas konten kita itu tuh cuman sampai
bikin orang tuh tahu bahwa kita tuh
punya produk.
Tugas landing page kita itu tuh supaya
bikin orang tuh tertarik sama produk
kita. Makanya kalau misalnya kita mau
ngepromosin produk kita, enggak usah
jelasin semuanya. Oh, produk eh online
course gua ngajarin soal ini, ini, ini,
yang lu dapetin ini, ini, ini benefitnya
enggak usah. Itu tugasnya lading page.
Jadi tugasnya konten kita cuman buat
bikin orang aware doang. Hey, I have
this. [tertawa] The dream outcome is
this. If you want to check it out, do
this. Nah, itu tugasnya konten kita.
Cuman CTA-nya sampai sana aja. Nah,
next-nya tugasnya tuh ada di landing
page kita ngejelasin semuanya buat
nge-breakdown objection, kasih tahu
dream outcome-nya, benefit yang
didapetin apa, value stack-nya apa,
offnya gimana, harganya apa,
guarantey-nya kalau ada apa. Sama
akhirnya sampai mereka bisa beli dan
mereka masuk ke checkout page. [tertawa]
Nah,
gampangnya begitu. Content landing page
check out content landing page check out
content landing page check out.
Simpelnya begitu. Nah, sekarang
ngetracknya gimana? Kalau misalnya kita
ngomongin content landing page checkout
ya, keyrix to monitornya itu adalah ini
nih. Kalau konten tentu ya yang perlu
kita perhatikan adalah views-nya.
Kalau misal views konten kita sedikit,
belum tentu produk kita enggak laku.
Tapi kita yang harus ningkatin konten
kita supaya bisa lebih bagus. Entah itu
kita belum nemu winning konten kita atau
enggak kita nge-postnya terlalu sedikit.
Jadi belum works trafficnya belum datang
kecuali nge-ads gitu. Jadi konten nomor
satu kita harus tahu dulu ini
permasalahan di konten kita yang belum
viral atau produknya. Kalau misalnya
konten kita belum viral ya kita harus
benerin kontennya. Tapi kadang-kadang
ada yang suka terjadi begini. kontennya
udah viral, udah 100.000, udah 100.000
views nih sama udah 1 juta views nih,
tapi kok masih yang check out dikit gitu
kan. Itu berarti permasalahannya ada di
landing page.
Landing page teman-teman itu kurang
convincing enough sampai orang tuh
enggak mau ngeklik. Teman-teman bisa
ngeceknya gimana? Teman-teman nanti bisa
ngecek rasio di antara landing page
views sama button click. Berapa orang,
seberapa banyak orang yang ng-view
landing page teman-teman sampai akhirnya
ngeklik button teman-teman.
Your next question will be rasionya
berapa yang bagus ya kan. Jadi gimana?
Nah nanti kita bahas. Yang terakhir
check out conversionnya dari orang udah
ngelihat checkout page mereka masukin
data sampai akhirnya bayar itu berapa
banyak yang kita cek
ya. Nah habis itu kita bisa lihat juga
ada dua ini di tengah-tengah ada dua nih
ya. Yang pertama dari views ke button
click ya. Dari content ke landing page
itu yang perlu kita lihat apa? Link
clicks-nya. Kalau misalnya teman-
teman-teman pakai link di bio, itu
berarti link di bionnya berapa banyak
yang klik? Kalau misalnya teman-teman
pakai pakai mini chat atau pakai DM
Automation, berarti berapa banyak tuh
link clicks yang ada di DM teman-teman?
Nah, habis kita tahu, kita lihat
checkout initiation-nya dari orang yang
ngeview landing page kita, berapa banyak
orang yang ngemasukin data sampai
akhirnya klik buat bayar. Check out
initi eh initiation tuh artinya apa?
Mungkin teman-teman kurang familiar sama
checkout initiation. Tapi kalau misalnya
teman-teman ngerti ads, ini udah menjadi
e term yang sangat awam banget, checkout
initiation. Nah, checkout initiation itu
adalah gini. Kemisalannya teman-teman di
sini ya, Teman-teman.
Ini checkout page kan. Check out page
ini teman-teman kalau misalnya ada orang
ngisi nama, email, nomor HP, terus kan
mereka scroll ke bawah terus mereka bisa
bayar sekarang kan mereka bisa klik
bayar kan entah pakai metode payment
apapun itu ya. Nah, ketika orang ngeklik
itu dan mereka sudah masukin data, itu
namanya checkout initiation. Berarti
mereka sudah menginisiasi checkout
tinggal bayar. Nah, itu adalah matrik
yang kita sebut sebagai checkout
initiation,
ya. Nah, jadi itu kurang lebih adalah
yang namanya checkout initiation.
Ada pertanyaan nih dari Samuel, Ram, ada
pengalaman enggak algoritma berpihak
views-nya naik daripada biasanya, tapi
pada akun IG dan TikTok kita di udah
berapa upload?
Oh, biasanya sih di konten ke-20an
sampai 30-an. Eh, Sam kalau misal dari
nol banget gitu ya. Tapi ada orang
contoh kayak Sara. Sara itu tuh by the
way Sara itu salah satu alumni kita.
Kalau enggak salah konten best of the
best dia tuh di konten ke-50-an baru
akhirnya naik tung ngegulung dari 2000
sampai 20.000 hanya dalam beberapa em
minggu gitu kalau enggak salah. Tapi
harus gua cek sama Sara lagi. Tapi Sara
growth-nya lebih lama gitu loh. Tapi
kalau misalnya teman-teman ngelihat keep
on being consistent kayak dia, dia tuh
berarti VC tuh udah sekitar 6 bulanan
100.000 sekarang followers-nya gitu loh.
Mike kalah, Aril kalah gitu loh. Jadi
the power of apa consistency karena dia
konsisten 100.000.000 hari ini baru aja
hit. Dia baru bilang ke gua lewat WA,
"Gua udah hit nih. [tertawa] Tapi gua
tahu RAM next-nya lu bakal bilang apa?
Share di Discord." Iya. Ah, jadi bentar
lagi dia share di ya. [tertawa] Jadi em
biasa sih di 20 sampai 30 itu buat gua,
buat Mike sama buat Aril kayak begitu,
Sam. Tapi kadang-kadang ada orang
kasusnya di konten ke-50 baru naik gitu
loh. Jadi signifikannya baru kelihatan
di sana. Jadi biasanya sih kurang lebih
seperti itu. Kalau yang type akun
bertobat cepat hilang terus upload lagi,
ada pengalaman enggak? Kayaknya sama aja
sih, Sam. Jadi, I think we just need to
make sure that contentnya bagus. Karena
terkadang it's not about the quantity,
tapi emang konten kita berarti yang
perlu diimprove. Kalau misalnya meemang
belum naik views-nya gitu. Jadi itu sih
kalau titipan dari gua gitu. Oh, Sara
sudah share ya di UIN di Discord. Jadi,
teman-teman nanti bisa lihat ee
perjalanan dia. Kalau teman-teman mau
tanya, mau minta input, silakan juga di
Discord. Jadi bisa kontakkan sama Sarah
Mama Beruang gitu. Nah, Teman-teman ini
adalah jawaban dari pertanyaan
Teman-teman semua. Mungkin matriknya
gimana? Mungkin Mika juga menanya hal
yang sama. Nah, jadi begini teman-teman
dari konten ke landing page, matrik yang
bagus tuh berapa banyak sih? 2 sampai
4%. Jadi kalau udah orang ngeklik
landing page kita dari konten kita 2
sampai 4% itu udah bagus. Dari landing
page ke checkout page 10 sampai 15%
kalau misalnya convert itu udah bagus.
Tapi kalau kita ngomongin dari end to
end ini, btw disclaimer dulu ini data
pribadi sama klien-klien Proud ya yang
udah pernah dipegang sebelumnya sama e
customer-customer kita. Jadi biasa kalau
kita handle kita ngetrack kan kurang
lebih seperti ini. Nah, kalau misalnya
teman-teman mau gampang, this is just a
simple math, just a dumb math gitu ya.
Kalau mau gampang gimana? Dari views
sampai akhirnya sales itu 0,05%.
