Ketika Kebocoran Gas Pestisida Meracuni 500.000 Orang dalam Satu Malam (Bhopal Disaster)
FULLSTÄNDIGT TRANSKRIPT
Pada tahun 1984 terjadi kebocoran gas
beracun pada sebuah pabrik pestisida di
kota Bopal, Madya Prades, India.
Kebocoran gas ini menyebar ke seluruh
kota dan menyebabkan lebih dari 500.000
orang mengalami keracunan gas kimia
berbahaya.
Pemerintah kota awalnya mengkonfirmasi
ada 3.800 orang korban yang meninggal
secara langsung dari kejadian ini. Dan
estimasi lanjutannya menunjukkan ada
total 16.000 RB kematian yang terkait
dengan pelepasan gas ini. Sekitar 40.000
orang diperkirakan mengalami luka parah
dan menderita penyakit serius. Peristiwa
ini kemudian dikenal sebagai salah satu
bencana industri yang paling mematikan
di dunia.
Ini adalah glopal disaster.
Tahun 1969, perusahaan Amerika Union
Carbate Corporation UCC mendirikan
sebuah pabrik pestisida di Kota Bopal,
Madya Prades, India.
Pabrik cabang India ini dibuat untuk
memenuhi kebutuhan pestisida global dan
kebutuhan di India yang memang jumlahnya
besar dan terus berkembang di waktu itu.
Mengingat di tahun 1960 sampai 70-an di
India mereka sedang aktif mendorong
sektor pertanian di dalam negerinya.
Selain itu ada juga pertimbangan dari
aspek regulasi di mana saat itu India
masih sangat longgar terkait dengan
regulasi keamanan industri. Jadi, pihak
pabrik bisa lebih mudah dan lebih murah
untuk membuat pabrik dengan resiko bahan
kimia berbahaya. Dibandingkan misalnya
mereka bangun pabriknya di Amerika yang
tentu aturannya sangat ketat, mereka
harus menyesuaikan banyak hal, butuh
biaya yang lebih besar. Maka dari sini
pabrik pestisida di Bopal pun berdiri
tahun 1969.
Pada awal pendirian, pabrik ini
sebenarnya mendapat banyak penolakan
akibat lokasinya yang bersebelahan
langsung. sangat dekat dengan pemukiman
padat penduduk. Perusahaan diminta untuk
memindahkan lokasi pabriknya ke bagian
kota yang lebih jauh dari penduduk. Tapi
meskipun demikian, entah bagaimana
perusahaan ini tetap berhasil untuk
dapat persetujuan dari pemerintah kota
dan pemerintah pusat untuk bangun
pabriknya di lokasi itu.
Jadi proses yang terjadi di dalam
pabriknya untuk memproduksi pestisida
adalah seperti ini. Singkatnya ada empat
tahapan proses pembuatannya. Pertama,
prosesnya dimulai dari membuat gas
fosen, lalu diolah menjadi metil
isosianat atau MIC. Di mana MIC ini
disimpan dulu untuk stok dan kalau udah
perlu produksi, gas ini nanti akan
diolah menjadi karbaril lalu diolah
menjadi pestisida.
Yang pasti ini adalah sebuah proses
kimia yang harus dilakukan secara sangat
hati-hati ya. Karena kalau kita lihat
prosesnya ini di awal prosesnya butuh
gas fos gen. Kalau kalian ingat
pembahasan videoku sebelumnya tentang
kisahnya Frit Zber, di situ ada
pembahasan bahwa gas Fosgen ini adalah
gas yang memang dikembangkan sebagai gas
beracun di perang dunia pertama. Jadi
gasnya adalah gas yang beracun dari
awal. Kemudian gas ini diolah menjadi
MIC. Yang ini pun juga tidak kalah
berbahaya. Nah, di awal-awal pabrik ini
berdiri, dia dapat kiriman dari Amerika
langsung berupa bahan karbaril yang lalu
diolah menjadi pestisida di pabriknya.
Jadi di awal prosesnya masih singkat.
Kemudian di tahun 1977 prosesnya udah
lebih advance. Pabriknya ini enggak lagi
diberi karbaril tapi diberi bahan MIC
yang kemudian diolah menjadi karbaril
lalu diolah menjadi pestisida. Kemudian
mulai tahun 1980, pabrik ini mulai
melakukan produksi pestisida secara
penuh. Artinya dia mulai membuat dari
gas fos-nya diubah jadi MIC, jadi
karbarin, lalu jadi pestisida. Tapi
sayangnya ketika pabrik ini mulai
melakukan proses produksi yang lebih
kompleks ini, pabrik ini mulai
bermasalah,
proses pengoperasian pada pabrik ini
sangat jauh dari standar keamanan dalam
produksi bahan kimia berbahaya.
Mayoritas pekerja hanya diberi training
singkat dan saat bekerja mereka tidak
menggunakan standar APD seperti masker
atau pakaian pelindung. Beberapa kali
terjadi kebocoran gas berbahaya di
lingkungan pabrik seperti misalnya gas
MIC, gas fosgen, gas klorin, dan gas
berbahaya lainnya yang kebocoran ini
bahkan sudah beberapa kali menimbulkan
korban jiwa. Bahkan pada tahun 1982,
auditor dari perusahaan induk pabrik ini
juga sebenarnya sudah memperingatkan
tentang kemungkinan terjadinya reaksi
yang tidak terkendali pada pabrik ini.
Tapi manajemen pabrik masih mengabaikan
peringatan itu.
[Musik]
Di tahun 1980-an terjadi gagal panen dan
bencana kelaparan yang cukup besar di
India. Yang ini berdampak pada kemampuan
petani membeli pestisida. Kondisi ini
membuat permintaan pestisida di pabrik
ini semakin menurun. Dalam kondisi ini,
pabrik tetap beroperasi, tapi kapasitas
produksinya dikurangi jadi seperempat
kapasitas saja. Dan proses produksi ini
dilakukan dengan peralatan dan prosedur
keselamatan yang makin jauh di bawah
standar yang harusnya digunakan di
pabrik pusatnya di Amerika. Pemerintah
lokal sebenarnya juga menyadari ada
potensi masalah kesehatan dari pabrik
ini, tapi mereka membiarkannya.
Pihak pemerintah mereka khawatir kalau
pabrik ini tutup akan ada dampak ekonomi
yang lebih besar karena pabrik ini
memang jadi salah satu penyerap kerja
yang sangat besar di wilayah itu.
Standar keselamatan yang diabaikan dan
berbagai permasalahan yang terjadi
sebelumnya akhirnya makin membesar
hingga puncaknya terjadi pada 3 Desember
1984.
Beberapa bulan sebelum kejadian, pabrik
sedang memproduksi MIC cair untuk
disimpan di tangki penyimpanan.
Berdasarkan peraturan dari pabrik, batas
maksimal pengisian tangki penyimpanan
adalah 50% dari kapasitasnya atau
sekitar 30 ton. Tapi mereka menyimpan
dalam jumlah yang lebih besar.
Pada akhir Oktober 1984, salah satu
tangki penyimpanan yang sudah berisi 42
ton MIC cair mengalami kerusakan
sehingga MIC-nya tidak bisa dipompa
keluar. Dari sini produksi MIC di pabrik
bupal dihentikan untuk sementara waktu
untuk dilakukan perbaikan. 2 Desember
1984 dilakukan pembersihan pipa saluran
dari tangki tersebut. Tapi tanpa
disadari air masuk ke dalam tangki
penyimpanannya.
Nah, masuknya air ke dalam tangki
penyimpanan ini adalah hal yang
sangat-sangat berbahaya dan memicu
bencana. Kondisi ini ketika air masuk ke
tangki penyimpanan memicu reaksi
eksotermis. Reaksi yang menghasilkan
panas dan kemudian menyebabkan tekanan
dalam tangki ini meningkat. Tekanannya
meningkat dari yang awalnya 2 psi
menjadi 10 psi pukul 11.00 malam. Dalam
kondisi ini, dua orang karyawan senior
mereka masih mengira kalau kenaikan
tekanan ini cuma terjadi karena
kesalahan alat ukur saja. Mereka ngira,
"Ya memang alatnya udah banyak yang
rusak-rusak. Mungkin ini adalah
kesalahan alat ukur saja." Tapi ternyata
kondisinya makin memburuk.
Tak lama kemudian, para pekerja di area
pabrik mulai merasakan efek akibat
paparan gas MIC dalam jumlah kecil. Dan
mereka sudah tahu kalau ada kebocoran di
sini. Malam sudah ganti hari, udah ganti
dini hari 3 Desember 1984,
reaksi pada tangki penyimpanan mulai
meningkat dan menjadi reaksi yang tidak
terkendali. Pukul 0.40, suhu di dalam
tangki penyimpanan melonjak hingga batas
pengukuran 25 derajat dan tekanannya
naik sampai 40 psi. Tekanan ini
menyebabkan retakan pada beton di atas
tangki penyimpanan yang kondisi ini
kemudian memicu sebagian gas MIC lepas
ke udara. Konsentrasi gas MIC yang lepas
ini semakin tidak terkendali dan alarm
pun dinyalakan. Para pengerja di pabrik
langsung mulai lari-lari. Mereka
LÅS UPP MER
Registrera dig gratis för att få tillgång till premiumfunktioner
INTERAKTIV VISARE
Titta på videon med synkroniserad undertext, justerbart överlägg och fullständig uppspelningskontroll.
AI-SAMMANFATTNING
Få en omedelbar AI-genererad sammanfattning av videoinnehållet, nyckelpunkter och slutsatser.
ÖVERSÄTT
Översätt transkriptet till över 100 språk med ett klick. Ladda ner i valfritt format.
MIND MAP
Visualisera transkriptet som en interaktiv mind map. Förstå strukturen med ett ögonkast.
CHATTA MED TRANSKRIPT
Ställ frågor om videoinnehållet. Få svar från AI direkt från transkriptet.
FÅ UT MER AV DINA TRANSKRIPT
Registrera dig gratis och lås upp interaktiv visning, AI-sammanfattningar, översättningar, mind maps och mer. Inget kreditkort krävs.