0,05%.
Makanya kalau misalnya kita lihat simple
mat gini, kalau misalnya kita punya
100.000 views dan conversionnya itu
0,05% berarti berapa banyak sales-nya?
Sales-nya itu kurang lebih di sekitar 50
sales
ya. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu.
If you have sekitar 100,000 views,
berarti sales-nya yang kita bisa expect
tuh sekitar 50. Tapi mungkin beberapa
dari teman-teman mikir gini, "Views gua
Rp100.000 nih, tapi produk gua kok
enggak sampai 50?" Atau misalnya
kebalikannya, "View gua Rp100.000 nih,
tapi kok produk gua lakunya lebih
banyak?" Nah, mungkin beberapa dari
teman-teman ada berpikir seperti itu
karena
what if not? I kan kalau misalnya enggak
50 sales gimana, RAM? Kira-kira ada
beberapa faktor, Teman-teman, yang perlu
kita perhatikan di sini. Jadi kalau
misalnya golden ratio itu teman-teman
enggak touch atau teman-teman enggak
dalam tanda kutip achieve di sana kok
100.000 views gua enggak 50 sal ya apa
yang terjadi? Ada dua faktor teman-teman
yang pertama itu adalah digital product
price kita tentu semakin mahal pasti
akan semakin sedikit ya confession
rate-nya. Contoh, misalnya produk kita
harganya Rp1 juta, tapi yang beli cuman
20 orang.
Itu berarti udah Rp2 juta tuh dari satu
konten. Tapi kalau misalnya produk kita
harganya Rp90.000,
yang beli 200 orang sama toh R juta ish
plus minus tapi yang beli 200. Jadi
maksudnya tergantung pricing point kita
juga. Nah, jadi it's a pricing a game
gitu. Tergantung teman-teman mau mainnya
gimana. mau ngejar kuantitas atau mau
ngejar kualitas.
Ya, jadi ini ada efeknya dari harga yang
teman-teman taruh juga gimana di sana.
Nah, itulah yang perlu kita tahu
price-nya gimana. Nah, untuk yang ini
itu tuh controllable. Kenapa? Karena
kita bisa tes, oh gua pakai price di
sini orang beli. Kalau misal gua pakai
di segini orang enggak beli. Itu yang
gua lakuin dengan flowzone blueprint,
Teman-teman. Jadi, kalau misalnya
Teman-teman ingat ya, pasti tahu
Flowzone Bluint kan sering gua ceritain
ya ke Teman-teman ya dulu. Flow
Blurprint itu harga launching-nya itu
298. Tapi kita sempat testing selama 1 2
minggu kita naikin ke 349.
Yang terjadi apa? sales-nya drop 25% ya
udah gua balikin lagi ke 298 lagi and
then akhirnya balik normal lagi. Nah,
jadi itulah salah satu hal yang perlu
kita testing atau perlu kita tahu juga
bahwa pricing matters. Karena terkadang
value yang kita mau sampaikan dengan
price point sebegini mungkin orang tuh
mikir kayaknya segini enggak worth it
deh produknya segini tapi kalau segini
gua pengin beli deh. Nah, gitulah kurang
lebih kayak gitu. And this we can
control. Jadi, pricing-nya kita bisa
tes. Kalau misalnya belum laku, ada dua
opsi, Teman-teman. Entah turunin harga
buat nge-adjust ke value-nya atau
Teman-teman naikin value-nya. Misalnya
kelas gua Rp500.000, tapi kok enggak
laku. Entah kita naikin banyaknya
bonus-bonus atau materinya kita tambahin
supaya value-nya naik atau enggak kita
turunin harganya sedikit. Itu kita bisa
testingnya begitu solusinya. Yang kedua
adalah audience quality atau
targeting-nya emang suai aja. Sayangnya
organik adalah kayak gini. Kita enggak
bisa ngetarget. Gua mau audience gua
yang begini, umurnya segini-segini,
gendernya begini, lokasinya di sini,
interest begini, enggak bisa ditarget.
Kecuali kita main ads. Kalau main ads
bisa kita pinpoint, tapi kalau organik
enggak bisa. Kita mainnya gimana? Lewat
intonasi kita, lewat cara berbicara
kita, lewat ide yang kita pilih, lewat
scripting kita, lewat hook-nya.
Karena kita ngebahas bisnis buat CEO
sama kita bahas bisnis buat anak
kuliahan beda ya. Nah, jadi kita bisa
mainin di angle pembawaan konten kita.
Setidaknya itu yang kita bisa kontrol,
tapi ini uncontrollable gitu,
Teman-teman. Nah, oleh karena itu ketika
kita sudah tahu ini semua, yang perlu
kita lakuin apa? Decision making-nya
supaya kita bisa mengimprove nih ya,
ke depannya yang kita bisa lakuin itu
apa. Ini teman-teman brokennya di mana
kita harus tahu dulu ya. Seperti yang
tadi ini kan kita udah lihat nih. Kalau
misalnya kita jeleknya di konten,
views-nya masih kurang, kita betulnya di
konten. Kalau misalnya button clicksnya
masih kurang, kita betulin di landing
page. Kalau misalnya orang udah masukin
data, udah tinggal check out tapi mereka
enggak convert, kita betulinnya di sini.
Nah, masing-masing apa? Kita bahas
satu-satu ya, Teman-teman. Kalau
misalnya kita ngomongin kontennya jelek,
yang perlu kita adjust apa, Teman-teman?
Ada tiga aspek yang kita bisa adjust.
The first one, Teman-teman, is the hook
ya selalu ya udah paling utama ini hook
kita bisa adjust karena bisa aja mungkin
hook kita enggak optimal
gitu. Yang kedua adalah idenya. Karena
bisa aja ide kita yang enggak market fit
gitu loh. Konten kita bagus, hook-nya
bagus, tapi orang enggak butuh konten
ini gitu loh. Jadi mereka tetap enggak
relate. Idenya yang kita improve lagi.
Dan yang ketiga adalah CTA-nya supaya
orang bisa lanjut ke landing page. Nah,
sekarang kalau misalnya kita ngomongin
landing page yang perlu kita improve apa
nih, RAM? Supaya orang tuh merasa bahwa
value kita tuh tinggi dan akhirnya
sampai orang tuh mau ngeklik buttonnya
sampai nge-check out. Ada tiga hal ini,
Teman-teman. Yang pertama adalah above
theult. Above the foldult itu apa? Baru
pernah dengar nih, RAM gitu kan. Above
the foldult itu adalah kata-kata pertama
yang teman-teman lihat di landing page
masing-masing. Nih gua kasih contoh ya
teman-teman ya. Misalnya
buat flow zone blueprint misalnya ya.
Nih kita lihat.
Nah ini adalah above the fold. Above the
fold itu maksudnya adalah ketika kita
ngebuka website kita, gambar atau
kata-kata yang pertama kali kelihatan
sebelum kita scroll ke bawah itu adalah
yang namanya above the fold gitu ya.
Jadi ini adalah above defult kita harus
kita improve karena kalau ininya aja
enggak hooking, ini aja jelek, orang
enggak bakal scroll sampai bawah gitu.
Nah, jadi above default-nya ibaratnya
above the fault itu adalah hook-nya dari
landing page kita. Nah, itu yang harus
kita improve.
Nah, pertanyaan dari Sena, Ram buat
above the fold-nya tetap pakai hook ya?
Iya, betul, ini hook sama aja. Eh, Ram
mau dong linknya. Link apa nih? Link eh
ininya gua share ya ke sini.
I sip nih. Sip, gitu ya. Jadi above the
fold, Teman-teman.
Yang kedua adalah overstacking. Nah,
overstacking itu apa? Nah, teman-teman
semua sudah tahu ya. Over stacking itu
adalah ini. Jadi ini nih
overstacking-nya. Karena bisa aja mereka
ngelihat dengan harga segini ini 298
nih gua dapatnya ini udah cukup menarik
belum ya buat gue? Nah, mereka akan
merasionalisasikan itu. Gue dapat course
worksheet community. Worth it enggak ya
buat harga segini? Kalau menurut mereka
belum worth it mereka jadi akan
ngrationalize decision mereka untuk
enggak beli. Jadi ini yang kita perlu
twak di si overstacknya.
Nah, lalu yang terakhir adalah dream
outcome-nya nih. Dream outcome-nya.
Dream outcome itu apa?
Kalau di sini di title-nya sendiri,
kerjaan sehari selesai dalam 3 jam pakai
cara produktif ini. Jadi, gimana cara
kita bisa menyelesaikan kerjaan 24 jam
hanya dalam 3 jam? Cukup menariknya itu
ya. Itu yang perlu kita taker. Is
actually the promise of our product itu
tuh menarik enough enggak? Cukup menarik
enggak buat audiens kita? Kalau misalnya
enggak cukup menarik ya pantesan mereka
enggak beli karena ya ngapain gua beli
ini aja enggak menarik gitu loh. Itu
yang perlu kita cari tahu. Jadi ada tiga
above the fault ya hook-nya dalam
landing page kita apa. Dua,
overstacking-nya yang kita offer ke
mereka tuh apa aja. Lalu yang ketiga,
dream outcome-nya gimana?
Jadi yang kita ngasih ke mereka ketika
mereka beli ini apa? Contoh value
creator accelerator. Kalau misalnya lu
join ini, lu akan bisa dapat R3 juta.
Kalau misalnya kemarin bootcam 14 hari,
kalau misalnya lu join ini, lu akan
dapat 14 eh lu akan dapat R juta dalam
14 hari gitu ya. Ini mungkin lebih makes
sense nih bagi teman-teman. Agak ketebak
nih yang perlu di-improve apa. Tapi ini
yang teman-teman paling sering kelewatan
dan gua
I cannot emphasize
enough the importance of this. Di antara
ketiga ini. Menurut gua ini adalah salah
satu yang paling penting.
Karena sering banget kita kelupaan kalau
dua depan ini teman-teman sering ingat.
Tapi ini nih yang teman-teman sering
lupa. Kalau misalnya orang sudah masukin
data tapi mereka enggak cek outal
artinya apa? Bisa jadi tiga ini yang
menjadi bottle neck customernya
teman-teman sampai akhirnya mereka
enggak daftar. Yang pertama adalah
urgency sama scar city. Menurut mereka
produknya ini bagus tapi mereka enggak
melihat alasan kenapa mereka harus
belinya atau checkoutnya sekarang.
Contoh teman-teman, ada yang pernah mau
masuk ke gym enggak sih? pengin beli
subscription gym gitu misalnya pengin
mulai nge-gym terus ng ee ini nih
nge-contact
marketing di gym-nya gitu ya.
Atau enggak teman-teman kartu kredit dah
atau enggak misalnya teman-teman mau
beli yang lain dah
pasti mereka selalu akan kayak gitu tuh
kak ini slotnya tinggal sisa dua ya tiap
hari lu sisa dua terus slotnya tahu lu
ngibulin enggak sisa dua masih banyak
tapi tiap hari lu follow up gua sisa dua
sisa satu sisa dua lagi. Jadi, itulah
yang mereka lakukan. Nge-build urgency
sama Scar City-nya. Hey, this offer is
gonna expire soon. Jadi, lu harus check
out sekarang. Kalau enggak diambil sama
orang lain nih, banyak yang mau juga.
Dan tinggal sisa waktunya segini. Karena
cuman limited sampai bulan Agustus aja.
Bulan Juli udah enggak ada lagi. Eh,
bulan September udah enggak ada lagi
gitu. Enggak
yang kedu.
Oke, ini menarik mengenai landing page
karena selama ini yang gua masih pakai
di
mm link gua adalah landing lead
magnet-nya which is yang you dapat kelas
gratis, you line up kan masukin data.
Wish mungkin enggak menarik karena kan
setelah gua pikir-pikir kayak apa gua
masukin link yang langsung ke coreover
misalnya kan atau apa karena di situ kan
lebih jelas tuh valueing-nya dapat
apanya bla bla bla seperti itu. Anyway,
em
dari nanti ngitung-ngitungnya mungkin
nanti ya yang tadi berapa berapa ininya
gua pikir yang ini yang
em follow up kayak gitu memang memang
gua tuh suka gua udah nanyain kayak
sejak seminggu dari yang waktu itu gitu
kayak udah nonton belum gitu.
H
masalahnya karena free and it's there in
their email tinggal click and anytime is
ready. Jadi kayak ya udahlah ya tarsok
tarsok kan gua bisa nonton mau mau gua
kapan kan. Nah but I see that em enggak
tahu beberapa hari ini gua kayak ke
algoritma IG-nya tuh kayak kayak ini
kayak kayak Mind Valley ya. Gua tuh
kayak dapat terus si Mind Valley itu if
you know Mind Valley RAM
itu tuh kayak kelasnya
dia kayak pakai apa sih? calend calend
atau apa pokoknya jadi kayak the webinar
is free tapi lu harus set the time kamu
mau nonton jam berap di waktu kapan
tanggal berapa so when the access is
gone ya udah it's your loss gitu
thinking mungkinkah kita gue perlu bikin
scare city itu sehingga orang enggak
kayak bodoh tarsok-tarsok dong nonton
free-nya gitu sehingga mereka enggak
akhirnya kan kalau udah nonton course
gua kan kelihatan kan gua ngajarnya
gimana enak enggak menurut lu value-nya
nih oke enggak kalau Kalau lu beli kelas
selanjutnya gitu. Sekarang mau nonton
aja juga masih banyak yang enggak nonton
gitu, Ram. Gimana menurut lo? Oke, ada
dua jawaban. Eh, tiba-tiba kamera gua
mati, Guys. Sorry. Jadi gua pakai webcam
lagi. Back to the webcam. Anyways, so
that strategy is called automated
webinars. Nah, jadi yang main Valley
lakukan itu tuh pakai automated webinar
sistemnya. Ada beberapa teman gua udah
pakai dan it works ada beberapa yang
flop as Jadi, em
for advancy itu strategi advancy my
opinion. Jadi, kalau misalnya mau dites
tapi gua pribadi masih twaking secara
internal karena buat bisa nge-pull off
that automated webinar, every single
attention to detail itu harus kita
perhatiin. Karena gini, essentially what
it does adalah itu bikin kita berasa
kita lagi ikutan webinar dan ramai
webinarnya, tapi sebenarnya enggak ada
orang, cuman kita doang sendiri. dia tuh
bisa nge-set di detik berapa ada orang
namanya siapa ngechat apa, ada orang
namanya siapa di detik ke sini ngechat
apa. Jadi seautomated itu dan harus
dicraft sebegitu detail gitu. Jadi itu
namanya automated webinar itu ada banyak
sih. Ada pakai webinar jam pakai ada
ever webinar pakai calend juga bisa.
Jadi
toolnya banyak di luar gitu.
Enggak. Kalau gua enggak mau webinar gue
cuman mau the free class yang recording
gua adalah limited. Itu gimana?
Gini, sesimpel begini. In the in the
email that you sent them atau in your
landing page, in the thank you page,
bilang ini hanya akan bisa diakses
selama 3 hari atau selama 1 hari. Jadi
kalau misalnya mau nonton, nonton hari
ini. Kalau misalnya itu kan yang kita
bisa lakuin, lakukan ketika automated.
Dan kalau misalnya kita lagi mau follow
up nih kemarin misalnya follow up, when
you follow them up. Udah nonton belum
webinarnya? Karena ini akan expire nih
linknya hanya dalam 40 e 48 jam lagi.
Jadi kalau misalnya belum nonton dan
memanfaatkan ee promo yang ada di lead
magnet ini, lead magnet ini bisa
dimanfaatkan dalam 48 jam ke depan ya.
Karena setelah ini akan hangus
vouchernya habis gitu.
Oke oke oke oke. Soalnya kalau kan
selama ini kan itu langsung masuk
automation email kan which is
link klik link di sini misalnya gitu
kan. Myion kan kagak pernah expired ya
terus
betul betul betul e gak apa-apa just say
it to them aja bahwa this is gna expire
kalau misalnya gak tentu enggak akan
expire and it's their win kalau misalnya
mereka enggak kena tapi kalau misalnya
mereka kemakan ya kan both winwin juga
it's a good deal for them and we got a
sale. Jadi sebenarnya menurut gua
sah-sah aja sih buat kita begitu.
Oke thank you. Boleh boleh. Misalnya eh
nih tambahan nih misalnya ada audiens
kita yang kritis, "Ini gua udah beli
nih, tapi lu bilang kemarin cuman sisa 2
hari lagi, tapi ini kok masih bisa
diakses gitu kan. Ada orang yang kayak
ada orang yang kayak begitu terus kita
tinggal bilang gini aja due to popular
demand extending ya tinggal dibasi-basi
gitu aja [tertawa]
gitu loh."
Emang cara mainnya gitu digital product
itu sangat lumrah kok.
Oke. Oke.
Gitu. Thank you, thank you.
Nah, ini poin ketiga udah tadi sekalian
kita bahas nih sama yang questionnya
dari SU which is special offers. Like
when we follow them up even further,
Teman-teman kan kita bakal bilang, "Hei,
lu udah nonton belum lead magnet kita?
Hei, lu kan udah kemarin udah pre-order
ini nih." gitu kan. Masih mau enggak bla
bla bla. Ini tinggal sisa bla bla bla
ya. Tinggal sisa quantity x gitu sampai
tanggal segini offnya. Dan kalau
misalnya lu beli hari ini, gua akan
kasih lu ekstra bla bla bla dikasih
bonus lagi. Itu yang namanya special
offer. Itu yang akan bikin orang
convert. Nah, jadi magic of conversion
is in the followups.
Is in the followups. Jadi jangan ragu,
Teman-teman, atau jangan putus asa.
Kalau misalnya ini yang daftar lead
magnet udah banyak nih, tapi kok yang
check out sedikit. Yang daftar 100, tapi
kok yang checkout 1 5 7 10 kenapa ya?
Nah, kita bisa follow up kok ke
depannya. Kurang lebih gitu teman-teman.
It's it's it's pretty simple. Jadi kalau
content ya yang perlu kita perhatikan
views-nya. Kalau misalnya views-nya itu
kureng kita bisa optimize hook call to
action idea landing page. Kalau misalnya
kita mau ngetrack gimana? Button klik
kita ngimprove-nya gimana? Above the
fold ya. Kalau check out gimana? Ini
yang kita track yang kita lihat ininya.
Alright. So, the next session is gonna
be very fun karena video berikutnya
adalah live breakdown dari case study
yang gua lakuin untuk klien gua di mana
dia lagi baru mau memulai nge-scale up
info produk dia dan gua nge-breakdown
funnel dia dari awal sampai akhir.
Gimana cara dia nge-optimize low tiket
dia sampai akhirnya bisa ngcale up ke
high ticket dia. With said, let's jump
into the next session.
Oke, cool, cool, guys. What's up, Akbar?
Run me through.
Yes. Jadi eh produk sudah selesai produk
eh forover
benar gratis LP juga tinggal finishing
touchnya harusnya Selasa semua banget
gitu. Nah cuman
gua pengin ngomongin pertama dari flow
dulu nih
dari apa?
Jadi kemarin kita sempat dari flow. Oke,
FL soral fan penjualan
kemarin kita sempat ya ke misalnya kita
mau naruhnya itu
di kartu ya kan.
Oke,
jadi gratis.
Nah, cuman what you should know
sebenarnya
ourselves
itu enggak lewat many chapter.
Hm.
lewat lewat ts kebanyakan 10%
jadi kalau misalnya ngarahin dari chat
langsung ke page actually yang beli itu
dikit
kayak gitu. Nah, jadi apakah mendingan
buat lain man langsung ke si webinar
gratis ini
atau better gimana tu? Jadi dari produk
memang gua bakal taruh add cuma dari
manajer gua langsung arahin ke versi
webinarnya.
Oke, webinar jadinya mau gratis ya bar
ya enggak jadi mau berbayar ya.
Ee kita pikir tuh awal-awal kalau agak
dulu sih menurutnya gimana?
Boleh kalau misalnya apalagi kalau
misalnya tadi organik ya.
Kalau misalnya 10% comes from organik
ini boleh sih jadi funelnya langsung ee
kita pecah aja. Jadinya kalau misalnya
organik itu tuh
dari konten
konten kan many chat automation ya.
terus DM, klik link, terus habis itu
free webinar. Gua setuju, gua setuju bar
ini bar. Tapi kalau misalnya kita main
ads supaya kita bisa balik modal si
itunya juga si add cost-nya eh ini kan
kreatif terus kan eh klik
click button terus landing page
ini produk berbayar ya produk berbayar
terus one time offer order bump order
bump webinar gratis ini boleh sih kalau
ini gua enggak masalah lah.
Jadi dibedain aja funnel-nya. Kalau
misalnya
itu sih yang bakal gu
nah kalau misalnya lu mau testing bisa
gini bar lu balik. Jadi yang di organic
free webinar dulu nanti order bamnya
baru yang produk berbayar. Kebayang
enggak?
Balik aja.
Oke. Oh i ya benar benar benar
gitu tinggal dibalik. Kalau gini gua
setuju soalnya sayang kalau misalnya
mereka udah mau bayar why not kan gitu.
Iya, Pak.
Terus yang kedua nih, Ram.
Iya.
Ini kan gua bakal
kan entar ujung-ujung kan jual corover
ya
dari webinar ini, Kang.
Si coreovernya ini selain dari webinar
apakah gua juga dan if yes gua nunggu
webinar pertama dulu seakan-akan
launching dulu. Apakah gua langsung
belajar aja bagaimana?
Baik.
Gua lagi mikirin pros and ken ya biar
ini
webinarnya launch-nya e webinar did-nya
kapan ya bar?
Nah, ini belum belum kita tentu juga
lah. Bagusnya tuh kayak ketika gua mulai
robot kayak berapa kali post dan
berapanya kira-kira gimana?
Kalau misalnya gua apalagi kalau free
webinar biasanya sih needs
needs two weeks
two to the weeks sih weeks sebenarnya
udah oke weeks max ya ini
for promotion.
Jadi kalau misalnya kita ngelihat di
hari ini nih kita masih ada 2 minggu
ya mentok-mentok ya berarti di sini bar
di minggu pertama Februari tuh kalau mau
eh first week of web
will be ideal. Nah, sekarang
pertanyaannya question.
Do we sell core over on ads? Ya kan
before the webinar ya kan? Ini million
dollar questionnya kan sebenarnya kan.
Nah, what I would do bar kalau gua jadi
loop sell
butnya batnya kencang. BATnya kencang
gini. Jadi eh with core offer what we
need to do adalah kita mainin skema
promosinya akbar view. contoh-contoh
eh optimize and strategize
on the promotional campaign.
Let's say misalnya gini, let's say
misalnya misalnya nih
ada banyak cara jadi lesnya harga
aslinya berapa, Bar? Eh si ininya eh
corovernya Bar
untuk sekarang di webinar pertama sih
299.
Oke 299 ya. Nah, wikin adalah kita bisa
ads tapi kasih eh potongan harga bar.
Jadi, let's say,
let's say misalnya potongan harga jadi
249.
Nah, ini diskon khusus ads.
Nah, terus nanti ketika webinar
launching ini kan kita kan mau ada
urgency sama Dascar City kan.
Jadi ee jadi ee cara ngomongnya nanti
cuman ada diskon ini cuman ada sampai
malam ini webinar selesai
terus cuman ada 100 lot gitu kan. Nah,
tapi ketika udah ada ini harganya jadi
ee 198 misalnya
jadi 198. Nah, ketika ini 198 eh
potential conflictnya gini. Potential
conflict
adalah
orang sudah beli ads tapi ikut webinar.
Nah, benar ya. Orang yang sudah beli 249
kalau nanti mereka webinar kok lu 198
kemarin gua beli 249 nih.
I kan.
Nah, yang kita bisa lakuin adalah ya
udah ee kalau gua jadi gua chat ee gua
ee kalau misalnya mau gampang kasih chat
ke customer service refund aja
50.000-nya.
Oh oke.
Ini bisa opsi satu. Opsi satu opsi satu.
Opsi satu. Ini opsi satu. Opsi dua
free add on. Kita kasih mereka free add
on aja. Kita kasih bonus nanti kita ke
mereka yang jadi udah beliver
di ads tapi ikutan webinar. Nah, free
addon.
Free addon ini. Free addon ini eh kita
jual ee bisa juga nih kita jual free
addon-nya
bisa dijual. ee pas di webinar juga gitu
harganya Rp50.000 juga. Jadinya
nominalnya balance-nya ibaratnya nol
gitu loh. Net lah ibaratnya gitu. Nah,
ini ada dua opsi nih. Opsi satu, opsi du
bisa kayak begitu juga gitu. Nah, eh
tapi my logic my logic
behind why sell be a core offer before
webinar. yang gua mau validasi
sebenarnya alasannya karena gini bar
buat testing making sure core overnya
winning.
Karena kalau misal amit-amit ketika dari
menjelang webinar
e dari menjelang promosi webinar terus
tiba-tiba sales-nya drop itu kan berarti
corovernya enggak winning. Kita masih
bisa ada waktu buat ngerombak total bar.
Nah, itulah kenapa itulah kenapa gua
bilang ee coreover-nya di di ini aja di
di
jualin aja gitu biar bisa testing. Nah,
sama jurus jitunya lagi gini satu lagi
Vio sama Akbar. Kalau misalnya kayak
kita lagi webinar kalau misalnya
coreovernya pun belum jadi di hari itu
kita bisa preorder.
Jadi kita ah jualan dulu produknya belum
dikirim enggak apa-apa bilang
launchingnya minggu depan. Nah, itu
enggak apa-apa. Itu ngasih kita waktu
lagi tuh buat ngevalidasi lagi. Nah,
tapi gini. Jadi, nanti harga aslinya
kita naikin. Kalau misalnya kita mau
perioder, harga aslinya jangan 299, 399.
Kalau lu beli di webinar ini 299.
Jadinya kebayang ya, Vio ya.
Jadi harga selalu enggak ada masalah
karena kan production cost zero, cuman
butuh waktu sama energi doang kan sama
fokus kan gitu. Nah, jadi soal harga
bisa kita manipulate lah in gitu sesuai
dengan kebutuhan kita. Tapi logika gua
begitu sih, Bar. Mak sense enggak
kira-kira?
Cuma dari dulu personally tuh personally
kayak waktu di zaman
gitu ramai kalau gua perhatin lu
kebanyakan e webinar gitu cuma lu sempat
push di juga
e pernah tapi
eh pernah tapi skill skill utama gua
organik sih
oh
jadi makanya eh skills gua lebih baik
dari organics daripada ads karena emang
skill gua di sana gitu tapi kalau gua
mauong ads bisa enggak bisa hanya saja A
kalau misalnya setelah gang x ya paling
50 50 lebar. Kalau orang kan ada yang
kayak let's say eh 90 95% ngad nih
jagonya 5% organik. Kebayang enggak
maksud gua.
Nah ini agak sedikit tricky soalnya dia
personal brandingnya enggak sticky. Jadi
kalau misalnya tiba-tiba produknya udah
udah saturated bikin produk lagi bikin
produk terus gitu loh.
Karena brandingnya enggak ada gitu. Nah
tapi kalau di gua, gua bisa gua bisa
bilang mungkin gua 55 45 55 gua lebih
jaga organik ads gua bisa juga. Tapi
kalau ditanya lebih jago S atau organik,
jujur lebih jago organik gitu.
Dan organik tuh jingsu lewat webinar.
Kalau di gua karena gua tuh ngerasa gua
tuh paling lancar tuh ngomong ya
cuap-cuap dan enaknya kalau di webinar
itu adalah lu bisa nge-objection
handling langsung.
Nah, ini sama satu lagi kata ini rikunci
gua kalau misalnya kalian sudah nonton
video webinar gua harusnya nyadar yang
gua kirimin ke Akbar sama view kemarin.
Caranya gini bar
ya. Ketika di webinar
kita jualan dulu baru Q&A. Kadang orang
Q&A dulu baru jualan. Salah menurut gua.
Kenapa? Karena kalau lu jualan dulu baru
lu Q&A. Jadi habis kita jualan kita baru
buka Q&A. Oke. Ada yang punya pertanyaan
untuk materi sebelumnya? Orang tuh ke
aner karena hal yang terakhir mereka
dengar itu tuh bukan materi tapi jualan.
Jadi dia Q&A lu itu isinya objection
handling selama 30 menit. Kebayang
Kak ini nanti produknya ada ini enggak
ada. Jadi kayak lu nge-live e lagi kayak
nge-live shopping TikTok gitu loh selama
30 menit.
Pertanyaan orang-orang lu balas semua.
Jadi itu nge-shift perspectif dari yang
orang nanya soal materi jadi nanya soal
produk lu.
Itu game changer banget. Game changer
gitu sih.
Untuk produk over ada ada lain enggak
yang mau ditanya?
Sor gimana Bar
ada enggak buat yang
paling ini sih kalau landing page-nya
itu tuh single page kayak yang dikasih
contoh lama atau perlu bikin landing
page yang sebenarnya kayak ngejelasin
secara dep gitu tadi aku lagi mikirin
landing page juga sih barusan
yang kayak aku contohin aja e yang kayak
gini yuk e aku share screen lagi
yang kayak gini aja udah cukup sih
Udah jauh lebih dari cukup. Kita ada
juga kok materinya Vio yang di Notion
course B. Aku bukain sebentar ya.
Kayaknya yang dikasih AK beda deh. Iya.
Enggak sih soalnya berakh single page
gitu.
Yang ini Ram yang yang free webinar.
Oh free. Oke. Sabar sabar sabar.
Nangkapnangkap. Itu benar kok cuman
poster terus optin doang. Vi kalau yang
itu benar poster optim doang. Benar.
Kalau itu
soalnya tadi aku ke Akbar gitu kayak aku
kan lagi ikut kelas meditation gitulah
terus aku ngelihat ih materainya bagus
karena aku inggis sama beberapa yang dim
page dia gitu loh. Saya bilang ke Akbar
Barber kayaknya jangan single pitch deh.
Better kayak yang Rama barusan contohin
itu sih.
Oh kalau misalnya buat aku jujurly ini
nih lebih ke coreover sih karena kan ini
jualan vio. Kalau misalnya kalau
misalnya aku bikin litm aku cuman bakal
kasih ini terus di bawahnya ada opin
langsung kayak nama nomor HP email
kelar. Kenapa? Karena gratis. Barrier tu
masukinnya itu sedikit. Karena kan
gratis, nothing to lose. Kecuali kalau
kita udah mau jualan baru ada
elemen-elemen ini nih.
Gitu. Oh,
oke oke oke.
Aku kasih lihat ya. Ee
nih di bagian sini ada nih, Guys. Emm
di yang exclusif bonus. Terus ada yang
ee ini nih.
Wait.
Yang ini. Nah, yang ini nih harusnya
kelihatan landing page lead magna.
Contoh
begini aja kita bikin begini banyak yang
ikut VO ya. Oke. Oke.
[tertawa]
Gitu. Ini ada materinya nih. Ini juga
ada tuh.
Cukup kok begini
sama gua. Gua pengin nanya dikit tentang
ini dong TR.
Boleh, boleh.
Jadi kan gua juga gue juga lagi ini kan
lagi kan si webinar ini lagi diute nih
naik tiket lagi kita juga gitu biar
sekalian.
Nah kemarin lu sempat
pas di meeting terakhir tuh gua sempat
ngelihat tuh beberapa ada yang closing
gitu ya.
He.
Terus yang paling penting itu bisa make
appointment gitu.
I. Nah, gua penasaran untuk yang udah
make up banyak itu udah 100an atau lebih
sekarang segitu dia ini nunggu hand
racer dulu atau dia yang nyari sih?
Oke, dua-duanya bro karena kita ada yang
namain atau gitu.
Nah, ini di sini nih.
Em
di sini, Bro.
Di di cash velocity acceleration yang
ini appointment sting foundation.
Oke. Oke.
Nah, ini bakal ngejawab nih semua
pertanyaan lu, Bro. Ada di sini semua
gitu.
Gila, Maruk ya Akbar ya. Baru L tiket
[tertawa] langsung high tiket VO. Dia
udah kencang banget larinya.
K disuruh kerja mulu sama dia tiap hari
[tertawa]
sebelum kerja lagi, Ram.
Iya, gas lah. Ini gas masih ada 2 minggu
bar. Sikat.
Iya. Heeh.
Iya. Berarti ya 2 minggu lagiah ya
berarti udah keekit ya si webinar ini.
Iya iya jangan kelamaan ya Bar ya biar
cepat ada biar biar lu bisa cepat-cepat
masukin ke channel tuh. [tertawa]
Iya ini lagi
cabangan humar duluan.
Iya.
Okelah lagi enggak sih? Enggak sih kalau
dari aku udah sih.
Jadi eh mungkin fokus launch webinar in
weeks ya bar ya berarti latest by
first week of eh
terus run ads run ads and organic for eh
funel for webinar and coreover ya.
Kalau misalnya lu udah sampai titik ini,
itu berarti kita udah ke chapter
terakhir di masterclass kita, yaitu
automation. Lu mungkin udah sering
banget ngelihat contonent creator di
luar sana tuh ngepakai automation ya kan
dimut automation. Jadi kalau misalnya
dia ada nge-post story disuruh reply
pakai kata kunci ini ya atau kalau
misalnya dia bikin karusel atau reels
terus dia ada call to action komen
dengan kata kunci ini ya. Dan nanti
ketika autom missationnya udah masuk ke
DM lo ini akan bisa membawa lo buyers
journey yang berikutnya. Nah, itulah
yang akan kita bahas di modul kita kali
ini yaitu automation. So, if you're
ready to automate your processes, watch
the next video.
What's up? Akhirnya kita sampai di salah
satu mungkin materi yang dinantikan
banyak orang ya, gimana kita bisa
memakai DM atau gimana kita bisa
mengotomatisasi
sistem sales kita dari yang tadinya
harus kita balasin satu-satu tapi ini
tinggal pakai satu aplikasi semuanya
bisa berjalan dengan sendirinya. Nah,
mungkin buat yang udah pemain lama yang
sudah 2 tahun mungkin 3 tahun di ee
Instagram pasti pernah lihat ini atau
mungkin sekarang di TikTok pun masih
ada. Klik link di bio ya. Klik link di
bio ya. Masalahnya satu strategi ini tuh
udah basi banget dan Tobiana sudah
sangat tidak bekerja. Kenapa? Satu
prosesnya panjang dari kita suruh klik
link di bio, orang harus keluar dari
konten kita atau enggak harus klik
profile dulu, habis itu masuk ke bionya,
lihat di bio, masuk ke linknya harus
keluar lagi nungguin dulu baru masuk ke
satu website yang mungkin ya belum tentu
juga mereka akan klik atau melakukan
apapun juga di situ. Nah, jadi masalah
ini udah pada bosan banget dengerin ini.
Sedikit banget orang yang akan
melakukannya sekarang. Dan yang paling
penting seperti yang tadi udah gue
bilang, orang yang masuk ke website itu
belum tentu juga ngeklik dan orang yang
ngeklik belum kita enggak tahu siapa
yang ngeklik. Misalnya ada 1000 orang
ngeklik, ada 100 orang beli produk kita,
which is sudah bagus banget. Tapi 900
orang lain yang udah masuk ke website
kita enggak mungkin ngeklik ataupun
enggak, kita enggak tahu itu siapa. Ini
900 orang yang udah tertarik tapi enggak
bisa kita follow up, enggak bisa kita
apa-apain. Entah untuk e entah karena
alasan apapun mereka enggak beli, tapi
ini semua jadi sia-sia. Nah, makanya
Link di Bio itu udah sebuah strategi
yang bisa dibilang udah cukup matilah,
udah susah banget untuk kita manfaatkan.
Apalagi kalau di Instagram. That's why
untuk zaman sekarang untuk bisa
memarketingkan produk kita, untuk kita
bisa marketingkan digital produk kita
yang harus kita pakai itu dim
automation.
Nah, mungkin teman-teman juga pernah
dengar ya di entah di productivity boy
atau di val creator pasti pernah dengar
komen mulai ya kalau mau mulai
menghasilkan 100 juta pertama dari
digital produk kamu atau yang kedua ini
komen brand X kalau pengin bisa colab
brandnya dengan value creator atau komen
join kalau pengin bisa join webinar ini.
Ini adalah contoh VTA atau call to
action yang kita manfaatkan untuk bisa
memulai DM automation kita. Nah, di mana
orang dari komen masuk ke direct
message, masuk ke DM-nya secara langsung
atau mungkin orang balas story di balas
story kita atau reply ke story kita atau
mungkin DM kita secara langsung, kita
bisa bikin ada message yang otomatis
muncul ke DM mereka. Di mana dari orang
tadinya ada 1000 orang yang klik ke link
kita atau enggak e masuk ke profil atau
masuk ke website kita 100 orang beli dan
900-nya sia-sia. Sekarang 900 L ini kita
dapat datanya, kita tahu siapa yang klik
dan bisa kita follow up secara langsung.
Dan yang terbaiknya adalah dengan salah
satunya dengan many chat ini di
Mutomation ini, kita bisa follow up
mereka tanpa bahkan kita nyentuh
keyboard atau nyentuh handphone kita
sama sekali karena semuanya sudah
terotomatisasi.
Nah, di mana salah ada sebetulnya ada
banyak ya aplikasi yang bisa kita
gunakan untuk BM Automation ini. Tapi
yang ee sangat kita sarankan itu mini
chat. Mungkin yang lain pernah dengar
juga namanya SPS atau enggak chat viel.
Ini bisa kita pakai. Tapi tetap sampai
sekarang dari riset yang kita lakukan
dari percoba banyak percobaan yang
paling kita sarankan tetap many chat.
Dan many chat ini memang udah jadi
official partnernya Meta. Jadi well
sangat baik adanya jika kita bisa pakai
ini. Nah, kenapa harus menggunakan DM
Automation? Ada tiga. Yang satu mungkin
teman-teman bisa lihat juga
konten-konten yang menggunakan DM
Automation itu engagement-nya luar biasa
tinggi bahkan bisa sampai 10 kali lipat.
Kenapa? Karena kita bikin orang tertarik
untuk komen di konten kita. Entah apapun
yang kita janjikan di balik itu, tapi
orang akan lebih tertarik untuk bisa
engage dengan konten kita. Yang kedua,
closeness atau kedekatan kita dengan
audiens. Seperti yang mungkin
teman-teman sudah pelajarin juga soal
closeness, closeness dan authority ya.
kita bisa membangun closeness dengan
audiens kita di sini secara otomatis dan
itu yang terpenting karena kita bisa aja
bangun closeless dengan audience kita
dengan balasin DM ngobrol tapi berapa
waktu yang kita milikin sih sehari untuk
ngelakuin itu bisa-bisa kita balasin 10
20 orang aja ngobrol ngobrol itu udah
bisa seharian tapi dengan many chat
dengan DM automation yang dicraftin
dengan baik teman-teman bisa melakukan
conversation atau percakapan dengan eh
followers teman-teman ini secara
otomatis. dengan pembahasaan yang sesuai
sehingga closeness atau kedekatan dengan
audiens ini juga akan meningkat. Dan
yang terpenting adalah conversion ke
sales itu yang sangat-sangat tinggi
dengan menggunakan dim automation ini.
Kenapa? Karena orang itu enggak merasa
begitu komen atau begitu selesai nonton
konten mereka langsung dijual. Tapi
dengan DM Automation ini mereka merasa
kita DM secara langsung. mereka merasa
kita engage dengan mereka secara
langsung membangun sebuah pembicaraan,
sebuah conversation yang justru lebih
smooth untuk bisa sampai ke sales dan
ini sudah terbukti bisa meningkatkan
sales dengan sangat-sangat baik. Nah,
untuk perkenalan kita bicara itu aja.
Nah, selanjutnya kita akan bicara soal
bagaimana kita bisa menerapkan dim
Automation ini ke dalam
Halo everyone. Sekarang kita akan bicara
mengenai automation creative touch point
atau di titik-titik mana aja dalam
konten kita, dalam e kreatif dari sosial
media kita yang bisa kita terapkan untuk
menggunakan DM atau mission ini. Nah, di
mana kenapa sih harus kita bikin suatu
DM automation yang kreatif atau yang
menarik? Karena automation yang di
belakangnya udah udah bagus banget, udah
sangat kuat. Seperti teman-teman mungkin
pernah lihat yang pernah faer yang udah
panjang banget automation-nya. Tapi
kalau konten eksusinya ini jelek,
percuma karena orang tetap enggak ada
yang mau komen, tetap enggak ada yang
lihat, tetap enggak ada yang DM, tetap
enggak ada yang reply story-nya. Tapi
kalau kita bisa bikin automation yang
bagus banget, ditambah dengan eksekusi
konten yang bagus banget, ini self-nya
bisa modet, bisa gede banget dan luar
biasa jauh banget dibandingin kalau kita
konten yang kita eksekusi itu jelek.
Nah, pertanyaannya kapan harus jualan
dan kapan jangan? Apakah kita harus ee
DM, minta DM, minta komen setiap konten
kita, setiap story kita jualan atau
sebetulnya ada formulanya? Nah, basis
atau patokan yang paling mudah bisa kita
pakai adalah dengan menggunakan the
golden rule of marketing yaitu 3 banding
1.
Atau mungkin pernah teman-teman kalau
yang penggemar GV dari tahun 2018 atau
sudah lama pernah dengar di bukunya
namanya Jep Jep Jep Wright Hook yaitu di
mana kita menggunakan tiga konten untuk
em memberikan value, tiga konten untuk
engage, tiga konten untuk sharing, dan
satu konten ini nih right hook ini untuk
jualannya. kita warm up audience untuk
bisa terust sama kita, semakin dekat
sama kita, lalu kita jualan baru.
Pertanyaannya adalah di mana kita bisa
menggunakan DM Automation ini? Di mana
kita bisa menempatkan creative atau
kreatif dari automation kita ini? Nah,
jawabannya ada tiga, yaitu di konten
kita, di story kita, atau nyuruh orang
DM kita. Nah, yang pertama untuk di
konten misalnya bisa juga di end of
content VTA di akhir konten kalau mau
ini komen ini ya. atau enggak kalau mau
ini reply eh reply konten ini pakai ini.
Yang kedua bisa di tengah-tengah konten
juga enggak masalah. Di tengah-tengah
konten bisa bilang, "Yang mau ini
komenin dulu ya baru kita lanjut lagi
ngomong di konten." Atau bisa juga di
caption setelah akhir caption dan kalau
mau ini komen komen abc komen mau komen
mulai itu bisa kita lakukan semuanya.
Nah, untuk di story juga bisa mungkin
pernah lihat sorya value creator yang
ini di mana kata-kata ini value
kata-kata brandx yang kita highlight di
sini sebetulnya adalah keyword atau
keyword trigger yang kita pakai untuk
mulai automation kita yang kita sudah
setting di man sebelumnya. Nah, yang
terakhir juga bisa di DM seperti ini.
Yang ini yang gua pakai juga adalah di
DM. Kalau misalnya pengin course gratis
atau pengin sesuatu DM e DM kita di mana
pada saat itu kita sudah siapin
dimutomation di belakangnya untuk
menjalankan
proses yang akan kita setting di manet
gitu. Nah, lakukan ini aja udah cukup.
Dan selanjutnya kita akan mulai start
selling and automating
eh punya teman-teman sendiri dari many
chat dan teman-teman bisa lihat
tutorialnya di video.
So, what's up? Kita akan mulai di sini
untuk crafting your automation petwist.
kita akan belajar gimana caranya kita
setting ee kata-katanya, kita setting eh
chat bubble-nya supaya kita bisa orang
yang komen masuk kita kasih DM langsung,
ya. Di mana di sini untuk sebelum itu
kalian harus tahu dulu untuk bisa pakai
many chat kita harus punya Facebook
busnis page atau meta buisnis page di
mana ini yang akan diconnect ke many
chat akhirnya kita bisa pakai. Kalau
misalnya belum punya bisa bikin dulu dan
nantinya dikonnect ke mini chat ya. So,
kita langsung aja akan setting up our
manet automation. Oke. Nah, ini tampilan
terdepan dari automation ya. Di mana ini
yang mungkin kalian pernah lihat
sebelumnya eh keyword-keyword yang
pernah ada di HVC yaitu kita semua ada
di sini, kita masih safety sini. Nah,
tapi untuk ee memulai biar lebih enak
langsung, kita akan bikin langsung dari
awal aja. Kita bikin new automation di
sini. Nah, di pilihan itu ada banyak.
dia udah punya banyak template
sebetulnya yang bisa kita pakai, tapi
yang paling umum itu biasa dipakai dua
ini, orang yang reply story dan juga
orang yang komen dan kita akan balik
balas ke DM. Settingannya enggak jauh
berbeda, cuman bedanya ee kalau misalnya
yang di DM atau di story orang kita bisa
bikin langsung cukup panjang. Sedangkan
kalau dari komen, orang komen kita hanya
bisa balas di satu e enggak terlalu
panjang chatbnya. Kita akan langsung
coba aja ya. Langsung kita mulai di yang
komen
ini di-close dulu aja
tidak usah digubris. Nah, tampilan
pertamanya itu akan seperti ini.
Orang komen di post reels dia akan balas
ke sini. Nah, ini bisa kita setting.
Yang pertama kita bisa setting kita mau
salah satu post aja atau kita bisa untuk
post semuanya atau mungkin kalau kita
mau setting dulu nanti ditinggal baru
upload lagi kita bisa setting di next
post or. Jadi pos kita selanjutnya akan
kena dampak dari automation yang kita
lagi buat sekarang ini. Tapi biasanya
kalau HVC atau Bradby lagi bikin
campaign yang cukup panjang, kita akan
pakai all post or real karena eh keyword
yang kita gunakan biasanya sama. Nah,
selanjutnya kita bisa setting keyword
apa yang kita pakai di sini. Kita bisa
pakai misalnya kita bisa pakai mau. Nah,
huruf besar huruf kecilnya tidak usah
dipedulikan karena dia langsung
ngedetect huruf gede atau huruf kecil.
Kalau any komen sebetulnya ini orang
komen apapun di pos tersebut akan
langsung ke reply. Tapi ini cukup kurang
efektif sebetulnya. Kecuali ee kalau
kita mungkin mau bikin akoun baru yang
lagi bikin guide atau perkenalan atau
lain-lain itu bisa. Tapi kurang efektif
kurang efektif lah sebetulnya. Nah,
selanjutnya kita juga bisa sebetulnya
bikin kita reply dirly komen mereka biar
kita bisa lebih engage. Misalnya eh cek
thank you cek DM ya.
Nah, ini kita bisa comment reply-nya itu
sampai salah ketik terus itu bisa ada
lima kita di entah nanti mereka
ng-random sendiri keluar yang mana. Tapi
permasalahannya dengan multiple multiple
replies ini adalah
kalau kita ng-replay komennya terlalu
banyak akan ada satu titik di mana em
Instagram itu nge-ban account kita dan
jadinya kita enggak bisa balas komen
lagi dan bahkan kita enggak bisa naruh
caption di ee di konten kita
selanjutnya. Dan itu tentunya akan jadi
masalah ya. Jadinya e lebih baik kalau
misalnya yang ini kita biasanya pakai no
aja karena mungkin engagementnya akan
sedikit berkurang tapi setidaknya
account kita akan lebih aman. Lalu kita
save.
Nah, ini kita setting. Kita udah setting
untuk triggernya. Jadi trigger words-nya
itu sudah selesai. Tinggal kita lanjut
ke apa yang akan kita kasih, kita DM ke
audiens kita pada saat kita komen. Dia
udah ada template-nya sebetulnya begini,
tapi eh biasanya kita dikit kita ganti
lagi. Hai, thanks
thanks udah DM
ya. Bisa dikasih emoji juga.
Kalau misalnya kita mau langsung kasih
link biasanya kita bisa langsung taruh
di sini aja linknya. Langsung aja klik
link di bawah ini kalau mau klaim course
gratis gue. Misalnya begini, kita kasih
lagi emoji ini di sini. Nah, selanjutnya
ini button yang di sini adalah kalau
misalnya teman-teman lihat ada chat yang
bisa diklik button-nya itu kita setting
di sini kita bisa setting eh claim claim
course gratis atau klik di sini misalnya
tambahin lagi emoji biar lebih
interaktif dan di sini kita bisa kasih
linknya link landing page kita mau kasih
link ee seperti ini. Contohnya link
YouTube, link video kita yang lain itu
bisa di sini. Aplikasinya sangat banyak,
tinggal tergantung kreativitas
teman-teman gimana. Kalau udah done dan
done, dan di sini kita set live
selesai.
Di semua post yang ada orang yang komen
mau, dia akan dapat akan langsung dapat
DM ini langsung dikirimin DM dari
account kita gitu. Nah, aplikasi lainnya
lagi setelah ini gimana
dari sini? Kalau kita mau nge-follow up
sebetulnya bisa di sini ada action. Ee
umumnya ini sebetulnya ada banyak kita
bisa masukin ke gheet dan lain-lain.
Tapi untuk keperluan ini kita cukup
nambahin tag aja. Ini tag yang
sebetulnya sudah sebelumnya udah ada di
HVC. Jadi kita pakai aja dulu kita ee
untuk percobaan aja atau kalau
teman-teman nanti kalau mau nyoba dan
bikin sendiri tag-nya itu juga bisa kok.
Tinggal dimasukin aja. Dari situ kita
bisa kasih di sini ada banyak ee ini
Instagram message akan jadi seperti ini.
Kita bisa pilih atau kita lihat dulu
yang lain ya. Ada action itu sama yang
kay misalnya kalau misalnya orang ini
udah pernah DM sebelumnya kita kasih
apa? Kalau belum pernah atau orang baru
kita kasih apa? Randomizer itu kita bisa
balas dengan beberapa kata-kata atau
kalimat yang random tergantung dari kita
pengin kasihnya apa. Smart delay kita
bisa kasih dulu di sini misalnya smart
delay ee kita kasih waktu jangka waktu
30 menit ya. Kita kasih jangka waktu 30
menit. Dalam 30 menit ini enggak akan
ada DM apa-apa. Tapi selanjutnya kalau
kita kasih
DM dalam 30 menit. Hai, apakah kamu
sudah klaim course-nya?
Nah, di sini kita jadi kita ngingetin
lagi ini yang tadi disebutkan kalau
misalnya di many chat atau di DM
Automation ini kita bisa follow up
setiap orang yang klik atau e
berinteraksi dengan konten kita. Setiap
orang yang komen kita bisa follow up
lagi tanpa bahkan tanpa kita sentuh
Instagram kita. Semua ini dilakukan dari
automation. Batasnya di mana? Batasnya
di kreativitas, Teman-teman. Semua itu
bisa dilakukan. Begitu.
Nah, di sini pun kita juga bisa kasih
salah satu yang sering kita pakai itu
delay. Jadi, begitu orang ee udah
ngejawab sesuatu, kita kasih delay dulu
berapa detik. Seolah-olah kita lagi
ngetik. Jadinya bot ini terlihat tidak
seperti bot, tapi lebih ke manusia.
Ada delay, ada card. Carda, yang kita
kasih gambar cukup gede, ada tombolnya
lagi. Kita bisa taruh video, taruh
gambar atau teks lagi yang seperti ini
juga.
ini semua bisa dicustomize tergantung
dari ee kebutuhan teman-teman. Nah, ee
mungkin untuk comen dan eh
automation-nya seperti ini udah cukup
jelas. Kita akan coba bikin satu lagi
yang e untuk nunjukin aja kalau kita
gimana kalau kita bikin story ya.
Sebetulnya enggak jauh beda, tapi ini
bisa kita bisa pilih reply story, all
stories atau specific story. Kita bisa
pilih dengan specific word atau
kata-kata tertentu. Kayak tadi misalnya
kita mau kasih kata-katanya mau
di-save triggernya.
Lalu di sini. Nah, kita bisa kasih yang
cukup panjang bisa kata-katanya apa,
kita bisa kasih delay lagi, terus kita
kasih follow up lagi. Kita bisa buat
lebih seperti sebuah percakapan, seperti
conversation. Jadi, pada saat mereka
balas DM kita, kita bisa buat seperti
ngobrol sama mereka dengan sebuah
automation yang kita enggak bahkan
enggak perlu sentuh. Bayangin
dengan automation ini kita bisa
berinteraksi dengan 1000 bahkan 10.000
audience kita. 10.000 followers kita
tanpa kita nyentuh keyboard sama sekali.
Cuman perlu kita setting di awal. Itulah
kekuatan dari automation. Nah, tapi
kembali lagi automation ini back end di
belakangnya dapurnya. Untuk bisa
memaksimalkan ini, kita harus bisa juga
maksimalkan front end-nya konten kita
depannya. Oke, so you've reached the end
of the masterclass. Congrats, first of
all, it's been my pleasure to have you
here on our seven hours course. Semoga
dalam 7 jam ke belakang, lo sudah
mendapatkan banyak sekali valuable
insights yang lo bisa langsung terapkan
ke bisnis lo secara langsung dan
harapannya bisa meningkatkan jumlah
views lo, jumlah followers lo, dan
jumlah income yang lo dapatkan setiap
bulannya. Barusan ini adalah segala hal
yang gua lakuin untuk mendapatkan
150.000 R000 followers pertama gua dalam
1,eng bulan dan juga R miliar pertama
gua 3 tahun lalu di akun Productivity
Boy. Jadi, barusan lu udah nonton dan
opsi lu ada dua. Satu, lu terapin semua
yang gua share barusan dan nge-grow akun
lu sendiri dan ng-monetize akun lu
sendiri. Atau enggak yang kedua, kita
enggak berhenti di free course doang.
Gua udah menyiapkan bonus yang lebih
dalam lagi buat lo, yaitu free
consultation. Kalau misalnya lu pengin
dibimbing sama gua dan tim gua langsung,
di bawah di deskripsi itu tuh ada link
di mana kalau misalnya lo klik dan lo
daftar, lu tuh bisa mendapatkan free
consultation bersama gua dan tim gua
yang nanti akan bisa ngebantu lo untuk
nge-walk through proses lo. Apa aja sih
yang lo perlu lakuin untuk personal
branding lo, untuk akun lo, dan untuk
bisnis lo secara personalize. Kata
kuncinya di sana, personalize. Jadi
kalau misalnya lu pengin bantuan yang
personalize yang terstruktur untuk akun
lo secara spesifik, make sure buat klik
link yang ada di deskripsi di bawah dan
lu bisa daftar untuk mendapatkan free
one onone consultation bersama gua dan
tim gua. Tapi kalau misalnya enggak mau
pun enggak apa-apa. No worries. My only
ask for you. Permintaan gua cuman satu.
Seperti yang gua bilang di awal video,
kalau misalnya lu mendapatkan manfaat
dari video barusan, please share this
video ke orang-orang di luar sana supaya
kita enggak cuman berkembang sendiri,
gak cuman El, gak cuman gua yang
berkembang, tapi banyak orang bisa
mendapatkan manfaat dari video ini juga.
Oke, so thank you for watching this
video and always remember, value over
everything. Yeah.
UNLOCK MORE
Sign up free to access premium features
INTERACTIVE VIEWER
Watch the video with synced subtitles, adjustable overlay, and full playback control.
AI SUMMARY
Get an instant AI-generated summary of the video content, key points, and takeaways.
TRANSLATE
Translate the transcript to 100+ languages with one click. Download in any format.
MIND MAP
Visualize the transcript as an interactive mind map. Understand structure at a glance.
CHAT WITH TRANSCRIPT
Ask questions about the video content. Get answers powered by AI directly from the transcript.
GET MORE FROM YOUR TRANSCRIPTS
Sign up for free and unlock interactive viewer, AI summaries, translations, mind maps, and more. No credit card required.